Tuesday, July 21, 2026

CHASING AURORA 20

 

CHASING AURORA

Bab 20 — Jalan yang Dipilih Sendiri

Pagi itu, Kael Ardhana datang ke kantor lebih awal dari biasanya.

Terlalu awal.

Bahkan untuk ukuran seseorang yang selalu datang sebelum semua orang.

Ayla yang baru masuk langsung menyadarinya.

Bukan karena jam.

Tapi karena Kael tidak menyentuh kopinya.

Dan itu sangat tidak biasa.


"Kamu tidak minum."

Kael mengangkat kepala.

"Apa?"

Ayla menunjuk gelas di mejanya.

"Kopi."

Kael melihatnya.

"Oh."

"Kamu lupa?"

"Tidak."

"Lalu?"

"Saya sedang berpikir."

Ayla duduk di kursi depannya.

"Tentang keluarga?"

Kael diam.

Dan diamnya cukup menjadi jawaban.


Berita pagi itu memang sudah menyebar.

Keluarga Ardhana sedang melakukan restrukturisasi besar.

Dan nama Kael muncul sebagai kandidat utama untuk mengambil posisi penting di perusahaan keluarga.

Bagi banyak orang...

itu adalah kabar luar biasa.

Kesempatan.

Kekuasaan.

Nama besar.

Tapi bagi Kael...

itu terasa seperti kembali ke masa lalu.


"Kamu tidak harus menerima."

Ayla berkata.

Kael menatapnya.

"Saya tahu."

"Tapi kamu merasa harus."

Hening.

Ayla benar.

Lagi.


"Sejak kecil..."

Kael mulai bicara.

"Ayah selalu mengatakan saya harus meneruskan sesuatu yang sudah dibangun keluarga."

Ayla mendengarkan.

"Saya pikir kalau saya berhasil, kalau saya membangun Aurora sendiri, dia akan melihat saya berbeda."

"Dan?"

Kael tersenyum kecil.

"Ternyata saya masih berharap sesuatu dari seseorang yang mungkin tidak pernah bisa memberikannya."


Ayla tidak langsung memberi nasihat.

Dia tahu Kael tidak membutuhkan solusi.

Dia hanya membutuhkan seseorang yang mendengarkan.

"Kael."

"Ya?"

"Kalau kamu memilih sesuatu..."

Dia berhenti.

"Pastikan itu karena kamu mau."


Siang hari, Kael bertemu ayahnya lagi.

Bukan di rumah.

Tapi di kantor keluarga.

Tempat yang penuh sejarah.

"Kamu sudah membaca proposalnya?"

Ayahnya bertanya.

"Sudah."

"Dan?"

Kael meletakkan dokumen.

"Saya belum memutuskan."

Ayahnya menatapnya.

"Kamu biasanya lebih cepat."

"Karena dulu saya hanya berpikir tentang hasil."

"Lalu sekarang?"

Kael diam sebentar.

"Sekarang saya berpikir tentang hidup saya."


Ayahnya terlihat tidak puas.

"Kamu berubah."

Kael mengangguk.

"Ya."

"Karena seseorang?"

Pertanyaan itu membuat Kael berhenti.

Biasanya dia akan menyangkal.

Tapi sekarang...

tidak.

"Karena saya mulai memahami diri saya sendiri."


Sementara itu, di kantor Aurora...

Ayla mencoba bekerja.

Tapi pikirannya terus kembali pada Kael.

Mika datang membawa makanan.

"Kamu tidak makan."

Ayla melihatnya.

"Kenapa semua orang hari ini memperhatikan makan?"

"Karena kamu dan Kael sama-sama buruk dalam merawat diri."

Ayla tersenyum kecil.

"Mungkin."

Mika duduk.

"Kamu takut?"

Ayla diam.

"Takut apa?"

"Dia pergi."


Pertanyaan itu membuat Ayla terdiam.

Karena itu adalah ketakutan yang tidak pernah dia katakan.

Bukan takut kehilangan status.

Bukan takut hubungan mereka berubah.

Tapi takut seseorang yang akhirnya dia temukan...

harus pergi lagi.


Malamnya, Kael datang ke apartemen Ayla.

Tanpa pemberitahuan.

Ayla membuka pintu dan terkejut.

"Kael?"

"Saya butuh bicara."

Ayla langsung serius.

"Masuk."


Mereka duduk di ruang tamu.

Kael terlihat berbeda.

Lebih ringan.

"Saya menolak."

Ayla terdiam.

"Menolak apa?"

"Tawaran keluarga."

"Kamu yakin?"

"Ya."

"Karena aku?"

Kael menggeleng.

"Tidak."

Ayla melihatnya.

"Saya menolak karena untuk pertama kalinya saya memilih sesuatu bukan karena ingin membuktikan diri."


Ayla tersenyum.

"Lalu karena apa?"

Kael melihat sekeliling.

Apartemen kecil.

Tidak mewah.

Tapi nyaman.

"Saya suka hidup saya sekarang."

Ayla diam.

"Saya suka perusahaan yang saya bangun."

Dia menatap Ayla.

"Dan saya suka orang-orang yang ada di dalamnya."


Jantung Ayla berdebar.

Karena Kael semakin sering mengatakan hal-hal yang dulu mustahil keluar dari mulutnya.


"Kael."

"Ya?"

"Aku bangga sama kamu."

Kalimat sederhana.

Tapi membuat Kael diam.

Mungkin karena selama ini dia terlalu sering mencari pengakuan dari orang yang sulit memberikannya.

Dan lupa...

ada seseorang yang sudah memberikannya tanpa diminta.


Beberapa saat kemudian, Ayla bertanya:

"Jadi sekarang?"

Kael tersenyum kecil.

"Sekarang saya kembali bekerja besok."

Ayla tertawa.

"Itu saja?"

"Saya masih punya banyak pekerjaan."

"Kamu benar-benar tidak bisa santai."

"Mungkin."


Saat Kael berdiri untuk pulang, Ayla memanggil.

"Kael."

Dia menoleh.

"Terima kasih sudah memilih dirimu sendiri."

Kael tersenyum.

"Terima kasih sudah membuat saya berani."


Malam itu...

Kael tidak lagi merasa harus mengejar sesuatu untuk membuktikan bahwa dia cukup.

Karena dia akhirnya mengerti:

Nilai seseorang tidak ditentukan oleh nama keluarga.

Bukan oleh jabatan.

Bukan oleh pencapaian.

Kadang...

seseorang hanya perlu menemukan tempat di mana dia bisa menjadi dirinya sendiri.


Namun keesokan harinya...

sebuah perubahan besar terjadi di Aurora Media.

Karena setelah Kael memilih hidupnya sendiri...

dia harus menghadapi konsekuensi dari pilihan itu.

Dan kali ini...

Ayla juga akan terlibat.

 

0 comments:

Post a Comment

 

Blognya Alviana Anugrah Template by Ipietoon Cute Blog Design