Kereta keluarga Noctis kembali memasuki wilayah mansion saat matahari mulai tenggelam.
Namun kali ini...
Adrian tidak pulang sebagai Duke yang sama.
Ia kembali membawa pertanyaan yang selama sepuluh tahun tidak pernah ia berani tanyakan.
Tentang ayahnya.
Tentang ibunya.
Dan tentang keluarganya sendiri.
Begitu pintu kereta terbuka, para pelayan langsung menyambut.
Namun Adrian tidak memperhatikan siapa pun.
Tatapannya hanya tertuju pada mansion besar di hadapannya.
Tempat yang selama ini ia anggap rumah.
Tempat yang ternyata menyimpan begitu banyak kebohongan.
"Yang Mulia."
Alfred mendekat.
"Apakah perjalanan Anda berhasil?"
Adrian berhenti.
"Berhasil."
Ia menoleh.
"Aku menemukan seseorang."
Alfred terdiam.
"Lalu?"
Adrian menjawab pelan.
"Orang yang selama ini dianggap sudah mati."
Mata Alfred melebar.
"Jangan bilang..."
Adrian mengangguk.
"Aurel."
Nama itu membuat wajah kepala pelayan tua itu berubah.
Karena seperti banyak orang di keluarga Noctis...
ia juga percaya Aurel telah pergi selamanya.
"Apakah beliau..."
"Masih hidup."
Adrian masuk ke mansion.
"Dan dia tahu lebih banyak tentang malam kematian ibuku daripada siapa pun."
Di sisi lain...
Elena berdiri di depan rumah kaca.
Sejak kembali, ia tidak langsung beristirahat.
Ada sesuatu yang mengganggunya.
Kata-kata Aurel.
"Adrian tidak memilihmu hanya karena kontrak."
Ia melihat Noctis Orchid.
Bunga itu tumbuh semakin kuat.
Seolah ikut merasakan perubahan yang terjadi.
"Anda masih memikirkan kata-kata Aurel?"
Suara Adrian membuat Elena menoleh.
"Kebiasaan buruk Anda."
"Apa?"
"Datang tanpa suara."
Untuk pertama kalinya hari itu...
Adrian hampir tersenyum.
Hampir.
"Kau seharusnya beristirahat."
"Saya bisa mengatakan hal yang sama."
"Aku seorang Duke."
"Dan saya Duchess Anda."
Jawaban Elena cepat.
Adrian terdiam.
Karena ia tidak pernah menyangka gelar yang awalnya hanya bagian dari kontrak...
akan terdengar begitu alami ketika Elena mengatakannya.
"Elena."
Wanita itu menatapnya.
"Aku ingin bertanya sesuatu."
"Tentang apa?"
"Jika semua ini benar..."
Adrian melihat bunga di depan mereka.
"Jika keluargaku penuh dengan kebohongan..."
Ia berhenti.
"Apakah kau akan menyesal menikah denganku?"
Pertanyaan itu membuat Elena diam.
Karena untuk pertama kalinya...
Adrian bukan bertanya sebagai Duke.
Tapi sebagai Adrian.
Seorang pria yang takut ditinggalkan.
"Tidak."
Jawaban Elena langsung.
Adrian menatapnya.
"Kenapa?"
"Karena saya tidak menikah dengan keluarga Noctis."
Ia menatapnya.
"Saya menikah dengan Anda."
Keheningan.
Namun kali ini bukan keheningan yang dingin.
Adrian mengalihkan pandangan.
"Kau selalu mengatakan hal-hal yang sulit dijawab."
Elena tersenyum kecil.
"Itu karena Anda terlalu banyak memendam."
Namun sebelum suasana itu bertahan lama...
seorang pelayan datang membawa pesan.
"Yang Mulia."
"Ada tamu."
"Siapa?"
Pelayan itu menunduk.
"Lady Seraphine Valmont."
Ekspresi Adrian langsung berubah.
Di ruang tamu...
Seraphine duduk dengan tenang.
Tidak seperti seseorang yang datang berkunjung.
Lebih seperti seseorang yang sudah mengetahui semua yang terjadi.
"Selamat datang kembali, Duke Noctis."
Adrian berdiri di hadapannya.
"Apa yang kau inginkan?"
Seraphine tersenyum.
"Langsung pada tujuan."
Ia menatap Elena.
"Luar biasa."
"Apa?"
"Anda berhasil melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan siapa pun selama sepuluh tahun."
Elena mengerutkan kening.
"Apa itu?"
Seraphine tersenyum tipis.
"Membuat Noctis Orchid mekar."
Adrian maju satu langkah.
"Berhenti berbicara dengan teka-teki."
Seraphine tidak terpengaruh.
"Saya datang untuk memperingatkan kalian."
"Memperingatkan?"
"Ya."
Tatapan Seraphine menjadi serius.
"Karena jika Lord Cedric Noctis benar-benar kembali..."
Ruangan langsung sunyi.
Elena menatapnya.
"Anda tahu?"
Seraphine mengangguk.
"Lebih banyak dari yang kalian kira."
Adrian menatap tajam.
"Kenapa aku harus mempercayaimu?"
Seraphine berdiri.
"Jangan."
Ia mengambil mantelnya.
"Tapi sebelum Anda mengusir saya..."
Ia berhenti di pintu.
"Ketahuilah satu hal."
"Lord Cedric bukan satu-satunya orang yang menyimpan rahasia."
Seraphine menatap Adrian.
"Lady Evelyn juga menyembunyikan sesuatu dari Anda."
Pintu tertutup.
Meninggalkan Adrian dan Elena dalam diam.
Karena sekarang mereka menghadapi pertanyaan baru.
Jika Lady Evelyn tahu semuanya...
mengapa ia memilih untuk tetap diam?
Bersambung...
Comments
Post a Comment