CHASING AURORA
Bab 13 — Saat
Kamu Jadi Prioritas
Ayla Renata selalu
percaya satu hal:
Masalah pekerjaan
harus diselesaikan dengan kepala dingin.
Jangan panik.
Jangan menuduh
tanpa bukti.
Jangan membuat
keputusan berdasarkan emosi.
Itu teori yang
bagus.
Sangat
profesional.
Sayangnya...
teori itu menjadi
jauh lebih sulit dijalankan ketika namanya sendiri mulai muncul dalam masalah.
Pagi itu, seluruh
tim Aurora dipanggil untuk rapat darurat.
Suasana kantor
berbeda.
Tidak ada suara
bercanda.
Tidak ada obrolan
kecil.
Semua orang
serius.
Kael berdiri di
depan ruangan.
"Kita
menemukan sumber kebocoran belum berasal dari luar."
Semua orang diam.
"Artinya?"
"Seseorang
dari internal memiliki akses."
Ayla melihat
sekeliling.
Orang-orang mulai
saling melihat.
Dan dia tidak suka
itu.
Karena dalam
situasi seperti ini...
kepercayaan bisa
hilang dalam hitungan menit.
Setelah rapat
selesai, seorang staf menghampiri Kael.
"Pak, ada
sesuatu yang perlu Anda lihat."
Kael mengambil
tablet.
Wajahnya berubah
sedikit.
Hanya sedikit.
Tapi Ayla
melihatnya.
"Apa?"
Kael tidak
langsung menjawab.
"Ayla."
"Ya?"
"Kamu perlu
ikut dengan saya."
Nada suaranya
membuat Ayla langsung serius.
Di ruang keamanan
digital, mereka menunjukkan daftar akses.
Nama.
Waktu.
Aktivitas.
Dan satu hal yang
membuat semua orang terdiam.
Akun Ayla
digunakan untuk mengakses dokumen sebelum bocor.
Ayla melihat
layar.
"Tidak
mungkin."
Kael melihatnya.
"Saya
tahu."
"Tapi..."
Ayla mendekat.
"Itu akun
saya."
"Ya."
"Jadi mereka
berpikir saya yang membocorkannya?"
Kael tidak
menjawab.
Dan diamnya cukup.
Biasanya Ayla akan
langsung membela diri.
Akan menjelaskan.
Akan berdebat.
Tapi kali ini dia
hanya diam.
Karena untuk
pertama kalinya...
dia merasa kecewa.
Bukan karena
dicurigai.
Tapi karena
seseorang menggunakan namanya.
"Ayla."
Suara Kael lebih
lembut.
"Apa?"
"Anda percaya
saya?"
Pertanyaan itu
membuat Ayla menoleh.
Bukan:
"Apakah kamu
bersalah?"
Bukan:
"Jelaskan
ini."
Tapi:
"Anda percaya
saya?"
Ayla menatapnya.
"Ya."
Jawabannya tanpa
ragu.
Malam itu, mereka
masih berada di kantor.
Ayla duduk di sofa
ruang meeting.
Kepalanya
bersandar.
"Aku benci
situasi seperti ini."
Kael berdiri di
dekat jendela.
"Saya
tahu."
"Kamu
tahu?"
"Ya."
"Bagaimana?"
"Karena kamu
biasanya bicara dua kali lebih banyak saat stres."
Ayla menatapnya.
"Kamu
memperhatikan itu?"
"Ya."
"Kamu
memperhatikan banyak hal."
Kael tidak
menjawab.
Karena itu memang
benar.
"Aku
takut."
Kalimat itu keluar
pelan.
Kael menoleh.
Ayla jarang
mengatakan itu.
"Saya
tahu."
"Aku bisa
kehilangan kepercayaan tim."
"Kamu tidak
akan."
"Bagaimana
kamu tahu?"
"Karena saya
tahu siapa kamu."
Ayla terdiam.
Sederhana.
Tapi kuat.
Beberapa menit
kemudian, Kael meletakkan sesuatu di meja.
Sebuah makanan
kecil.
Ayla melihatnya.
"Kamu masih
sempat membeli makanan?"
"Kamu belum
makan."
Ayla hampir
tersenyum.
"Kael."
"Ya?"
"Situasi
kantor sedang kacau."
"Ya."
"Dan kamu
masih memikirkan aku makan?"
Kael terlihat
bingung.
"Itu
penting."
Ayla menatapnya.
"Kenapa?"
Kael diam.
Biasanya dia akan
memberikan jawaban profesional.
Tapi kali ini...
dia tidak.
"Karena kamu
penting."
Hening.
Sangat hening.
Ayla tidak
menyangka Kael akan mengatakan itu.
Kael juga terlihat
sedikit terkejut dengan dirinya sendiri.
Dia baru saja
mengatakan sesuatu yang selama ini dia simpan.
Tanpa perhitungan.
Tanpa alasan lain.
Keesokan harinya,
penyelidikan menemukan fakta baru.
Akses Ayla memang
digunakan.
Tapi bukan oleh
Ayla.
Seseorang menyalin
data login-nya saat laptopnya tertinggal di ruang meeting.
Dan orang itu...
adalah staf yang
bekerja di bawah divisi lain.
Nama Ayla bersih.
Saat pengumuman
dibuat, semua orang meminta maaf.
Ayla menerimanya.
Tapi pikirannya
bukan tentang itu.
Dia mencari satu
orang.
Kael.
Dia menemukan pria
itu di ruangannya.
"Kamu sudah
tahu sejak awal?"
Kael mengangguk.
"Sebagian."
"Kenapa tidak
bilang?"
"Karena saya
tidak ingin membuat kamu lebih stres sebelum ada bukti."
Ayla menatapnya.
"Kamu
melindungiku."
Kael diam.
"Saya
melindungi tim."
Ayla tersenyum.
"Nah."
"Apa?"
"Kamu masih
melakukan itu."
"Melakukan
apa?"
"Menyembunyikan
kalimat sebenarnya di balik kalimat profesional."
Kael terdiam.
Karena
lagi-lagi...
Ayla benar.
Sore itu, mereka
berjalan keluar kantor bersama.
Tidak ada hujan.
Tidak ada keadaan
dramatis.
Hanya jalanan
biasa.
Tapi bagi Ayla...
ada sesuatu yang
berubah.
"Kael."
"Ya?"
"Kalau suatu
hari aku benar-benar punya masalah besar..."
Dia berhenti.
Kael menunggu.
"Kamu akan
tetap di sisiku?"
Kael tidak
berpikir lama.
"Ya."
"Kenapa?"
Kali ini Kael
tidak menghindar.
"Karena saya
memilih begitu."
Ayla tersenyum.
Dan untuk pertama
kalinya...
dia tidak merasa
perlu mencari arti tersembunyi dari kata-kata Kael.
Karena sekarang
dia tahu.
Pria itu mungkin
tidak pandai mengucapkan perasaan.
Tapi dia selalu
hadir.
Dan mungkin...
itulah cara Kael
Ardhana mencintai seseorang.
Bukan dengan
kata-kata besar.
Tapi dengan
memilih untuk tetap tinggal.
Namun tanpa mereka
sadari...
ada satu orang
yang memperhatikan perubahan mereka.
Dan orang itu tahu
sesuatu yang belum mereka sadari:
Mereka sudah lama
berhenti menjadi sekadar partner kerja.
0 comments:
Post a Comment