Tuesday, July 21, 2026

CHASING AURORA 14

 

CHASING AURORA

Bab 14 — Jangan Pergi Lagi

Setelah masalah kebocoran proyek selesai, kantor Aurora Media perlahan kembali normal.

Meeting kembali berjalan.

Deadline kembali mengejar.

Orang-orang kembali mengeluh tentang pekerjaan.

Semuanya terlihat sama.

Tapi ada satu hal yang berubah.

Ayla dan Kael.


"Ini aneh."

Mika memperhatikan mereka dari meja kerja.

"Apa?"

Renzo yang sedang minum kopi menoleh.

"Mereka."

"Mereka kenapa?"

"Dulu mereka seperti dua orang yang siap berdebat setiap lima menit."

Mika mengangguk.

"Benar."

"Sekarang?"

Mereka melihat ke arah Ayla dan Kael.

Ayla sedang menjelaskan sesuatu sambil menunjuk layar laptop.

Kael mendengarkan.

Tidak memotong.

Tidak mengoreksi.

Hanya mendengarkan.

"Lihat?"

Mika tersenyum.

"Bahaya."

"Kenapa?"

"Mereka sudah nyaman."


Ayla sendiri tidak sadar kapan perubahan itu terjadi.

Dulu dia merasa Kael seperti teka-teki yang sulit dipecahkan.

Sekarang...

dia bisa tahu kapan Kael sedang lelah.

Bisa tahu kapan dia membutuhkan kopi.

Bisa tahu kapan dia pura-pura baik-baik saja.

Dan yang paling mengganggu:

Dia mulai tahu kapan Kael ingin mengatakan sesuatu tapi menahannya.

Seperti pagi itu.

"Kamu ada yang mau dikatakan."

Kael yang sedang membaca dokumen berhenti.

"Tidak."

Ayla menunjuk wajahnya.

"Ya."

"Bagaimana kamu tahu?"

"Karena kamu membaca halaman yang sama sejak tiga menit lalu."

Kael melihat dokumen.

Ternyata benar.

"Saya sedang berpikir."

"Tentang?"

Kael diam.

Nah.

Itu.

Ayla tersenyum.

"Kamu akan bilang tidak ada apa-apa."

"Karena memang..."

"Apa?"

Kael berhenti.

Ayla menang.


Siang hari, sebuah email masuk.

Kael membaca isinya.

Dan untuk pertama kalinya dalam beberapa waktu...

ekspresinya sulit dibaca.

Bukan karena masalah.

Tapi karena pilihan.


Malamnya, Ayla menemukan Kael masih di kantor.

"Kamu lembur lagi?"

Kael menutup laptop.

"Sedikit."

"Jawaban yang berarti banyak."

Ayla duduk di kursi depannya.

"Ada apa?"

Kael menatapnya.

"Kamu selalu tahu."

"Aku belajar."

Hening.

Lalu Kael memberikan sebuah dokumen.

Ayla membacanya.

Matanya membesar.

"Ini..."

"Ya."

"Tawaran membuka cabang Aurora di Tokyo?"

Kael mengangguk.

"Sebagai kepala pengembangan."

Ayla melihatnya.

"Itu besar."

"Ya."

"Kamu mau pergi?"

Pertanyaan itu keluar begitu saja.

Kael diam.


Ayla langsung merasa bodoh.

Tentu saja.

Ini kesempatan besar untuk Kael.

Dulu dia sendiri pernah pergi mengejar impian.

Bagaimana mungkin dia meminta Kael tidak melakukan hal yang sama?

"Kamu harus ambil."

Kael menatapnya.

"Kamu yakin?"

Ayla tersenyum.

"Ya."

"Kamu tidak ingin saya tetap di sini?"

Pertanyaan itu membuat Ayla berhenti.

Karena ada sesuatu dalam suara Kael.

Sesuatu yang jarang muncul.

Keraguan.


"Aku..."

Ayla mencari kata.

"Aku ingin kamu bahagia."

Kael diam.

"Tapi?"

Ayla tertawa kecil.

"Kamu selalu tahu ada 'tapi'."

"Itu kebiasaan."

Ayla melihat dokumen itu.

"Tapi aku tidak mau kehilangan seseorang lagi."


Kalimat itu membuat Kael terdiam.

Karena dia tahu.

Ayla bukan hanya bicara tentang pekerjaan.

Dia bicara tentang jarak.

Tentang satu bulan ketika mereka berdua sama-sama berpura-pura baik-baik saja.


"Ayla."

"Ya?"

"Saya belum menerima."

Ayla terkejut.

"Kenapa?"

"Saya sedang mempertimbangkan."

"Karena saya?"

Kael tidak menjawab.

Dan itu adalah jawaban.


Ayla berdiri.

"Kael."

"Ya?"

"Jangan membuat keputusan besar hanya karena saya."

Kael melihatnya.

"Kenapa?"

"Karena saya tidak ingin menjadi alasan kamu kehilangan sesuatu."

Hening.

Lalu Kael berkata:

"Bagaimana kalau kamu bukan alasan saya berhenti?"

Ayla terdiam.

"Tapi alasan saya berpikir lebih hati-hati?"


Malam itu, mereka berjalan pulang bersama.

Tidak ada keputusan.

Tidak ada jawaban.

Hanya dua orang yang mulai sadar...

mereka bukan lagi hanya memikirkan diri sendiri.


Di depan gedung apartemen Ayla, mereka berhenti.

"Kael."

"Ya?"

"Kalau kamu pergi..."

Dia berhenti.

Kael menunggu.

"Jangan hilang."

Untuk pertama kalinya...

Kael terlihat benar-benar terkejut.

"Ayla."

"Aku serius."

"Saya tidak akan."

"Janji?"

Kael melihatnya.

Lalu mengangguk.

"Janji."


Malam itu, Kael membuka kembali email tawaran Tokyo.

Dulu dia akan langsung melihat:

Kesempatan.

Karier.

Pertumbuhan.

Sekarang ada hal lain yang ikut masuk dalam perhitungan.

Seseorang.

Dan untuk pertama kalinya...

itu bukan kelemahan.

Itu adalah sesuatu yang ingin dia lindungi.


Sementara itu, Ayla duduk di kamarnya sambil melihat gantungan kompas kecil.

Dia tersenyum pahit.

Dulu dia pikir masalah terbesar adalah bagaimana membuat Kael membuka hati.

Ternyata bukan.

Masalah sebenarnya adalah...

ketika seseorang akhirnya membuka hati,

kamu juga harus siap menghadapi kemungkinan kehilangan dia.


Besok Kael harus memberikan jawabannya.

Dan keputusan itu akan menentukan arah hidup mereka.

Bukan hanya sebagai partner kerja.

Tapi sebagai dua orang yang perlahan...

saling memilih.

 

0 comments:

Post a Comment

 

Blognya Alviana Anugrah Template by Ipietoon Cute Blog Design