CHASING AURORA
Bab 33 —
Pilihan yang Membentuk Segalanya
Tujuh hari.
Bagi sebagian
orang, tujuh hari adalah waktu yang cukup.
Bagi Kael
Ardhana...
tujuh hari terasa
seperti ujian terbesar dalam hidupnya.
Karena kali ini
dia tidak sedang memilih untuk dirinya sendiri.
Jika dia menerima
tawaran Ardhana Group, Aurora akan memiliki dana besar.
Ekspansi lebih
cepat.
Kesempatan lebih
luas.
Tapi ada risiko
kehilangan sesuatu yang tidak bisa dibeli.
Identitas.
Jika dia
menolak...
Aurora tetap
bebas.
Tapi pertumbuhan
mereka akan jauh lebih sulit.
Dan sebagai
pemimpin...
Kael tahu setiap
pilihan punya harga.
"Kamu sudah
tidur?"
Ayla bertanya saat
menemukan Kael masih di kantor pukul sebelas malam.
Kael melihat jam.
"Sudah."
Ayla melihat meja
penuh dokumen.
"Kapan?"
Kael diam.
"Kael."
"Sepuluh
menit."
Ayla menghela
napas.
"Sepuluh
menit bukan tidur."
"Itu
istirahat."
"Itu mati
sebentar."
Kael menatapnya.
Lalu tersenyum
kecil.
"Kamu semakin
berani."
"Karena kamu
semakin keras kepala."
"Masuk
akal."
Ayla mengambil
beberapa dokumen.
"Kita mulai
dari awal."
Kael mengerutkan
dahi.
"Apa?"
"Masalahnya
bukan memilih menerima atau menolak."
"Lalu?"
"Kita cari
pilihan ketiga."
Kael menatapnya.
Dulu...
dia selalu
berpikir hanya ada dua pilihan.
Menang atau kalah.
Menerima atau
menolak.
Tapi Ayla selalu
mengajarinya melihat kemungkinan lain.
Keesokan paginya,
rapat besar Aurora dimulai.
Semua kepala
divisi hadir.
Dan suasananya...
terlalu serius.
Sampai Mika
mengangkat tangan.
"Pertanyaan."
Kael mengangguk.
"Apa?"
"Apakah kita
boleh makan dulu sebelum membahas masa depan perusahaan?"
Semua diam.
Kael melihat jam.
"Kamu
lapar?"
"Ya."
"Ini rapat
penting."
"Saya
tahu."
"Lalu?"
"Saya lebih
pintar kalau makan."
Renzo mengangguk.
"Dia ada
poin."
Kael menatap semua
orang.
"Kalian
serius?"
Mika mengangkat
bahu.
"Perusahaan
dibangun oleh manusia."
Kael diam.
Ayla menahan
senyum.
Karena kalimat
itu...
sangat mirip
dengan yang pernah dia katakan.
Akhirnya rapat
dimulai.
Satu per satu
orang memberikan pendapat.
Bukan hanya
tentang angka.
Tapi tentang apa
arti Aurora bagi mereka.
"Saya
bergabung karena Aurora berbeda."
Kata salah satu
anggota tim kreatif.
"Di sini ide
lebih penting daripada jabatan."
Yang lain berkata:
"Saya takut
kalau perusahaan terlalu besar, kita kehilangan hal yang membuat kita datang ke
sini."
Kael mendengarkan.
Benar-benar
mendengarkan.
Setelah rapat
selesai, semua orang pergi.
Tinggal Kael dan
Ayla.
"Kamu
mendengar mereka."
Ayla berkata.
Kael mengangguk.
"Ya."
"Dulu kamu
tidak akan melakukan itu."
"Saya
tahu."
"Kenapa
sekarang?"
Kael melihat
ruangan.
"Karena saya
baru sadar."
"Apa?"
"Saya
membangun Aurora bukan untuk membuktikan saya bisa bekerja sendiri."
Dia tersenyum
kecil.
"Saya
membangunnya karena saya ingin membuat tempat yang berbeda."
Ayla tersenyum.
"Itu
jawabanmu."
Hari keenam.
Kael akhirnya
bertemu ayahnya.
"Apa
keputusanmu?"
Ayahnya bertanya.
Kael meletakkan
proposal baru.
"Kami
menerima investasi."
Ayahnya
mengangguk.
"Lalu?"
"Dengan
syarat."
Ayahnya membaca
dokumen itu.
Dan berhenti.
"Kamu menolak
akuisisi."
"Ya."
"Tapi
menerima investasi."
"Ya."
"Kenapa?"
Kael menjawab
tenang:
"Karena saya
tidak menolak keluarga saya."
Dia berhenti.
"Tapi saya
juga tidak menyerahkan apa yang saya bangun."
Ayahnya menatapnya
lama.
"Kamu
berubah."
Kael tersenyum
tipis.
"Saya
tahu."
"Karena
Ayla?"
Pertanyaan itu
muncul.
Kael tidak
langsung menjawab.
Lalu berkata:
"Karena saya
akhirnya belajar."
Ayahnya diam.
"Seseorang
bisa membantu saya berubah."
Kael melanjutkan.
"Tapi
keputusan tetap milik saya."
Malam itu...
keputusan
diumumkan.
Aurora tetap
berdiri sendiri.
Tapi mendapat
dukungan investasi baru dengan perjanjian yang menjaga kendali kreatif mereka.
Seluruh kantor
merayakan.
Dengan cara yang
sangat tidak elegan.
Mika membawa kue.
Renzo membawa
minuman.
Dan seseorang
memasang foto Kael muda di layar kantor.
Kael langsung
berhenti.
"Siapa yang
melakukan ini?"
Semua diam.
Ayla perlahan
menunjuk Mika.
Mika menunjuk
Renzo.
Renzo menunjuk
staf baru.
Kael melihat
layar.
Foto dirinya
dengan rambut berantakan.
"Ini
penghinaan."
Ayla tertawa.
"Ini
sejarah."
"Saya tidak
setuju."
"Tapi kamu
tersenyum."
Kael langsung
berhenti.
Karena...
dia memang
tersenyum.
Malam itu, setelah
semua orang pulang...
Kael dan Ayla
berdiri di depan gedung Aurora.
Tempat yang dulu
hanya mimpi.
"Kamu
bahagia?"
Ayla bertanya.
Kael melihat lampu
kantor.
"Ya."
"Karena
perusahaan berhasil?"
Kael menggeleng.
"Karena saya
tidak lagi merasa harus membuktikan sesuatu."
Ayla tersenyum.
Namun di
kejauhan...
sebuah undangan
masuk ke email Ayla.
Sebuah tawaran
yang bahkan lebih besar daripada sebelumnya.
Bukan dari
perusahaan.
Bukan dari
investor.
Tapi dari dunia
internasional.
Dan kali ini...
nama Ayla sendiri
yang dipanggil.
Karena setelah
membantu Kael menemukan jalannya...
Ayla harus
menghadapi pertanyaan baru:
Apa jalan yang
dia inginkan untuk dirinya sendiri?
0 comments:
Post a Comment