Tuesday, July 21, 2026

CHASING AURORA 13

 

CHASING AURORA

Bab 13 — Saat Kamu Jadi Prioritas

Ayla Renata selalu percaya satu hal:

Masalah pekerjaan harus diselesaikan dengan kepala dingin.

Jangan panik.

Jangan menuduh tanpa bukti.

Jangan membuat keputusan berdasarkan emosi.

Itu teori yang bagus.

Sangat profesional.

Sayangnya...

teori itu menjadi jauh lebih sulit dijalankan ketika namanya sendiri mulai muncul dalam masalah.


Pagi itu, seluruh tim Aurora dipanggil untuk rapat darurat.

Suasana kantor berbeda.

Tidak ada suara bercanda.

Tidak ada obrolan kecil.

Semua orang serius.

Kael berdiri di depan ruangan.

"Kita menemukan sumber kebocoran belum berasal dari luar."

Semua orang diam.

"Artinya?"

"Seseorang dari internal memiliki akses."

Ayla melihat sekeliling.

Orang-orang mulai saling melihat.

Dan dia tidak suka itu.

Karena dalam situasi seperti ini...

kepercayaan bisa hilang dalam hitungan menit.


Setelah rapat selesai, seorang staf menghampiri Kael.

"Pak, ada sesuatu yang perlu Anda lihat."

Kael mengambil tablet.

Wajahnya berubah sedikit.

Hanya sedikit.

Tapi Ayla melihatnya.

"Apa?"

Kael tidak langsung menjawab.

"Ayla."

"Ya?"

"Kamu perlu ikut dengan saya."

Nada suaranya membuat Ayla langsung serius.


Di ruang keamanan digital, mereka menunjukkan daftar akses.

Nama.

Waktu.

Aktivitas.

Dan satu hal yang membuat semua orang terdiam.

Akun Ayla digunakan untuk mengakses dokumen sebelum bocor.

Ayla melihat layar.

"Tidak mungkin."

Kael melihatnya.

"Saya tahu."

"Tapi..."

Ayla mendekat.

"Itu akun saya."

"Ya."

"Jadi mereka berpikir saya yang membocorkannya?"

Kael tidak menjawab.

Dan diamnya cukup.


Biasanya Ayla akan langsung membela diri.

Akan menjelaskan.

Akan berdebat.

Tapi kali ini dia hanya diam.

Karena untuk pertama kalinya...

dia merasa kecewa.

Bukan karena dicurigai.

Tapi karena seseorang menggunakan namanya.

"Ayla."

Suara Kael lebih lembut.

"Apa?"

"Anda percaya saya?"

Pertanyaan itu membuat Ayla menoleh.

Bukan:

"Apakah kamu bersalah?"

Bukan:

"Jelaskan ini."

Tapi:

"Anda percaya saya?"

Ayla menatapnya.

"Ya."

Jawabannya tanpa ragu.


Malam itu, mereka masih berada di kantor.

Ayla duduk di sofa ruang meeting.

Kepalanya bersandar.

"Aku benci situasi seperti ini."

Kael berdiri di dekat jendela.

"Saya tahu."

"Kamu tahu?"

"Ya."

"Bagaimana?"

"Karena kamu biasanya bicara dua kali lebih banyak saat stres."

Ayla menatapnya.

"Kamu memperhatikan itu?"

"Ya."

"Kamu memperhatikan banyak hal."

Kael tidak menjawab.

Karena itu memang benar.


"Aku takut."

Kalimat itu keluar pelan.

Kael menoleh.

Ayla jarang mengatakan itu.

"Saya tahu."

"Aku bisa kehilangan kepercayaan tim."

"Kamu tidak akan."

"Bagaimana kamu tahu?"

"Karena saya tahu siapa kamu."

Ayla terdiam.

Sederhana.

Tapi kuat.


Beberapa menit kemudian, Kael meletakkan sesuatu di meja.

Sebuah makanan kecil.

Ayla melihatnya.

"Kamu masih sempat membeli makanan?"

"Kamu belum makan."

Ayla hampir tersenyum.

"Kael."

"Ya?"

"Situasi kantor sedang kacau."

"Ya."

"Dan kamu masih memikirkan aku makan?"

Kael terlihat bingung.

"Itu penting."

Ayla menatapnya.

"Kenapa?"

Kael diam.

Biasanya dia akan memberikan jawaban profesional.

Tapi kali ini...

dia tidak.

"Karena kamu penting."


Hening.

Sangat hening.

Ayla tidak menyangka Kael akan mengatakan itu.

Kael juga terlihat sedikit terkejut dengan dirinya sendiri.

Dia baru saja mengatakan sesuatu yang selama ini dia simpan.

Tanpa perhitungan.

Tanpa alasan lain.


Keesokan harinya, penyelidikan menemukan fakta baru.

Akses Ayla memang digunakan.

Tapi bukan oleh Ayla.

Seseorang menyalin data login-nya saat laptopnya tertinggal di ruang meeting.

Dan orang itu...

adalah staf yang bekerja di bawah divisi lain.

Nama Ayla bersih.


Saat pengumuman dibuat, semua orang meminta maaf.

Ayla menerimanya.

Tapi pikirannya bukan tentang itu.

Dia mencari satu orang.

Kael.

Dia menemukan pria itu di ruangannya.

"Kamu sudah tahu sejak awal?"

Kael mengangguk.

"Sebagian."

"Kenapa tidak bilang?"

"Karena saya tidak ingin membuat kamu lebih stres sebelum ada bukti."

Ayla menatapnya.

"Kamu melindungiku."

Kael diam.

"Saya melindungi tim."

Ayla tersenyum.

"Nah."

"Apa?"

"Kamu masih melakukan itu."

"Melakukan apa?"

"Menyembunyikan kalimat sebenarnya di balik kalimat profesional."

Kael terdiam.

Karena lagi-lagi...

Ayla benar.


Sore itu, mereka berjalan keluar kantor bersama.

Tidak ada hujan.

Tidak ada keadaan dramatis.

Hanya jalanan biasa.

Tapi bagi Ayla...

ada sesuatu yang berubah.

"Kael."

"Ya?"

"Kalau suatu hari aku benar-benar punya masalah besar..."

Dia berhenti.

Kael menunggu.

"Kamu akan tetap di sisiku?"

Kael tidak berpikir lama.

"Ya."

"Kenapa?"

Kali ini Kael tidak menghindar.

"Karena saya memilih begitu."


Ayla tersenyum.

Dan untuk pertama kalinya...

dia tidak merasa perlu mencari arti tersembunyi dari kata-kata Kael.

Karena sekarang dia tahu.

Pria itu mungkin tidak pandai mengucapkan perasaan.

Tapi dia selalu hadir.

Dan mungkin...

itulah cara Kael Ardhana mencintai seseorang.

Bukan dengan kata-kata besar.

Tapi dengan memilih untuk tetap tinggal.


Namun tanpa mereka sadari...

ada satu orang yang memperhatikan perubahan mereka.

Dan orang itu tahu sesuatu yang belum mereka sadari:

Mereka sudah lama berhenti menjadi sekadar partner kerja.

 

0 comments:

Post a Comment

 

Blognya Alviana Anugrah Template by Ipietoon Cute Blog Design