Bagian 4: Pertempuran di Kuil Gunung Emas (Jinshan)
Setelah menempuh
perjalanan panjang dari Gunung Kunlun, Bai Suzhen akhirnya kembali ke Hangzhou.
Tubuhnya penuh luka akibat pertarungan dengan para penjaga langit. Pakaiannya
robek, langkahnya goyah, dan kekuatan gaibnya hampir habis. Namun, satu-satunya
hal yang memenuhi pikirannya hanyalah Xu Xian.
Ia menggenggam
erat Ramuan Keabadian yang diperolehnya dengan susah payah.
"Bertahanlah,
Xu Xian... Aku sudah kembali."
Namun, ketika ia
tiba di rumah mereka, pintunya terbuka lebar. Apotek itu kosong. Rak-rak obat
masih tertata rapi, tetapi tidak ada seorang pun di sana.
"Xu
Xian!" panggilnya.
Tidak ada jawaban.
Xiao Qing yang
sedang mencari informasi segera datang menghampirinya.
"Bai
Suzhen!"
"Apa yang
terjadi? Di mana Xu Xian?"
Wajah Xiao Qing
tampak muram.
"Saat kau
pergi, Biksu Fa Hai datang. Ia mengatakan kepada Xu Xian bahwa satu-satunya
cara menyelamatkan dirinya adalah meninggalkanmu. Ia membawa Xu Xian ke Kuil
Gunung Emas (Jinshan)."
Mendengar itu,
wajah Bai Suzhen seketika pucat.
"Tidak..."
Tanpa membuang
waktu, ia segera berlari menuju kuil yang terletak di puncak sebuah bukit di
tepi Sungai Yangtze.
Sore itu, lonceng
kuil berbunyi perlahan.
Xu Xian duduk
termenung di dalam aula utama. Sejak mengetahui bahwa istrinya adalah seekor
siluman ular, hatinya dipenuhi kebingungan.
Ia teringat semua
kenangan mereka bersama—hari pertama bertemu di Danau Barat, saat membuka
apotek, membantu orang-orang miskin, hingga tawa yang mereka bagi setiap malam.
Ia tahu Bai Suzhen
tidak pernah menyakitinya.
Namun bayangan
wujud ular raksasa itu masih menghantuinya.
Fa Hai berdiri di
sampingnya.
"Xu Xian, kau
telah melihat sendiri siapa istrimu."
Xu Xian
menundukkan kepala.
"Guru...
tetapi selama ini ia selalu berbuat baik."
Fa Hai menghela
napas.
"Kebaikan
hari ini tidak menjamin keselamatanmu di masa depan. Manusia dan siluman
berasal dari dua dunia yang berbeda."
Xu Xian tidak
menjawab.
Hatinya terbelah
antara rasa takut dan rasa cinta.
Tak lama kemudian,
seorang biksu muda berlari tergesa-gesa memasuki kuil.
"Guru Fa Hai!
Ada seorang wanita datang ke gerbang. Ia memohon agar suaminya
dikembalikan."
Fa Hai sudah
mengetahui siapa yang datang.
"Buka
gerbang. Aku akan menemuinya."
Di luar kuil, Bai
Suzhen berdiri dengan napas terengah-engah. Perjalanan panjang membuat tubuhnya
hampir roboh, tetapi ia tetap berdiri tegak.
Ketika melihat Fa
Hai muncul, ia segera berkata,
"Tolong...
izinkan aku bertemu Xu Xian."
Fa Hai menggeleng.
"Dia telah
memilih tinggal di kuil."
"Itu tidak
mungkin."
"Biarkan ia
hidup sebagai manusia. Jangan seret dia ke dunia para siluman."
Bai Suzhen
mengepalkan tangan.
"Aku tidak
pernah mencelakainya."
"Belum."
"Aku telah
menyelamatkan ribuan orang."
"Itu tidak
mengubah kenyataan bahwa kau adalah siluman."
Suasana menjadi
hening.
Angin bertiup
pelan melewati halaman kuil.
Bai Suzhen
memejamkan mata sejenak sebelum berkata,
"Aku hanya
ingin berbicara dengannya."
"Tidak."
"Kalau
begitu... aku tidak akan pergi."
Di balik jendela
aula, Xu Xian mendengar suara istrinya.
Hatinya bergetar.
"Itu Bai
Suzhen..."
Ia hendak berlari
keluar, tetapi Fa Hai segera mengangkat tongkat sucinya.
"Jangan."
Seketika sebuah
penghalang cahaya muncul, menutup seluruh gerbang kuil.
Bai Suzhen mencoba
melangkah maju, tetapi tubuhnya terpental oleh kekuatan pelindung itu.
Ia kembali
berdiri.
Lalu mencoba lagi.
Sekali lagi ia
terpental.
Melihat sahabatnya
diperlakukan seperti itu, Xiao Qing yang baru tiba tidak mampu menahan amarah.
"Sudah
cukup!"
Tubuhnya
diselimuti cahaya hijau.
Dalam sekejap ia
berubah menjadi seekor ular hijau raksasa.
Dengan ekornya
yang kuat, ia menghantam gerbang kuil hingga tanah bergetar.
BRAKKK!
Beberapa tembok
retak.
Para biksu
berlarian ketakutan.
Fa Hai segera
mengangkat mangkuk sucinya sambil melafalkan doa.
Cahaya keemasan
memancar dari mangkuk itu, memaksa Xiao Qing mundur.
Pertempuran pun
dimulai.
Xiao Qing
menyerang lebih dulu dengan semburan angin yang sangat kuat.
Fa Hai membalas
dengan mantra-mantra suci yang berubah menjadi rantai cahaya.
Rantai itu melilit
tubuh Xiao Qing.
Namun dengan
sekali hentakan, ia berhasil melepaskan diri.
Sementara itu, Bai
Suzhen tidak ingin bertarung.
Ia terus memohon.
"Guru Fa Hai,
aku mohon. Biarkan aku membawa pulang suamiku."
Tetapi Fa Hai
tetap bergeming.
"Selama aku
masih hidup, itu tidak akan pernah terjadi."
Air mata Bai
Suzhen perlahan berubah menjadi kemarahan.
Langit yang semula
cerah mulai dipenuhi awan hitam.
Angin bertiup
semakin kencang.
Petir menyambar
tanpa henti.
Bai Suzhen
mengangkat kedua tangannya.
Air dari Sungai
Yangtze mulai bergolak.
Ombak yang semula
tenang berubah menjadi gelombang raksasa.
Seluruh biksu di
kuil memandang dengan ngeri.
"Air
sungai... naik!"
Gelombang besar
bergerak menuju Kuil Gunung Emas seperti seekor naga yang mengamuk.
Fa Hai menyadari
bahwa Bai Suzhen menggunakan seluruh kekuatan gaibnya.
Ia segera
menancapkan tongkat sucinya ke tanah dan melafalkan mantra pelindung.
Cahaya emas
menyelimuti seluruh kuil.
Sesaat kemudian...
DUAAAARRR!
Gelombang raksasa
menghantam dinding cahaya.
Air menyembur ke
segala arah.
Pepohonan tumbang.
Perahu-perahu di
sungai terbalik.
Langit dipenuhi
kilatan petir dan hujan deras.
Pertempuran antara
kekuatan suci dan kekuatan gaib mengguncang seluruh wilayah Hangzhou.
Namun di tengah
pertarungan itu, Bai Suzhen tiba-tiba memegangi perutnya.
Wajahnya berubah
pucat.
Ia terjatuh
berlutut.
Xiao Qing segera
menghampirinya.
"Bai
Suzhen!"
Dengan napas
tersengal, Bai Suzhen berkata pelan,
"...Aku...
sedang mengandung..."
Karena
kehamilannya, kekuatan Bai Suzhen melemah drastis. Gelombang air mulai surut,
dan cahaya pelindung Fa Hai tetap berdiri kokoh.
Melihat keadaan
itu, Xiao Qing segera membawa Bai Suzhen pergi sebelum Fa Hai sempat menangkap
mereka.
Dari balik gerbang
kuil, Xu Xian hanya bisa menyaksikan istrinya dibawa pergi.
Ia memanggil
dengan suara lirih,
"Bai
Suzhen..."
Namun suaranya
tenggelam oleh hujan dan dentang lonceng kuil.
Hari itu, tidak
ada pemenang.
Yang tersisa
hanyalah hati yang terluka dan sebuah perpisahan yang semakin dalam.
Bersambung...*
0 comments:
Post a Comment