Hujan turun sejak sore.
Suasana mansion Noctis terasa berat ketika Lila duduk di ruang tamu.
Wanita itu sudah menua.
Namun sorot matanya masih sama seperti seseorang yang membawa rahasia terlalu lama.
Di hadapannya...
Adrian duduk tanpa bergerak.
Elena berada di sampingnya.
Bukan sebagai pengamat.
Melainkan seseorang yang juga berhak mengetahui kebenaran.
"Sepuluh tahun..."
Suara Lila bergetar.
"Sepuluh tahun saya diam."
Adrian menatapnya.
"Kenapa?"
Lila menunduk.
"Karena saya takut."
"Takut pada siapa?"
Wanita itu tidak langsung menjawab.
Dan dari diamnya...
Adrian sudah mendapat sebagian jawabannya.
"Saya takut jika mengatakan kebenaran, keluarga Noctis akan hancur."
Adrian mengepalkan tangan.
"Dan sekarang?"
Lila menatapnya.
"Sekarang saya tahu..."
"Jika saya terus diam, justru keluarga ini tidak akan pernah sembuh."
Elena memperhatikan wanita itu.
Ada kesedihan dalam suaranya.
Bukan kebohongan.
"Apa yang terjadi malam itu?"
Adrian bertanya.
Suara rendahnya penuh tekanan.
Lila menarik napas panjang.
"Lima belas tahun lalu, Lady Evelyn mulai menyelidiki sesuatu."
"Selama ini semua orang berpikir beliau hanya merawat tanaman."
"Tapi sebenarnya..."
Lila menatap ke arah rumah kaca.
"Beliau mencari tahu tentang Noctis Orchid."
"Kenapa?"
Adrian bertanya.
"Karena beliau menemukan bahwa bunga itu bukan hanya warisan keluarga."
Lila berhenti.
"Bunga itu adalah bukti."
Elena mengerutkan kening.
"Bukti tentang apa?"
Lila menatapnya.
"Tentang pengkhianatan di dalam keluarga bangsawan."
Ruangan menjadi hening.
"Lalu apa hubungannya dengan kematian Lady Evelyn?"
Adrian bertanya.
Lila menunduk.
"Malam sebelum beliau meninggal..."
"Lady Evelyn menemukan sesuatu di ruang bawah rumah kaca."
Adrian dan Elena saling melihat.
Ruang rahasia.
Tempat yang baru mereka temukan.
"Beliau tahu ada seseorang yang mencoba mengambil sesuatu dari sana."
Lila melanjutkan.
"Dan malam itu..."
"Beliau bertemu seseorang."
"Siapa?"
Adrian bertanya.
Namun Lila terdiam.
Tangannya bergetar.
"Jawab."
Nada Adrian berubah.
Bukan marah.
Tapi terluka.
Lila menutup matanya.
"Lord Valmont."
Nama itu membuat suasana langsung berubah.
Lucien Valmont.
"Mustahil."
Adrian berkata pelan.
"Lord Valmont adalah sahabat ayahku."
Lila mengangguk.
"Itulah yang membuat semuanya sulit dipercaya."
"Lalu apa yang terjadi?"
Elena bertanya.
Lila melihatnya.
"Lady Evelyn tidak membencinya."
"Beliau bahkan percaya padanya."
"Tapi malam itu..."
Lila menggenggam kain di tangannya.
"Beliau menyadari seseorang yang paling dekat dengan keluarga Noctis justru mengetahui rahasia yang seharusnya tidak pernah diketahui."
Adrian berdiri.
"Lucien membunuh ibuku?"
Pertanyaan itu terdengar seperti seseorang yang takut mendengar jawabannya.
Lila segera menggeleng.
"Tidak."
Adrian terdiam.
"Tidak?"
Lila menatapnya.
"Saya tidak melihat siapa yang melakukannya."
"Tapi saya melihat satu hal."
"Apa?"
"Lord Valmont datang malam itu."
"Dan setelah dia pergi..."
"Lady Evelyn ditemukan dalam keadaan terluka."
Keheningan.
"Kenapa selama ini kau tidak mengatakan ini?"
Adrian bertanya.
Lila menunduk.
"Karena sebelum Lady Evelyn pergi..."
Beliau meminta saya berjanji."
"Berjanji apa?"
Lila mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
Sebuah kotak kecil.
Kotak kayu tua.
"Jika suatu hari Noctis Orchid kembali mekar..."
"Benda ini harus diberikan kepada putranya."
Adrian menerima kotak itu.
Tangannya berhenti ketika melihat ukiran di atasnya.
Sama seperti kotak rahasia di bawah rumah kaca.
Lambang keluarga Noctis.
Namun ketika kotak itu dibuka...
isinya bukan surat.
Bukan dokumen.
Melainkan sebuah kalung kecil.
Dengan liontin berbentuk anggrek.
Dan sebuah tulisan di belakangnya.
"Untuk orang yang akan menjaga Adrian ketika aku tidak bisa."
Adrian terdiam.
Elena juga.
Karena kalimat itu bukan ditujukan kepada keluarga Noctis.
Bukan kepada penerus.
Tapi kepada seseorang.
Lila menatap Elena.
"Lady Evelyn pernah mengatakan..."
"Suatu hari akan ada seseorang yang datang."
"Seseorang yang tidak hanya menyelamatkan bunga itu."
"Tapi juga menyelamatkan putranya."
Elena tidak bisa berkata apa-apa.
Malam itu...
setelah Lila pergi...
Adrian kembali ke rumah kaca.
Elena mengikutinya.
Pria itu berdiri di depan Noctis Orchid.
"Selama ini..."
suaranya pelan.
"Ibuku tahu aku akan bertemu seseorang sepertimu."
Elena menatapnya.
"Atau mungkin..."
Ia tersenyum kecil.
"Beliau hanya berharap Anda tidak sendirian selamanya."
Adrian menatapnya.
Dan untuk pertama kalinya...
tidak ada jarak di antara mereka.
Tidak ada kontrak.
Tidak ada kewajiban.
Hanya dua orang yang perlahan mulai memahami satu sama lain.
Namun di tempat lain...
sebuah laporan diletakkan di atas meja.
Seseorang membaca nama Lila.
Lalu tersenyum.
"Jadi dia akhirnya bicara."
Tangannya menyentuh simbol hitam berbentuk anggrek.
"Kalau begitu..."
"Sudah waktunya Noctis Orchid diambil kembali."
Bersambung...
Comments
Post a Comment