CHASING AURORA
Bab 8 —
Kesempatan yang Datang Terlalu Cepat
Ayla Renata selalu
berpikir bahwa kesempatan besar akan terasa seperti kemenangan.
Ada musik.
Ada rasa bangga.
Ada momen ketika
seseorang berkata:
"Kamu
berhasil."
Ternyata dia
salah.
Karena ketika
kesempatan itu datang...
hal pertama yang
dia rasakan justru takut.
"Ayla."
Ayla mengangkat
kepala dari laptop.
Mika berdiri di
depan mejanya sambil membawa dua gelas kopi.
"Kamu
terlihat seperti orang yang baru melihat tagihan kartu kredit."
"Itu tidak
jauh berbeda."
Mika meletakkan
kopi.
"Ada
apa?"
Ayla diam
sebentar.
Lalu memutar
laptopnya.
Sebuah email
terbuka.
Invitation:
Aurora International Creative Project
Mata Mika langsung
membesar.
"Ayla."
"Ya."
"Ini..."
"Iya."
"Kamu tahu
apa artinya?"
Ayla mengangguk.
"Kesempatan
besar."
"Ini lebih
dari besar."
Mika membaca lagi.
"Mereka ingin
kamu memimpin proyek regional."
Ayla tersenyum
kecil.
"Ya."
"Lalu kenapa
wajahmu seperti mau menangis?"
Ayla melihat
layar.
"Karena kalau
aku menerima ini..."
Dia berhenti.
Mika langsung
tahu.
"Karena kamu
harus pergi?"
Ayla mengangguk.
Proyek itu adalah
impian Ayla sejak lama.
Bekerja dengan tim
internasional.
Membuat konsep
yang dilihat lebih banyak orang.
Membuktikan bahwa
ide kreatifnya punya nilai.
Seharusnya dia
bahagia.
Tapi entah
kenapa...
pikiran pertamanya
bukan tentang karier.
Melainkan
seseorang.
Seseorang yang
biasanya membuatnya kesal.
Seseorang yang
selalu mengatakan:
"Kita
harus mempertimbangkan semua kemungkinan."
Kael.
Di ruang meeting,
Ayla memberitahu tim.
Semua orang
langsung memberikan selamat.
Kecuali satu
orang.
Kael.
Dia hanya diam.
Terlalu diam.
"Apa
pendapatmu?"
Ayla bertanya
langsung.
Kael melihat
dokumen di tangannya.
"Ini
kesempatan bagus."
Jawaban
profesional.
Terlalu
profesional.
Ayla menunggu.
"Tapi?"
Kael menatapnya.
"Tapi
apa?"
Ayla menghela
napas.
"Kamu selalu
punya bagian kedua."
Kael diam.
Lalu berkata:
"Tapi proyek
Aurora di sini masih berjalan."
Ayla menatapnya.
"Oh."
Hanya itu.
Oh.
Sore hari, Ayla
merasa kesal.
Bukan karena Kael
tidak mendukung.
Justru karena dia
mendukung dengan cara yang terlalu tenang.
"Aku benci
dia."
Mika menatapnya.
"Kamu
mengatakan itu sambil melihat foto dia?"
Ayla langsung
menutup layar ponselnya.
"Aku
tidak."
"Kamu baru
saja melihat foto profil kontaknya."
"Itu tidak
sengaja."
"Selama tiga
puluh detik?"
Ayla diam.
Mika tersenyum.
"Kamu tidak
marah karena dia tidak mendukung."
"Lalu?"
"Kamu marah
karena kamu berharap dia akan menahanmu."
Ayla tidak
menjawab.
Karena itu benar.
Dan dia tidak suka
menyadarinya.
Malam itu, Ayla
masih bekerja.
Seperti biasa.
Terlalu lama.
Terlalu keras.
Sampai sebuah
suara muncul.
"Kamu belum
pulang."
Ayla tidak perlu
melihat.
Dia tahu.
"Kael."
Kael berdiri
membawa dua kotak makanan.
"Kamu lupa
makan."
Ayla melihat jam.
"Sudah
malam."
"Ya."
"Kenapa kamu
masih di kantor?"
Kael meletakkan
makanan di meja.
"Karena kamu
masih di kantor."
Ayla terdiam.
Itu jawaban yang
sangat sederhana.
Tapi juga sangat
jujur.
Mereka makan dalam
diam.
Aneh.
Tapi nyaman.
Ayla akhirnya
berkata:
"Kamu tidak
marah?"
Kael mengangkat
kepala.
"Marah
tentang apa?"
"Kalau aku
pergi."
Kael diam.
Lama.
Ayla menunggu.
"Saya tidak
marah."
"Kenapa?"
"Karena itu
kesempatan yang kamu inginkan."
Ayla menatapnya.
"Kamu
tahu?"
"Ya."
"Kapan?"
"Saat pertama
kali kamu melihat proposal itu."
Ayla terkejut.
"Kamu
ingat?"
"Saya ingat
banyak hal tentang kamu."
Hening.
Kael sepertinya
baru menyadari apa yang dia katakan.
Ayla juga.
"Kael."
"Ya?"
"Kalau aku
pergi..."
Dia berhenti.
Kael menunggu.
"Apa kamu
akan baik-baik saja?"
Pertanyaan itu
terdengar sederhana.
Tapi bagi Kael...
sangat sulit
dijawab.
Karena jawaban
sebenarnya:
Tidak.
Dia tidak akan
baik-baik saja.
Karena beberapa
bulan terakhir, Ayla sudah menjadi bagian dari rutinitasnya.
Pagi dengan
komentar aneh.
Meeting dengan
perdebatan.
Pesan singkat
tentang hal kecil.
Tawa yang selalu
muncul di waktu yang tidak terduga.
Tapi Kael bukan
orang yang mudah mengatakan itu.
Jadi dia memilih
jawaban yang lebih aman.
"Saya akan
baik-baik saja."
Ayla tersenyum
kecil.
"Tentu
saja."
Dan entah
kenapa...
jawaban itu
membuat Kael merasa bersalah.
Hari pengumuman
keputusan tiba.
Ayla menerima
proyek itu.
Semua orang
memberi selamat.
Kael adalah orang
pertama yang datang.
"Selamat."
Ayla tersenyum.
"Terima
kasih."
"Saya
serius."
"Aku
tahu."
Kael menyerahkan
sebuah kotak kecil.
Ayla membuka.
Sebuah gantungan
kompas kecil.
Yang pernah mereka
lihat di kota kecil.
Ayla menatapnya.
"Kamu masih
menyimpan ini?"
"Saya
membelinya."
"Untuk
apa?"
Kael terdiam.
Dulu dia akan
memberikan alasan.
Tapi kali ini...
dia mencoba jujur.
"Supaya kamu
ingat jalan pulang."
Ayla berhenti.
Untuk sesaat,
semua suara kantor terasa jauh.
"Kael..."
Namun sebelum dia
bisa mengatakan apa pun, seseorang memanggilnya.
"Ayla! Tim
regional sudah menunggu."
Dia menoleh.
Lalu kembali
melihat Kael.
Pria itu sudah
kembali dengan ekspresi tenang.
Seolah tidak baru
saja mengatakan sesuatu yang membuat jantungnya berantakan.
Malam itu, Ayla
melihat gantungan kompas di meja apartemennya.
Dia seharusnya
memikirkan proyek baru.
Kota baru.
Karier baru.
Tapi pikirannya
kembali pada satu hal:
Kael tidak pernah
mengatakan:
"Jangan
pergi."
Dia tidak pernah
meminta Ayla memilih dirinya.
Dia hanya
memberinya sesuatu untuk mengingat jalan pulang.
Dan mungkin...
justru itu yang
membuat Ayla semakin sulit melupakannya.
Sementara itu, di
kantor yang mulai sepi...
Kael berdiri di
depan jendela.
Untuk pertama
kalinya dia menyadari:
Mendukung
seseorang pergi demi impiannya...
ternyata jauh
lebih sulit daripada mempertahankannya.
Karena cinta bukan
selalu tentang meminta seseorang tetap tinggal.
Kadang...
tentang membiarkan
seseorang terbang.
Meski kita
berharap dia kembali.
0 comments:
Post a Comment