The Duchess's Noctis Orchid Bab 22 - Surat Terakhir Lady Evelyn

 Pagi itu, mansion Noctis terasa lebih sunyi dari biasanya.

Tidak ada yang membicarakan kedatangan Lucien Valmont secara terbuka.

Namun semua orang tahu.

Sesuatu telah berubah.

Karena untuk pertama kalinya setelah sepuluh tahun...

masa lalu keluarga Noctis kembali mengetuk pintu mereka.

Di ruang kerja...

Adrian duduk di depan meja.

Amplop tua dari Lucien masih berada di sana.

Tidak tersentuh.

Sejak malam itu, ia belum membukanya.

Bukan karena tidak ingin tahu.

Justru karena terlalu ingin tahu.

Karena ia takut.

Takut menemukan sesuatu yang selama ini ia salah pahami.

"Anda belum membacanya."

Suara Elena membuat Adrian menoleh.

Wanita itu berdiri di pintu.

Membawa dua cangkir teh.

Adrian melihat surat di meja.

"Belum."

Elena meletakkan teh di hadapannya.

"Kenapa?"

Adrian terdiam.

Lalu menjawab,

"Karena kalau surat ini berisi sesuatu yang mengubah semua yang kupercaya..."

Ia berhenti.

"...aku tidak tahu apakah aku siap."

Elena menatapnya.

Selama ini Adrian selalu terlihat seperti seseorang yang tidak takut pada apa pun.

Namun sekarang...

ia melihat sisi lain dari pria itu.

Seseorang yang masih terjebak dalam kehilangan sepuluh tahun lalu.

"Adrian."

Pria itu menatapnya.

"Anda tidak harus membukanya sendirian."

Kalimat sederhana.

Namun membuat Adrian diam.

Karena sejak ibunya meninggal...

ia selalu menghadapi semuanya sendiri.

Akhirnya...

Adrian membuka amplop itu.

Kertas pertama di dalamnya sudah tua.

Namun tulisan tangan itu masih jelas.

Tulisan Lady Evelyn.

"Untuk Adrian."

Hanya dua kata.

Namun tangan Adrian berhenti.

Elena melihat perubahan wajahnya.

Ia tidak mengatakan apa pun.

Memberinya waktu.

"Jika kau membaca surat ini, berarti aku sudah tidak bisa menjelaskan semuanya kepadamu."

"Maafkan ibu."

"Bukan karena meninggalkanmu."

"Tapi karena membiarkanmu tumbuh dengan begitu banyak pertanyaan."

Adrian menunduk.

Matanya membaca setiap kata.

"Adrian, jangan membenci keluarga Valmont hanya karena apa yang terjadi."

Ia berhenti.

Tatapannya berubah.

Elena menyadarinya.

"Tidak semua orang yang membawa nama Valmont adalah musuhmu."

"Dan tidak semua orang yang berdiri di pihakmu benar-benar menyayangimu."

Adrian menggenggam surat itu.

Kalimat itu terdengar seperti peringatan.

Halaman berikutnya membuat keduanya terdiam.

"Noctis Orchid bukan hanya warisan keluarga kita."

"Bunga itu adalah kunci."

"Kunci?"

Elena berbisik.

Adrian melanjutkan membaca.

"Di bawah rumah kaca terdapat sesuatu yang tidak boleh ditemukan oleh orang yang salah."

"Jika bunga itu kembali mekar, berarti waktunya sudah tiba."

Elena menatap Adrian.

"Di bawah rumah kaca?"

Adrian tidak menjawab.

Karena selama ini...

ia tidak pernah tahu.

Surat itu berlanjut.

"Percayalah pada wanita yang membuat bunga itu mekar."

"Dia tidak datang untuk mengambil sesuatu dari keluarga Noctis."

"Dia datang untuk mengembalikan sesuatu yang hilang."

Adrian berhenti membaca.

Matanya perlahan beralih kepada Elena.

Keduanya terdiam.

Karena mereka sama-sama memahami maksud kalimat itu.

Lady Evelyn...

sudah mengetahui bahwa suatu hari Elena akan datang.

"Ini tidak masuk akal."

Adrian berkata pelan.

"Ibuku tidak mungkin tahu tentangmu."

Elena menatap surat itu.

"Mungkin bukan tentang saya."

"Lalu?"

"Mungkin tentang seseorang yang memiliki sifat yang sama."

Adrian diam.

Karena Elena selalu berpikir berbeda.

Ia tidak langsung mencari jawaban.

Ia mencari makna.

Bagian terakhir surat membuat Adrian benar-benar membeku.

"Adrian."

"Jangan biarkan rumah ini hanya menjadi tempat kenangan."

"Biarkan seseorang mengajarkanmu bahwa masih ada kehidupan setelah kehilangan."

Surat itu selesai.

Tidak ada nama.

Tidak ada penjelasan lain.

Hanya satu kalimat terakhir.

"Percayalah pada bunga yang memilih untuk mekar."

Sore itu...

Adrian dan Elena kembali ke rumah kaca.

Mereka berdiri di depan Noctis Orchid.

Bunga itu kini mekar lebih sempurna.

Putih.

Indah.

Namun di bagian tengah kelopaknya...

terlihat pola samar berwarna gelap.

Seperti simbol.

"Apakah ini yang dimaksud ibumu?"

Elena bertanya.

Adrian tidak menjawab.

Ia melihat ke bawah.

Di dekat akar bunga...

ada celah kecil pada lantai batu.

Sebuah tempat yang sebelumnya tidak pernah terlihat.

Elena berlutut.

"Adrian."

Ia menunjuk ke sana.

"Ada sesuatu."

Adrian mendekat.

Dan untuk pertama kalinya...

mereka menyadari.

Rumah kaca yang selama ini mereka pikir hanya tempat bunga tumbuh...

menyimpan pintu menuju rahasia terbesar keluarga Noctis.

Bersambung...


Comments