Tuesday, July 21, 2026

CHASING AURORA 22

 

CHASING AURORA

Bab 22 — Pergi Bukan Berarti Meninggalkan

Ayla Renata membaca email itu tiga kali.

Bukan karena dia tidak mengerti isinya.

Justru karena dia terlalu mengerti.

Enam bulan.

Enam bulan di London untuk memimpin eksekusi global Project Aurora One.

Kesempatan yang mungkin hanya datang sekali.

Kesempatan yang dulu dia impikan.

Tapi sekarang...

ada satu hal yang membuatnya sulit tersenyum.

Kael.


"Kamu belum membalas?"

Mika bertanya.

Ayla menutup laptop.

"Belum."

"Kenapa?"

Ayla diam.

Mika langsung tahu.

"Bukan karena kamu tidak mau pergi."

Ayla melihatnya.

"Tapi karena Kael."


Ayla tidak menyangkal.

Karena memang begitu.

Dulu, ketika kesempatan besar datang, dia selalu takut kehilangan dirinya sendiri.

Sekarang...

dia takut kehilangan seseorang.

Dan itu membuat semuanya lebih rumit.


Sore itu, Ayla masuk ke ruang Kael.

Kael langsung melihat wajahnya.

"Ada apa?"

Ayla meletakkan dokumen.

"Kita perlu bicara."

Kalimat itu membuat Kael langsung serius.

"Apa terjadi sesuatu?"

Ayla menggeleng.

"Lihat ini."

Kael membaca.

Dan perlahan ekspresinya berubah.


"Enam bulan."

Kael mengulang.

"Iya."

"London."

"Iya."

Hening.

Ayla menunggu.

Karena dia tahu.

Kael sedang memproses semuanya.


"Apa yang kamu inginkan?"

Pertanyaan itu membuat Ayla terkejut.

"Bukan apa yang saya inginkan."

Kael mengoreksi.

"Apa yang kamu inginkan?"

Ayla menatapnya.

"Aku ingin pergi."

Jawaban itu keluar jujur.

Dan entah kenapa...

mengatakannya terasa lega sekaligus menyakitkan.


Kael mengangguk.

"Bagus."

Ayla terdiam.

"Bagus?"

"Ya."

"Kamu tidak marah?"

"Tidak."

"Tidak kecewa?"

Kael diam sebentar.

Lalu berkata:

"Saya mungkin akan merindukan kamu."

Ayla menahan napas.

"Tapi saya tidak ingin menjadi alasan kamu menolak sesuatu yang penting."


Kalimat itu mengingatkan Ayla pada dirinya sendiri.

Dulu Kael mengatakan hal yang sama ketika dia pergi.

Sekarang giliran Kael belajar melepaskan.


"Tapi aku takut."

Ayla berkata pelan.

Kael menatapnya.

"Takut apa?"

"Takut jarak mengubah semuanya."


Kael diam.

Karena dia juga punya ketakutan yang sama.

Mereka pernah merasakan satu bulan berjauhan.

Dan itu sudah cukup membuat mereka sadar betapa pentingnya kehadiran satu sama lain.

Enam bulan terasa jauh lebih panjang.


Malam itu, mereka duduk di tempat yang dulu menjadi awal semuanya.

Kafe kecil dekat kantor.

Tempat mereka pertama kali makan bersama tanpa membahas pekerjaan.

Lucu.

Karena sekarang...

mereka sedang membicarakan hal terbesar dalam hubungan mereka.


"Kael."

"Ya?"

"Kalau aku pergi..."

Kael menatapnya.

"Jangan membuat saya menyelesaikan kalimat yang buruk."

Ayla tersenyum kecil.

"Kamu masih bisa bercanda."

"Saya belajar."


Ayla memegang cangkirnya.

"Aku tidak mau hubungan ini membuat salah satu dari kita mengecil."

Kael mendengarkan.

"Kalau aku harus pergi untuk berkembang..."

Dia berhenti.

"Kamu tidak boleh merasa aku meninggalkan kamu."


Kael melihatnya lama.

Lalu berkata:

"Dan kamu juga tidak boleh merasa saya menahan kamu."


Mereka sama-sama diam.

Karena ternyata cinta bukan hanya tentang ingin dekat.

Tapi juga tentang memberi ruang.


Hari keberangkatan tiba lebih cepat dari yang mereka kira.

Bandara selalu terasa menyedihkan.

Bahkan untuk orang yang tahu akan kembali.

Ayla berdiri dengan koper.

Kael berdiri di depannya.

Tidak ada drama.

Tidak ada janji berlebihan.

Hanya mereka.


"Kamu sudah makan?"

Ayla langsung tertawa.

"Serius?"

"Apa?"

"Ini momen perpisahan dan pertanyaanmu makan?"

Kael terlihat bingung.

"Itu penting."

Ayla tersenyum.

"Itu sangat kamu."


Kael menyerahkan sesuatu.

Sebuah benda kecil.

Ayla membukanya.

Gantungan kompas.

Yang kedua.

"Kamu punya yang pertama."

Kael berkata.

"Ini untuk saya."

Ayla menatapnya.

"Kenapa?"

"Supaya saya ingat."

"Apa?"

Kael tersenyum tipis.

"Bahwa seseorang yang pergi tetap bisa menjadi arah pulang."


Ayla menahan air mata.

"Kael."

"Ya?"

"Jangan berubah."

Kael menggeleng.

"Saya akan berubah."

Ayla terkejut.

"Tapi..."

Kael melanjutkan.

"Saya akan berubah menjadi seseorang yang lebih baik."


Pengumuman keberangkatan terdengar.

Waktu mereka habis.

Ayla menarik napas.

Lalu memeluk Kael.

Untuk pertama kalinya di tempat umum.

Kael sedikit kaku.

Lalu membalas pelukannya.


"Enam bulan."

Kata Ayla.

"Enam bulan."

Jawab Kael.

"Jangan lupa aku."

Kael melihatnya.

"Ayla."

"Ya?"

"Saya mengingat kamu saat tidak ada alasan."

Hening.

"Enam bulan tidak akan sulit."


Ayla pergi.

Kael tetap berdiri sampai dia tidak terlihat lagi.


Malam itu, kantor Aurora terasa berbeda.

Meja Ayla kosong.

Tidak ada suara debat.

Tidak ada komentar tentang kopi.

Tidak ada seseorang yang mengganggunya.

Kael duduk di ruangannya.

Melihat gantungan kompas di meja.


Dulu dia takut kehilangan kendali.

Sekarang dia belajar sesuatu yang lebih sulit:

Mempercayai seseorang untuk pergi...

dan tetap memilih kembali.


Namun enam bulan di London tidak berjalan seperti yang mereka bayangkan.

Karena ketika dua orang mengejar mimpi masing-masing...

mereka juga akan bertemu dengan versi baru diri mereka.

Dan terkadang...

versi baru itu membawa ujian baru.

 

0 comments:

Post a Comment

 

Blognya Alviana Anugrah Template by Ipietoon Cute Blog Design