Tuesday, July 21, 2026

CHASING AURORA 8

CHASING AURORA

Bab 8 — Kesempatan yang Datang Terlalu Cepat

Ayla Renata selalu berpikir bahwa kesempatan besar akan terasa seperti kemenangan.

Ada musik.

Ada rasa bangga.

Ada momen ketika seseorang berkata:

"Kamu berhasil."

Ternyata dia salah.

Karena ketika kesempatan itu datang...

hal pertama yang dia rasakan justru takut.


"Ayla."

Ayla mengangkat kepala dari laptop.

Mika berdiri di depan mejanya sambil membawa dua gelas kopi.

"Kamu terlihat seperti orang yang baru melihat tagihan kartu kredit."

"Itu tidak jauh berbeda."

Mika meletakkan kopi.

"Ada apa?"

Ayla diam sebentar.

Lalu memutar laptopnya.

Sebuah email terbuka.

Invitation: Aurora International Creative Project

Mata Mika langsung membesar.

"Ayla."

"Ya."

"Ini..."

"Iya."

"Kamu tahu apa artinya?"

Ayla mengangguk.

"Kesempatan besar."

"Ini lebih dari besar."

Mika membaca lagi.

"Mereka ingin kamu memimpin proyek regional."

Ayla tersenyum kecil.

"Ya."

"Lalu kenapa wajahmu seperti mau menangis?"

Ayla melihat layar.

"Karena kalau aku menerima ini..."

Dia berhenti.

Mika langsung tahu.

"Karena kamu harus pergi?"

Ayla mengangguk.


Proyek itu adalah impian Ayla sejak lama.

Bekerja dengan tim internasional.

Membuat konsep yang dilihat lebih banyak orang.

Membuktikan bahwa ide kreatifnya punya nilai.

Seharusnya dia bahagia.

Tapi entah kenapa...

pikiran pertamanya bukan tentang karier.

Melainkan seseorang.

Seseorang yang biasanya membuatnya kesal.

Seseorang yang selalu mengatakan:

"Kita harus mempertimbangkan semua kemungkinan."

Kael.


Di ruang meeting, Ayla memberitahu tim.

Semua orang langsung memberikan selamat.

Kecuali satu orang.

Kael.

Dia hanya diam.

Terlalu diam.

"Apa pendapatmu?"

Ayla bertanya langsung.

Kael melihat dokumen di tangannya.

"Ini kesempatan bagus."

Jawaban profesional.

Terlalu profesional.

Ayla menunggu.

"Tapi?"

Kael menatapnya.

"Tapi apa?"

Ayla menghela napas.

"Kamu selalu punya bagian kedua."

Kael diam.

Lalu berkata:

"Tapi proyek Aurora di sini masih berjalan."

Ayla menatapnya.

"Oh."

Hanya itu.

Oh.


Sore hari, Ayla merasa kesal.

Bukan karena Kael tidak mendukung.

Justru karena dia mendukung dengan cara yang terlalu tenang.

"Aku benci dia."

Mika menatapnya.

"Kamu mengatakan itu sambil melihat foto dia?"

Ayla langsung menutup layar ponselnya.

"Aku tidak."

"Kamu baru saja melihat foto profil kontaknya."

"Itu tidak sengaja."

"Selama tiga puluh detik?"

Ayla diam.

Mika tersenyum.

"Kamu tidak marah karena dia tidak mendukung."

"Lalu?"

"Kamu marah karena kamu berharap dia akan menahanmu."

Ayla tidak menjawab.

Karena itu benar.

Dan dia tidak suka menyadarinya.


Malam itu, Ayla masih bekerja.

Seperti biasa.

Terlalu lama.

Terlalu keras.

Sampai sebuah suara muncul.

"Kamu belum pulang."

Ayla tidak perlu melihat.

Dia tahu.

"Kael."

Kael berdiri membawa dua kotak makanan.

"Kamu lupa makan."

Ayla melihat jam.

"Sudah malam."

"Ya."

"Kenapa kamu masih di kantor?"

Kael meletakkan makanan di meja.

"Karena kamu masih di kantor."

Ayla terdiam.

Itu jawaban yang sangat sederhana.

Tapi juga sangat jujur.


Mereka makan dalam diam.

Aneh.

Tapi nyaman.

Ayla akhirnya berkata:

"Kamu tidak marah?"

Kael mengangkat kepala.

"Marah tentang apa?"

"Kalau aku pergi."

Kael diam.

Lama.

Ayla menunggu.

"Saya tidak marah."

"Kenapa?"

"Karena itu kesempatan yang kamu inginkan."

Ayla menatapnya.

"Kamu tahu?"

"Ya."

"Kapan?"

"Saat pertama kali kamu melihat proposal itu."

Ayla terkejut.

"Kamu ingat?"

"Saya ingat banyak hal tentang kamu."

Hening.

Kael sepertinya baru menyadari apa yang dia katakan.

Ayla juga.


"Kael."

"Ya?"

"Kalau aku pergi..."

Dia berhenti.

Kael menunggu.

"Apa kamu akan baik-baik saja?"

Pertanyaan itu terdengar sederhana.

Tapi bagi Kael...

sangat sulit dijawab.

Karena jawaban sebenarnya:

Tidak.

Dia tidak akan baik-baik saja.

Karena beberapa bulan terakhir, Ayla sudah menjadi bagian dari rutinitasnya.

Pagi dengan komentar aneh.

Meeting dengan perdebatan.

Pesan singkat tentang hal kecil.

Tawa yang selalu muncul di waktu yang tidak terduga.

Tapi Kael bukan orang yang mudah mengatakan itu.

Jadi dia memilih jawaban yang lebih aman.

"Saya akan baik-baik saja."

Ayla tersenyum kecil.

"Tentu saja."

Dan entah kenapa...

jawaban itu membuat Kael merasa bersalah.


Hari pengumuman keputusan tiba.

Ayla menerima proyek itu.

Semua orang memberi selamat.

Kael adalah orang pertama yang datang.

"Selamat."

Ayla tersenyum.

"Terima kasih."

"Saya serius."

"Aku tahu."

Kael menyerahkan sebuah kotak kecil.

Ayla membuka.

Sebuah gantungan kompas kecil.

Yang pernah mereka lihat di kota kecil.

Ayla menatapnya.

"Kamu masih menyimpan ini?"

"Saya membelinya."

"Untuk apa?"

Kael terdiam.

Dulu dia akan memberikan alasan.

Tapi kali ini...

dia mencoba jujur.

"Supaya kamu ingat jalan pulang."

Ayla berhenti.

Untuk sesaat, semua suara kantor terasa jauh.

"Kael..."

Namun sebelum dia bisa mengatakan apa pun, seseorang memanggilnya.

"Ayla! Tim regional sudah menunggu."

Dia menoleh.

Lalu kembali melihat Kael.

Pria itu sudah kembali dengan ekspresi tenang.

Seolah tidak baru saja mengatakan sesuatu yang membuat jantungnya berantakan.


Malam itu, Ayla melihat gantungan kompas di meja apartemennya.

Dia seharusnya memikirkan proyek baru.

Kota baru.

Karier baru.

Tapi pikirannya kembali pada satu hal:

Kael tidak pernah mengatakan:

"Jangan pergi."

Dia tidak pernah meminta Ayla memilih dirinya.

Dia hanya memberinya sesuatu untuk mengingat jalan pulang.

Dan mungkin...

justru itu yang membuat Ayla semakin sulit melupakannya.


Sementara itu, di kantor yang mulai sepi...

Kael berdiri di depan jendela.

Untuk pertama kalinya dia menyadari:

Mendukung seseorang pergi demi impiannya...

ternyata jauh lebih sulit daripada mempertahankannya.

Karena cinta bukan selalu tentang meminta seseorang tetap tinggal.

Kadang...

tentang membiarkan seseorang terbang.

Meski kita berharap dia kembali.


0 comments:

Post a Comment

 

Blognya Alviana Anugrah Template by Ipietoon Cute Blog Design