CHASING AURORA
Bab 20 — Jalan
yang Dipilih Sendiri
Pagi itu, Kael
Ardhana datang ke kantor lebih awal dari biasanya.
Terlalu awal.
Bahkan untuk
ukuran seseorang yang selalu datang sebelum semua orang.
Ayla yang baru
masuk langsung menyadarinya.
Bukan karena jam.
Tapi karena Kael
tidak menyentuh kopinya.
Dan itu sangat
tidak biasa.
"Kamu tidak
minum."
Kael mengangkat
kepala.
"Apa?"
Ayla menunjuk
gelas di mejanya.
"Kopi."
Kael melihatnya.
"Oh."
"Kamu
lupa?"
"Tidak."
"Lalu?"
"Saya sedang
berpikir."
Ayla duduk di
kursi depannya.
"Tentang
keluarga?"
Kael diam.
Dan diamnya cukup
menjadi jawaban.
Berita pagi itu
memang sudah menyebar.
Keluarga Ardhana
sedang melakukan restrukturisasi besar.
Dan nama Kael
muncul sebagai kandidat utama untuk mengambil posisi penting di perusahaan
keluarga.
Bagi banyak
orang...
itu adalah kabar
luar biasa.
Kesempatan.
Kekuasaan.
Nama besar.
Tapi bagi Kael...
itu terasa seperti
kembali ke masa lalu.
"Kamu tidak
harus menerima."
Ayla berkata.
Kael menatapnya.
"Saya
tahu."
"Tapi kamu
merasa harus."
Hening.
Ayla benar.
Lagi.
"Sejak
kecil..."
Kael mulai bicara.
"Ayah selalu
mengatakan saya harus meneruskan sesuatu yang sudah dibangun keluarga."
Ayla mendengarkan.
"Saya pikir
kalau saya berhasil, kalau saya membangun Aurora sendiri, dia akan melihat saya
berbeda."
"Dan?"
Kael tersenyum
kecil.
"Ternyata
saya masih berharap sesuatu dari seseorang yang mungkin tidak pernah bisa
memberikannya."
Ayla tidak
langsung memberi nasihat.
Dia tahu Kael
tidak membutuhkan solusi.
Dia hanya
membutuhkan seseorang yang mendengarkan.
"Kael."
"Ya?"
"Kalau kamu
memilih sesuatu..."
Dia berhenti.
"Pastikan itu
karena kamu mau."
Siang hari, Kael
bertemu ayahnya lagi.
Bukan di rumah.
Tapi di kantor
keluarga.
Tempat yang penuh
sejarah.
"Kamu sudah
membaca proposalnya?"
Ayahnya bertanya.
"Sudah."
"Dan?"
Kael meletakkan
dokumen.
"Saya belum
memutuskan."
Ayahnya
menatapnya.
"Kamu
biasanya lebih cepat."
"Karena dulu
saya hanya berpikir tentang hasil."
"Lalu
sekarang?"
Kael diam
sebentar.
"Sekarang
saya berpikir tentang hidup saya."
Ayahnya terlihat
tidak puas.
"Kamu
berubah."
Kael mengangguk.
"Ya."
"Karena
seseorang?"
Pertanyaan itu
membuat Kael berhenti.
Biasanya dia akan
menyangkal.
Tapi sekarang...
tidak.
"Karena saya
mulai memahami diri saya sendiri."
Sementara itu, di
kantor Aurora...
Ayla mencoba
bekerja.
Tapi pikirannya
terus kembali pada Kael.
Mika datang
membawa makanan.
"Kamu tidak
makan."
Ayla melihatnya.
"Kenapa semua
orang hari ini memperhatikan makan?"
"Karena kamu
dan Kael sama-sama buruk dalam merawat diri."
Ayla tersenyum
kecil.
"Mungkin."
Mika duduk.
"Kamu
takut?"
Ayla diam.
"Takut
apa?"
"Dia
pergi."
Pertanyaan itu
membuat Ayla terdiam.
Karena itu adalah
ketakutan yang tidak pernah dia katakan.
Bukan takut
kehilangan status.
Bukan takut
hubungan mereka berubah.
Tapi takut
seseorang yang akhirnya dia temukan...
harus pergi lagi.
Malamnya, Kael
datang ke apartemen Ayla.
Tanpa
pemberitahuan.
Ayla membuka pintu
dan terkejut.
"Kael?"
"Saya butuh
bicara."
Ayla langsung
serius.
"Masuk."
Mereka duduk di
ruang tamu.
Kael terlihat
berbeda.
Lebih ringan.
"Saya
menolak."
Ayla terdiam.
"Menolak
apa?"
"Tawaran
keluarga."
"Kamu
yakin?"
"Ya."
"Karena
aku?"
Kael menggeleng.
"Tidak."
Ayla melihatnya.
"Saya menolak
karena untuk pertama kalinya saya memilih sesuatu bukan karena ingin
membuktikan diri."
Ayla tersenyum.
"Lalu karena
apa?"
Kael melihat
sekeliling.
Apartemen kecil.
Tidak mewah.
Tapi nyaman.
"Saya suka
hidup saya sekarang."
Ayla diam.
"Saya suka
perusahaan yang saya bangun."
Dia menatap Ayla.
"Dan saya
suka orang-orang yang ada di dalamnya."
Jantung Ayla
berdebar.
Karena Kael
semakin sering mengatakan hal-hal yang dulu mustahil keluar dari mulutnya.
"Kael."
"Ya?"
"Aku bangga
sama kamu."
Kalimat sederhana.
Tapi membuat Kael
diam.
Mungkin karena
selama ini dia terlalu sering mencari pengakuan dari orang yang sulit
memberikannya.
Dan lupa...
ada seseorang yang
sudah memberikannya tanpa diminta.
Beberapa saat
kemudian, Ayla bertanya:
"Jadi
sekarang?"
Kael tersenyum
kecil.
"Sekarang
saya kembali bekerja besok."
Ayla tertawa.
"Itu
saja?"
"Saya masih
punya banyak pekerjaan."
"Kamu
benar-benar tidak bisa santai."
"Mungkin."
Saat Kael berdiri
untuk pulang, Ayla memanggil.
"Kael."
Dia menoleh.
"Terima kasih
sudah memilih dirimu sendiri."
Kael tersenyum.
"Terima kasih
sudah membuat saya berani."
Malam itu...
Kael tidak lagi
merasa harus mengejar sesuatu untuk membuktikan bahwa dia cukup.
Karena dia
akhirnya mengerti:
Nilai seseorang
tidak ditentukan oleh nama keluarga.
Bukan oleh
jabatan.
Bukan oleh
pencapaian.
Kadang...
seseorang hanya
perlu menemukan tempat di mana dia bisa menjadi dirinya sendiri.
Namun keesokan
harinya...
sebuah perubahan
besar terjadi di Aurora Media.
Karena setelah
Kael memilih hidupnya sendiri...
dia harus
menghadapi konsekuensi dari pilihan itu.
Dan kali ini...
Ayla juga akan
terlibat.
0 comments:
Post a Comment