CHASING AURORA
Bab 12 — Bukan
Tentang Siapa yang Datang Dulu
Ayla Renata tidak
pernah menganggap dirinya mudah cemburu.
Dia bukan tipe
orang yang akan marah hanya karena seseorang dari masa lalu muncul.
Setidaknya...
itu yang dia
percaya.
Tapi ternyata
kepercayaan diri seseorang bisa berubah ketika orang dari masa lalu itu adalah:
Elena Valen.
Perempuan yang
terlihat sempurna.
Pintar.
Tenang.
Dan memiliki
sejarah panjang dengan Kael Ardhana.
Pagi itu, seluruh
tim Aurora berkumpul.
Kael berdiri di
depan layar.
"Mulai minggu
ini, Elena akan bergabung sebagai konsultan strategi."
Ayla yang sedang
minum hampir tersedak.
Mika yang duduk di
sebelahnya langsung melihat.
"Kamu
baik-baik saja?"
Ayla menelan
minumannya.
"Baik."
"Kamu
terlihat tidak baik."
"Aku hanya
kaget."
"Karena
proyeknya?"
Ayla diam.
Mika tersenyum.
"Karena
orangnya."
Ayla memutar mata.
"Diam."
Elena ternyata
memang hebat.
Dan itu justru
membuat Ayla semakin kesal.
Bukan karena Elena
buruk.
Tapi karena Elena
terlalu mudah bekerja dengan Kael.
Mereka memahami
istilah yang sama.
Mereka tahu
sejarah proyek lama.
Mereka bisa
menyelesaikan diskusi tanpa banyak bicara.
Sementara Ayla...
masih harus
berdebat dengan Kael hampir setiap hari.
"Kamu
terlihat kesal."
Ayla menoleh.
Kael berdiri di
sampingnya.
"Aku
tidak."
"Kamu
mengatakan itu sambil menekan pulpen terlalu keras."
Ayla melihat
tangannya.
Dia memang
memegang pulpen seperti ingin menghancurkannya.
"Aku hanya
berpikir."
"Biasanya
kamu berpikir sambil bicara."
"Dan
sekarang?"
"Kamu
diam."
Ayla menghela
napas.
"Kael."
"Ya?"
"Kamu dan
Elena dulu sangat dekat?"
Kael diam.
"Saya sudah
menjawab."
"Belum
semuanya."
Kael menatapnya.
Ayla langsung
merasa terlalu penasaran.
Tapi dia tetap
bertanya.
"Kenapa
kalian berpisah?"
Untuk beberapa
detik, Kael tidak menjawab.
Bukan karena tidak
mau.
Tapi karena dia
jarang membicarakan masa lalu.
"Karena kami
menginginkan hal berbeda."
Ayla menunggu.
"Elena ingin
membangun sesuatu yang lebih besar di luar negeri."
"Dan
kamu?"
"Saya ingin
membangun Aurora."
Ayla mengangguk.
"Jadi bukan
karena bertengkar?"
"Tidak."
"Bukan karena
salah satu menyakiti yang lain?"
"Tidak."
"Lalu..."
Kael menatapnya.
"Kadang dua
orang bisa saling menghargai, tapi tetap memilih jalan berbeda."
Ayla terdiam.
Jawaban itu masuk
akal.
Sangat masuk akal.
Dan entah
kenapa...
membuat hatinya
sedikit lega.
Hari itu mereka
harus presentasi bersama.
Ayla dan Elena
menjadi dua orang yang memegang konsep utama.
Awalnya Ayla
merasa canggung.
Sampai Elena
berkata:
"Kamu
tahu?"
Ayla menoleh.
"Apa?"
"Kael
berubah."
Ayla berhati-hati.
"Berubah
bagaimana?"
Elena tersenyum
kecil.
"Dulu dia
hanya melihat hasil."
Ayla diam.
"Sekarang dia
mulai melihat orang."
Ayla tidak
menjawab.
Karena dia tahu.
Itu benar.
Setelah presentasi
selesai, Elena menghampiri Ayla.
"Saya ingin
mengatakan sesuatu."
Ayla sedikit
tegang.
"Ya?"
"Kael tidak
mudah percaya pada orang."
Ayla tersenyum
kecil.
"Itu saya
tahu."
"Tapi dia
percaya pada kamu."
Ayla terdiam.
"Kenapa
mengatakan itu?"
"Karena
mungkin kamu perlu tahu."
Elena melihat ke
arah Kael yang sedang berbicara dengan tim.
"Dia tidak
pernah memberikan ruang sebesar itu kepada orang lain."
Malamnya, Ayla
masih di kantor.
Dia melihat
dokumen terakhir.
Lalu sebuah pesan
masuk.
Kael: Sudah
makan?
Ayla tersenyum.
Ayla: Sudah.
Kamu?
Kael: Sudah.
Ayla berhenti.
Lalu membalas:
Ayla: Benarkah?
Beberapa detik.
Kael: Ya.
Ayla tersenyum
semakin lebar.
Ayla: Ada
saksi?
Lama.
Kael: Saya
membeli makanan sebelum jam tujuh.
Ayla tertawa.
Dia bisa
membayangkan wajah serius Kael saat menjelaskan itu.
Keesokan harinya,
terjadi masalah.
Salah satu konsep
utama kampanye bocor ke perusahaan pesaing.
Semua orang panik.
Dan seperti
biasa...
semua mata tertuju
pada pemimpin proyek.
Kael.
"Kita harus
mencari sumber kebocoran."
Salah satu
direktur berkata.
"Tidak bisa
langsung menyalahkan siapa pun."
Kael menjawab
tenang.
Namun beberapa
orang mulai curiga.
Terutama karena
akses terakhir ada di tim strategi.
Termasuk Elena.
Ayla melihat
situasi itu.
Dan untuk pertama
kalinya...
dia melihat Kael
bukan sebagai pria yang selalu punya solusi.
Tapi sebagai
seseorang yang harus melindungi banyak orang.
Termasuk orang
yang mungkin akan disalahkan.
"Kita tidak
boleh membuat keputusan berdasarkan asumsi."
Kata Kael.
Suaranya tegas.
"Tim saya
bekerja dengan profesional."
Ayla melihatnya.
Tim saya.
Bukan proyek saya.
Bukan perusahaan
saya.
Tim saya.
Setelah rapat,
Ayla menemukan Kael sendirian.
"Kamu percaya
Elena?"
Kael menoleh.
"Ya."
"Kenapa?"
"Karena saya
mengenalnya."
Ayla mengangguk.
"Lalu kalau
ternyata..."
Dia berhenti.
Kael menatapnya.
"Saya akan
mencari kebenaran."
Bukan jawaban
emosional.
Bukan membela
buta.
Tapi kepercayaan
yang tetap punya logika.
Ayla tersenyum
kecil.
"Kamu
tahu?"
"Apa?"
"Dulu aku
pikir kamu tidak punya hati."
Kael mengangkat
alis.
"Dan
sekarang?"
"Sekarang aku
pikir hatimu hanya punya keamanan ekstra."
Kael hampir
tertawa.
"Hanya
itu?"
"Ya."
"Bagus."
"Kenapa?"
"Karena itu
terdengar seperti kamu."
Malam itu, Ayla
pulang dengan pikiran berbeda.
Elena bukan musuh.
Masa lalu Kael
bukan ancaman.
Karena yang paling
penting bukan siapa yang datang lebih dulu.
Tapi siapa yang
tetap tinggal ketika seseorang akhirnya membuka pintu.
Dan tanpa Ayla
sadari...
Kael sudah mulai
membukakan pintu itu untuknya.
Namun masalah
kebocoran proyek belum selesai.
Dan kali ini...
mereka harus
menghadapi seseorang yang mungkin lebih dekat daripada yang mereka kira.
0 comments:
Post a Comment