CHASING AURORA
Bab 18 — Semua
Orang Tahu Kecuali Mereka
Ayla Renata selalu
berpikir bahwa jika suatu rahasia terbongkar...
akan ada momen
dramatis.
Seseorang melihat.
Seseorang
bertanya.
Seseorang membuat
keributan.
Ternyata tidak.
Kadang rahasia
terbongkar hanya karena...
dua orang terlalu
jelas.
Pagi itu, Ayla
datang ke kantor membawa kopi.
Dua gelas.
Satu untuk
dirinya.
Satu lagi untuk
Kael.
Kebiasaan kecil.
Tidak aneh.
Setidaknya menurut
Ayla.
Sampai Mika
melihatnya.
"Kamu membawa
dua kopi."
Ayla berhenti.
"Iya."
"Satu untuk
kamu."
"Iya."
"Satu
lagi?"
Ayla melihat gelas
satunya.
Lalu menjawab
santai:
"Untuk
Kael."
Hening.
Mika menatapnya.
Ayla mulai merasa
ada yang salah.
"Apa?"
Mika menunjuk kopi
itu.
"Kamu
sadar?"
"Sadar
apa?"
"Kamu
sekarang tahu pesanan kopi Kael tanpa bertanya."
Ayla diam.
"Itu bukan
hal besar."
"Dan kamu
membawanya setiap pagi."
"Karena dia
sering lupa."
Mika tersenyum.
"Nah."
"Apa?"
"Itu yang
dilakukan orang yang peduli."
Ayla langsung
berjalan.
"Aku mau
kerja."
Mika tertawa.
Di ruang
direktur...
Kael menerima
kopi.
"Terima
kasih."
Ayla mengangkat
alis.
"Hanya
itu?"
"Apa
lagi?"
"Dulu kamu
akan bilang: 'Saya tidak meminta.'"
Kael mengambil
gelas.
"Saya sudah
belajar."
Ayla tersenyum.
"Bagus."
Lalu dia melihat
meja Kael.
Ada sebuah kotak
makanan.
"Kamu membawa
makan siang?"
Kael mengangguk.
Ayla terkejut.
"Kamu?"
"Ya."
"Kamu membeli
sendiri?"
"Ya."
"Tanpa aku
ingatkan?"
"Ya."
Ayla menyipitkan
mata.
"Siapa
kamu?"
Kael menatapnya
datar.
"Saya masih
saya."
Masalahnya...
orang lain mulai
memperhatikan.
Bukan karena hal
besar.
Tapi karena
hal-hal kecil.
Kael yang biasanya
tidak pernah menunggu siapa pun, sekarang menunggu Ayla selesai meeting.
Ayla yang biasanya
langsung pulang, sekarang sering memastikan Kael tidak lembur sendirian.
Mereka tidak
mengatakan apa-apa.
Tapi semua orang
melihat.
Siang hari, Renzo
dan Mika duduk bersama.
"Kita harus
membicarakan ini."
Mika mengangguk
serius.
"Setuju."
"Mereka sadar
belum?"
"Tidak."
"Bagaimana
mungkin?"
Mika melihat ke
arah mereka.
Ayla sedang
menjelaskan sesuatu.
Kael mendengarkan
sambil tersenyum kecil.
"Itu
masalahnya."
"Mereka
terlalu sibuk memahami perasaan sendiri."
"Padahal satu
kantor sudah tahu."
Sore itu, seorang
klien datang.
Seorang pria muda
bernama Adrian.
Dia adalah
perwakilan perusahaan partner baru.
Dan dia terlalu
ramah kepada Ayla.
"Ayla, konsep
ini sangat menarik."
"Terima
kasih."
"Saya jarang
bertemu orang yang punya cara berpikir seperti Anda."
Ayla tersenyum
sopan.
Kael yang berdiri
tidak jauh dari sana memperhatikan.
Bukan marah.
Bukan kesal.
Tapi...
diam.
Dan semua orang
yang mengenal Kael tahu:
Diamnya Kael
adalah tanda bahaya.
"Apa kamu
baik-baik saja?"
Renzo bertanya.
Kael menatap layar
laptop.
"Ya."
"Kamu melihat
mereka sejak lima menit lalu."
"Saya sedang
memperhatikan situasi."
"Situasi?"
"Hubungan
profesional dengan klien."
Renzo mengangguk.
"Tentu."
Kael melihatnya.
"Apa?"
"Kamu
cemburu."
"Tidak."
"Kamu bahkan
menjawab seperti Ayla."
Kael diam.
Malamnya, setelah
semua orang pulang, Ayla menemukan Kael masih di kantor.
"Kamu
menunggu?"
Kael melihatnya.
"Menunggu
apa?"
"Aku."
Kael diam.
Ayla tersenyum.
"Nah."
"Saya
kebetulan masih bekerja."
"Kael."
"Ya?"
"Kamu buruk
sekali berbohong."
Mereka berjalan
menuju lift.
Ayla tiba-tiba
bertanya:
"Kamu tidak
suka Adrian?"
Kael berhenti.
"Siapa?"
Ayla menaikkan
alis.
"Yang
tadi."
"Oh."
Hening.
Lalu:
"Tidak ada
masalah."
"Tapi?"
Kael diam.
Ayla tersenyum.
"Kamu
cemburu."
"Saya
tidak."
"Jawabanmu
terlalu cepat."
Kael menghela
napas.
"Saya
hanya..."
Dia berhenti.
Ayla menunggu.
"Saya tidak
terbiasa melihat orang lain memperhatikan kamu seperti itu."
Ayla terdiam.
Karena itu mungkin
pengakuan paling jujur yang pernah dia dengar.
"Kael."
"Ya?"
"Kamu tahu
tidak?"
"Apa?"
"Kamu
ternyata bisa cemburu."
"Saya
manusia."
Ayla tertawa.
"Saya pikir
kamu robot."
"Saya sudah
membantah itu."
"Tapi kamu
mirip."
Kael melihatnya.
Lalu berkata:
"Saya percaya
kamu."
Ayla berhenti
tertawa.
"Tapi?"
"Tapi saya
tidak suka."
"Apa?"
"Kalau orang
lain membuat kamu tersenyum seperti itu."
Ayla terdiam.
Bukan karena
kalimat itu terlalu romantis.
Tapi karena Kael
mengatakannya dengan wajah serius.
Seolah dia sedang
menyampaikan laporan penting.
Dan itu justru
membuatnya lucu.
"Kamu
sadar?"
"Apa?"
"Kamu baru
saja mengatakan sesuatu yang sangat cemburu."
Kael berpikir.
Lalu mengangguk.
"Ya."
"Dan?"
"Saya sedang
belajar."
Ayla tersenyum.
"Baiklah."
Di depan lift,
mereka berdiri berdampingan.
Tanpa sadar,
tangan mereka hampir bersentuhan.
Kael melihat.
Lalu perlahan
menggenggam tangan Ayla.
Sederhana.
Pelan.
Seperti meminta
izin.
Ayla melihatnya.
Tidak berkata
apa-apa.
Hanya tersenyum.
Dan di lantai
atas...
Mika yang baru
kembali mengambil barang melihat mereka dari kejauhan.
Dia langsung
mengirim pesan.
Mika: AKHIRNYA.
Beberapa detik
kemudian.
Balasan Renzo:
Renzo: Saya
sudah menunggu tiga bulan.
Besok pagi, mereka
mungkin masih akan pura-pura profesional.
Masih akan
berdebat.
Masih akan saling
mengganggu.
Tapi sekarang ada
satu hal yang berbeda.
Seluruh kantor
tahu.
Kecuali mereka
berdua masih sibuk belajar satu hal:
Bagaimana rasanya
menjadi seseorang yang dipilih.
0 comments:
Post a Comment