Tuesday, July 21, 2026

Legenda Ular Putih Bagian 6

 

Bagian 6 (Bagian Terakhir): Putra Bai Suzhen Menyelamatkan Ibunya

Tahun demi tahun berlalu.

Di bawah bayangan Pagoda Leifeng, Bai Suzhen tetap menjalani hukumannya. Di ruang batu yang gelap dan sunyi, ia tidak dapat melihat matahari, mendengar suara ombak Danau Barat, ataupun memeluk putra yang sangat dirindukannya.

Namun, ia tidak pernah kehilangan harapan.

Setiap hari ia bermeditasi dan berdoa agar suatu saat dapat bertemu kembali dengan keluarganya.

Di luar pagoda, dunia terus berubah.

Putra Bai Suzhen, Xu Mengjiao, tumbuh menjadi seorang pemuda yang cerdas, sopan, dan rajin belajar. Ia dibesarkan oleh Xiao Qing, yang menyamar sebagai bibinya. Xiao Qing tidak pernah menceritakan asal-usul Mengjiao saat ia masih kecil. Ia hanya mengatakan bahwa kedua orang tuanya adalah orang-orang yang sangat baik.

Mengjiao tumbuh dengan cita-cita menjadi seorang pejabat yang jujur agar dapat membantu rakyat kecil, seperti yang pernah dilakukan ayah dan ibunya.


Ketika usianya menginjak dua puluh tahun, Mengjiao mengikuti ujian kekaisaran, ujian paling bergengsi di negeri itu. Ribuan pemuda dari seluruh Tiongkok datang untuk membuktikan kemampuan mereka.

Selama berbulan-bulan, Mengjiao belajar tanpa mengenal lelah.

Ia mengingat pesan Xiao Qing.

"Orang yang berilmu harus menggunakan pengetahuannya untuk menolong sesama, bukan untuk mencari kemuliaan bagi dirinya sendiri."

Hari ujian pun tiba.

Dengan tenang, Mengjiao menjawab setiap pertanyaan. Pengetahuannya yang luas dan pikirannya yang jernih membuat para penguji terkesan.

Beberapa minggu kemudian, hasil ujian diumumkan.

Nama Xu Mengjiao berada di peringkat pertama.

Seluruh kota bersorak.

Ia diangkat menjadi pejabat muda kerajaan, terkenal karena kecerdasannya dan sifatnya yang rendah hati.

Namun di tengah kebahagiaan itu, Xiao Qing merasa waktunya telah tiba.


Suatu malam, Xiao Qing mengajak Mengjiao berjalan menuju Danau Barat.

Mereka berhenti di depan Pagoda Leifeng yang menjulang tinggi.

"Bibiku," kata Mengjiao, "mengapa kita datang ke sini?"

Xiao Qing menarik napas panjang.

"Ada sesuatu yang selama ini kusembunyikan darimu."

Ia lalu menceritakan semuanya.

Tentang Bai Suzhen yang sebenarnya adalah siluman ular putih.

Tentang Xu Xian yang mencintainya.

Tentang perjuangan Bai Suzhen mencari Ramuan Keabadian.

Tentang pertempuran di Kuil Gunung Emas.

Dan tentang bagaimana ibunya dikurung di bawah Pagoda Leifeng demi melindungi keluarganya.

Mengjiao terdiam.

Air matanya perlahan mengalir.

"Jadi... ibuku masih hidup?"

Xiao Qing mengangguk pelan.

"Ia menunggumu selama puluhan tahun."


Keesokan harinya, Mengjiao mengenakan pakaian kebesarannya sebagai pejabat kerajaan. Ia membawa persembahan sederhana berupa bunga, dupa, dan makanan kesukaan ibunya.

Di depan Pagoda Leifeng, ia berlutut.

"Ibu..."

Suaranya bergetar.

"Maafkan aku... Aku baru mengetahui semuanya."

Ia menundukkan kepala hingga menyentuh tanah.

"Aku tidak datang sebagai pejabat kerajaan. Aku datang sebagai anak yang ingin bertemu ibunya."

Tangisnya pecah.

Air mata Mengjiao jatuh ke tanah di depan pagoda.

Konon, langit tersentuh oleh bakti dan ketulusan hati seorang anak kepada ibunya.

Tiba-tiba angin bertiup lembut.

Awan hitam yang selama bertahun-tahun menyelimuti pagoda perlahan menghilang.

Tanah mulai bergetar.

Retakan-retakan kecil muncul di dasar pagoda.

Cahaya putih memancar dari dalamnya.

Segel yang dibuat Fa Hai selama puluhan tahun mulai melemah.

Pada saat yang sama, Fa Hai yang sedang bermeditasi merasakan perubahan itu.

Ia segera datang ke Pagoda Leifeng.

Saat melihat Mengjiao masih berlutut sambil menangis, wajahnya berubah.

Ia menyadari bahwa bukan kekuatan gaib yang menghancurkan segel itu.

Melainkan kasih sayang seorang anak kepada ibunya.

Fa Hai menutup mata.

Selama bertahun-tahun ia percaya bahwa dirinya menjaga keseimbangan dunia.

Namun kini ia melihat sesuatu yang tidak pernah ia pahami sepenuhnya.

Cinta, pengorbanan, dan bakti dapat melampaui hukum yang paling kuat sekalipun.

Ia menghela napas panjang.

"Mungkin... selama ini aku terlalu keras."

Fa Hai mengangkat tongkat sucinya.

Dengan satu ayunan perlahan, cahaya emas yang mengikat Bai Suzhen lenyap.

Segel di bawah Pagoda Leifeng akhirnya hancur.

Dari dalam cahaya putih yang berkilauan, muncullah seorang perempuan berpakaian putih.

Wajahnya tetap cantik seperti puluhan tahun sebelumnya, tetapi matanya dipenuhi air mata.

"Bai Suzhen..."

Xu Mengjiao berlari memeluk ibunya.

"Ibu..."

Untuk pertama kalinya sejak ia lahir, Bai Suzhen dapat memeluk putranya.

Keduanya menangis tanpa mampu mengucapkan sepatah kata pun.

Tak lama kemudian, Xu Xian yang telah menjadi seorang biksu tua juga datang ke pagoda setelah mendengar kabar tersebut.

Saat mata mereka bertemu, waktu seolah berhenti.

Xu Xian melangkah perlahan.

"Aku... telah menunggu hari ini begitu lama."

Bai Suzhen tersenyum sambil menahan tangis.

"Aku tidak pernah menyalahkanmu."

Xu Xian menundukkan kepala.

"Akulah yang seharusnya meminta maaf. Aku membiarkan rasa takut mengalahkan kepercayaanku."

Bai Suzhen menggeleng.

"Yang penting... kita bisa bertemu lagi."

Fa Hai berdiri beberapa langkah di belakang mereka.

Ia memberi hormat kepada Bai Suzhen.

"Maafkan aku."

Bai Suzhen membalas hormat itu.

"Semoga tidak ada lagi kebencian di antara kita."

Fa Hai pun meninggalkan Danau Barat dan memilih mengembara untuk memperdalam kebijaksanaan, menyadari bahwa hukum tanpa belas kasih dapat melukai orang yang tidak bersalah.

Sejak hari itu, Bai Suzhen, Xu Xian, dan Xu Mengjiao hidup bersama kembali. Mereka membuka apotek seperti dahulu, mengobati orang-orang tanpa membedakan kaya maupun miskin.

Xiao Qing tetap berada di sisi mereka sebagai sahabat dan keluarga.

Penduduk Hangzhou mengenang kisah mereka sebagai lambang cinta yang setia, pengorbanan yang tulus, dan bakti seorang anak kepada orang tuanya.

Hingga kini, Pagoda Leifeng di tepi Danau Barat masih dikaitkan dengan legenda ini. Banyak orang datang ke sana untuk mengenang kisah Bai Suzhen dan percaya bahwa cinta sejati, kesabaran, serta ketulusan hati pada akhirnya akan mengalahkan kebencian dan prasangka.


TAMAT


Berikut beberapa foto Pagoda Leifeng (Leifeng Pagoda) di tepi Danau Barat (West Lake), Hangzhou, Tiongkok:

https://www.revigorate.com/things-to-do-in-hangzhou-pt.html

 

https://www.emirates.com/sa/arabic/destinations/flights-to-hangzhou/


https://www.civitatis.com/es/hangzhou/pagoda-leifeng-museo-seda/


Fakta menarik tentang Pagoda Leifeng:

  • Pagoda ini berada di tepi selatan Danau Barat (West Lake) di kota Hangzhou, Provinsi Zhejiang, Tiongkok.
  • Pagoda asli dibangun pada tahun 975 M pada masa Kerajaan Wuyue.
  • Bangunan asli runtuh pada tahun 1924, sedangkan pagoda yang berdiri sekarang merupakan hasil rekonstruksi yang selesai pada 2002.
  • Dalam legenda Bai Suzhen (Legenda Ular Putih), inilah tempat Bai Suzhen disegel oleh Biksu Fa Hai setelah pertempuran di Kuil Jinshan. Karena itulah Pagoda Leifeng menjadi salah satu lokasi paling ikonik dalam cerita rakyat Tiongkok.

Pemandangan terbaik biasanya dinikmati saat matahari terbenam, sehingga muncul sebutan "Leifeng Pagoda in Evening Glow", salah satu dari Sepuluh Pemandangan Terkenal Danau Barat.

Legenda Ular Putih Bagian 5

 

Bagian 5: Kelahiran Putra Bai Suzhen dan Hukuman di Pagoda Leifeng

Setelah gagal menyelamatkan Xu Xian dari Kuil Gunung Emas, Bai Suzhen dan Xiao Qing melarikan diri ke sebuah lembah terpencil yang jauh dari Hangzhou. Pertempuran dahsyat melawan Fa Hai telah menguras hampir seluruh kekuatan gaib Bai Suzhen. Tubuhnya yang lemah semakin terbebani karena ia sedang mengandung.

Hari-hari berikutnya dilalui dengan penuh kesunyian. Xiao Qing merawat sahabatnya tanpa kenal lelah. Ia mencari tanaman obat, memasak makanan, dan menjaga gua tempat mereka bersembunyi agar tidak ditemukan oleh para pemburu siluman.

Meski tubuhnya semakin lemah, Bai Suzhen tidak pernah berhenti memikirkan Xu Xian.

Setiap malam ia duduk di depan gua, memandangi langit yang dipenuhi bintang.

"Aku tidak tahu apakah kau membenciku sekarang," bisiknya. "Tetapi aku berharap suatu hari nanti kau mengetahui bahwa semua yang kulakukan berasal dari cinta."


Sementara itu, di Kuil Gunung Emas, Xu Xian hidup sebagai seorang biksu.

Namun ketenangan yang dijanjikan Fa Hai tidak pernah benar-benar ia rasakan.

Setiap kali menutup mata, yang terbayang bukanlah wujud ular raksasa, melainkan senyum Bai Suzhen saat mereka pertama kali bertemu di Danau Barat.

Ia teringat bagaimana istrinya merawat orang-orang miskin tanpa meminta bayaran, bagaimana ia selalu tersenyum saat menyambutnya pulang, dan bagaimana ia rela mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkannya.

Semakin lama, Xu Xian mulai bertanya kepada dirinya sendiri.

"Jika Bai Suzhen benar-benar jahat... mengapa ia selalu memilih menolong orang lain?"

Suatu malam, ia memberanikan diri bertanya kepada Fa Hai.

"Guru... apakah semua siluman pasti jahat?"

Fa Hai terdiam beberapa saat.

"Ada yang berbuat baik. Ada pula yang berbuat jahat."

"Lalu mengapa Bai Suzhen harus dipisahkan dariku?"

Fa Hai menatap muridnya dengan serius.

"Karena hukum langit tidak mengizinkan manusia dan siluman hidup sebagai suami istri. Cepat atau lambat, keseimbangan dunia akan terganggu."

Meski mendengar jawaban itu, hati Xu Xian masih dipenuhi keraguan.


Beberapa bulan kemudian, tibalah saat yang dinantikan.

Di sebuah malam yang tenang, Bai Suzhen melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat.

Tangisan bayi itu menggema memenuhi lembah.

Air mata kebahagiaan mengalir di wajah Bai Suzhen saat ia menggendong putranya untuk pertama kali.

"Aku akan menamakanmu Xu Mengjiao," katanya lembut.

Xiao Qing tersenyum bahagia.

"Dia sangat mirip ayahnya."

Untuk beberapa waktu, Bai Suzhen akhirnya merasakan kebahagiaan yang telah lama hilang. Meski hidup sederhana di tengah pegunungan, ia menikmati setiap hari bersama putranya.

Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.

Fa Hai akhirnya mengetahui tempat persembunyian mereka.


Suatu pagi, langit tiba-tiba berubah mendung.

Angin bertiup sangat kencang.

Xiao Qing yang sedang mencari kayu bakar merasakan aura yang sangat dikenalnya.

"Fa Hai..."

Ia segera berlari kembali ke gua.

"Bai Suzhen! Kita harus pergi sekarang!"

Belum sempat mereka melarikan diri, puluhan biksu telah mengepung lembah dari segala arah.

Di tengah mereka berdiri Fa Hai dengan tongkat sucinya.

"Bai Suzhen," katanya lantang. "Perjalananmu berakhir di sini."

Bai Suzhen memeluk bayi kecilnya erat-erat.

"Apa yang masih kau inginkan dariku?"

"Serahkan dirimu."

"Aku hanya ingin membesarkan anakku."

"Langit telah menjatuhkan hukuman kepadamu."

Bai Suzhen menatap putranya yang masih tertidur.

Ia tahu kekuatannya belum pulih sepenuhnya. Jika ia bertarung sekarang, bukan hanya dirinya yang akan terluka, tetapi juga anaknya.

Xiao Qing berdiri di depan Bai Suzhen.

"Aku akan melawan mereka!"

Namun Bai Suzhen menggeleng.

"Tidak."

Ia mengusap kepala sahabatnya.

"Kalau kita bertarung, banyak orang yang akan terluka lagi."

Lalu ia menyerahkan bayi Xu Mengjiao kepada Xiao Qing.

"Tolong... besarkan dia."

Xiao Qing langsung menangis.

"Tidak! Kita masih bisa melawan!"

Bai Suzhen tersenyum tipis.

"Anak ini masih membutuhkan seseorang."

"Tapi..."

"Berjanjilah."

Dengan mata berkaca-kaca, Xiao Qing akhirnya mengangguk.

"Aku berjanji."


Fa Hai kemudian mengangkat mangkuk sucinya tinggi-tinggi.

Cahaya keemasan turun dari langit, membentuk pusaran besar di atas kepala Bai Suzhen.

Tanah bergetar.

Langit bergemuruh.

Dari kejauhan tampak Pagoda Leifeng, sebuah pagoda tua yang berdiri megah di tepi Danau Barat.

Cahaya itu perlahan menarik tubuh Bai Suzhen menuju pagoda.

Ia tidak melawan.

Sebelum menghilang, ia memandang putranya untuk terakhir kali.

"Jadilah anak yang baik... Jangan pernah membenci siapa pun... bahkan mereka yang telah memisahkan kita."

Air mata Xiao Qing tak berhenti mengalir.

"Bai Suzhen!"

Tubuh Bai Suzhen akhirnya menghilang ke dalam Pagoda Leifeng.

Saat itu juga, pondasi pagoda memancarkan cahaya terang.

Rantai-rantai gaib muncul dari tanah, mengikat kekuatan Bai Suzhen dan menyegelnya jauh di bawah bangunan itu.

Sejak hari itu, Bai Suzhen hidup terkurung di bawah Pagoda Leifeng, tidak dapat melihat langit, tidak dapat memeluk putranya, dan tidak dapat bertemu kembali dengan Xu Xian.

Xu Mengjiao kemudian dibesarkan oleh Xiao Qing secara diam-diam.

Ia tumbuh menjadi anak yang cerdas, rajin belajar, dan memiliki hati yang lembut, tanpa mengetahui bahwa ibunya masih hidup... terpenjara di bawah sebuah pagoda tua.

Sementara itu, setiap kali melewati Danau Barat, Xu Xian selalu memandang ke arah Pagoda Leifeng dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

Jauh di dalam hatinya, ia merasa seseorang yang sangat dicintainya sedang menunggunya di sana.


 Bersambung...*

Legenda Ular Putih Bagian 4

 

Bagian 4: Pertempuran di Kuil Gunung Emas (Jinshan)

Setelah menempuh perjalanan panjang dari Gunung Kunlun, Bai Suzhen akhirnya kembali ke Hangzhou. Tubuhnya penuh luka akibat pertarungan dengan para penjaga langit. Pakaiannya robek, langkahnya goyah, dan kekuatan gaibnya hampir habis. Namun, satu-satunya hal yang memenuhi pikirannya hanyalah Xu Xian.

Ia menggenggam erat Ramuan Keabadian yang diperolehnya dengan susah payah.

"Bertahanlah, Xu Xian... Aku sudah kembali."

Namun, ketika ia tiba di rumah mereka, pintunya terbuka lebar. Apotek itu kosong. Rak-rak obat masih tertata rapi, tetapi tidak ada seorang pun di sana.

"Xu Xian!" panggilnya.

Tidak ada jawaban.

Xiao Qing yang sedang mencari informasi segera datang menghampirinya.

"Bai Suzhen!"

"Apa yang terjadi? Di mana Xu Xian?"

Wajah Xiao Qing tampak muram.

"Saat kau pergi, Biksu Fa Hai datang. Ia mengatakan kepada Xu Xian bahwa satu-satunya cara menyelamatkan dirinya adalah meninggalkanmu. Ia membawa Xu Xian ke Kuil Gunung Emas (Jinshan)."

Mendengar itu, wajah Bai Suzhen seketika pucat.

"Tidak..."

Tanpa membuang waktu, ia segera berlari menuju kuil yang terletak di puncak sebuah bukit di tepi Sungai Yangtze.


Sore itu, lonceng kuil berbunyi perlahan.

Xu Xian duduk termenung di dalam aula utama. Sejak mengetahui bahwa istrinya adalah seekor siluman ular, hatinya dipenuhi kebingungan.

Ia teringat semua kenangan mereka bersama—hari pertama bertemu di Danau Barat, saat membuka apotek, membantu orang-orang miskin, hingga tawa yang mereka bagi setiap malam.

Ia tahu Bai Suzhen tidak pernah menyakitinya.

Namun bayangan wujud ular raksasa itu masih menghantuinya.

Fa Hai berdiri di sampingnya.

"Xu Xian, kau telah melihat sendiri siapa istrimu."

Xu Xian menundukkan kepala.

"Guru... tetapi selama ini ia selalu berbuat baik."

Fa Hai menghela napas.

"Kebaikan hari ini tidak menjamin keselamatanmu di masa depan. Manusia dan siluman berasal dari dua dunia yang berbeda."

Xu Xian tidak menjawab.

Hatinya terbelah antara rasa takut dan rasa cinta.


Tak lama kemudian, seorang biksu muda berlari tergesa-gesa memasuki kuil.

"Guru Fa Hai! Ada seorang wanita datang ke gerbang. Ia memohon agar suaminya dikembalikan."

Fa Hai sudah mengetahui siapa yang datang.

"Buka gerbang. Aku akan menemuinya."

Di luar kuil, Bai Suzhen berdiri dengan napas terengah-engah. Perjalanan panjang membuat tubuhnya hampir roboh, tetapi ia tetap berdiri tegak.

Ketika melihat Fa Hai muncul, ia segera berkata,

"Tolong... izinkan aku bertemu Xu Xian."

Fa Hai menggeleng.

"Dia telah memilih tinggal di kuil."

"Itu tidak mungkin."

"Biarkan ia hidup sebagai manusia. Jangan seret dia ke dunia para siluman."

Bai Suzhen mengepalkan tangan.

"Aku tidak pernah mencelakainya."

"Belum."

"Aku telah menyelamatkan ribuan orang."

"Itu tidak mengubah kenyataan bahwa kau adalah siluman."

Suasana menjadi hening.

Angin bertiup pelan melewati halaman kuil.

Bai Suzhen memejamkan mata sejenak sebelum berkata,

"Aku hanya ingin berbicara dengannya."

"Tidak."

"Kalau begitu... aku tidak akan pergi."


Di balik jendela aula, Xu Xian mendengar suara istrinya.

Hatinya bergetar.

"Itu Bai Suzhen..."

Ia hendak berlari keluar, tetapi Fa Hai segera mengangkat tongkat sucinya.

"Jangan."

Seketika sebuah penghalang cahaya muncul, menutup seluruh gerbang kuil.

Bai Suzhen mencoba melangkah maju, tetapi tubuhnya terpental oleh kekuatan pelindung itu.

Ia kembali berdiri.

Lalu mencoba lagi.

Sekali lagi ia terpental.

Melihat sahabatnya diperlakukan seperti itu, Xiao Qing yang baru tiba tidak mampu menahan amarah.

"Sudah cukup!"

Tubuhnya diselimuti cahaya hijau.

Dalam sekejap ia berubah menjadi seekor ular hijau raksasa.

Dengan ekornya yang kuat, ia menghantam gerbang kuil hingga tanah bergetar.

BRAKKK!

Beberapa tembok retak.

Para biksu berlarian ketakutan.

Fa Hai segera mengangkat mangkuk sucinya sambil melafalkan doa.

Cahaya keemasan memancar dari mangkuk itu, memaksa Xiao Qing mundur.

Pertempuran pun dimulai.


Xiao Qing menyerang lebih dulu dengan semburan angin yang sangat kuat.

Fa Hai membalas dengan mantra-mantra suci yang berubah menjadi rantai cahaya.

Rantai itu melilit tubuh Xiao Qing.

Namun dengan sekali hentakan, ia berhasil melepaskan diri.

Sementara itu, Bai Suzhen tidak ingin bertarung.

Ia terus memohon.

"Guru Fa Hai, aku mohon. Biarkan aku membawa pulang suamiku."

Tetapi Fa Hai tetap bergeming.

"Selama aku masih hidup, itu tidak akan pernah terjadi."

Air mata Bai Suzhen perlahan berubah menjadi kemarahan.

Langit yang semula cerah mulai dipenuhi awan hitam.

Angin bertiup semakin kencang.

Petir menyambar tanpa henti.

Bai Suzhen mengangkat kedua tangannya.

Air dari Sungai Yangtze mulai bergolak.

Ombak yang semula tenang berubah menjadi gelombang raksasa.

Seluruh biksu di kuil memandang dengan ngeri.

"Air sungai... naik!"

Gelombang besar bergerak menuju Kuil Gunung Emas seperti seekor naga yang mengamuk.

Fa Hai menyadari bahwa Bai Suzhen menggunakan seluruh kekuatan gaibnya.

Ia segera menancapkan tongkat sucinya ke tanah dan melafalkan mantra pelindung.

Cahaya emas menyelimuti seluruh kuil.

Sesaat kemudian...

DUAAAARRR!

Gelombang raksasa menghantam dinding cahaya.

Air menyembur ke segala arah.

Pepohonan tumbang.

Perahu-perahu di sungai terbalik.

Langit dipenuhi kilatan petir dan hujan deras.

Pertempuran antara kekuatan suci dan kekuatan gaib mengguncang seluruh wilayah Hangzhou.

Namun di tengah pertarungan itu, Bai Suzhen tiba-tiba memegangi perutnya.

Wajahnya berubah pucat.

Ia terjatuh berlutut.

Xiao Qing segera menghampirinya.

"Bai Suzhen!"

Dengan napas tersengal, Bai Suzhen berkata pelan,

"...Aku... sedang mengandung..."

Karena kehamilannya, kekuatan Bai Suzhen melemah drastis. Gelombang air mulai surut, dan cahaya pelindung Fa Hai tetap berdiri kokoh.

Melihat keadaan itu, Xiao Qing segera membawa Bai Suzhen pergi sebelum Fa Hai sempat menangkap mereka.

Dari balik gerbang kuil, Xu Xian hanya bisa menyaksikan istrinya dibawa pergi.

Ia memanggil dengan suara lirih,

"Bai Suzhen..."

Namun suaranya tenggelam oleh hujan dan dentang lonceng kuil.

Hari itu, tidak ada pemenang.

Yang tersisa hanyalah hati yang terluka dan sebuah perpisahan yang semakin dalam.


Bersambung...*

Legenda Ular Putih Bagian 3

Bagian 3: Bai Suzhen Mencari Ramuan Keabadian

Xu Xian terbaring tak sadarkan diri di tempat tidurnya. Wajahnya pucat, napasnya sangat lemah. Para tabib terbaik di Hangzhou telah dipanggil, tetapi tidak seorang pun mampu menjelaskan apa yang terjadi.

Sebagian mengatakan bahwa Xu Xian mengalami demam yang sangat berat. Ada pula yang mengira ia terkena penyakit misterius. Namun, Bai Suzhen tahu penyebab sebenarnya.

Suaminya bukan sakit karena racun atau penyakit.

Ia jatuh pingsan akibat ketakutan setelah melihat wujud asli istrinya.

Sejak hari itu, Bai Suzhen tidak pernah meninggalkan sisi Xu Xian. Ia terus menggenggam tangan suaminya sambil berharap laki-laki yang dicintainya segera membuka mata.

"Aku rela kehilangan seluruh kekuatanku... asalkan kau bisa hidup kembali," bisiknya dengan air mata yang terus mengalir.

Xiao Qing berdiri di dekat pintu. Melihat sahabatnya begitu bersedih, hatinya ikut terluka.

"Apa yang akan kita lakukan sekarang?"

Bai Suzhen terdiam cukup lama.

Kemudian ia berkata dengan suara pelan,

"Aku pernah mendengar tentang Ramuan Keabadian, ramuan langka yang tumbuh di puncak Gunung Kunlun. Konon, ramuan itu mampu menghidupkan kembali orang yang hampir kehilangan nyawanya."

Xiao Qing terkejut.

"Itu hanya legenda! Gunung Kunlun dijaga oleh para dewa dan makhluk langit. Tidak ada manusia ataupun siluman yang bisa mengambilnya dengan mudah."

Bai Suzhen mengangguk.

"Aku tahu. Tapi aku harus mencobanya."


Malam itu juga, Bai Suzhen berangkat seorang diri. Ia menembus hutan lebat, menyeberangi sungai yang deras, dan mendaki gunung-gunung tinggi. Perjalanan itu sangat panjang. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan.

Semakin dekat dengan Gunung Kunlun, udara menjadi semakin dingin. Angin bertiup begitu kencang hingga mampu merobohkan pepohonan.

Namun Bai Suzhen tidak berhenti.

Di tengah perjalanan, ia bertemu seekor bangau putih tua yang ternyata merupakan penjaga gunung.

"Hendak ke mana kau, wahai siluman ular?" tanya bangau itu.

"Aku ingin mencari Ramuan Keabadian."

"Apa kau tahu risikonya?"

"Aku tahu."

"Ramuan itu dijaga para dewa. Banyak siluman yang datang karena ingin hidup abadi atau memperoleh kekuatan yang lebih besar. Tidak ada satu pun yang berhasil."

Bai Suzhen menundukkan kepala.

"Aku tidak menginginkannya untuk diriku sendiri. Aku hanya ingin menyelamatkan suamiku."

Bangau tua memandangnya cukup lama.

Ia dapat merasakan ketulusan hati Bai Suzhen.

Akhirnya bangau itu berkata,

"Kalau begitu, teruslah berjalan. Tetapi ingat, jalan di depan jauh lebih berat daripada yang kau bayangkan."


Beberapa hari kemudian, Bai Suzhen tiba di kaki Gunung Kunlun.

Gunung itu menjulang tinggi hingga puncaknya tertutup awan putih. Tebing-tebing curam dipenuhi salju abadi, sementara angin dingin bertiup tanpa henti.

Saat ia mulai mendaki, tiba-tiba kabut tebal turun menutupi seluruh jalan.

Dari balik kabut terdengar suara menggelegar.

"Siapa yang berani memasuki wilayah para dewa?"

Tiga penjaga langit muncul dengan mengenakan baju zirah berkilau. Masing-masing membawa tombak emas.

Bai Suzhen segera memberi hormat.

"Aku datang bukan untuk berperang."

"Sebutkan tujuanmu."

"Aku ingin memohon setangkai Ramuan Keabadian."

Para penjaga saling berpandangan.

"Semuanya datang dengan alasan yang sama. Tidak ada yang boleh mengambil ramuan itu."

Bai Suzhen berlutut.

"Aku rela menerima hukuman apa pun. Aku hanya ingin menyelamatkan suamiku."

Penjaga pertama menggeleng.

"Tidak."

Penjaga kedua berkata tegas,

"Kembalilah."

Namun penjaga ketiga melihat air mata yang mengalir di wajah Bai Suzhen.

"Apa manusia itu mengetahui siapa dirimu sebenarnya?"

Bai Suzhen menjawab lirih,

"Ia sudah tahu... tetapi aku tetap ingin menyelamatkannya."

Jawaban itu membuat ketiga penjaga terdiam.

Meski demikian, aturan langit tidak dapat dilanggar.

Mereka tetap menolak permintaannya.

Melihat tidak ada harapan, Bai Suzhen akhirnya menggunakan seluruh kekuatan gaibnya. Tubuhnya diselimuti cahaya putih yang sangat terang, lalu ia berubah menjadi ular putih raksasa.

Pertarungan pun tidak dapat dihindari.

Kilatan cahaya memenuhi langit. Angin berputar kencang. Tebing-tebing berguncang akibat benturan kekuatan para penjaga langit dan Bai Suzhen.

Meski terluka berkali-kali, Bai Suzhen terus bertahan.

Bukan karena ingin menang.

Melainkan karena ia tidak ingin kehilangan orang yang paling dicintainya.

Melihat tekadnya yang begitu besar, seorang dewa tua akhirnya turun dari langit.

"Cukup!"

Suara sang dewa menggema ke seluruh pegunungan.

Semua penjaga segera menghentikan serangan mereka.

Sang dewa menatap Bai Suzhen yang telah dipenuhi luka.

"Belum pernah kulihat seekor siluman mempertaruhkan nyawanya demi seorang manusia."

Bai Suzhen menundukkan kepala.

"Cinta tidak mengenal perbedaan antara manusia, siluman, ataupun dewa."

Sang dewa tersenyum tipis.

"Karena ketulusanmu, aku akan memberikan satu helai Ramuan Keabadian. Tetapi ingat, setiap pilihan memiliki harga."

Bai Suzhen menerima ramuan itu dengan kedua tangan sambil mengucapkan terima kasih berulang kali.

Tanpa membuang waktu, ia segera kembali menuju Hangzhou.

Ia tidak mengetahui bahwa selama dirinya pergi, Biksu Fa Hai telah mendatangi Xu Xian dan membujuknya agar meninggalkan Bai Suzhen untuk selamanya.

Perjalanan pulang yang dipenuhi harapan itu ternyata akan membawanya pada cobaan yang jauh lebih besar.



Bersambung...*

Legenda Ular Putih Bagian 2

 Bagian 2: Rahasia Bai Suzhen Terungkap

Hari-hari berlalu dengan damai. Apotek milik Bai Suzhen dan Xu Xian semakin ramai dikunjungi. Orang-orang datang dari desa-desa yang jauh untuk berobat. Mereka percaya bahwa obat racikan pasangan itu mampu menyembuhkan berbagai penyakit.

Xu Xian bekerja dengan penuh ketulusan. Ia memeriksa pasien, menuliskan resep, dan selalu berbicara dengan ramah. Sementara itu, Bai Suzhen meracik ramuan obat dari berbagai tanaman obat yang tumbuh di pegunungan. Berkat pengetahuan yang ia peroleh selama ribuan tahun, hampir tidak ada penyakit yang tidak dapat ia tangani.

Jika ada pasien yang tidak mampu membayar, Bai Suzhen hanya tersenyum.

"Kesembuhan lebih penting daripada uang."

Kebaikan mereka membuat nama apotek itu terkenal di seluruh Hangzhou. Penduduk memuji pasangan tersebut sebagai tabib yang berhati mulia.

Namun, tidak semua orang merasa senang.

Di sebuah kuil di atas gunung, Biksu Fa Hai terus memusatkan pikirannya dalam meditasi. Semakin lama ia bermeditasi, semakin jelas ia merasakan bahwa salah satu penghuni kota bukanlah manusia biasa.

"Aura siluman itu sangat kuat," gumamnya. "Ia telah hidup ribuan tahun."

Fa Hai kemudian turun ke kota untuk menyelidiki.

Sesampainya di Hangzhou, ia memperhatikan setiap sudut kota. Hingga akhirnya ia berhenti di depan apotek milik Xu Xian.

Saat melihat Bai Suzhen melayani pasien, mata Fa Hai langsung menyipit.

"Jadi benar… siluman itu adalah perempuan ini."

Meski demikian, Fa Hai juga melihat bahwa Bai Suzhen tidak pernah menyakiti manusia. Sebaliknya, ia justru menolong banyak orang. Hal itu membuatnya ragu sejenak.

Tetapi keyakinannya tetap tidak berubah.

"Siluman tetaplah siluman. Cepat atau lambat sifat aslinya akan muncul."

Beberapa hari kemudian, Fa Hai sengaja menemui Xu Xian.

"Anak muda," katanya pelan, "istrimu menyimpan rahasia besar."

Xu Xian tersenyum bingung.

"Istri saya hanya perempuan biasa yang pandai meracik obat."

Fa Hai menggeleng.

"Jangan tertipu oleh penampilannya."

Xu Xian mulai merasa tidak nyaman.

"Guru, saya tidak mengerti maksud Anda."

Fa Hai tidak menjelaskan lebih jauh. Ia hanya menyerahkan sebuah jimat.

"Jika suatu hari kau ingin mengetahui siapa sebenarnya istrimu, gunakan benda ini."

Xu Xian menerima jimat itu, tetapi ia tidak mempercayai perkataan sang biksu. Selama ini Bai Suzhen selalu bersikap lembut, penyayang, dan tidak pernah melakukan hal yang aneh.

Ia pun menyimpan jimat itu tanpa pernah menggunakannya.


Tak lama kemudian tibalah Festival Perahu Naga, sebuah perayaan besar yang dirayakan setiap tahun. Seluruh kota dipenuhi suara musik, tawa anak-anak, dan aroma makanan khas.

Pada hari itu, masyarakat memiliki kebiasaan meminum arak realgar, minuman yang dipercaya mampu mengusir roh jahat dan makhluk gaib.

Ketika mendengar kabar itu, wajah Bai Suzhen berubah pucat.

Ia tahu bahwa arak tersebut sangat berbahaya bagi makhluk sepertinya. Jika meminumnya, kekuatan sihirnya akan melemah dan wujud aslinya bisa muncul.

Xu Xian yang tidak mengetahui rahasia itu berkata dengan riang,

"Hari ini semua orang minum arak realgar. Kita juga harus ikut merayakannya."

Bai Suzhen mencoba menolak dengan halus.

"Aku sedang kurang sehat. Mungkin lain kali saja."

Namun Xu Xian mengira istrinya hanya malu.

"Hanya segelas kecil. Tidak apa-apa."

Bai Suzhen mulai gelisah. Ia tidak ingin membuat suaminya curiga, tetapi ia juga takut rahasianya terbongkar.

Akhirnya, demi menjaga perasaan Xu Xian, ia meminum seteguk kecil arak tersebut.

Tak lama kemudian tubuhnya mulai terasa panas.

Tangannya gemetar.

Wajahnya semakin pucat.

"Aku… harus beristirahat," katanya pelan.

Ia segera masuk ke kamar dan mengunci pintu.

Di luar, Xu Xian mulai khawatir.

"Bai Suzhen? Apa kau baik-baik saja?"

Tidak ada jawaban.

Di dalam kamar, kekuatan Bai Suzhen semakin melemah. Ia berusaha mempertahankan wujud manusianya, tetapi sihirnya perlahan menghilang.

Tubuhnya diselimuti cahaya putih yang terang.

Dalam sekejap, perempuan cantik itu berubah kembali menjadi seekor ular putih raksasa dengan sisik berkilau seperti mutiara.

Xu Xian yang khawatir akhirnya membuka pintu kamar.

Begitu pintu terbuka, ia membeku.

Di hadapannya berdiri seekor ular putih raksasa yang memenuhi hampir seluruh ruangan.

Mata ular itu dipenuhi kesedihan.

Xu Xian tidak mampu berkata apa-apa.

Tubuhnya gemetar hebat.

Karena terlalu terkejut dan ketakutan, ia pingsan seketika.

Melihat suaminya terjatuh, Bai Suzhen segera menggunakan sisa kekuatannya untuk kembali menjadi manusia.

Ia memeluk Xu Xian sambil menangis.

"Maafkan aku... Aku tidak pernah berniat menipumu. Aku hanya ingin hidup sebagai manusia dan menemanimu."

Namun Xu Xian tidak sadarkan diri.

Saat itu Bai Suzhen menyadari bahwa rahasia yang selama ini ia sembunyikan akhirnya telah terbongkar.

Dan dari kejauhan, Biksu Fa Hai memandang ke arah rumah mereka.

Ia tahu bahwa inilah awal dari perpisahan yang telah lama ia ramalkan.


Bersambung...*

Legenda Ular Putih (The Legend of the White Snake / Bai Suzhen)

Bagian 1: Pertemuan di Danau Barat


Pada zaman dahulu, di sebuah gunung yang sunyi, hiduplah seekor ular putih yang telah berlatih selama ribuan tahun untuk memperoleh kekuatan gaib. Ular itu bernama Bai Suzhen. Selama bertahun-tahun ia bermeditasi, mempelajari kebajikan, dan berusaha memahami kehidupan manusia. Berkat ketekunan dan hatinya yang baik, ia akhirnya mampu berubah menjadi seorang perempuan yang sangat cantik.

Bai Suzhen tidak sendirian. Ia ditemani oleh sahabat setianya, seekor ular hijau bernama Xiao Qing, yang juga telah memperoleh kemampuan berubah wujud menjadi seorang gadis muda. Xiao Qing memiliki sifat pemberani, ceria, dan terkadang keras kepala, tetapi ia sangat setia kepada Bai Suzhen.

Suatu hari, Bai Suzhen berkata kepada sahabatnya, "Sudah ribuan tahun kita tinggal di pegunungan. Aku ingin melihat dunia manusia. Aku ingin mengetahui bagaimana rasanya hidup, bekerja, mencintai, dan membantu sesama."

Xiao Qing tersenyum. "Kalau begitu, mari kita pergi bersama."

Keduanya pun meninggalkan gunung dan berjalan menuju kota Hangzhou. Saat itu musim semi baru saja tiba. Pohon-pohon mulai menghijau, bunga bermekaran, dan orang-orang memenuhi jalan untuk menikmati keindahan alam.

Mereka tiba di sebuah tempat yang terkenal karena keindahannya, yaitu Danau Barat. Air danau begitu jernih hingga memantulkan langit biru, sementara jembatan batu melengkung menghubungkan tepian yang dipenuhi pohon willow.

Ketika mereka sedang menikmati pemandangan, langit tiba-tiba berubah gelap. Awan hitam berkumpul, lalu hujan turun dengan deras. Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh.

Di tengah hujan itu, seorang pemuda bernama Xu Xian sedang berjalan sambil membawa payung. Ia melihat dua perempuan yang tampak kebingungan karena tidak memiliki pelindung dari hujan.

Tanpa ragu, Xu Xian menghampiri mereka.

"Nona, hujan semakin deras. Silakan gunakan payung ini."

Bai Suzhen merasa tersentuh oleh kebaikan pemuda itu. Ia belum pernah bertemu manusia yang begitu tulus menolong orang asing tanpa mengharapkan imbalan.

"Tapi bagaimana dengan Anda?" tanya Bai Suzhen.

Xu Xian tersenyum.

"Rumahku tidak jauh. Aku bisa berlari. Yang penting kalian tidak kehujanan."

Karena terus didesak, akhirnya Bai Suzhen menerima payung itu. Sebelum mereka berpisah, Xu Xian hanya berpesan, "Jika suatu hari kita bertemu lagi, kembalikan saja payung itu."

Setelah hujan reda, Bai Suzhen masih memandangi payung tersebut.

Xiao Qing menggoda, "Sepertinya ada seseorang yang mulai jatuh hati."

Wajah Bai Suzhen memerah.

"Bukan begitu. Aku hanya belum pernah bertemu manusia sebaik itu."

Namun jauh di dalam hatinya, ia tahu bahwa pertemuan singkat itu telah meninggalkan kesan yang mendalam.

Beberapa hari kemudian, Bai Suzhen sengaja mencari Xu Xian untuk mengembalikan payung. Mereka kembali berbincang, lalu berjalan mengelilingi Danau Barat bersama. Semakin lama mereka berbicara, semakin mereka merasa cocok satu sama lain.

Xu Xian adalah seorang pemuda sederhana yang bekerja sebagai tabib. Ia selalu berusaha membantu orang-orang miskin meskipun dirinya sendiri tidak kaya. Bai Suzhen mengagumi ketulusan dan belas kasihnya.

Di sisi lain, Xu Xian juga merasa bahwa Bai Suzhen bukanlah perempuan biasa. Ia sopan, bijaksana, dan selalu memperhatikan orang lain.

Hari demi hari berlalu. Pertemuan mereka semakin sering, hingga akhirnya tumbuhlah benih cinta di hati keduanya.

Beberapa bulan kemudian, mereka memutuskan untuk menikah. Dengan bantuan Xiao Qing, mereka membuka sebuah apotek kecil yang menjual obat-obatan tradisional.

Bai Suzhen menggunakan pengetahuan yang diperolehnya selama ribuan tahun untuk meracik obat. Banyak orang yang sakit datang berobat, dan hampir semuanya sembuh. Apotek mereka pun menjadi terkenal karena tidak pernah menolak pasien yang miskin.

Penduduk Hangzhou sangat menghormati pasangan itu. Mereka dikenal sebagai orang-orang yang murah hati, suka menolong, dan tidak pernah mengambil keuntungan dari penderitaan orang lain.

Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung selamanya.

Di sebuah kuil di atas gunung, seorang biksu bernama Fa Hai merasakan adanya kekuatan gaib yang sangat besar berasal dari kota Hangzhou.

Setelah melakukan meditasi, ia mengetahui bahwa kekuatan itu berasal dari seekor siluman ular yang hidup di tengah manusia.

Fa Hai pun berkata dengan tegas,

"Hubungan antara manusia dan siluman tidak boleh dibiarkan. Cepat atau lambat, hal itu akan membawa bencana."

Tanpa diketahui Bai Suzhen maupun Xu Xian, biksu itu mulai menyusun rencana untuk memisahkan mereka.



Bersambung...*

Monday, July 20, 2026

LIST STORY



Di Timur Matahari dan di Barat Bulan (East of the Sun and West of the Moon)


Pada zaman dahulu, hiduplah seorang petani miskin bersama istrinya dan banyak anak mereka. Meskipun hidup serba kekurangan, keluarga itu saling menyayangi.

Suatu malam di musim dingin, ketika salju turun begitu lebat, seseorang mengetuk pintu rumah mereka. Saat pintu dibuka, tampak seekor beruang putih yang sangat besar. Namun, beruang itu berbicara dengan suara lembut.

"Aku datang untuk meminta putrimu yang paling muda ikut bersamaku. Jika ia bersedia, aku akan membuat keluargamu hidup berkecukupan."

Awalnya sang ayah menolak. Namun, setelah melihat kesulitan keluarganya dan mendengar bahwa putri bungsunya sendiri bersedia demi membantu keluarganya, akhirnya ia mengizinkan putrinya pergi.

Beruang putih membawa gadis itu menempuh perjalanan jauh melewati gunung, hutan, dan lembah yang tertutup salju. Akhirnya mereka tiba di sebuah istana yang sangat megah. Anehnya, tidak ada seorang pelayan pun yang terlihat, tetapi makanan lezat selalu tersedia dan semua kebutuhan gadis itu terpenuhi.

Setiap malam, setelah lampu dipadamkan, seseorang datang ke kamarnya dan tidur di sampingnya. Suara laki-laki itu lembut dan baik hati, tetapi ia selalu pergi sebelum matahari terbit. Gadis itu tidak pernah diizinkan melihat wajahnya.

Hari demi hari berlalu. Gadis itu mulai merasa bahagia, tetapi ia juga sangat penasaran. Siapakah sebenarnya pria yang datang setiap malam itu?

Suatu hari ia meminta izin kepada beruang putih untuk mengunjungi keluarganya. Beruang itu mengizinkan dengan satu syarat.

"Jangan mendengarkan nasihat ibumu jika ia menyuruhmu melihat wajahku."

Sesampainya di rumah, ibunya curiga dan berkata, "Bagaimana mungkin kau hidup dengan seseorang yang tidak pernah kau lihat? Nyalakan saja lilin saat ia tidur. Jika ia orang baik, tentu tidak akan terjadi apa-apa."

Gadis itu bimbang. Ketika kembali ke istana, rasa ingin tahunya semakin besar. Pada malam hari, saat pria itu telah tertidur, ia menyalakan sebatang lilin.

Betapa terkejutnya ia. Di hadapannya terbaring seorang pangeran yang sangat tampan.

Namun, tiga tetes lilin panas jatuh mengenai wajah sang pangeran. Ia terbangun dan tampak sangat sedih.

"Seandainya kau dapat bersabar satu tahun lagi, kutukan ini akan berakhir. Aku adalah seorang pangeran yang disihir oleh ratu troll. Pada siang hari aku berubah menjadi beruang putih, dan hanya pada malam hari aku kembali menjadi manusia. Karena kau melanggar janjimu, kini aku harus pergi ke istana ratu troll, yang terletak di Timur Matahari dan di Barat Bulan. Di sana aku dipaksa menikahi putri troll."

Seketika itu juga istana menghilang. Gadis itu mendapati dirinya sendirian di tengah hutan.

Dengan hati penuh penyesalan, ia memutuskan mencari sang pangeran, betapapun jauhnya perjalanan itu.

Ia berjalan berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Dalam perjalanan ia bertemu seorang nenek tua yang memberinya sebuah apel emas.

"Ini akan berguna nanti," kata nenek itu.

Kemudian ia bertemu nenek kedua yang memberinya sisir emas, dan nenek ketiga yang menghadiahkannya sebuah roda pemintal emas.

Setelah itu ia dibantu oleh empat penjaga angin: Angin Timur, Angin Barat, Angin Selatan, dan akhirnya Angin Utara. Hanya Angin Utara yang cukup kuat untuk membawanya ke negeri yang berada di Timur Matahari dan di Barat Bulan.

Sesampainya di sana, gadis itu melihat sebuah istana yang dipenuhi troll. Sang putri troll sedang bersiap menikahi pangeran.

Gadis itu menawarkan apel emas kepada putri troll sebagai imbalan agar diizinkan berbicara dengan sang pangeran semalam. Putri troll setuju, tetapi diam-diam ia memberi ramuan tidur kepada pangeran sehingga ia tidak terbangun.

Malam berikutnya gadis itu menukar sisir emas demi kesempatan kedua. Namun, pangeran kembali dibuat tertidur lelap.

Pada malam ketiga, gadis itu menyerahkan roda pemintal emas. Kali ini para pelayan yang mendengar tangis gadis itu memberi tahu pangeran agar tidak meminum ramuan yang diberikan putri troll.

Malam itu akhirnya pangeran terbangun. Mereka saling bertemu kembali dengan penuh haru.

Pangeran kemudian menantang keluarga troll untuk membuktikan bahwa calon pengantinnya mampu mencuci noda lilin dari bajunya. Putri troll dan ibunya mencoba berkali-kali, tetapi noda itu tidak hilang.

Ketika gadis itu diminta mencoba, noda tersebut langsung hilang hanya dengan sekali usapan. Saat itu kutukan pun hancur. Seluruh troll kehilangan kekuatannya, dan istana mereka runtuh.

Pangeran dan gadis itu kembali ke kerajaan sang pangeran. Mereka menikah dan memerintah dengan adil serta bijaksana. Sejak saat itu, mereka hidup bahagia hingga akhir hayat.


Pesan Moral

  • Menepati janji adalah hal yang sangat penting.
  • Rasa ingin tahu yang tidak terkendali dapat membawa penyesalan.
  • Keberanian, ketekunan, dan kesetiaan mampu mengatasi rintangan sebesar apa pun.
  • Cinta sejati membutuhkan kesabaran dan pengorbanan.
 

Blognya Alviana Anugrah Template by Ipietoon Cute Blog Design