CHASING AURORA
Bab 14 — Jangan
Pergi Lagi
Setelah masalah
kebocoran proyek selesai, kantor Aurora Media perlahan kembali normal.
Meeting kembali
berjalan.
Deadline kembali
mengejar.
Orang-orang
kembali mengeluh tentang pekerjaan.
Semuanya terlihat
sama.
Tapi ada satu hal
yang berubah.
Ayla dan Kael.
"Ini
aneh."
Mika memperhatikan
mereka dari meja kerja.
"Apa?"
Renzo yang sedang
minum kopi menoleh.
"Mereka."
"Mereka
kenapa?"
"Dulu mereka
seperti dua orang yang siap berdebat setiap lima menit."
Mika mengangguk.
"Benar."
"Sekarang?"
Mereka melihat ke
arah Ayla dan Kael.
Ayla sedang
menjelaskan sesuatu sambil menunjuk layar laptop.
Kael mendengarkan.
Tidak memotong.
Tidak mengoreksi.
Hanya
mendengarkan.
"Lihat?"
Mika tersenyum.
"Bahaya."
"Kenapa?"
"Mereka sudah
nyaman."
Ayla sendiri tidak
sadar kapan perubahan itu terjadi.
Dulu dia merasa
Kael seperti teka-teki yang sulit dipecahkan.
Sekarang...
dia bisa tahu
kapan Kael sedang lelah.
Bisa tahu kapan
dia membutuhkan kopi.
Bisa tahu kapan
dia pura-pura baik-baik saja.
Dan yang paling
mengganggu:
Dia mulai tahu
kapan Kael ingin mengatakan sesuatu tapi menahannya.
Seperti pagi itu.
"Kamu ada
yang mau dikatakan."
Kael yang sedang
membaca dokumen berhenti.
"Tidak."
Ayla menunjuk
wajahnya.
"Ya."
"Bagaimana
kamu tahu?"
"Karena kamu
membaca halaman yang sama sejak tiga menit lalu."
Kael melihat
dokumen.
Ternyata benar.
"Saya sedang
berpikir."
"Tentang?"
Kael diam.
Nah.
Itu.
Ayla tersenyum.
"Kamu akan
bilang tidak ada apa-apa."
"Karena
memang..."
"Apa?"
Kael berhenti.
Ayla menang.
Siang hari, sebuah
email masuk.
Kael membaca
isinya.
Dan untuk pertama
kalinya dalam beberapa waktu...
ekspresinya sulit
dibaca.
Bukan karena
masalah.
Tapi karena
pilihan.
Malamnya, Ayla
menemukan Kael masih di kantor.
"Kamu lembur
lagi?"
Kael menutup
laptop.
"Sedikit."
"Jawaban yang
berarti banyak."
Ayla duduk di
kursi depannya.
"Ada
apa?"
Kael menatapnya.
"Kamu selalu
tahu."
"Aku
belajar."
Hening.
Lalu Kael
memberikan sebuah dokumen.
Ayla membacanya.
Matanya membesar.
"Ini..."
"Ya."
"Tawaran
membuka cabang Aurora di Tokyo?"
Kael mengangguk.
"Sebagai
kepala pengembangan."
Ayla melihatnya.
"Itu
besar."
"Ya."
"Kamu mau
pergi?"
Pertanyaan itu
keluar begitu saja.
Kael diam.
Ayla langsung
merasa bodoh.
Tentu saja.
Ini kesempatan
besar untuk Kael.
Dulu dia sendiri
pernah pergi mengejar impian.
Bagaimana mungkin
dia meminta Kael tidak melakukan hal yang sama?
"Kamu harus
ambil."
Kael menatapnya.
"Kamu
yakin?"
Ayla tersenyum.
"Ya."
"Kamu tidak
ingin saya tetap di sini?"
Pertanyaan itu
membuat Ayla berhenti.
Karena ada sesuatu
dalam suara Kael.
Sesuatu yang
jarang muncul.
Keraguan.
"Aku..."
Ayla mencari kata.
"Aku ingin
kamu bahagia."
Kael diam.
"Tapi?"
Ayla tertawa
kecil.
"Kamu selalu
tahu ada 'tapi'."
"Itu
kebiasaan."
Ayla melihat
dokumen itu.
"Tapi aku
tidak mau kehilangan seseorang lagi."
Kalimat itu
membuat Kael terdiam.
Karena dia tahu.
Ayla bukan hanya
bicara tentang pekerjaan.
Dia bicara tentang
jarak.
Tentang satu bulan
ketika mereka berdua sama-sama berpura-pura baik-baik saja.
"Ayla."
"Ya?"
"Saya belum
menerima."
Ayla terkejut.
"Kenapa?"
"Saya sedang
mempertimbangkan."
"Karena
saya?"
Kael tidak
menjawab.
Dan itu adalah
jawaban.
Ayla berdiri.
"Kael."
"Ya?"
"Jangan
membuat keputusan besar hanya karena saya."
Kael melihatnya.
"Kenapa?"
"Karena saya
tidak ingin menjadi alasan kamu kehilangan sesuatu."
Hening.
Lalu Kael berkata:
"Bagaimana
kalau kamu bukan alasan saya berhenti?"
Ayla terdiam.
"Tapi alasan
saya berpikir lebih hati-hati?"
Malam itu, mereka
berjalan pulang bersama.
Tidak ada
keputusan.
Tidak ada jawaban.
Hanya dua orang
yang mulai sadar...
mereka bukan lagi
hanya memikirkan diri sendiri.
Di depan gedung
apartemen Ayla, mereka berhenti.
"Kael."
"Ya?"
"Kalau kamu
pergi..."
Dia berhenti.
Kael menunggu.
"Jangan
hilang."
Untuk pertama
kalinya...
Kael terlihat
benar-benar terkejut.
"Ayla."
"Aku
serius."
"Saya tidak
akan."
"Janji?"
Kael melihatnya.
Lalu mengangguk.
"Janji."
Malam itu, Kael
membuka kembali email tawaran Tokyo.
Dulu dia akan
langsung melihat:
Kesempatan.
Karier.
Pertumbuhan.
Sekarang ada hal
lain yang ikut masuk dalam perhitungan.
Seseorang.
Dan untuk pertama
kalinya...
itu bukan
kelemahan.
Itu adalah sesuatu
yang ingin dia lindungi.
Sementara itu,
Ayla duduk di kamarnya sambil melihat gantungan kompas kecil.
Dia tersenyum
pahit.
Dulu dia pikir
masalah terbesar adalah bagaimana membuat Kael membuka hati.
Ternyata bukan.
Masalah sebenarnya
adalah...
ketika seseorang
akhirnya membuka hati,
kamu juga harus
siap menghadapi kemungkinan kehilangan dia.
Besok Kael harus
memberikan jawabannya.
Dan keputusan itu
akan menentukan arah hidup mereka.
Bukan hanya
sebagai partner kerja.
Tapi sebagai dua
orang yang perlahan...
saling memilih.
0 comments:
Post a Comment