Tuesday, July 21, 2026

CHASING AURORA 9

 

CHASING AURORA

Bab 9 — Jarak yang Mulai Terasa

Ayla Renata selalu berpikir jarak hanya soal tempat.

Kota yang berbeda.

Gedung yang berbeda.

Zona waktu yang berbeda.

Ternyata dia salah.

Karena jarak yang paling terasa bukan ketika seseorang berada jauh.

Tapi ketika seseorang yang biasanya ada...

tiba-tiba tidak ada.


Hari pertama Ayla di proyek regional terasa seperti mimpi.

Gedung baru.

Tim baru.

Wajah baru.

Semua orang mengenalnya sebagai:

"Creative Director yang berhasil menyelamatkan Aurora Project."

Seharusnya dia bangga.

Dan dia memang bangga.

Tapi ada satu kebiasaan kecil yang tidak bisa dia hentikan.

Setiap kali menemukan masalah...

dia ingin mengirim pesan ke Kael.


Ayla: Kalau klien meminta revisi konsep yang sudah disetujui tiga kali, apakah itu termasuk kejahatan?

Dia berhenti.

Menatap layar.

Lalu menghapusnya.

Tidak.

Dia tidak bisa terus mengganggu Kael.

Mereka bukan lagi bekerja setiap hari.

Mereka bukan lagi duduk bersebelahan saat meeting.

Mereka bukan lagi partner yang selalu berdebat.

Dia harus terbiasa.


Di kantor pusat Aurora Media...

Kael melihat layar ponselnya.

Tidak ada pesan dari Ayla hari ini.

Aneh.

Biasanya selalu ada.

Kadang tentang pekerjaan.

Kadang tentang hal yang tidak penting.

Seperti:

Ayla: Menurutmu kenapa mesin kopi kantor selalu rusak kalau aku butuh kopi?

Atau:

Ayla: Aku baru menemukan restoran yang membuat makanan lebih enak dari yang kamu pilih.

Kael biasanya menjawab singkat.

Tapi dia selalu menjawab.

Sekarang...

tidak ada apa-apa.

"Kael."

Renzo masuk ke ruangannya.

"Kamu melihat ponsel sejak lima menit lalu."

"Saya tidak."

"Kamu baru saja membalik layar ketika saya masuk."

"Itu refleks."

Renzo duduk.

"Dia belum menghubungi?"

Kael diam.

Renzo tersenyum kecil.

"Benar."

"Saya tidak menunggu."

"Tidak ada yang bertanya."

Kael langsung menatapnya.

Renzo mengangkat tangan.

"Baik. Saya diam."


Minggu pertama tanpa Ayla terasa aneh.

Kael tetap bekerja.

Meeting.

Laporan.

Keputusan.

Semuanya berjalan.

Tapi ada hal-hal kecil yang berubah.

Tidak ada orang yang tiba-tiba masuk ruangannya dan berkata:

"Kael, kamu sadar kamu terlalu serius?"

Tidak ada yang mengambil kopi di mejanya lalu mengatakan:

"Kopi hitam lagi? Kamu hidup seperti karakter novel yang sedang depresi."

Tidak ada suara tertawa dari meja sebelah.

Dan yang paling mengganggu...

dia mulai menyadari betapa sering dia mencari keberadaan seseorang.


Sementara itu, Ayla juga mengalami hal yang sama.

"Ayla."

Rekan barunya memanggil.

"Kamu melamun."

Ayla tersadar.

"Maaf."

"Kamu sedang memikirkan konsep?"

Ayla melihat laptop.

"Ya."

Padahal tidak.

Dia sedang memikirkan seseorang yang akan mengatakan:

"Konsep ini bagus, tapi bagian ketiga perlu diperbaiki."

Lalu dia akan kesal.

Lalu mereka akan berdebat.

Lalu entah bagaimana...

ide mereka selalu menjadi lebih baik.


Malam Jumat.

Ayla mendapat pesan.

Dari Kael.

Satu kalimat.

Kael: Bagaimana proyek barumu?

Ayla menatap layar.

Lama.

Lalu tersenyum.

Dia membalas:

Ayla: Sulit. Mereka tidak punya kamu untuk mengoreksi semuanya.

Tiga titik muncul.

Hilang.

Muncul lagi.

Kael: Itu pujian atau keluhan?

Ayla tertawa kecil.

Ayla: Dua-duanya.

Beberapa detik.

Kael: Bagaimana hasilnya?

Ayla melihat keluar jendela.

Lampu kota terlihat indah.

Ayla: Baik. Tapi melelahkan.

Kali ini jawaban Kael datang cepat.

Kael: Kamu sudah makan?

Ayla tersenyum.

Tentu saja.

Bukan "jangan terlalu bekerja".

Bukan "istirahatlah".

Tapi pertanyaan sederhana itu.

Ayla: Sudah. Kamu?

Lama.

Kael: Belum.

Ayla langsung membalas.

Ayla: Kael.

Kael: Ya?

Ayla: Jangan bilang kamu melewatkan makan lagi.

Kael: Saya sibuk.

Ayla: Alasan lama.

Kael membaca pesan itu.

Dan tanpa sadar...

tersenyum.


Beberapa hari kemudian, Ayla mendapat undangan makan malam dari klien.

Dia datang bersama tim.

Saat acara berlangsung, seorang rekan bertanya:

"Kamu dulu bekerja dengan Kael Ardhana, kan?"

Ayla mengangguk.

"Iya."

"Katanya dia sulit dekat dengan orang."

Ayla berpikir sebentar.

Lalu tersenyum.

"Dia memang sulit."

"Serius?"

"Tapi bukan karena dia tidak peduli."

"Lalu?"

Ayla melihat gelas di tangannya.

"Karena dia terlalu peduli, tapi tidak tahu cara menunjukkannya."


Malam itu, Kael menerima laporan perkembangan proyek Ayla.

Di bagian akhir ada catatan kecil.

Bukan dari laporan resmi.

Sebuah kalimat:

Terima kasih sudah percaya padaku.

Kael membaca kalimat itu beberapa kali.

Lalu membuka kontak Ayla.

Jarumnya berhenti di tombol panggil.

Dia ingin mendengar suaranya.

Hanya sebentar.

Tapi dia tidak menelepon.

Karena dia tahu.

Kalau mendengar suara Ayla sekarang...

mungkin dia akan mengatakan sesuatu yang belum siap dia katakan.


Satu bulan berlalu.

Hubungan mereka masih sama.

Masih pesan singkat.

Masih saling mengganggu.

Masih berpura-pura semuanya normal.

Tapi keduanya mulai menyadari satu hal:

Mereka tidak lagi hanya merindukan partner kerja.

Mereka merindukan seseorang.


Dan kemudian...

datang kabar yang tidak mereka duga.

Proyek Aurora akan mengadakan presentasi besar.

Dan Ayla harus kembali ke kantor pusat.

Untuk bekerja bersama Kael lagi.

Setelah satu bulan berjauhan...

mereka akhirnya akan bertemu.

 

0 comments:

Post a Comment

 

Blognya Alviana Anugrah Template by Ipietoon Cute Blog Design