CHASING AURORA
Bab 9 — Jarak
yang Mulai Terasa
Ayla Renata selalu
berpikir jarak hanya soal tempat.
Kota yang berbeda.
Gedung yang
berbeda.
Zona waktu yang
berbeda.
Ternyata dia
salah.
Karena jarak yang
paling terasa bukan ketika seseorang berada jauh.
Tapi ketika
seseorang yang biasanya ada...
tiba-tiba tidak
ada.
Hari pertama Ayla
di proyek regional terasa seperti mimpi.
Gedung baru.
Tim baru.
Wajah baru.
Semua orang
mengenalnya sebagai:
"Creative
Director yang berhasil menyelamatkan Aurora Project."
Seharusnya dia
bangga.
Dan dia memang
bangga.
Tapi ada satu
kebiasaan kecil yang tidak bisa dia hentikan.
Setiap kali
menemukan masalah...
dia ingin mengirim
pesan ke Kael.
Ayla: Kalau
klien meminta revisi konsep yang sudah disetujui tiga kali, apakah itu termasuk
kejahatan?
Dia berhenti.
Menatap layar.
Lalu menghapusnya.
Tidak.
Dia tidak bisa
terus mengganggu Kael.
Mereka bukan lagi
bekerja setiap hari.
Mereka bukan lagi
duduk bersebelahan saat meeting.
Mereka bukan lagi
partner yang selalu berdebat.
Dia harus
terbiasa.
Di kantor pusat
Aurora Media...
Kael melihat layar
ponselnya.
Tidak ada pesan
dari Ayla hari ini.
Aneh.
Biasanya selalu
ada.
Kadang tentang
pekerjaan.
Kadang tentang hal
yang tidak penting.
Seperti:
Ayla: Menurutmu
kenapa mesin kopi kantor selalu rusak kalau aku butuh kopi?
Atau:
Ayla: Aku baru
menemukan restoran yang membuat makanan lebih enak dari yang kamu pilih.
Kael biasanya
menjawab singkat.
Tapi dia selalu
menjawab.
Sekarang...
tidak ada apa-apa.
"Kael."
Renzo masuk ke
ruangannya.
"Kamu melihat
ponsel sejak lima menit lalu."
"Saya
tidak."
"Kamu baru
saja membalik layar ketika saya masuk."
"Itu
refleks."
Renzo duduk.
"Dia belum
menghubungi?"
Kael diam.
Renzo tersenyum
kecil.
"Benar."
"Saya tidak
menunggu."
"Tidak ada
yang bertanya."
Kael langsung
menatapnya.
Renzo mengangkat
tangan.
"Baik. Saya
diam."
Minggu pertama
tanpa Ayla terasa aneh.
Kael tetap
bekerja.
Meeting.
Laporan.
Keputusan.
Semuanya berjalan.
Tapi ada hal-hal
kecil yang berubah.
Tidak ada orang
yang tiba-tiba masuk ruangannya dan berkata:
"Kael, kamu
sadar kamu terlalu serius?"
Tidak ada yang
mengambil kopi di mejanya lalu mengatakan:
"Kopi hitam
lagi? Kamu hidup seperti karakter novel yang sedang depresi."
Tidak ada suara
tertawa dari meja sebelah.
Dan yang paling
mengganggu...
dia mulai
menyadari betapa sering dia mencari keberadaan seseorang.
Sementara itu,
Ayla juga mengalami hal yang sama.
"Ayla."
Rekan barunya
memanggil.
"Kamu
melamun."
Ayla tersadar.
"Maaf."
"Kamu sedang
memikirkan konsep?"
Ayla melihat
laptop.
"Ya."
Padahal tidak.
Dia sedang
memikirkan seseorang yang akan mengatakan:
"Konsep ini
bagus, tapi bagian ketiga perlu diperbaiki."
Lalu dia akan
kesal.
Lalu mereka akan
berdebat.
Lalu entah
bagaimana...
ide mereka selalu
menjadi lebih baik.
Malam Jumat.
Ayla mendapat
pesan.
Dari Kael.
Satu kalimat.
Kael: Bagaimana
proyek barumu?
Ayla menatap
layar.
Lama.
Lalu tersenyum.
Dia membalas:
Ayla: Sulit.
Mereka tidak punya kamu untuk mengoreksi semuanya.
Tiga titik muncul.
Hilang.
Muncul lagi.
Kael: Itu
pujian atau keluhan?
Ayla tertawa
kecil.
Ayla:
Dua-duanya.
Beberapa detik.
Kael: Bagaimana
hasilnya?
Ayla melihat
keluar jendela.
Lampu kota
terlihat indah.
Ayla: Baik.
Tapi melelahkan.
Kali ini jawaban
Kael datang cepat.
Kael: Kamu
sudah makan?
Ayla tersenyum.
Tentu saja.
Bukan "jangan
terlalu bekerja".
Bukan
"istirahatlah".
Tapi pertanyaan
sederhana itu.
Ayla: Sudah.
Kamu?
Lama.
Kael: Belum.
Ayla langsung
membalas.
Ayla: Kael.
Kael: Ya?
Ayla: Jangan
bilang kamu melewatkan makan lagi.
Kael: Saya
sibuk.
Ayla: Alasan
lama.
Kael membaca pesan
itu.
Dan tanpa sadar...
tersenyum.
Beberapa hari
kemudian, Ayla mendapat undangan makan malam dari klien.
Dia datang bersama
tim.
Saat acara
berlangsung, seorang rekan bertanya:
"Kamu dulu
bekerja dengan Kael Ardhana, kan?"
Ayla mengangguk.
"Iya."
"Katanya dia
sulit dekat dengan orang."
Ayla berpikir
sebentar.
Lalu tersenyum.
"Dia memang
sulit."
"Serius?"
"Tapi bukan
karena dia tidak peduli."
"Lalu?"
Ayla melihat gelas
di tangannya.
"Karena dia
terlalu peduli, tapi tidak tahu cara menunjukkannya."
Malam itu, Kael
menerima laporan perkembangan proyek Ayla.
Di bagian akhir
ada catatan kecil.
Bukan dari laporan
resmi.
Sebuah kalimat:
Terima kasih
sudah percaya padaku.
Kael membaca
kalimat itu beberapa kali.
Lalu membuka
kontak Ayla.
Jarumnya berhenti
di tombol panggil.
Dia ingin
mendengar suaranya.
Hanya sebentar.
Tapi dia tidak
menelepon.
Karena dia tahu.
Kalau mendengar
suara Ayla sekarang...
mungkin dia akan
mengatakan sesuatu yang belum siap dia katakan.
Satu bulan
berlalu.
Hubungan mereka
masih sama.
Masih pesan
singkat.
Masih saling
mengganggu.
Masih berpura-pura
semuanya normal.
Tapi keduanya
mulai menyadari satu hal:
Mereka tidak lagi
hanya merindukan partner kerja.
Mereka merindukan
seseorang.
Dan kemudian...
datang kabar yang
tidak mereka duga.
Proyek Aurora akan
mengadakan presentasi besar.
Dan Ayla harus
kembali ke kantor pusat.
Untuk bekerja
bersama Kael lagi.
Setelah satu bulan
berjauhan...
mereka akhirnya
akan bertemu.
0 comments:
Post a Comment