The Duchess's Noctis Orchid Bab 7 - Anggrek yang Memilih

 

Pagi di mansion Noctis selalu terasa terlalu tenang.

Berbeda dengan kediaman keluarga Aveline yang meskipun sederhana tetap dipenuhi suara kehidupan.

Di sini...

semuanya berjalan sempurna.

Terlalu sempurna.

Para pelayan bergerak tanpa suara.

Taman selalu rapi.

Setiap sudut mansion tampak seperti tidak pernah disentuh kesalahan.

Namun Elena mulai menyadari satu hal.

Kesempurnaan terkadang hanya cara seseorang menyembunyikan kehancuran.

Seperti biasa, setelah sarapan, Elena menuju rumah kaca.

Ia membawa beberapa alat berkebun kecil yang diberikan kepala pelayan kepadanya.

"Lady Elena."

Alfred, kepala pelayan keluarga Noctis, menghentikannya sebelum ia masuk.

"Nyonya."

Elena menoleh.

"Apakah ada sesuatu?"

Alfred terlihat ragu.

"Anda benar-benar ingin terus merawat tempat itu?"

Elena tersenyum kecil.

"Kenapa semua orang bertanya hal yang sama?"

"Karena..."

Alfred melihat ke arah rumah kaca.

"Sudah bertahun-tahun tidak ada yang berhasil membuat apa pun tumbuh di sana."

Elena memegang gagang pintu.

"Mungkin karena tidak ada yang mencoba cukup lama."

Jawaban itu membuat Alfred terdiam.

Kemudian ia menundukkan kepala.

"Kalau begitu, saya berharap Anda berhasil, Nyonya."

Di dalam rumah kaca...

Elena langsung menuju tanaman anggrek yang ia temukan beberapa hari lalu.

Berbeda dari tanaman lainnya, bunga itu masih terlihat rapuh.

Namun hari ini...

ada sesuatu yang berubah.

Elena berhenti.

"Mustahil..."

Satu tunas kecil muncul di ujung batangnya.

Sangat kecil.

Hampir tidak terlihat.

Tapi Elena tahu.

Itu adalah tanda kehidupan.

Ia tersenyum.

"Kau berhasil."

Tangannya menyentuh daun kecil itu dengan hati-hati.

"Padahal semua orang mengira kau sudah menyerah."

Tanpa Elena sadari...

sepasang mata memperhatikannya dari luar.

Adrian.

Pria itu berdiri di balik kaca.

Sudah beberapa menit.

Ia tidak tahu kenapa ia berhenti di sana.

Mungkin karena penasaran.

Atau mungkin karena ingin memastikan sesuatu.

Sejak Elena datang...

rumah kaca itu berubah.

Dan sekarang...

anggrek itu mulai menunjukkan tanda kehidupan.

Anggrek yang selama sepuluh tahun tidak pernah tumbuh.

Anggrek yang bahkan para ahli keluarga Noctis katakan mustahil diselamatkan.

"Yang Mulia."

Suara kepala pelayan membuat Adrian menoleh.

"Apakah Anda ingin saya memanggil Duchess?"

"Tidak."

Jawaban Adrian cepat.

Alfred sedikit terkejut.

Biasanya Adrian tidak menyukai orang memasuki ruang pribadinya.

Apalagi tempat ini.

"Biarkan dia."

Adrian kembali melihat Elena.

Wanita itu tidak sadar sedang diamati.

Ia hanya fokus pada bunga di depannya.

Sama seperti seseorang yang sedang menjaga sesuatu yang berharga.

Malam harinya...

Elena sedang membaca buku botani di perpustakaan ketika Adrian datang.

"Kau mempelajari tanaman?"

Elena mengangkat wajah.

"Ya."

"Kenapa?"

Pertanyaan sederhana.

Namun Elena tahu Adrian benar-benar ingin tahu.

Ia menutup bukunya.

"Karena tanaman mengajarkan kesabaran."

Adrian diam.

"Mereka tidak bisa dipaksa tumbuh lebih cepat."

Elena melanjutkan.

"Mereka hanya bisa dirawat, diberi waktu, dan dipercaya."

Tatapan Adrian berubah sedikit.

"Dan kalau mereka tetap mati?"

Elena menatapnya.

"Berarti kita sudah mencoba menyelamatkannya."

Jawaban itu membuat ruangan kembali sunyi.

Karena Adrian tahu...

ada lebih banyak makna dalam kalimat itu.

"Anggrek itu."

Suara Adrian terdengar pelan.

Elena menunggu.

"Itu adalah Noctis Orchid."

Elena membeku.

Nama itu.

Nama yang hanya pernah ia dengar sebagai legenda.

"Anggrek keluarga Noctis?"

Adrian mengangguk.

"Benar."

"Kenapa dibiarkan di rumah kaca tua?"

Adrian melihat ke luar jendela.

"Karena setelah ibuku meninggal..."

Ia berhenti.

"...tidak ada yang mampu membuatnya mekar lagi."

Elena terdiam.

Jadi bunga itu bukan hanya tanaman.

Itu adalah kenangan.

"Legenda keluarga mengatakan..."

Adrian melanjutkan.

"Noctis Orchid hanya akan mekar ketika dirawat oleh seseorang yang memiliki hati tulus."

Elena tersenyum kecil.

"Legenda yang aneh."

"Menurutmu itu hanya cerita?"

"Menurut saya..."

Elena melihat ke arah rumah kaca.

"Bunga tidak peduli siapa yang merawatnya."

Adrian menatapnya.

"Mereka hanya tahu apakah seseorang benar-benar peduli."

Untuk beberapa alasan...

jawaban itu membuat Adrian tidak bisa berpaling.

Karena selama bertahun-tahun...

banyak orang ingin memiliki Noctis Orchid karena nilainya.

Tapi Elena...

adalah orang pertama yang tidak melihatnya sebagai harta.

Ia hanya melihatnya sebagai sesuatu yang ingin hidup.

Malam itu...

untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun...

satu kelopak kecil Noctis Orchid mulai terbuka.

Dan tidak ada seorang pun yang menyadari...

bahwa bukan hanya bunga itu yang mulai berubah.

Hati Duke Adrian Noctis yang telah lama tertutup...

perlahan mulai mengalami hal yang sama.

Bersambung...

Comments