Tuesday, July 21, 2026

CHASING AURORA 25

 

CHASING AURORA

Bab 25 — Masa Depan yang Tidak Direncanakan

Setelah Ayla kembali dari London...

banyak hal berubah.

Tapi ada satu hal yang tetap sama.

Aurora Media masih menjadi tempat paling sibuk di kota itu.


"Aku masih tidak percaya kamu bisa pulang dan langsung diberikan proyek baru."

Mika berkata sambil melihat tumpukan dokumen di meja Ayla.

Ayla menghela napas.

"Aku juga tidak percaya."

Renzo lewat membawa kopi.

"Itu karena Kael."

Ayla menoleh.

"Kenapa?"

"Dia percaya kamu bisa."


Dan memang benar.

Sejak Ayla kembali, Kael tidak lagi memperlakukannya seperti seseorang yang perlu dilindungi.

Dia memperlakukannya sebagai partner.

Setara.

Bahkan terkadang...

terlalu setara.


"Kamu serius?"

Ayla melihat proposal di tangannya.

Kael mengangguk.

"Ya."

"Kamu ingin aku memimpin divisi baru?"

"Ya."

"Sendiri?"

"Ya."

Ayla menatapnya.

"Kael."

"Ya?"

"Dulu kamu tidak akan memberikan tanggung jawab sebesar ini."

Kael tersenyum tipis.

"Dulu saya belum mengenal kemampuan kamu sepenuhnya."


Ayla terdiam.

Karena dulu Kael selalu melihatnya sebagai orang yang kreatif.

Sekarang...

dia melihatnya sebagai seseorang yang bisa berdiri sendiri.


Namun proyek itu bukan sekadar promosi.

Aurora sedang memasuki fase baru.

Mereka ingin membuat divisi kreatif internasional.

Dan orang yang dipilih untuk memimpin...

adalah Ayla.


Semua orang mendukung.

Kecuali satu orang.

Ayla sendiri.


"Aku takut."

Ayla mengaku malam itu.

Mereka duduk di balkon apartemennya.

Kael menoleh.

"Kamu?"

"Iya."

"Kenapa?"

"Karena dulu aku takut gagal di depan orang lain."

Dia menarik napas.

"Sekarang aku takut berhasil."

Kael sedikit mengernyit.

"Kenapa?"

"Karena kalau aku berhasil..."

Ayla tersenyum kecil.

"Segalanya bisa berubah."


Kael memahami.

Karena dia pernah berada di posisi itu.

Ketika seseorang mendapatkan sesuatu yang besar...

dia juga harus siap kehilangan kenyamanan lama.


"Kamu ingat waktu saya pergi ke London?"

Ayla bertanya.

"Ya."

"Kamu bilang jangan memilih karena orang lain."

Kael mengangguk.

"Sekarang saya mengatakan hal yang sama."

Ayla melihatnya.

"Pilih karena kamu percaya pada diri kamu."


Beberapa minggu berikutnya menjadi masa yang sibuk.

Ayla membangun tim baru.

Merekrut orang.

Membuat strategi.

Presentasi.

Dan tentu saja...

berdebat dengan Kael.


"Kamu terlalu banyak bekerja."

Kael berkata.

Ayla tidak melihatnya.

"Kamu juga."

"Itu berbeda."

"Kenapa?"

"Saya sudah terbiasa."

Ayla langsung menunjuk.

"Nah. Itu bukan alasan bagus."

Kael diam.

Dia kalah.


Mika melihat mereka dari jauh.

"Lucu."

Renzo bertanya:

"Apa?"

"Dulu Kael selalu menang dalam debat."

"Lalu sekarang?"

"Sekarang dia kalah karena dia jatuh cinta."

Renzo mengangguk.

"Masuk akal."


Tapi di balik semua kebahagiaan itu...

ada sebuah masalah yang muncul.

Salah satu investor Aurora mengajukan tawaran besar.

Mereka ingin memperluas perusahaan.

Sangat besar.

Tapi syaratnya:

Kael harus mengambil posisi eksekutif di kantor pusat luar negeri selama dua tahun.


Ketika Kael membaca proposal itu...

dia langsung terdiam.

Bukan karena kesempatan itu.

Tapi karena dia tahu.

Satu tahun lalu, dia mungkin akan menerimanya tanpa berpikir.

Sekarang...

ada seseorang yang harus dia pikirkan.


Malam itu, Kael tidak langsung memberitahu Ayla.

Dan itu menjadi kesalahan pertama.

Karena Ayla tahu.


"Kamu menyembunyikan sesuatu."

Kael melihatnya.

"Saya tidak."

Ayla mengangkat alis.

"Kael."

Hening.

"Saya sudah mengenal kamu terlalu lama."


Akhirnya Kael memberikan dokumen itu.

Ayla membacanya.

Dan wajahnya berubah.


"Kapan kamu tahu?"

"Beberapa hari lalu."

"Dan kamu tidak bilang?"

"Saya sedang memikirkan."

"Sendiri?"

Kael diam.


Ayla tidak marah karena tawaran itu.

Dia marah karena Kael kembali melakukan hal lama.

Memikul semuanya sendiri.


"Kamu masih berpikir melindungi aku berarti tidak memberitahu aku."

Kael terdiam.

Karena kalimat itu tepat.


"Saya hanya tidak ingin membuat kamu merasa harus memilih."

Ayla menatapnya.

"Kael."

"Ya?"

"Aku tidak ingin menjadi alasan kamu berhenti mengejar sesuatu."

Hening.

"Tapi aku juga tidak ingin menjadi orang terakhir yang tahu tentang hidup kamu."


Kalimat itu membuat Kael sadar.

Cinta bukan hanya tentang menjaga seseorang dari rasa sakit.

Kadang cinta berarti membiarkan seseorang berdiri di sampingmu saat menghadapi rasa sakit.


Malam itu mereka tidak menemukan jawaban.

Tidak ada keputusan.

Tidak ada janji.

Hanya dua orang yang duduk bersama...

menghadapi pertanyaan terbesar mereka.


Karena kali ini...

bukan tentang siapa yang pergi.

Bukan tentang siapa yang tinggal.

Tapi tentang:

Bisakah dua orang tetap mengejar mimpi besar tanpa kehilangan satu sama lain?

 

0 comments:

Post a Comment

 

Blognya Alviana Anugrah Template by Ipietoon Cute Blog Design