CHASING AURORA
Bab 25 — Masa
Depan yang Tidak Direncanakan
Setelah Ayla
kembali dari London...
banyak hal
berubah.
Tapi ada satu hal
yang tetap sama.
Aurora Media masih
menjadi tempat paling sibuk di kota itu.
"Aku masih
tidak percaya kamu bisa pulang dan langsung diberikan proyek baru."
Mika berkata
sambil melihat tumpukan dokumen di meja Ayla.
Ayla menghela
napas.
"Aku juga
tidak percaya."
Renzo lewat
membawa kopi.
"Itu karena
Kael."
Ayla menoleh.
"Kenapa?"
"Dia percaya
kamu bisa."
Dan memang benar.
Sejak Ayla
kembali, Kael tidak lagi memperlakukannya seperti seseorang yang perlu
dilindungi.
Dia
memperlakukannya sebagai partner.
Setara.
Bahkan
terkadang...
terlalu setara.
"Kamu
serius?"
Ayla melihat
proposal di tangannya.
Kael mengangguk.
"Ya."
"Kamu ingin
aku memimpin divisi baru?"
"Ya."
"Sendiri?"
"Ya."
Ayla menatapnya.
"Kael."
"Ya?"
"Dulu kamu
tidak akan memberikan tanggung jawab sebesar ini."
Kael tersenyum
tipis.
"Dulu saya
belum mengenal kemampuan kamu sepenuhnya."
Ayla terdiam.
Karena dulu Kael
selalu melihatnya sebagai orang yang kreatif.
Sekarang...
dia melihatnya
sebagai seseorang yang bisa berdiri sendiri.
Namun proyek itu
bukan sekadar promosi.
Aurora sedang
memasuki fase baru.
Mereka ingin
membuat divisi kreatif internasional.
Dan orang yang
dipilih untuk memimpin...
adalah Ayla.
Semua orang
mendukung.
Kecuali satu
orang.
Ayla sendiri.
"Aku
takut."
Ayla mengaku malam
itu.
Mereka duduk di
balkon apartemennya.
Kael menoleh.
"Kamu?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Karena dulu
aku takut gagal di depan orang lain."
Dia menarik napas.
"Sekarang aku
takut berhasil."
Kael sedikit
mengernyit.
"Kenapa?"
"Karena kalau
aku berhasil..."
Ayla tersenyum
kecil.
"Segalanya
bisa berubah."
Kael memahami.
Karena dia pernah
berada di posisi itu.
Ketika seseorang
mendapatkan sesuatu yang besar...
dia juga harus
siap kehilangan kenyamanan lama.
"Kamu ingat
waktu saya pergi ke London?"
Ayla bertanya.
"Ya."
"Kamu bilang
jangan memilih karena orang lain."
Kael mengangguk.
"Sekarang
saya mengatakan hal yang sama."
Ayla melihatnya.
"Pilih karena
kamu percaya pada diri kamu."
Beberapa minggu
berikutnya menjadi masa yang sibuk.
Ayla membangun tim
baru.
Merekrut orang.
Membuat strategi.
Presentasi.
Dan tentu saja...
berdebat dengan
Kael.
"Kamu terlalu
banyak bekerja."
Kael berkata.
Ayla tidak
melihatnya.
"Kamu
juga."
"Itu
berbeda."
"Kenapa?"
"Saya sudah
terbiasa."
Ayla langsung
menunjuk.
"Nah. Itu
bukan alasan bagus."
Kael diam.
Dia kalah.
Mika melihat
mereka dari jauh.
"Lucu."
Renzo bertanya:
"Apa?"
"Dulu Kael
selalu menang dalam debat."
"Lalu
sekarang?"
"Sekarang dia
kalah karena dia jatuh cinta."
Renzo mengangguk.
"Masuk
akal."
Tapi di balik
semua kebahagiaan itu...
ada sebuah masalah
yang muncul.
Salah satu
investor Aurora mengajukan tawaran besar.
Mereka ingin
memperluas perusahaan.
Sangat besar.
Tapi syaratnya:
Kael harus
mengambil posisi eksekutif di kantor pusat luar negeri selama dua tahun.
Ketika Kael
membaca proposal itu...
dia langsung
terdiam.
Bukan karena
kesempatan itu.
Tapi karena dia
tahu.
Satu tahun lalu,
dia mungkin akan menerimanya tanpa berpikir.
Sekarang...
ada seseorang yang
harus dia pikirkan.
Malam itu, Kael
tidak langsung memberitahu Ayla.
Dan itu menjadi
kesalahan pertama.
Karena Ayla tahu.
"Kamu
menyembunyikan sesuatu."
Kael melihatnya.
"Saya
tidak."
Ayla mengangkat
alis.
"Kael."
Hening.
"Saya sudah
mengenal kamu terlalu lama."
Akhirnya Kael
memberikan dokumen itu.
Ayla membacanya.
Dan wajahnya
berubah.
"Kapan kamu
tahu?"
"Beberapa
hari lalu."
"Dan kamu
tidak bilang?"
"Saya sedang
memikirkan."
"Sendiri?"
Kael diam.
Ayla tidak marah
karena tawaran itu.
Dia marah karena
Kael kembali melakukan hal lama.
Memikul semuanya
sendiri.
"Kamu masih
berpikir melindungi aku berarti tidak memberitahu aku."
Kael terdiam.
Karena kalimat itu
tepat.
"Saya hanya
tidak ingin membuat kamu merasa harus memilih."
Ayla menatapnya.
"Kael."
"Ya?"
"Aku tidak
ingin menjadi alasan kamu berhenti mengejar sesuatu."
Hening.
"Tapi aku
juga tidak ingin menjadi orang terakhir yang tahu tentang hidup kamu."
Kalimat itu
membuat Kael sadar.
Cinta bukan hanya
tentang menjaga seseorang dari rasa sakit.
Kadang cinta
berarti membiarkan seseorang berdiri di sampingmu saat menghadapi rasa sakit.
Malam itu mereka
tidak menemukan jawaban.
Tidak ada
keputusan.
Tidak ada janji.
Hanya dua orang
yang duduk bersama...
menghadapi
pertanyaan terbesar mereka.
Karena kali ini...
bukan tentang
siapa yang pergi.
Bukan tentang
siapa yang tinggal.
Tapi tentang:
Bisakah dua
orang tetap mengejar mimpi besar tanpa kehilangan satu sama lain?
0 comments:
Post a Comment