CHASING AURORA
Bab 22 — Pergi
Bukan Berarti Meninggalkan
Ayla Renata
membaca email itu tiga kali.
Bukan karena dia
tidak mengerti isinya.
Justru karena dia
terlalu mengerti.
Enam bulan.
Enam bulan di
London untuk memimpin eksekusi global Project Aurora One.
Kesempatan yang
mungkin hanya datang sekali.
Kesempatan yang
dulu dia impikan.
Tapi sekarang...
ada satu hal yang
membuatnya sulit tersenyum.
Kael.
"Kamu belum
membalas?"
Mika bertanya.
Ayla menutup
laptop.
"Belum."
"Kenapa?"
Ayla diam.
Mika langsung
tahu.
"Bukan karena
kamu tidak mau pergi."
Ayla melihatnya.
"Tapi karena
Kael."
Ayla tidak
menyangkal.
Karena memang
begitu.
Dulu, ketika
kesempatan besar datang, dia selalu takut kehilangan dirinya sendiri.
Sekarang...
dia takut
kehilangan seseorang.
Dan itu membuat
semuanya lebih rumit.
Sore itu, Ayla
masuk ke ruang Kael.
Kael langsung
melihat wajahnya.
"Ada
apa?"
Ayla meletakkan
dokumen.
"Kita perlu
bicara."
Kalimat itu
membuat Kael langsung serius.
"Apa terjadi
sesuatu?"
Ayla menggeleng.
"Lihat
ini."
Kael membaca.
Dan perlahan
ekspresinya berubah.
"Enam
bulan."
Kael mengulang.
"Iya."
"London."
"Iya."
Hening.
Ayla menunggu.
Karena dia tahu.
Kael sedang
memproses semuanya.
"Apa yang
kamu inginkan?"
Pertanyaan itu
membuat Ayla terkejut.
"Bukan apa
yang saya inginkan."
Kael mengoreksi.
"Apa yang
kamu inginkan?"
Ayla menatapnya.
"Aku ingin
pergi."
Jawaban itu keluar
jujur.
Dan entah
kenapa...
mengatakannya
terasa lega sekaligus menyakitkan.
Kael mengangguk.
"Bagus."
Ayla terdiam.
"Bagus?"
"Ya."
"Kamu tidak
marah?"
"Tidak."
"Tidak
kecewa?"
Kael diam
sebentar.
Lalu berkata:
"Saya mungkin
akan merindukan kamu."
Ayla menahan
napas.
"Tapi saya
tidak ingin menjadi alasan kamu menolak sesuatu yang penting."
Kalimat itu
mengingatkan Ayla pada dirinya sendiri.
Dulu Kael
mengatakan hal yang sama ketika dia pergi.
Sekarang giliran
Kael belajar melepaskan.
"Tapi aku
takut."
Ayla berkata
pelan.
Kael menatapnya.
"Takut
apa?"
"Takut jarak
mengubah semuanya."
Kael diam.
Karena dia juga
punya ketakutan yang sama.
Mereka pernah
merasakan satu bulan berjauhan.
Dan itu sudah
cukup membuat mereka sadar betapa pentingnya kehadiran satu sama lain.
Enam bulan terasa
jauh lebih panjang.
Malam itu, mereka
duduk di tempat yang dulu menjadi awal semuanya.
Kafe kecil dekat
kantor.
Tempat mereka
pertama kali makan bersama tanpa membahas pekerjaan.
Lucu.
Karena sekarang...
mereka sedang
membicarakan hal terbesar dalam hubungan mereka.
"Kael."
"Ya?"
"Kalau aku
pergi..."
Kael menatapnya.
"Jangan
membuat saya menyelesaikan kalimat yang buruk."
Ayla tersenyum
kecil.
"Kamu masih
bisa bercanda."
"Saya
belajar."
Ayla memegang
cangkirnya.
"Aku tidak
mau hubungan ini membuat salah satu dari kita mengecil."
Kael mendengarkan.
"Kalau aku
harus pergi untuk berkembang..."
Dia berhenti.
"Kamu tidak
boleh merasa aku meninggalkan kamu."
Kael melihatnya
lama.
Lalu berkata:
"Dan kamu
juga tidak boleh merasa saya menahan kamu."
Mereka sama-sama
diam.
Karena ternyata
cinta bukan hanya tentang ingin dekat.
Tapi juga tentang
memberi ruang.
Hari keberangkatan
tiba lebih cepat dari yang mereka kira.
Bandara selalu
terasa menyedihkan.
Bahkan untuk orang
yang tahu akan kembali.
Ayla berdiri
dengan koper.
Kael berdiri di
depannya.
Tidak ada drama.
Tidak ada janji
berlebihan.
Hanya mereka.
"Kamu sudah
makan?"
Ayla langsung
tertawa.
"Serius?"
"Apa?"
"Ini momen
perpisahan dan pertanyaanmu makan?"
Kael terlihat
bingung.
"Itu
penting."
Ayla tersenyum.
"Itu sangat
kamu."
Kael menyerahkan
sesuatu.
Sebuah benda
kecil.
Ayla membukanya.
Gantungan kompas.
Yang kedua.
"Kamu punya
yang pertama."
Kael berkata.
"Ini untuk
saya."
Ayla menatapnya.
"Kenapa?"
"Supaya saya
ingat."
"Apa?"
Kael tersenyum
tipis.
"Bahwa
seseorang yang pergi tetap bisa menjadi arah pulang."
Ayla menahan air
mata.
"Kael."
"Ya?"
"Jangan
berubah."
Kael menggeleng.
"Saya akan
berubah."
Ayla terkejut.
"Tapi..."
Kael melanjutkan.
"Saya akan
berubah menjadi seseorang yang lebih baik."
Pengumuman
keberangkatan terdengar.
Waktu mereka
habis.
Ayla menarik
napas.
Lalu memeluk Kael.
Untuk pertama
kalinya di tempat umum.
Kael sedikit kaku.
Lalu membalas
pelukannya.
"Enam
bulan."
Kata Ayla.
"Enam
bulan."
Jawab Kael.
"Jangan lupa
aku."
Kael melihatnya.
"Ayla."
"Ya?"
"Saya
mengingat kamu saat tidak ada alasan."
Hening.
"Enam bulan
tidak akan sulit."
Ayla pergi.
Kael tetap berdiri
sampai dia tidak terlihat lagi.
Malam itu, kantor
Aurora terasa berbeda.
Meja Ayla kosong.
Tidak ada suara
debat.
Tidak ada komentar
tentang kopi.
Tidak ada
seseorang yang mengganggunya.
Kael duduk di
ruangannya.
Melihat gantungan
kompas di meja.
Dulu dia takut
kehilangan kendali.
Sekarang dia
belajar sesuatu yang lebih sulit:
Mempercayai
seseorang untuk pergi...
dan tetap memilih
kembali.
Namun enam bulan
di London tidak berjalan seperti yang mereka bayangkan.
Karena ketika dua
orang mengejar mimpi masing-masing...
mereka juga akan
bertemu dengan versi baru diri mereka.
Dan terkadang...
versi baru itu
membawa ujian baru.
0 comments:
Post a Comment