Pagi itu, Adrian membuat keputusan.
Ia akan pergi mencari Aiden Voss.
Atau lebih tepatnya...
mencari seseorang yang mungkin adalah Aurel Noctis.
"Kau tidak ikut."
Kalimat pertama Adrian saat Elena memasuki ruang kerjanya.
Elena berhenti di depan meja.
"Begitu?"
Adrian menatapnya.
"Tempat yang akan kudatangi bukan tempat yang aman."
"Saya tidak bertanya apakah aman."
"Elena."
Nada Adrian berubah serius.
"Kali ini berbeda."
Elena diam beberapa saat.
Lalu mengambil dokumen di meja.
"Laporan ini mengatakan pria itu tinggal sendirian di desa utara."
Adrian mengerutkan kening.
"Kau membaca laporan penyelidikan?"
"Saya membaca semua yang Anda letakkan sembarangan."
Adrian terdiam.
Karena memang benar.
Ia tidak pernah benar-benar menyembunyikan sesuatu dari Elena lagi.
"Jika dia benar kakak Anda..."
Elena melanjutkan.
"Maka ini bukan hanya masalah keluarga Noctis."
"Dia juga bagian dari masa lalu saya sekarang."
Adrian menatapnya.
"Kau tidak harus terlibat."
Elena tersenyum kecil.
"Anda masih belum mengerti, ya?"
"Apa?"
"Saya sudah terlibat sejak pertama kali saya masuk ke rumah kaca itu."
Adrian tidak bisa membantah.
Karena Elena benar.
Sejak bunga itu memilih untuk mekar...
hidup mereka sudah terhubung.
Dua hari kemudian...
Kereta Noctis meninggalkan mansion menuju wilayah utara.
Perjalanan memakan waktu hampir satu hari.
Berbeda dengan perjalanan bangsawan biasanya.
Tidak ada iring-iringan besar.
Tidak ada pengumuman.
Adrian memilih pergi diam-diam.
Desa kecil itu jauh berbeda dari ibu kota.
Tidak ada kemewahan.
Tidak ada pesta bangsawan.
Hanya ladang luas dan rumah-rumah sederhana.
Namun Elena memperhatikan satu hal.
Di hampir setiap rumah...
terdapat bunga.
Terutama anggrek.
"Dia yang mengajarkan mereka?"
Elena bertanya.
Adrian melihat sekitar.
"Mungkin."
Mereka menemukan rumah yang dimaksud di ujung desa.
Sebuah rumah kecil dengan rumah kaca sederhana di belakangnya.
Tidak megah.
Tidak seperti rumah kaca Noctis.
Namun dirawat dengan sangat baik.
Adrian mengetuk pintu.
Tidak ada jawaban.
Ia mengetuk lagi.
Kemudian suara pria terdengar dari dalam.
"Aku sudah bilang..."
"Aku tidak ingin menerima tamu."
Suara itu.
Adrian membeku.
Karena meski sudah sepuluh tahun berlalu...
ia mengenal suara itu.
Pintu terbuka.
Seorang pria berdiri di sana.
Rambut hitam.
Tatapan abu-abu.
Wajah yang lebih dewasa.
Namun tidak berubah.
Mata pria itu bertemu dengan Adrian.
Dan untuk beberapa detik...
tidak ada yang berbicara.
"Aurel."
Nama itu keluar dari bibir Adrian.
Pria itu diam.
Kemudian tersenyum tipis.
"Jadi..."
"Kau akhirnya menemukanku."
Elena memperhatikan keduanya.
Tidak ada kebencian dalam tatapan Aurel.
Yang ada hanya kelelahan.
Seperti seseorang yang telah melarikan diri terlalu lama.
"Kenapa?"
Suara Adrian terdengar berat.
"Kenapa kau menghilang?"
Aurel menatapnya.
"Lama sekali kau menanyakan itu."
"Aku mengira kau mati."
"Aku tahu."
"Kau tahu?"
Aurel menunduk.
"Karena itulah aku tidak kembali."
Adrian mengepalkan tangan.
"Sepuluh tahun."
"Sepuluh tahun aku berpikir kau meninggalkan keluarga ini."
Aurel menatapnya.
"Aku tidak meninggalkan kalian."
"Lalu kenapa?"
Aurel terdiam.
Kemudian melihat Elena.
"Duchess Noctis."
Elena sedikit terkejut.
"Kau tahu siapa saya?"
Aurel tersenyum kecil.
"Aku tahu."
"Karena aku yang menunggu seseorang sepertimu datang."
Adrian langsung berubah waspada.
"Apa maksudmu?"
Aurel tidak menjawab.
Ia hanya melihat ke arah bunga anggrek di belakang rumahnya.
"Karena ibuku benar."
"Lady Evelyn?"
Aurel mengangguk.
"Dia tahu suatu hari Noctis Orchid akan mekar kembali."
Elena menatapnya.
"Lalu siapa yang membunuh beliau?"
Pertanyaan itu membuat ekspresi Aurel berubah.
Untuk pertama kalinya...
wajahnya menunjukkan luka.
"Aku tidak tahu."
Adrian terdiam.
"Tidak tahu?"
Aurel menatapnya.
"Tapi aku tahu satu hal."
"Orang yang menyebabkan kematiannya..."
"bukan Lucien Valmont."
Keheningan.
"Dan bukan aku."
Angin berhembus melewati rumah kaca kecil itu.
Aurel menatap Adrian.
"Adik."
"Kau selama ini mencari musuh di luar keluarga."
"Tapi kau tidak pernah bertanya..."
"Siapa yang paling diuntungkan jika keluarga Noctis hancur."
Tatapan Adrian berubah.
Karena untuk pertama kalinya...
kemungkinan baru muncul.
Musuh mereka mungkin bukan seseorang yang menghilang.
Tapi seseorang yang masih tinggal di dalam keluarga Noctis.
Bersambung...
Comments
Post a Comment