Tuesday, July 21, 2026

Legenda Ular Putih Bagian 4

 

Bagian 4: Pertempuran di Kuil Gunung Emas (Jinshan)

Setelah menempuh perjalanan panjang dari Gunung Kunlun, Bai Suzhen akhirnya kembali ke Hangzhou. Tubuhnya penuh luka akibat pertarungan dengan para penjaga langit. Pakaiannya robek, langkahnya goyah, dan kekuatan gaibnya hampir habis. Namun, satu-satunya hal yang memenuhi pikirannya hanyalah Xu Xian.

Ia menggenggam erat Ramuan Keabadian yang diperolehnya dengan susah payah.

"Bertahanlah, Xu Xian... Aku sudah kembali."

Namun, ketika ia tiba di rumah mereka, pintunya terbuka lebar. Apotek itu kosong. Rak-rak obat masih tertata rapi, tetapi tidak ada seorang pun di sana.

"Xu Xian!" panggilnya.

Tidak ada jawaban.

Xiao Qing yang sedang mencari informasi segera datang menghampirinya.

"Bai Suzhen!"

"Apa yang terjadi? Di mana Xu Xian?"

Wajah Xiao Qing tampak muram.

"Saat kau pergi, Biksu Fa Hai datang. Ia mengatakan kepada Xu Xian bahwa satu-satunya cara menyelamatkan dirinya adalah meninggalkanmu. Ia membawa Xu Xian ke Kuil Gunung Emas (Jinshan)."

Mendengar itu, wajah Bai Suzhen seketika pucat.

"Tidak..."

Tanpa membuang waktu, ia segera berlari menuju kuil yang terletak di puncak sebuah bukit di tepi Sungai Yangtze.


Sore itu, lonceng kuil berbunyi perlahan.

Xu Xian duduk termenung di dalam aula utama. Sejak mengetahui bahwa istrinya adalah seekor siluman ular, hatinya dipenuhi kebingungan.

Ia teringat semua kenangan mereka bersama—hari pertama bertemu di Danau Barat, saat membuka apotek, membantu orang-orang miskin, hingga tawa yang mereka bagi setiap malam.

Ia tahu Bai Suzhen tidak pernah menyakitinya.

Namun bayangan wujud ular raksasa itu masih menghantuinya.

Fa Hai berdiri di sampingnya.

"Xu Xian, kau telah melihat sendiri siapa istrimu."

Xu Xian menundukkan kepala.

"Guru... tetapi selama ini ia selalu berbuat baik."

Fa Hai menghela napas.

"Kebaikan hari ini tidak menjamin keselamatanmu di masa depan. Manusia dan siluman berasal dari dua dunia yang berbeda."

Xu Xian tidak menjawab.

Hatinya terbelah antara rasa takut dan rasa cinta.


Tak lama kemudian, seorang biksu muda berlari tergesa-gesa memasuki kuil.

"Guru Fa Hai! Ada seorang wanita datang ke gerbang. Ia memohon agar suaminya dikembalikan."

Fa Hai sudah mengetahui siapa yang datang.

"Buka gerbang. Aku akan menemuinya."

Di luar kuil, Bai Suzhen berdiri dengan napas terengah-engah. Perjalanan panjang membuat tubuhnya hampir roboh, tetapi ia tetap berdiri tegak.

Ketika melihat Fa Hai muncul, ia segera berkata,

"Tolong... izinkan aku bertemu Xu Xian."

Fa Hai menggeleng.

"Dia telah memilih tinggal di kuil."

"Itu tidak mungkin."

"Biarkan ia hidup sebagai manusia. Jangan seret dia ke dunia para siluman."

Bai Suzhen mengepalkan tangan.

"Aku tidak pernah mencelakainya."

"Belum."

"Aku telah menyelamatkan ribuan orang."

"Itu tidak mengubah kenyataan bahwa kau adalah siluman."

Suasana menjadi hening.

Angin bertiup pelan melewati halaman kuil.

Bai Suzhen memejamkan mata sejenak sebelum berkata,

"Aku hanya ingin berbicara dengannya."

"Tidak."

"Kalau begitu... aku tidak akan pergi."


Di balik jendela aula, Xu Xian mendengar suara istrinya.

Hatinya bergetar.

"Itu Bai Suzhen..."

Ia hendak berlari keluar, tetapi Fa Hai segera mengangkat tongkat sucinya.

"Jangan."

Seketika sebuah penghalang cahaya muncul, menutup seluruh gerbang kuil.

Bai Suzhen mencoba melangkah maju, tetapi tubuhnya terpental oleh kekuatan pelindung itu.

Ia kembali berdiri.

Lalu mencoba lagi.

Sekali lagi ia terpental.

Melihat sahabatnya diperlakukan seperti itu, Xiao Qing yang baru tiba tidak mampu menahan amarah.

"Sudah cukup!"

Tubuhnya diselimuti cahaya hijau.

Dalam sekejap ia berubah menjadi seekor ular hijau raksasa.

Dengan ekornya yang kuat, ia menghantam gerbang kuil hingga tanah bergetar.

BRAKKK!

Beberapa tembok retak.

Para biksu berlarian ketakutan.

Fa Hai segera mengangkat mangkuk sucinya sambil melafalkan doa.

Cahaya keemasan memancar dari mangkuk itu, memaksa Xiao Qing mundur.

Pertempuran pun dimulai.


Xiao Qing menyerang lebih dulu dengan semburan angin yang sangat kuat.

Fa Hai membalas dengan mantra-mantra suci yang berubah menjadi rantai cahaya.

Rantai itu melilit tubuh Xiao Qing.

Namun dengan sekali hentakan, ia berhasil melepaskan diri.

Sementara itu, Bai Suzhen tidak ingin bertarung.

Ia terus memohon.

"Guru Fa Hai, aku mohon. Biarkan aku membawa pulang suamiku."

Tetapi Fa Hai tetap bergeming.

"Selama aku masih hidup, itu tidak akan pernah terjadi."

Air mata Bai Suzhen perlahan berubah menjadi kemarahan.

Langit yang semula cerah mulai dipenuhi awan hitam.

Angin bertiup semakin kencang.

Petir menyambar tanpa henti.

Bai Suzhen mengangkat kedua tangannya.

Air dari Sungai Yangtze mulai bergolak.

Ombak yang semula tenang berubah menjadi gelombang raksasa.

Seluruh biksu di kuil memandang dengan ngeri.

"Air sungai... naik!"

Gelombang besar bergerak menuju Kuil Gunung Emas seperti seekor naga yang mengamuk.

Fa Hai menyadari bahwa Bai Suzhen menggunakan seluruh kekuatan gaibnya.

Ia segera menancapkan tongkat sucinya ke tanah dan melafalkan mantra pelindung.

Cahaya emas menyelimuti seluruh kuil.

Sesaat kemudian...

DUAAAARRR!

Gelombang raksasa menghantam dinding cahaya.

Air menyembur ke segala arah.

Pepohonan tumbang.

Perahu-perahu di sungai terbalik.

Langit dipenuhi kilatan petir dan hujan deras.

Pertempuran antara kekuatan suci dan kekuatan gaib mengguncang seluruh wilayah Hangzhou.

Namun di tengah pertarungan itu, Bai Suzhen tiba-tiba memegangi perutnya.

Wajahnya berubah pucat.

Ia terjatuh berlutut.

Xiao Qing segera menghampirinya.

"Bai Suzhen!"

Dengan napas tersengal, Bai Suzhen berkata pelan,

"...Aku... sedang mengandung..."

Karena kehamilannya, kekuatan Bai Suzhen melemah drastis. Gelombang air mulai surut, dan cahaya pelindung Fa Hai tetap berdiri kokoh.

Melihat keadaan itu, Xiao Qing segera membawa Bai Suzhen pergi sebelum Fa Hai sempat menangkap mereka.

Dari balik gerbang kuil, Xu Xian hanya bisa menyaksikan istrinya dibawa pergi.

Ia memanggil dengan suara lirih,

"Bai Suzhen..."

Namun suaranya tenggelam oleh hujan dan dentang lonceng kuil.

Hari itu, tidak ada pemenang.

Yang tersisa hanyalah hati yang terluka dan sebuah perpisahan yang semakin dalam.


Bersambung...*

0 comments:

Post a Comment

 

Blognya Alviana Anugrah Template by Ipietoon Cute Blog Design