Mansion Noctis terasa berbeda sejak kabar kepulangan Lord Cedric menyebar.
Para pelayan bergerak lebih hati-hati.
Para penjaga menjadi lebih waspada.
Karena setelah sepuluh tahun...
kepala keluarga Noctis yang lama akhirnya kembali.
Namun bagi Adrian...
ini bukan kepulangan seorang ayah.
Ini adalah pertemuan dengan seseorang yang mungkin telah menghancurkan keluarganya.
"Anda tidak harus pergi."
Elena berdiri di depan Adrian.
Pria itu sedang mengenakan mantel hitamnya.
"Aku harus."
"Kenapa?"
Adrian menatapnya.
"Karena jika aku terus menghindar..."
Ia berhenti.
"Aku tidak akan pernah tahu kebenaran."
Elena diam.
Lalu mengambil sarung tangan di meja dan menyerahkannya.
"Kalau begitu saya ikut."
Adrian langsung mengerutkan kening.
"Elena."
"Saya tahu."
"Kali ini berbahaya."
"Saya tahu."
"Kau keras kepala."
Elena tersenyum kecil.
"Anda baru menyadarinya?"
Adrian tidak bisa membalas.
Karena memang sejak awal...
itulah alasan Elena berbeda dari orang lain.
Dia tidak takut pada gelarnya.
Tidak takut pada keluarganya.
Tidak takut pada dirinya.
Mereka bertemu Lord Cedric di kediaman lama keluarga Noctis.
Bukan di mansion utama.
Melainkan sebuah rumah besar di pinggir wilayah keluarga.
Tempat yang selama ini ditutup.
Ketika pintu terbuka...
Adrian melihatnya.
Seorang pria tua.
Rambutnya mulai memutih.
Namun tatapannya masih tajam.
Lord Cedric Noctis.
"Akhirnya."
Suara pria itu tenang.
"Anakku kembali."
Adrian berdiri tanpa bergerak.
"Jangan panggil aku begitu."
Senyum Cedric menghilang sedikit.
"Aku melihat kau masih menyimpan kemarahan."
"Sepuluh tahun."
Suara Adrian rendah.
"Sepuluh tahun kau membiarkan aku percaya bahwa Aurel sudah mati."
Cedric menatapnya.
"Aurel memilih jalannya sendiri."
"Dan kau memilih berbohong."
Keheningan.
Kemudian Cedric mengalihkan pandangan kepada Elena.
"Jadi..."
"Ini wanita yang membuat Noctis Orchid mekar."
Elena membungkuk sopan.
"Lord Cedric."
"Tidak perlu terlalu formal."
Cedric tersenyum tipis.
"Aku hanya penasaran."
"Penasaran?"
"Ya."
Ia mendekat sedikit.
"Apakah kau benar-benar mencintai bunga itu..."
"atau hanya menggunakan keluarga Noctis untuk mendapatkan kedudukan?"
Adrian langsung berubah.
"Cukup."
Namun Elena menahan lengannya.
Ia menatap Cedric.
"Saya tidak mendapatkan kedudukan ini dengan meminta."
"Saya mendapatkannya karena sebuah kontrak."
Cedric tersenyum.
"Kontrak?"
"Ya."
Elena menjawab tenang.
"Tapi selama saya berada di rumah Noctis..."
"Saya merawat sesuatu yang bahkan keluarga ini sudah menyerah untuk menjaganya."
Tatapan Cedric berubah.
"Noctis Orchid."
Elena melanjutkan.
"Menurut saya bukan simbol kekuasaan."
"Melainkan kehidupan."
Untuk sesaat...
Cedric tidak berkata apa-apa.
Kemudian ia tertawa kecil.
"Menarik."
Adrian menatapnya dingin.
"Apa tujuanmu?"
Cedric kembali serius.
"Aku ingin melihat apakah wanita ini benar-benar orang yang dipilih oleh Noctis Orchid."
"Dan?"
Cedric melihat Elena.
"Aku belum memutuskan."
Adrian mengepalkan tangan.
"Kau memanggil kami hanya untuk mengujinya?"
"Tidak."
Cedric berdiri.
"Aku memanggil kalian karena ada sesuatu yang harus kalian ketahui."
Ia mengambil sebuah dokumen.
Dan meletakkannya di meja.
"Sepuluh tahun lalu..."
"Lady Evelyn tidak mati karena rahasia Noctis Orchid."
Adrian membeku.
"Lalu karena apa?"
Cedric menatap putranya.
"Karena dia menemukan siapa yang sebenarnya ingin mengambil bunga itu."
Elena merasakan suasana berubah.
"Siapa?"
Cedric menjawab pelan.
"Orang yang paling dipercaya Lady Evelyn."
Adrian terdiam.
Karena satu nama langsung muncul dalam pikirannya.
Lucien Valmont.
Namun Cedric menggeleng.
"Bukan dia."
"Kalau begitu siapa?"
Cedric menatap Adrian.
Dan jawabannya membuat seluruh tubuh Adrian menegang.
"Putraku..."
"Orang yang selama ini kau kira hilang."
"Aurel Noctis."
Ruangan menjadi sunyi.
Adrian mundur satu langkah.
"Tidak."
Cedric hanya berkata,
"Karena itulah ibumu memilih menyembunyikan kebenaran darimu."
Elena menatap Cedric.
Namun dalam hati...
ia merasakan sesuatu.
Ada yang salah.
Karena pria ini terlalu mudah menyalahkan Aurel.
Dan untuk pertama kalinya...
Elena menyadari.
Mungkin permainan sebenarnya baru dimulai.
Bersambung...
Comments
Post a Comment