CHASING AURORA
Bab 28 — Jarak
yang Berbeda
Kali kedua
menjalani hubungan jarak jauh seharusnya lebih mudah.
Setidaknya menurut
teori.
Karena mereka
sudah pernah melewatinya.
Mereka sudah tahu
caranya.
Sudah tahu cara
berkomunikasi.
Sudah tahu cara
menjaga kepercayaan.
Tapi ternyata...
mengetahui caranya
tidak membuat rasa rindu menjadi lebih kecil.
Bandara kembali
menjadi tempat perpisahan.
Tapi kali ini
berbeda.
Tidak ada
ketakutan seperti dulu.
Tidak ada rasa
bahwa semuanya bisa hilang.
Hanya ada dua
orang yang tahu:
Mereka pergi untuk
membangun sesuatu.
Bukan untuk
meninggalkan.
"Satu
aturan."
Ayla berkata
sebelum mereka berpisah.
Kael mengangguk.
"Apa?"
"Jangan
berubah menjadi manusia kerja lagi."
Kael terlihat
berpikir.
"Itu aturan
yang sulit."
Ayla langsung
menatapnya.
"Kael."
"Saya akan
berusaha."
"Berusaha?"
"Baik."
Kael memperbaiki.
"Saya akan
melakukan."
Ayla tersenyum.
"Lebih
baik."
Tiga minggu
pertama berjalan...
cukup kacau.
Masalah pertama:
Perbedaan jadwal.
Ayla sering
selesai meeting saat Kael baru mulai bekerja.
Kael sering
menelepon ketika Ayla sedang presentasi.
Suatu malam:
Kael: Saya
rindu.
Ayla tersenyum
melihat pesan itu.
Ayla: Aku juga.
Beberapa detik
kemudian.
Kael: Apakah
kamu sedang bekerja?
Ayla: Iya.
Kael: Saya
juga.
Ayla menghela
napas.
Ayla: Jadi kita
rindu sambil kerja?
Kael: Efisien.
Ayla langsung
tertawa.
Masalah kedua:
Kael tidak pandai
menerima kejutan.
Suatu pagi, Ayla
mengirim paket.
Isinya:
Sebuah sweater.
Foto kecil.
Dan catatan.
Jangan lupa
istirahat.
Kael membuka paket
itu di kantor.
Renzo melihat.
"Hadiah?"
Kael mengangguk.
"Ya."
"Romantis?"
"Ya."
"Lalu kenapa
wajahmu seperti membaca kontrak?"
Kael melihat
sweater itu.
"Saya sedang
memahami."
Renzo menghela
napas.
"Kael."
"Ya?"
"Itu
sweater."
"Saya
tahu."
"Bukan
dokumen merger."
Kael memakai
sweater itu keesokan harinya.
Dan seluruh kantor
langsung tahu.
Karena biasanya
Kael selalu memakai pakaian formal.
Mika melakukan
video call dengan Ayla.
"Kamu
berhasil."
"Apa?"
"Mengubah
gaya berpakaian Kael."
Ayla tertawa.
"Saya hanya
memberinya sweater."
"Tepat."
Tapi di balik hal
lucu itu...
mereka juga
menghadapi kesulitan.
Ayla mulai sibuk.
Sangat sibuk.
Proyek regionalnya
berkembang cepat.
Namanya mulai
dikenal.
Banyak orang mulai
mengenal Ayla bukan sebagai partner Kael.
Tapi sebagai
pemimpin kreatif.
Dan Kael...
bangga.
Sangat bangga.
Namun ada satu hal
kecil yang mengganggunya.
Saat sebuah
artikel bisnis menulis:
"Ayla
Renata: Sosok Kreatif Baru yang Bersinar di Asia."
Tidak ada nama
Kael.
Tidak ada hubungan
mereka.
Dan anehnya...
Kael menyukai itu.
"Saya
senang."
Kael berkata saat
video call.
Ayla bingung.
"Kenapa?"
"Karena
akhirnya orang melihat kamu sebagai kamu."
Ayla tersenyum.
"Kamu tidak
merasa tersisih?"
"Tidak."
"Serius?"
"Ya."
Kael diam
sebentar.
"Dulu saya
ingin menjadi satu-satunya orang yang memahami kamu."
"Lalu
sekarang?"
"Sekarang
saya ingin semua orang tahu betapa hebatnya kamu."
Ayla terdiam.
Karena itu mungkin
bentuk cinta paling dewasa yang pernah dia rasakan.
Bukan ingin
memiliki.
Tapi ingin melihat
seseorang berkembang.
Namun malam itu...
ada sesuatu yang
berbeda.
Kael terlihat
lelah.
"Kamu
baik-baik saja?"
Ayla bertanya.
"Ya."
Ayla langsung
menyipitkan mata.
"Jangan."
"Apa?"
"Jangan pakai
jawaban itu."
Kael tersenyum
kecil.
"Kamu semakin
mirip saya."
"Karena saya
belajar dari ahlinya."
Akhirnya Kael
mengaku.
Perusahaan
mengalami tekanan.
Ekspansi tidak
berjalan semudah rencana.
Dan beberapa
keputusan besar harus dibuat.
"Aku bisa
pulang."
Ayla langsung
berkata.
Kael menggeleng.
"Tidak."
"Tapi..."
"Ayla."
Nada Kael lembut.
"Kamu sedang
membangun sesuatu."
Hening.
"Saya tidak
ingin kamu meninggalkan mimpi kamu setiap kali saya punya masalah."
Ayla tersenyum
sedih.
"Kita
benar-benar berubah."
"Ya."
"Dulu aku
yang takut pergi."
"Dan
sekarang?"
"Sekarang aku
belajar percaya."
Beberapa bulan
berlalu.
Dan hubungan
mereka semakin kuat.
Bukan karena
mereka selalu bersama.
Tapi karena mereka
belajar tetap dekat meski berjauhan.
Sampai suatu
hari...
Kael menerima
sebuah email.
Bukan tawaran.
Bukan masalah.
Tapi sebuah
undangan.
Sebuah penghargaan
internasional.
Untuk Aurora.
Dan nama yang
diminta hadir menerima penghargaan itu...
bukan Kael.
Bukan Ayla.
Tapi...
mereka berdua.
Untuk pertama
kalinya setelah lama...
dunia
mempertemukan mereka kembali.
Bukan sebagai
pasangan.
Bukan sebagai
karyawan.
Tapi sebagai dua
orang yang berhasil membangun sesuatu bersama.
Namun ada satu
kejutan.
Karena di acara
itu...
seseorang dari
masa lalu Kael muncul.
Seseorang yang
mengenalnya sebelum Ayla.
Dan orang itu
membawa cerita lama yang belum pernah Kael ceritakan.
0 comments:
Post a Comment