Pagi itu, Elena terbangun lebih awal dari biasanya.
Bukan karena jadwal Duchess.
Bukan karena pelajaran etiket.
Melainkan karena satu hal yang terus memenuhi pikirannya sejak tadi malam.
Buku tua pemberian Adrian.
Catatan Perawatan Noctis Orchid.
Ia membawa buku itu bersamanya menuju rumah kaca.
Cahaya matahari menembus kaca tua yang mulai dibersihkan Elena beberapa hari terakhir.
Tempat itu masih jauh dari sempurna.
Namun dibandingkan saat pertama kali ia datang...
perubahannya terlihat jelas.
Rak-rak kayu sudah tertata.
Tanaman mati telah dipindahkan.
Jalur kecil di antara pot sudah kembali terlihat.
Rumah kaca yang dulu terasa seperti tempat kosong...
perlahan kembali bernapas.
Elena duduk di meja tua dekat jendela.
Ia membuka halaman pertama.
Tulisan tangan lama memenuhi kertas.
"Noctis Orchid bukan sekadar bunga. Ia adalah warisan keluarga Noctis."
Elena mengernyit.
Ia membalik halaman berikutnya.
"Bunga ini hanya dapat tumbuh dengan perawatan yang tepat. Namun lebih dari itu, ia membutuhkan seseorang yang mampu memahami sifatnya."
Elena tersenyum kecil.
"Memahami sifat bunga..."
Ia menggeleng pelan.
"Sepertinya keluarga Noctis terlalu serius terhadap tanaman."
Namun ketika membaca halaman selanjutnya...
senyumnya perlahan menghilang.
"Jika Noctis Orchid kembali mekar, rahasia keluarga Noctis akan ikut terungkap."
Elena berhenti.
Rahasia?
Kenapa sebuah bunga harus menyimpan rahasia?
"Apa yang kau temukan?"
Suara Adrian membuat Elena menoleh.
Ia berdiri di pintu rumah kaca.
Seperti biasa, pria itu muncul tanpa suara.
"Kau punya kebiasaan membuat orang terkejut, Yang Mulia."
Adrian tidak menjawab.
Tatapannya tertuju pada buku di tangannya.
"Itu seharusnya tidak dibaca sembarangan."
Elena menutup buku tersebut.
"Kalau begitu, kenapa Anda memberikannya?"
Adrian terdiam.
Pertanyaan Elena selalu sederhana.
Tapi entah kenapa...
selalu sulit dijawab.
"Karena aku ingin tahu apa yang akan kau lakukan."
Elena mengangkat alis.
"Jadi saya hanya percobaan?"
"Bukan."
Jawaban Adrian terlalu cepat.
Keduanya sama-sama terdiam.
Adrian seolah menyadari reaksinya sendiri.
Ia mengalihkan pandangan.
"Maksudku..."
"Aku ingin melihat apakah kau benar-benar mampu merawatnya."
Elena menatapnya beberapa detik.
Lalu tersenyum kecil.
"Anda buruk sekali dalam menjelaskan sesuatu."
Adrian mengerutkan kening.
"Apa?"
"Anda selalu mengatakan sesuatu yang terdengar dingin, padahal maksud Anda berbeda."
Untuk sesaat...
Adrian tidak memiliki jawaban.
Elena kembali membuka buku itu.
"Ada sesuatu yang ingin saya tanyakan."
"Tanyakan."
"Noctis Orchid pernah mekar sebelumnya?"
Keheningan langsung memenuhi rumah kaca.
Ekspresi Adrian berubah.
Sangat sedikit.
Tapi Elena melihatnya.
"Ya."
"Siapa yang merawatnya?"
Adrian memandang bunga kecil di hadapan mereka.
"Ibuku."
Suara Adrian lebih pelan dari biasanya.
"Ia satu-satunya orang yang bisa membuat bunga itu mekar."
Elena diam.
Ia tidak menyangka akan mendapat jawaban.
"Setelah beliau meninggal..."
Adrian berhenti.
"Anggrek itu tidak pernah mekar lagi."
Ada kesedihan yang tersembunyi di balik nada datarnya.
Sesuatu yang selama ini tidak pernah Elena lihat.
"Yang Mulia."
Adrian menatapnya.
"Menurut saya..."
Elena menyentuh salah satu daun anggrek dengan lembut.
"Bunga ini tidak berhenti tumbuh karena kehilangan seseorang."
"Kalau begitu?"
"Mungkin ia hanya menunggu orang berikutnya yang mau merawatnya."
Adrian menatap Elena.
Kalimat itu sederhana.
Namun entah mengapa...
membuat sesuatu di dalam dirinya bergerak.
Karena selama bertahun-tahun...
ia mengira semua yang berharga akan hilang jika ia mencoba memilikinya.
Sore hari...
Sebuah undangan tiba di mansion Noctis.
Undangan resmi dari Istana Elarion.
Kompetisi Bunga Kerajaan akan diadakan dalam tiga bulan.
Para bangsawan diminta membawa tanaman terbaik mereka.
Kepala pelayan menyerahkan surat itu kepada Adrian.
"Apakah keluarga Noctis akan ikut tahun ini, Yang Mulia?"
Adrian melihat surat tersebut.
Biasanya jawabannya selalu sama.
Tidak.
Keluarga Noctis sudah tidak mengikuti kompetisi sejak lama.
Namun kali ini...
pandangannya beralih pada rumah kaca.
Pada seorang wanita yang sedang merawat bunga di dalamnya.
"Ya."
Kepala pelayan terkejut.
"Yang Mulia?"
"Kita akan ikut."
Di sisi lain...
Elena belum mengetahui keputusan itu.
Ia masih berdiri di depan Noctis Orchid.
Melihat satu tunas kecil yang mulai tumbuh.
Namun di balik dinding rumah kaca...
seseorang kembali mengawasinya.
Dan kali ini...
orang itu tersenyum.
"Kalau begitu..."
"Biarkan Duchess Noctis berusaha."
"Semakin tinggi bunga itu tumbuh..."
"Semakin mudah untuk menghancurkannya."
Bersambung...
Comments
Post a Comment