Bagian 1: Pertemuan di Danau Barat
Pada zaman dahulu,
di sebuah gunung yang sunyi, hiduplah seekor ular putih yang telah berlatih
selama ribuan tahun untuk memperoleh kekuatan gaib. Ular itu bernama Bai
Suzhen. Selama bertahun-tahun ia bermeditasi, mempelajari kebajikan, dan
berusaha memahami kehidupan manusia. Berkat ketekunan dan hatinya yang baik, ia
akhirnya mampu berubah menjadi seorang perempuan yang sangat cantik.
Bai Suzhen tidak
sendirian. Ia ditemani oleh sahabat setianya, seekor ular hijau bernama Xiao
Qing, yang juga telah memperoleh kemampuan berubah wujud menjadi seorang
gadis muda. Xiao Qing memiliki sifat pemberani, ceria, dan terkadang keras
kepala, tetapi ia sangat setia kepada Bai Suzhen.
Suatu hari, Bai
Suzhen berkata kepada sahabatnya, "Sudah ribuan tahun kita tinggal di
pegunungan. Aku ingin melihat dunia manusia. Aku ingin mengetahui bagaimana
rasanya hidup, bekerja, mencintai, dan membantu sesama."
Xiao Qing
tersenyum. "Kalau begitu, mari kita pergi bersama."
Keduanya pun
meninggalkan gunung dan berjalan menuju kota Hangzhou. Saat itu musim semi baru
saja tiba. Pohon-pohon mulai menghijau, bunga bermekaran, dan orang-orang
memenuhi jalan untuk menikmati keindahan alam.
Mereka tiba di
sebuah tempat yang terkenal karena keindahannya, yaitu Danau Barat. Air danau
begitu jernih hingga memantulkan langit biru, sementara jembatan batu
melengkung menghubungkan tepian yang dipenuhi pohon willow.
Ketika mereka
sedang menikmati pemandangan, langit tiba-tiba berubah gelap. Awan hitam
berkumpul, lalu hujan turun dengan deras. Orang-orang berlarian mencari tempat
berteduh.
Di tengah hujan
itu, seorang pemuda bernama Xu Xian sedang berjalan sambil membawa
payung. Ia melihat dua perempuan yang tampak kebingungan karena tidak memiliki
pelindung dari hujan.
Tanpa ragu, Xu
Xian menghampiri mereka.
"Nona, hujan
semakin deras. Silakan gunakan payung ini."
Bai Suzhen merasa
tersentuh oleh kebaikan pemuda itu. Ia belum pernah bertemu manusia yang begitu
tulus menolong orang asing tanpa mengharapkan imbalan.
"Tapi
bagaimana dengan Anda?" tanya Bai Suzhen.
Xu Xian tersenyum.
"Rumahku
tidak jauh. Aku bisa berlari. Yang penting kalian tidak kehujanan."
Karena terus
didesak, akhirnya Bai Suzhen menerima payung itu. Sebelum mereka berpisah, Xu
Xian hanya berpesan, "Jika suatu hari kita bertemu lagi, kembalikan saja
payung itu."
Setelah hujan
reda, Bai Suzhen masih memandangi payung tersebut.
Xiao Qing
menggoda, "Sepertinya ada seseorang yang mulai jatuh hati."
Wajah Bai Suzhen
memerah.
"Bukan
begitu. Aku hanya belum pernah bertemu manusia sebaik itu."
Namun jauh di
dalam hatinya, ia tahu bahwa pertemuan singkat itu telah meninggalkan kesan
yang mendalam.
Beberapa hari
kemudian, Bai Suzhen sengaja mencari Xu Xian untuk mengembalikan payung. Mereka
kembali berbincang, lalu berjalan mengelilingi Danau Barat bersama. Semakin
lama mereka berbicara, semakin mereka merasa cocok satu sama lain.
Xu Xian adalah
seorang pemuda sederhana yang bekerja sebagai tabib. Ia selalu berusaha
membantu orang-orang miskin meskipun dirinya sendiri tidak kaya. Bai Suzhen
mengagumi ketulusan dan belas kasihnya.
Di sisi lain, Xu
Xian juga merasa bahwa Bai Suzhen bukanlah perempuan biasa. Ia sopan,
bijaksana, dan selalu memperhatikan orang lain.
Hari demi hari
berlalu. Pertemuan mereka semakin sering, hingga akhirnya tumbuhlah benih cinta
di hati keduanya.
Beberapa bulan
kemudian, mereka memutuskan untuk menikah. Dengan bantuan Xiao Qing, mereka
membuka sebuah apotek kecil yang menjual obat-obatan tradisional.
Bai Suzhen
menggunakan pengetahuan yang diperolehnya selama ribuan tahun untuk meracik
obat. Banyak orang yang sakit datang berobat, dan hampir semuanya sembuh.
Apotek mereka pun menjadi terkenal karena tidak pernah menolak pasien yang
miskin.
Penduduk Hangzhou
sangat menghormati pasangan itu. Mereka dikenal sebagai orang-orang yang murah
hati, suka menolong, dan tidak pernah mengambil keuntungan dari penderitaan
orang lain.
Namun, kebahagiaan
itu tidak berlangsung selamanya.
Di sebuah kuil di
atas gunung, seorang biksu bernama Fa Hai merasakan adanya kekuatan gaib
yang sangat besar berasal dari kota Hangzhou.
Setelah melakukan
meditasi, ia mengetahui bahwa kekuatan itu berasal dari seekor siluman ular
yang hidup di tengah manusia.
Fa Hai pun berkata
dengan tegas,
"Hubungan
antara manusia dan siluman tidak boleh dibiarkan. Cepat atau lambat, hal itu
akan membawa bencana."
Tanpa diketahui
Bai Suzhen maupun Xu Xian, biksu itu mulai menyusun rencana untuk memisahkan
mereka.
Bersambung...*
0 comments:
Post a Comment