Tuesday, July 21, 2026

CHASING AURORA 4

 

CHASING AURORA

Bab 4 — Pacar Palsu yang Terlalu Serius

Ayla Renata punya satu kesimpulan setelah satu malam perjalanan dinas bersama Kael Ardhana:

Pria itu aneh.

Bukan aneh dalam arti buruk.

Lebih seperti...

Sulit dipercaya bahwa seseorang bisa sangat pintar dalam pekerjaan, tapi sangat buruk dalam hal-hal sederhana.

Contohnya:

Membeli sarapan.

"Kamu pesan apa?"

Ayla melihat meja makan di hotel.

Kael menatap pesanannya.

"Kopi hitam."

"Hanya itu?"

"Ya."

Ayla mengerutkan dahi.

"Kael."

"Apa?"

"Kamu bangun jam enam pagi, olahraga dua puluh menit, membaca laporan, lalu sarapan hanya kopi?"

"Efisien."

Ayla menarik napas panjang.

"Aku mulai curiga kata 'efisien' adalah alasanmu untuk semua hal yang menyedihkan."

Kael melihatnya.

"Saya tidak merasa sedih."

"Karena kamu tidak tahu kamu sedih."

"Itu tidak masuk akal."

"Sayangnya banyak hal tentang manusia memang tidak masuk akal."

Kael diam.

Lalu mengambil menu.

Ayla tersenyum kecil.

"Bagus."

"Apa?"

"Kamu mengikuti saran saya."

"Saya hanya mempertimbangkan pilihan lain."

"Bahasa kamu untuk 'saya mendengarkan kamu' sangat panjang."


Hari kedua perjalanan mereka adalah acara presentasi dengan salah satu klien terbesar Aurora.

Masalahnya muncul sepuluh menit sebelum acara dimulai.

"Kael."

"Hm?"

Ayla melihat daftar tamu.

"Kenapa nama kita tercatat sebagai pasangan?"

Kael mengambil kertas itu.

Diam.

Ayla menunggu.

"Kael."

"Ya."

"Jangan bilang kamu juga tidak punya komentar."

"Saya sedang mencari solusi."

"Solusinya adalah menjelaskan kesalahan ini."

"Itu sulit."

"Kenapa?"

Kael menunjuk nama di daftar.

"Tuan dan Nyonya Ardhana."

Ayla membeku.

"Tunggu."

Dia mengambil kertas itu.

"Ini bukan nama perusahaan."

"Tidak."

"Ini nama pasangan."

"Benar."

Ayla menatapnya.

"Kenapa?"

Kael membaca email sebelumnya.

"Hotel mengira kita pasangan karena reservasi dibuat bersama."

Ayla memejamkan mata.

"Bagus."

"Maaf."

Ayla membuka mata.

Dia berhenti.

Karena itu mungkin pertama kalinya Kael meminta maaf dengan tulus.

"Bentar."

"Apa?"

"Kamu bilang maaf?"

"Ya."

"Aku harus mencatat tanggal."

"Kenapa?"

"Karena ini mungkin kejadian langka."

Kael menatapnya datar.

"Anda sangat menikmati ini."

"Sedikit."


Masalahnya, klien yang akan mereka temui ternyata adalah pasangan suami istri yang sudah lama bekerja di industri kreatif.

Dan mereka sangat menyukai cerita cinta.

"Jadi kalian berdua sudah lama bersama?"

Ayla hampir tersedak minumannya.

Kael menjawab lebih cepat.

"Ya."

Ayla menoleh.

YA?

Dia baru saja bilang YA?

Tanpa ragu?

Tanpa diskusi?

Kael melanjutkan.

"Kami sudah mengenal satu sama lain cukup lama."

Ayla tersenyum kaku.

Oh.

Secara teknis tidak bohong.

Mereka memang sudah mengenal satu sama lain.

Walaupun sebagian besar waktunya dihabiskan untuk berdebat.


Setelah acara selesai, Ayla menarik Kael ke sudut ruangan.

"Kamu gila?"

"Kenapa?"

"Kamu bilang kita sudah lama bersama."

"Karena kita sudah bekerja bersama selama beberapa waktu."

"Itu bukan maksud mereka."

"Saya tahu."

Ayla terdiam.

"Kamu tahu?"

"Ya."

"Lalu kenapa?"

Kael melihatnya.

"Karena kalau saya langsung menyangkal, suasananya akan menjadi canggung."

Ayla berkedip.

"Kamu..."

"Apa?"

"Kamu ternyata bisa berpikir seperti manusia sosial."

"Saya tersinggung."

"Kamu tidak terlihat."

"Itu masalah ekspresi."

Ayla tertawa.

Dan lagi-lagi Kael melihat hal yang sama.

Dia suka suara tawa perempuan itu.

Terlalu suka untuk seseorang yang katanya hanya fokus bekerja.


Sore hari, mereka berjalan di sekitar kota sebelum kembali.

Ayla berhenti di depan toko kecil.

"Sebentar."

Kael melihat jam.

"Kita punya waktu dua puluh menit."

Ayla masuk.

"Kamu selalu menghitung waktu?"

"Ya."

"Capek tidak?"

"Tidak."

"Berbohong."

Kael menatapnya.

"Kamu selalu tahu kapan saya berbohong?"

"Tidak."

"Lalu?"

"Aku hanya menebak."

"Dan sering benar."

Ayla tersenyum.

"Mungkin karena kamu mudah dibaca."

"Saya?"

"Iya."

"Orang biasanya mengatakan saya sulit dipahami."

"Karena mereka tidak memperhatikan."

Kael terdiam.

Kalimat itu sederhana.

Tapi entah kenapa terasa berbeda.


Di dalam toko, Ayla melihat sebuah gantungan kecil berbentuk kompas.

Dia mengambilnya.

"Lihat."

Kael melihat benda itu.

"Kompas."

"Ya."

"Kenapa tertarik?"

Ayla memutar benda itu.

"Karena lucu."

"Fungsinya?"

Ayla menatapnya.

"Harus selalu ada fungsi?"

Kael membuka mulut.

Lalu menutupnya.

Ayla tertawa.

"Ini masalah terbesar kamu."

"Apa?"

"Kamu selalu mencari alasan kenapa sesuatu harus ada."

"Dan?"

"Padahal kadang sesuatu ada hanya karena membuat kita senang."

Kael tidak menjawab.

Tapi ketika mereka keluar dari toko...

Dia membawa kantong kecil itu.

Ayla melihatnya.

"Kamu beli?"

"Ya."

"Untuk apa?"

Kael diam.

Lalu menjawab:

"Karena kamu menyukainya."

Ayla terdiam.

Jawaban itu terlalu sederhana.

Dan mungkin justru karena itu...

terasa lebih berarti.


Malam sebelum pulang, Ayla duduk di balkon hotel.

Kael keluar membawa dua gelas minuman.

Dia memberikan satu padanya.

Ayla melihat.

"Kopi?"

"Tidak."

"Teh?"

"Ya."

Ayla tersenyum.

"Kamu ingat aku tidak minum kopi malam hari?"

"Ya."

"Kapan aku bilang?"

"Kemarin."

Ayla memandangnya.

"Kamu ingat?"

"Saya mengingat hal yang penting."

Hening.

Untuk pertama kalinya, Ayla tidak punya lelucon.

Karena dia tahu.

Bagi Kael Ardhana...

mengingat hal kecil mungkin adalah cara dia mengatakan perhatian.

Dan mungkin...

itu jauh lebih jujur daripada kata-kata.


Besok mereka akan kembali ke kota.

Kembali menjadi partner kerja.

Kembali menjadi dua orang yang pura-pura tidak saling memperhatikan.

Tapi Ayla mulai curiga.

Mungkin masalahnya bukan Kael tidak punya perasaan.

Mungkin masalahnya...

Kael hanya berbicara dengan bahasa yang berbeda.

Dan perlahan...

dia mulai belajar menerjemahkannya.

0 comments:

Post a Comment

 

Blognya Alviana Anugrah Template by Ipietoon Cute Blog Design