Tuesday, July 21, 2026

CHASING AURORA 28

 

CHASING AURORA

Bab 28 — Jarak yang Berbeda

Kali kedua menjalani hubungan jarak jauh seharusnya lebih mudah.

Setidaknya menurut teori.

Karena mereka sudah pernah melewatinya.

Mereka sudah tahu caranya.

Sudah tahu cara berkomunikasi.

Sudah tahu cara menjaga kepercayaan.

Tapi ternyata...

mengetahui caranya tidak membuat rasa rindu menjadi lebih kecil.


Bandara kembali menjadi tempat perpisahan.

Tapi kali ini berbeda.

Tidak ada ketakutan seperti dulu.

Tidak ada rasa bahwa semuanya bisa hilang.

Hanya ada dua orang yang tahu:

Mereka pergi untuk membangun sesuatu.

Bukan untuk meninggalkan.


"Satu aturan."

Ayla berkata sebelum mereka berpisah.

Kael mengangguk.

"Apa?"

"Jangan berubah menjadi manusia kerja lagi."

Kael terlihat berpikir.

"Itu aturan yang sulit."

Ayla langsung menatapnya.

"Kael."

"Saya akan berusaha."

"Berusaha?"

"Baik."

Kael memperbaiki.

"Saya akan melakukan."

Ayla tersenyum.

"Lebih baik."


Tiga minggu pertama berjalan...

cukup kacau.


Masalah pertama:

Perbedaan jadwal.

Ayla sering selesai meeting saat Kael baru mulai bekerja.

Kael sering menelepon ketika Ayla sedang presentasi.


Suatu malam:

Kael: Saya rindu.

Ayla tersenyum melihat pesan itu.

Ayla: Aku juga.

Beberapa detik kemudian.

Kael: Apakah kamu sedang bekerja?

Ayla: Iya.

Kael: Saya juga.

Ayla menghela napas.

Ayla: Jadi kita rindu sambil kerja?

Kael: Efisien.

Ayla langsung tertawa.


Masalah kedua:

Kael tidak pandai menerima kejutan.


Suatu pagi, Ayla mengirim paket.

Isinya:

Sebuah sweater.

Foto kecil.

Dan catatan.

Jangan lupa istirahat.

Kael membuka paket itu di kantor.

Renzo melihat.

"Hadiah?"

Kael mengangguk.

"Ya."

"Romantis?"

"Ya."

"Lalu kenapa wajahmu seperti membaca kontrak?"

Kael melihat sweater itu.

"Saya sedang memahami."

Renzo menghela napas.

"Kael."

"Ya?"

"Itu sweater."

"Saya tahu."

"Bukan dokumen merger."


Kael memakai sweater itu keesokan harinya.

Dan seluruh kantor langsung tahu.

Karena biasanya Kael selalu memakai pakaian formal.


Mika melakukan video call dengan Ayla.

"Kamu berhasil."

"Apa?"

"Mengubah gaya berpakaian Kael."

Ayla tertawa.

"Saya hanya memberinya sweater."

"Tepat."


Tapi di balik hal lucu itu...

mereka juga menghadapi kesulitan.


Ayla mulai sibuk.

Sangat sibuk.

Proyek regionalnya berkembang cepat.

Namanya mulai dikenal.

Banyak orang mulai mengenal Ayla bukan sebagai partner Kael.

Tapi sebagai pemimpin kreatif.

Dan Kael...

bangga.

Sangat bangga.


Namun ada satu hal kecil yang mengganggunya.

Saat sebuah artikel bisnis menulis:

"Ayla Renata: Sosok Kreatif Baru yang Bersinar di Asia."

Tidak ada nama Kael.

Tidak ada hubungan mereka.

Dan anehnya...

Kael menyukai itu.


"Saya senang."

Kael berkata saat video call.

Ayla bingung.

"Kenapa?"

"Karena akhirnya orang melihat kamu sebagai kamu."

Ayla tersenyum.

"Kamu tidak merasa tersisih?"

"Tidak."

"Serius?"

"Ya."

Kael diam sebentar.

"Dulu saya ingin menjadi satu-satunya orang yang memahami kamu."

"Lalu sekarang?"

"Sekarang saya ingin semua orang tahu betapa hebatnya kamu."


Ayla terdiam.

Karena itu mungkin bentuk cinta paling dewasa yang pernah dia rasakan.

Bukan ingin memiliki.

Tapi ingin melihat seseorang berkembang.


Namun malam itu...

ada sesuatu yang berbeda.

Kael terlihat lelah.

"Kamu baik-baik saja?"

Ayla bertanya.

"Ya."

Ayla langsung menyipitkan mata.

"Jangan."

"Apa?"

"Jangan pakai jawaban itu."

Kael tersenyum kecil.

"Kamu semakin mirip saya."

"Karena saya belajar dari ahlinya."


Akhirnya Kael mengaku.

Perusahaan mengalami tekanan.

Ekspansi tidak berjalan semudah rencana.

Dan beberapa keputusan besar harus dibuat.


"Aku bisa pulang."

Ayla langsung berkata.

Kael menggeleng.

"Tidak."

"Tapi..."

"Ayla."

Nada Kael lembut.

"Kamu sedang membangun sesuatu."

Hening.

"Saya tidak ingin kamu meninggalkan mimpi kamu setiap kali saya punya masalah."


Ayla tersenyum sedih.

"Kita benar-benar berubah."

"Ya."

"Dulu aku yang takut pergi."

"Dan sekarang?"

"Sekarang aku belajar percaya."


Beberapa bulan berlalu.

Dan hubungan mereka semakin kuat.

Bukan karena mereka selalu bersama.

Tapi karena mereka belajar tetap dekat meski berjauhan.


Sampai suatu hari...

Kael menerima sebuah email.

Bukan tawaran.

Bukan masalah.

Tapi sebuah undangan.

Sebuah penghargaan internasional.

Untuk Aurora.

Dan nama yang diminta hadir menerima penghargaan itu...

bukan Kael.

Bukan Ayla.

Tapi...

mereka berdua.


Untuk pertama kalinya setelah lama...

dunia mempertemukan mereka kembali.

Bukan sebagai pasangan.

Bukan sebagai karyawan.

Tapi sebagai dua orang yang berhasil membangun sesuatu bersama.


Namun ada satu kejutan.

Karena di acara itu...

seseorang dari masa lalu Kael muncul.

Seseorang yang mengenalnya sebelum Ayla.

Dan orang itu membawa cerita lama yang belum pernah Kael ceritakan.

 

0 comments:

Post a Comment

 

Blognya Alviana Anugrah Template by Ipietoon Cute Blog Design