CHASING AURORA 29

 

CHASING AURORA

Bab 29 — Seseorang dari Masa Lalu

Bandara.

Lagi.

Ayla mulai berpikir bahwa sebagian besar kisah hidupnya dengan Kael selalu terjadi di antara keberangkatan dan kepulangan.

Tapi kali ini berbeda.

Karena kali ini...

mereka tidak berpisah.

Mereka bertemu.


Begitu Ayla keluar dari pintu kedatangan, dia langsung melihat seseorang berdiri dengan jas hitam rapi.

Kael.

Masih dengan gaya yang sama.

Berdiri tegak.

Tangan di saku.

Wajah tenang.

Tapi Ayla tahu.

Pria itu sedang menahan senyum.


"Kamu datang."

Kalimat pertama Kael.

Ayla berhenti.

"Serius?"

"Apa?"

"Kita tidak bertemu beberapa bulan dan kamu bilang itu?"

Kael berpikir.

"Saya punya beberapa kalimat lain."

"Lalu?"

"Saya merasa itu tidak perlu."

Ayla tertawa.

"Kael."

"Ya?"

"Kamu tetap kamu."


Kael mengambil koper Ayla.

"Aku bisa bawa sendiri."

"Saya tahu."

"Lalu?"

"Saya ingin membawa."

Ayla diam.

Kemudian tersenyum.

Dulu Kael selalu merasa membantu berarti mengambil alih.

Sekarang dia sudah belajar.

Kadang membantu hanya berarti berada di samping seseorang.


Acara penghargaan Aurora berlangsung dua hari kemudian.

Semua berjalan sempurna.

Aurora mendapatkan penghargaan sebagai salah satu perusahaan kreatif berkembang terbaik.

Dan saat nama mereka dipanggil...

Kael dan Ayla naik bersama.


Di atas panggung, pembawa acara bertanya:

"Apa rahasia keberhasilan kalian?"

Kael dan Ayla saling melihat.

Ayla hampir tertawa.

Karena pertanyaan itu terdengar seperti meminta laporan bisnis.


Kael mengambil mikrofon.

"Dua hal."

"Apa itu?"

"Kepercayaan."

Dia melihat Ayla.

"Dan seseorang yang berani mengatakan ketika saya salah."

Seluruh ruangan tertawa.

Ayla mengambil mikrofon.

"Dan seseorang yang perlahan belajar mendengarkan."

Kael mengangguk.

"Masih belajar."

Ayla tersenyum.

"Benar."


Setelah acara, mereka bertemu banyak orang.

Sampai akhirnya...

seseorang datang.

"Aku kira kamu tidak akan datang."

Suara wanita.

Kael langsung berhenti.

Ayla melihat perubahan kecil di wajahnya.

Bukan takut.

Tapi terkejut.


Wanita itu tersenyum.

"Kael."

"Reina."

Ayla diam.

Nama itu baru.

Dan dia tahu.

Nama baru dari masa lalu selalu punya cerita.


"Sudah lama."

Kata Reina.

"Ya."

"Aku dengar kamu menjalankan Aurora sekarang."

"Ya."

"Kamu berubah."

Kael tidak menjawab.


Ayla memperhatikan.

Karena Kael yang biasanya mudah menghadapi siapa pun...

kali ini terlihat berbeda.

Lebih berhati-hati.


"Ayla."

Kael akhirnya memperkenalkan.

"Ini Reina. Teman lama."

Reina tersenyum.

"Teman lama?"

Kael menatapnya.

Reina tertawa kecil.

"Baiklah. Teman kuliah."


Malam itu, Ayla bertanya.

"Boleh aku bertanya?"

Kael mengangguk.

"Tentu."

"Siapa Reina?"

Kael diam.

Dan Ayla langsung tahu.

Cerita ini penting.


"Dia orang pertama yang percaya saya bisa melakukan sesuatu sendiri."

Ayla terkejut.

"Benarkah?"

"Ya."

"Kenapa kalian tidak bersama?"

Kael melihat keluar jendela.

"Karena waktu itu kami memilih jalan berbeda."


Ayla menunggu.

Kael jarang membicarakan masa lalu.

"Saya memilih membangun Aurora."

"Dan dia?"

"Pergi melanjutkan studinya."


"Lalu?"

"Kami kehilangan kontak."

Ayla mengangguk.

Sederhana.

Tapi ada sesuatu yang belum selesai dalam nada Kael.


"Kamu masih punya perasaan?"

Pertanyaan Ayla langsung.

Kael menoleh.

"Apa?"

"Aku bertanya."

Kael diam.

Lalu tersenyum kecil.

"Ayla."

"Ya?"

"Kalau saya masih punya perasaan, saya tidak akan berdiri di sini bersama kamu."


Jawaban itu sederhana.

Tapi membuat Ayla lega.


Keesokan harinya, Reina bertemu Ayla.

Bukan sebagai saingan.

Tapi sebagai seseorang yang ingin berbicara.

"Aku senang melihat Kael sekarang."

Ayla tersenyum.

"Kenapa?"

"Karena dulu dia tidak pernah membiarkan dirinya bahagia."


Ayla diam.

"Dia selalu berpikir harus menjadi lebih baik dulu."

Reina tersenyum.

"Kamu mengubah itu."


Ayla menggeleng.

"Tidak."

"Kenapa?"

"Dia sendiri yang berubah."

Jawaban itu membuat Reina tersenyum.

"Bagus."


Sore itu, Kael menemukan Ayla duduk sendiri.

"Kamu bicara dengan Reina."

"Ya."

"Apa dia mengatakan sesuatu?"

Ayla tersenyum.

"Dia mengatakan kamu dulu lebih menyebalkan."

Kael terlihat kaget.

"Itu tidak perlu diketahui."

Ayla tertawa.

"Nah, kamu masih bisa malu."


Mereka berjalan kembali ke hotel.

Dan untuk pertama kalinya...

Ayla melihat masa lalu Kael.

Bukan sebagai ancaman.

Tapi sebagai bagian dari perjalanan yang membentuk pria di sampingnya.


Namun malam itu...

Kael menerima pesan.

Dari ayahnya.

Satu kalimat.

"Kita perlu bicara tentang Aurora."


Kael melihat layar lama.

Karena dia tahu.

Masa lalu belum benar-benar selesai.

Dan kali ini...

yang dipertaruhkan bukan hanya dirinya.

Tapi perusahaan yang sudah dia bangun.

Dan masa depan yang dia bangun bersama Ayla.

 

Comments