Menjadi Duchess Noctis ternyata tidak semudah yang Elena bayangkan.
Pernikahan kontrak mungkin hanya sebuah kesepakatan di atas kertas.
Namun gelar seorang Duchess membawa tanggung jawab yang tidak sedikit.
Setiap pagi, jadwalnya sudah dipenuhi berbagai hal.
Pelajaran etiket.
Pertemuan dengan para bangsawan.
Mempelajari tradisi keluarga Noctis.
Dan menghadiri acara-acara yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan.
"Lady Elena."
Nona Clara, pelayan yang ditugaskan untuk membantunya, menyerahkan daftar kegiatan hari itu.
"Setelah sarapan, Anda memiliki pelajaran tata krama dengan Lady Marianne."
Elena melihat daftar tersebut.
Lalu menghela napas kecil.
"Dan kapan aku bisa ke rumah kaca?"
Clara tersenyum kecil.
"Entah kenapa saya sudah menduga Anda akan menanyakan itu."
Elena tertawa pelan.
"Apakah terlalu terlihat?"
"Sedikit."
Siang itu, Elena duduk di ruang keluarga bersama beberapa wanita bangsawan.
Mereka semua tersenyum padanya.
Namun Elena tahu...
tidak semua senyuman berarti penerimaan.
"Lady Elena."
Salah satu wanita yang lebih tua menyesap tehnya.
"Kami semua senang Duke akhirnya memilih seorang Duchess."
Elena tersenyum sopan.
"Terima kasih."
"Tentu saja, menjadi Duchess Noctis bukan hal mudah."
Wanita itu meliriknya.
"Keluarga ini memiliki banyak aturan."
"Saya akan berusaha memahaminya."
"Semoga begitu."
Nada suaranya terdengar halus.
Tapi maksudnya jelas.
Mereka masih meragukannya.
Malam hari.
Elena kembali ke kamarnya setelah seharian menghadapi berbagai aturan bangsawan.
Ia melepas sarung tangannya.
Lalu melihat tangannya sendiri.
Masih ada sedikit bekas tanah.
Ia tersenyum.
Aneh.
Di tengah semua kemewahan mansion Noctis...
hal yang membuatnya merasa nyaman justru sebuah rumah kaca tua yang hampir runtuh.
Saat hendak menutup tirai jendela, Elena melihat sesuatu.
Adrian.
Pria itu berdiri di taman.
Sendirian.
Ia tidak sedang menghadiri rapat.
Tidak membaca dokumen.
Hanya berdiri memandang rumah kaca.
Elena memperhatikan.
Untuk pertama kalinya, ia melihat Adrian bukan sebagai Duke.
Tapi sebagai seorang pria.
Seseorang yang tampak sangat kesepian.
Keesokan paginya...
Elena menemukan Adrian sudah berada di rumah kaca.
Hal itu membuatnya berhenti di pintu.
Karena sejak ia datang...
ini pertama kalinya Adrian masuk ke tempat itu.
"Yang Mulia?"
Adrian menoleh.
"Aku datang melihat keadaan."
Elena melihat sekeliling.
Beberapa tanaman baru sudah tersusun rapi.
"Dan?"
"Tempat ini berubah."
Jawabannya sederhana.
Namun dari Adrian...
itu hampir terdengar seperti pujian.
Elena tersenyum kecil.
"Itu karena mereka mau hidup."
Adrian menatapnya.
"Kau selalu berbicara tentang tanaman seperti manusia."
"Mungkin karena mereka tidak jauh berbeda."
Adrian mengangkat alis.
"Benarkah?"
"Ya."
Elena mengambil sebuah tunas kecil.
"Mereka membutuhkan cahaya."
"Air."
"Dan seseorang yang percaya mereka masih bisa tumbuh."
Adrian diam.
Karena kalimat itu terasa terlalu dekat.
"Lady Elena."
Suara Adrian membuatnya menoleh.
"Kenapa kau benar-benar melakukan ini?"
Elena terdiam.
"Maksud Anda?"
"Rumah kaca ini."
Tatapan Adrian serius.
"Kau tidak mendapatkan apa pun dari memperbaikinya."
Elena melihat sekeliling.
Lalu menjawab,
"Karena aku menyukainya."
"Sesederhana itu?"
"Ya."
Adrian menatapnya lama.
"Kebanyakan orang hanya merawat sesuatu yang bisa memberi keuntungan."
Elena tersenyum.
"Kalau begitu, mungkin itu alasan mengapa banyak hal indah akhirnya hilang."
Keheningan.
Adrian tidak membalas.
Namun untuk pertama kalinya...
ia tidak merasa terganggu dengan seseorang yang menantang pikirannya.
Malam itu, sebuah kejadian kecil mengubah sesuatu.
Elena sedang membaca buku botani di ruang perpustakaan ketika seorang pelayan datang membawa pesan.
"Lady Elena."
"Ya?"
"Ini ditemukan di depan pintu rumah kaca."
Sebuah amplop kecil diserahkan padanya.
Elena membukanya.
Di dalamnya hanya ada satu kalimat.
Berhenti menyentuh sesuatu yang bukan milikmu.
Senyumnya perlahan menghilang.
Bukan karena takut.
Tapi karena ia tahu...
rumah kaca itu bukan sekadar bangunan tua.
Ada seseorang yang tidak ingin rahasia di dalamnya ditemukan.
Di tempat lain...
Adrian membaca laporan yang sama.
Ekspresinya berubah dingin.
"Siapa yang mengirim ini?"
Tidak ada jawaban.
Namun mata Adrian tertuju pada rumah kaca di kejauhan.
Selama bertahun-tahun...
tidak ada yang peduli dengan tempat itu.
Tapi sejak Elena datang...
seseorang mulai merasa terancam.
Dan Adrian tahu satu hal.
Jika ada yang mencoba menyakiti Duchess-nya...
mereka akan berhadapan dengannya.
Bersambung...
Comments
Post a Comment