CHASING AURORA
Bab 4 — Pacar
Palsu yang Terlalu Serius
Ayla Renata punya
satu kesimpulan setelah satu malam perjalanan dinas bersama Kael Ardhana:
Pria itu aneh.
Bukan aneh dalam
arti buruk.
Lebih seperti...
Sulit dipercaya
bahwa seseorang bisa sangat pintar dalam pekerjaan, tapi sangat buruk dalam
hal-hal sederhana.
Contohnya:
Membeli sarapan.
"Kamu pesan
apa?"
Ayla melihat meja
makan di hotel.
Kael menatap
pesanannya.
"Kopi
hitam."
"Hanya
itu?"
"Ya."
Ayla mengerutkan
dahi.
"Kael."
"Apa?"
"Kamu bangun
jam enam pagi, olahraga dua puluh menit, membaca laporan, lalu sarapan hanya
kopi?"
"Efisien."
Ayla menarik napas
panjang.
"Aku mulai
curiga kata 'efisien' adalah alasanmu untuk semua hal yang menyedihkan."
Kael melihatnya.
"Saya tidak
merasa sedih."
"Karena kamu
tidak tahu kamu sedih."
"Itu tidak
masuk akal."
"Sayangnya
banyak hal tentang manusia memang tidak masuk akal."
Kael diam.
Lalu mengambil
menu.
Ayla tersenyum
kecil.
"Bagus."
"Apa?"
"Kamu
mengikuti saran saya."
"Saya hanya
mempertimbangkan pilihan lain."
"Bahasa kamu
untuk 'saya mendengarkan kamu' sangat panjang."
Hari kedua
perjalanan mereka adalah acara presentasi dengan salah satu klien terbesar
Aurora.
Masalahnya muncul
sepuluh menit sebelum acara dimulai.
"Kael."
"Hm?"
Ayla melihat
daftar tamu.
"Kenapa nama
kita tercatat sebagai pasangan?"
Kael mengambil
kertas itu.
Diam.
Ayla menunggu.
"Kael."
"Ya."
"Jangan
bilang kamu juga tidak punya komentar."
"Saya sedang
mencari solusi."
"Solusinya
adalah menjelaskan kesalahan ini."
"Itu
sulit."
"Kenapa?"
Kael menunjuk nama
di daftar.
"Tuan dan
Nyonya Ardhana."
Ayla membeku.
"Tunggu."
Dia mengambil
kertas itu.
"Ini bukan
nama perusahaan."
"Tidak."
"Ini nama
pasangan."
"Benar."
Ayla menatapnya.
"Kenapa?"
Kael membaca email
sebelumnya.
"Hotel
mengira kita pasangan karena reservasi dibuat bersama."
Ayla memejamkan
mata.
"Bagus."
"Maaf."
Ayla membuka mata.
Dia berhenti.
Karena itu mungkin
pertama kalinya Kael meminta maaf dengan tulus.
"Bentar."
"Apa?"
"Kamu bilang
maaf?"
"Ya."
"Aku harus
mencatat tanggal."
"Kenapa?"
"Karena ini
mungkin kejadian langka."
Kael menatapnya
datar.
"Anda sangat
menikmati ini."
"Sedikit."
Masalahnya, klien
yang akan mereka temui ternyata adalah pasangan suami istri yang sudah lama
bekerja di industri kreatif.
Dan mereka sangat
menyukai cerita cinta.
"Jadi kalian
berdua sudah lama bersama?"
Ayla hampir
tersedak minumannya.
Kael menjawab
lebih cepat.
"Ya."
Ayla menoleh.
YA?
Dia baru saja
bilang YA?
Tanpa ragu?
Tanpa diskusi?
Kael melanjutkan.
"Kami sudah
mengenal satu sama lain cukup lama."
Ayla tersenyum
kaku.
Oh.
Secara teknis
tidak bohong.
Mereka memang
sudah mengenal satu sama lain.
Walaupun sebagian
besar waktunya dihabiskan untuk berdebat.
Setelah acara
selesai, Ayla menarik Kael ke sudut ruangan.
"Kamu
gila?"
"Kenapa?"
"Kamu bilang
kita sudah lama bersama."
"Karena kita
sudah bekerja bersama selama beberapa waktu."
"Itu bukan
maksud mereka."
"Saya
tahu."
Ayla terdiam.
"Kamu
tahu?"
"Ya."
"Lalu
kenapa?"
Kael melihatnya.
"Karena kalau
saya langsung menyangkal, suasananya akan menjadi canggung."
Ayla berkedip.
"Kamu..."
"Apa?"
"Kamu
ternyata bisa berpikir seperti manusia sosial."
"Saya
tersinggung."
"Kamu tidak
terlihat."
"Itu masalah
ekspresi."
Ayla tertawa.
Dan lagi-lagi Kael
melihat hal yang sama.
Dia suka suara
tawa perempuan itu.
Terlalu suka untuk
seseorang yang katanya hanya fokus bekerja.
Sore hari, mereka
berjalan di sekitar kota sebelum kembali.
Ayla berhenti di
depan toko kecil.
"Sebentar."
Kael melihat jam.
"Kita punya
waktu dua puluh menit."
Ayla masuk.
"Kamu selalu
menghitung waktu?"
"Ya."
"Capek
tidak?"
"Tidak."
"Berbohong."
Kael menatapnya.
"Kamu selalu
tahu kapan saya berbohong?"
"Tidak."
"Lalu?"
"Aku hanya
menebak."
"Dan sering
benar."
Ayla tersenyum.
"Mungkin
karena kamu mudah dibaca."
"Saya?"
"Iya."
"Orang
biasanya mengatakan saya sulit dipahami."
"Karena
mereka tidak memperhatikan."
Kael terdiam.
Kalimat itu
sederhana.
Tapi entah kenapa
terasa berbeda.
Di dalam toko,
Ayla melihat sebuah gantungan kecil berbentuk kompas.
Dia mengambilnya.
"Lihat."
Kael melihat benda
itu.
"Kompas."
"Ya."
"Kenapa
tertarik?"
Ayla memutar benda
itu.
"Karena
lucu."
"Fungsinya?"
Ayla menatapnya.
"Harus selalu
ada fungsi?"
Kael membuka
mulut.
Lalu menutupnya.
Ayla tertawa.
"Ini masalah
terbesar kamu."
"Apa?"
"Kamu selalu
mencari alasan kenapa sesuatu harus ada."
"Dan?"
"Padahal
kadang sesuatu ada hanya karena membuat kita senang."
Kael tidak
menjawab.
Tapi ketika mereka
keluar dari toko...
Dia membawa
kantong kecil itu.
Ayla melihatnya.
"Kamu
beli?"
"Ya."
"Untuk
apa?"
Kael diam.
Lalu menjawab:
"Karena kamu
menyukainya."
Ayla terdiam.
Jawaban itu
terlalu sederhana.
Dan mungkin justru
karena itu...
terasa lebih
berarti.
Malam sebelum
pulang, Ayla duduk di balkon hotel.
Kael keluar
membawa dua gelas minuman.
Dia memberikan
satu padanya.
Ayla melihat.
"Kopi?"
"Tidak."
"Teh?"
"Ya."
Ayla tersenyum.
"Kamu ingat
aku tidak minum kopi malam hari?"
"Ya."
"Kapan aku
bilang?"
"Kemarin."
Ayla memandangnya.
"Kamu
ingat?"
"Saya
mengingat hal yang penting."
Hening.
Untuk pertama
kalinya, Ayla tidak punya lelucon.
Karena dia tahu.
Bagi Kael
Ardhana...
mengingat hal
kecil mungkin adalah cara dia mengatakan perhatian.
Dan mungkin...
itu jauh lebih
jujur daripada kata-kata.
Besok mereka akan
kembali ke kota.
Kembali menjadi
partner kerja.
Kembali menjadi
dua orang yang pura-pura tidak saling memperhatikan.
Tapi Ayla mulai
curiga.
Mungkin masalahnya
bukan Kael tidak punya perasaan.
Mungkin
masalahnya...
Kael hanya
berbicara dengan bahasa yang berbeda.
Dan perlahan...
dia mulai belajar
menerjemahkannya.
0 comments:
Post a Comment