The Duchess's Noctis Orchid Bab 4 - Bunga yang Tidak Seharusnya Hidup

 

Sejak hari itu, para pelayan mansion Noctis mulai menyadari sesuatu.

Duchess baru mereka memiliki kebiasaan yang aneh.

Setiap pagi...

sebelum sarapan.

Sebelum menerima jadwal pelajaran etiket bangsawan.

Sebelum menghadiri pertemuan keluarga.

Lady Elena Aveline selalu pergi ke rumah kaca tua di sisi timur mansion.

Tempat yang selama bertahun-tahun tidak pernah disentuh siapa pun.

"Lady Elena."

Kepala pelayan, Mr. Alfred, berdiri di depan pintu rumah kaca.

Elena yang sedang memindahkan pot tanaman menoleh.

"Ya?"

"Apakah Anda yakin ingin menghabiskan waktu di sini?"

Elena tersenyum kecil.

"Kenapa tidak?"

Alfred melihat sekeliling.

Ruangan itu masih penuh debu.

Banyak tanaman sudah mati.

Sebagian besar orang akan melihat tempat ini sebagai bangunan tua yang tidak berguna.

"Tidak banyak orang yang percaya tempat ini masih bisa diselamatkan."

Elena menatap tanaman kecil di tangannya.

"Tanaman tidak mati hanya karena terlihat lemah."

Ia membersihkan daun kering yang menempel.

"Terkadang mereka hanya terlalu lama dibiarkan sendirian."

Alfred terdiam.

Kalimat itu terdengar sederhana.

Namun entah kenapa...

seperti memiliki arti lain.

Siang hari, Elena menghadiri makan siang pertamanya bersama keluarga Noctis.

Meja panjang ruang makan dipenuhi bangsawan keluarga tersebut.

Mereka semua melihatnya.

Menilai.

Seorang Duchess baru.

Istri kontrak Duke Adrian Noctis.

Seseorang yang tiba-tiba masuk ke keluarga paling misterius di kerajaan.

"Saya dengar Kau menghabiskan pagi di rumah kaca."

Suara seorang wanita muda terdengar.

Elena menoleh.

Wanita itu duduk di ujung meja.

Cantik.

Rambut pirangnya ditata sempurna.

Senyumnya manis.

Terlalu manis.

"Benar."

Elena menjawab sopan.

Wanita itu tertawa kecil.

"Menarik."

"Kenapa?"

"Karena tempat itu sudah lama tidak digunakan."

Ia memainkan sendoknya.

"Banyak orang mengatakan tanaman di sana tidak mungkin bertahan."

Elena menatapnya.

"Tapi masih ada yang hidup."

Senyum wanita itu sedikit berubah.

"Begitu?"

"Ya."

"Menarik sekali."

Wanita itu tidak mengatakan apa-apa lagi.

Namun Elena bisa merasakan.

Wanita itu bukan sekadar penasaran.

Dia sedang mengamati.

Malamnya...

Adrian kembali ke ruang kerja.

Seperti biasa.

Dokumen.

Laporan.

Masalah politik.

Semuanya menunggu.

Namun pikirannya tidak berada di sana.

Ia teringat pemandangan pagi tadi.

Elena duduk di lantai rumah kaca.

Tangannya penuh tanah.

Rambutnya sedikit berantakan.

Tidak terlihat seperti seorang wanita bangsawan.

Tapi justru itu yang membuatnya berbeda.

Kebanyakan orang melihat rumah kaca itu sebagai masa lalu.

Sebagai tempat yang harus dilupakan.

Namun Elena...

melihat kehidupan.

"Yang Mulia."

Suara sekretarisnya membuat Adrian kembali sadar.

"Ada laporan mengenai Duchess."

Adrian mengangkat wajah.

"Laporan?"

"Informasi tentang Lady Elena Aveline."

Sebuah dokumen diletakkan di meja.

Adrian membukanya.

Tentang keluarga Aveline.

Tentang masa kecil Elena.

Tentang kemampuannya dalam botani.

Dan satu informasi yang membuat matanya berhenti.

Lady Elena Aveline pernah menyelamatkan koleksi anggrek langka keluarga Aveline yang hampir punah.

Anggrek.

Adrian menutup dokumen perlahan.

Malam semakin larut.

Namun Adrian belum tidur.

Ia berdiri di depan jendela.

Dari sana, rumah kaca tua terlihat di kejauhan.

Dulu...

tempat itu adalah tempat ibunya tersenyum.

Tempat Noctis Orchid pertama kali mekar.

Tempat yang kemudian menjadi kenangan paling menyakitkan setelah kepergiannya.

Karena sejak hari itu...

tidak ada satu pun bunga yang mekar lagi.

Tidak ada seorang pun yang mampu merawatnya.

Sampai Elena datang.

Keesokan paginya, Adrian menemukan sesuatu yang membuatnya berhenti.

Di depan pintu rumah kaca...

terdapat sebuah pot kecil.

Salah satu tanaman yang sebelumnya hampir mati.

Kini berdiri lebih tegak.

Ada satu tunas kecil di ujung batangnya.

Adrian menatapnya lama.

"Mustahil..."

Sudah bertahun-tahun.

Tidak ada tanaman dari rumah kaca itu yang tumbuh.

Namun sekarang...

hanya beberapa hari setelah Elena datang...

sebuah kehidupan baru muncul.

"Yang Mulia."

Elena muncul dari belakang.

Adrian menoleh.

"Kau yang melakukan ini?"

Elena melihat tanaman itu.

Lalu tersenyum kecil.

"Aku hanya membantunya."

"Membantu?"

"Ya."

Ia menyentuh daun kecil itu.

"Tanaman ini sebenarnya tidak menyerah."

Adrian diam.

Elena menatapnya.

"Hanya butuh seseorang yang tidak menyerah lebih dulu."

Kalimat itu membuat Adrian terdiam.

Karena untuk pertama kalinya...

ia merasa Elena tidak hanya sedang berbicara tentang tanaman.

Wanita ini...

mungkin memahami sesuatu tentang dirinya yang bahkan tidak pernah ia katakan.

Dan tanpa ia sadari...

sejak Elena memasuki rumah kaca itu...

dinding yang selama bertahun-tahun ia bangun perlahan mulai retak.

Bersambung...


Comments