Tuesday, July 21, 2026

CHASING AURORA 18

 

CHASING AURORA

Bab 18 — Semua Orang Tahu Kecuali Mereka

Ayla Renata selalu berpikir bahwa jika suatu rahasia terbongkar...

akan ada momen dramatis.

Seseorang melihat.

Seseorang bertanya.

Seseorang membuat keributan.

Ternyata tidak.

Kadang rahasia terbongkar hanya karena...

dua orang terlalu jelas.


Pagi itu, Ayla datang ke kantor membawa kopi.

Dua gelas.

Satu untuk dirinya.

Satu lagi untuk Kael.

Kebiasaan kecil.

Tidak aneh.

Setidaknya menurut Ayla.

Sampai Mika melihatnya.

"Kamu membawa dua kopi."

Ayla berhenti.

"Iya."

"Satu untuk kamu."

"Iya."

"Satu lagi?"

Ayla melihat gelas satunya.

Lalu menjawab santai:

"Untuk Kael."

Hening.

Mika menatapnya.

Ayla mulai merasa ada yang salah.

"Apa?"

Mika menunjuk kopi itu.

"Kamu sadar?"

"Sadar apa?"

"Kamu sekarang tahu pesanan kopi Kael tanpa bertanya."

Ayla diam.

"Itu bukan hal besar."

"Dan kamu membawanya setiap pagi."

"Karena dia sering lupa."

Mika tersenyum.

"Nah."

"Apa?"

"Itu yang dilakukan orang yang peduli."

Ayla langsung berjalan.

"Aku mau kerja."

Mika tertawa.


Di ruang direktur...

Kael menerima kopi.

"Terima kasih."

Ayla mengangkat alis.

"Hanya itu?"

"Apa lagi?"

"Dulu kamu akan bilang: 'Saya tidak meminta.'"

Kael mengambil gelas.

"Saya sudah belajar."

Ayla tersenyum.

"Bagus."

Lalu dia melihat meja Kael.

Ada sebuah kotak makanan.

"Kamu membawa makan siang?"

Kael mengangguk.

Ayla terkejut.

"Kamu?"

"Ya."

"Kamu membeli sendiri?"

"Ya."

"Tanpa aku ingatkan?"

"Ya."

Ayla menyipitkan mata.

"Siapa kamu?"

Kael menatapnya datar.

"Saya masih saya."


Masalahnya...

orang lain mulai memperhatikan.

Bukan karena hal besar.

Tapi karena hal-hal kecil.

Kael yang biasanya tidak pernah menunggu siapa pun, sekarang menunggu Ayla selesai meeting.

Ayla yang biasanya langsung pulang, sekarang sering memastikan Kael tidak lembur sendirian.

Mereka tidak mengatakan apa-apa.

Tapi semua orang melihat.


Siang hari, Renzo dan Mika duduk bersama.

"Kita harus membicarakan ini."

Mika mengangguk serius.

"Setuju."

"Mereka sadar belum?"

"Tidak."

"Bagaimana mungkin?"

Mika melihat ke arah mereka.

Ayla sedang menjelaskan sesuatu.

Kael mendengarkan sambil tersenyum kecil.

"Itu masalahnya."

"Mereka terlalu sibuk memahami perasaan sendiri."

"Padahal satu kantor sudah tahu."


Sore itu, seorang klien datang.

Seorang pria muda bernama Adrian.

Dia adalah perwakilan perusahaan partner baru.

Dan dia terlalu ramah kepada Ayla.

"Ayla, konsep ini sangat menarik."

"Terima kasih."

"Saya jarang bertemu orang yang punya cara berpikir seperti Anda."

Ayla tersenyum sopan.

Kael yang berdiri tidak jauh dari sana memperhatikan.

Bukan marah.

Bukan kesal.

Tapi...

diam.

Dan semua orang yang mengenal Kael tahu:

Diamnya Kael adalah tanda bahaya.


"Apa kamu baik-baik saja?"

Renzo bertanya.

Kael menatap layar laptop.

"Ya."

"Kamu melihat mereka sejak lima menit lalu."

"Saya sedang memperhatikan situasi."

"Situasi?"

"Hubungan profesional dengan klien."

Renzo mengangguk.

"Tentu."

Kael melihatnya.

"Apa?"

"Kamu cemburu."

"Tidak."

"Kamu bahkan menjawab seperti Ayla."

Kael diam.


Malamnya, setelah semua orang pulang, Ayla menemukan Kael masih di kantor.

"Kamu menunggu?"

Kael melihatnya.

"Menunggu apa?"

"Aku."

Kael diam.

Ayla tersenyum.

"Nah."

"Saya kebetulan masih bekerja."

"Kael."

"Ya?"

"Kamu buruk sekali berbohong."


Mereka berjalan menuju lift.

Ayla tiba-tiba bertanya:

"Kamu tidak suka Adrian?"

Kael berhenti.

"Siapa?"

Ayla menaikkan alis.

"Yang tadi."

"Oh."

Hening.

Lalu:

"Tidak ada masalah."

"Tapi?"

Kael diam.

Ayla tersenyum.

"Kamu cemburu."

"Saya tidak."

"Jawabanmu terlalu cepat."


Kael menghela napas.

"Saya hanya..."

Dia berhenti.

Ayla menunggu.

"Saya tidak terbiasa melihat orang lain memperhatikan kamu seperti itu."

Ayla terdiam.

Karena itu mungkin pengakuan paling jujur yang pernah dia dengar.


"Kael."

"Ya?"

"Kamu tahu tidak?"

"Apa?"

"Kamu ternyata bisa cemburu."

"Saya manusia."

Ayla tertawa.

"Saya pikir kamu robot."

"Saya sudah membantah itu."

"Tapi kamu mirip."


Kael melihatnya.

Lalu berkata:

"Saya percaya kamu."

Ayla berhenti tertawa.

"Tapi?"

"Tapi saya tidak suka."

"Apa?"

"Kalau orang lain membuat kamu tersenyum seperti itu."


Ayla terdiam.

Bukan karena kalimat itu terlalu romantis.

Tapi karena Kael mengatakannya dengan wajah serius.

Seolah dia sedang menyampaikan laporan penting.

Dan itu justru membuatnya lucu.


"Kamu sadar?"

"Apa?"

"Kamu baru saja mengatakan sesuatu yang sangat cemburu."

Kael berpikir.

Lalu mengangguk.

"Ya."

"Dan?"

"Saya sedang belajar."

Ayla tersenyum.

"Baiklah."


Di depan lift, mereka berdiri berdampingan.

Tanpa sadar, tangan mereka hampir bersentuhan.

Kael melihat.

Lalu perlahan menggenggam tangan Ayla.

Sederhana.

Pelan.

Seperti meminta izin.

Ayla melihatnya.

Tidak berkata apa-apa.

Hanya tersenyum.


Dan di lantai atas...

Mika yang baru kembali mengambil barang melihat mereka dari kejauhan.

Dia langsung mengirim pesan.

Mika: AKHIRNYA.

Beberapa detik kemudian.

Balasan Renzo:

Renzo: Saya sudah menunggu tiga bulan.


Besok pagi, mereka mungkin masih akan pura-pura profesional.

Masih akan berdebat.

Masih akan saling mengganggu.

Tapi sekarang ada satu hal yang berbeda.

Seluruh kantor tahu.

Kecuali mereka berdua masih sibuk belajar satu hal:

Bagaimana rasanya menjadi seseorang yang dipilih.

 

0 comments:

Post a Comment

 

Blognya Alviana Anugrah Template by Ipietoon Cute Blog Design