Tuesday, July 21, 2026

CHASING AURORA 12

 

CHASING AURORA

Bab 12 — Bukan Tentang Siapa yang Datang Dulu

Ayla Renata tidak pernah menganggap dirinya mudah cemburu.

Dia bukan tipe orang yang akan marah hanya karena seseorang dari masa lalu muncul.

Setidaknya...

itu yang dia percaya.

Tapi ternyata kepercayaan diri seseorang bisa berubah ketika orang dari masa lalu itu adalah:

Elena Valen.

Perempuan yang terlihat sempurna.

Pintar.

Tenang.

Dan memiliki sejarah panjang dengan Kael Ardhana.


Pagi itu, seluruh tim Aurora berkumpul.

Kael berdiri di depan layar.

"Mulai minggu ini, Elena akan bergabung sebagai konsultan strategi."

Ayla yang sedang minum hampir tersedak.

Mika yang duduk di sebelahnya langsung melihat.

"Kamu baik-baik saja?"

Ayla menelan minumannya.

"Baik."

"Kamu terlihat tidak baik."

"Aku hanya kaget."

"Karena proyeknya?"

Ayla diam.

Mika tersenyum.

"Karena orangnya."

Ayla memutar mata.

"Diam."


Elena ternyata memang hebat.

Dan itu justru membuat Ayla semakin kesal.

Bukan karena Elena buruk.

Tapi karena Elena terlalu mudah bekerja dengan Kael.

Mereka memahami istilah yang sama.

Mereka tahu sejarah proyek lama.

Mereka bisa menyelesaikan diskusi tanpa banyak bicara.

Sementara Ayla...

masih harus berdebat dengan Kael hampir setiap hari.

"Kamu terlihat kesal."

Ayla menoleh.

Kael berdiri di sampingnya.

"Aku tidak."

"Kamu mengatakan itu sambil menekan pulpen terlalu keras."

Ayla melihat tangannya.

Dia memang memegang pulpen seperti ingin menghancurkannya.

"Aku hanya berpikir."

"Biasanya kamu berpikir sambil bicara."

"Dan sekarang?"

"Kamu diam."

Ayla menghela napas.

"Kael."

"Ya?"

"Kamu dan Elena dulu sangat dekat?"

Kael diam.

"Saya sudah menjawab."

"Belum semuanya."

Kael menatapnya.

Ayla langsung merasa terlalu penasaran.

Tapi dia tetap bertanya.

"Kenapa kalian berpisah?"


Untuk beberapa detik, Kael tidak menjawab.

Bukan karena tidak mau.

Tapi karena dia jarang membicarakan masa lalu.

"Karena kami menginginkan hal berbeda."

Ayla menunggu.

"Elena ingin membangun sesuatu yang lebih besar di luar negeri."

"Dan kamu?"

"Saya ingin membangun Aurora."

Ayla mengangguk.

"Jadi bukan karena bertengkar?"

"Tidak."

"Bukan karena salah satu menyakiti yang lain?"

"Tidak."

"Lalu..."

Kael menatapnya.

"Kadang dua orang bisa saling menghargai, tapi tetap memilih jalan berbeda."

Ayla terdiam.

Jawaban itu masuk akal.

Sangat masuk akal.

Dan entah kenapa...

membuat hatinya sedikit lega.


Hari itu mereka harus presentasi bersama.

Ayla dan Elena menjadi dua orang yang memegang konsep utama.

Awalnya Ayla merasa canggung.

Sampai Elena berkata:

"Kamu tahu?"

Ayla menoleh.

"Apa?"

"Kael berubah."

Ayla berhati-hati.

"Berubah bagaimana?"

Elena tersenyum kecil.

"Dulu dia hanya melihat hasil."

Ayla diam.

"Sekarang dia mulai melihat orang."

Ayla tidak menjawab.

Karena dia tahu.

Itu benar.


Setelah presentasi selesai, Elena menghampiri Ayla.

"Saya ingin mengatakan sesuatu."

Ayla sedikit tegang.

"Ya?"

"Kael tidak mudah percaya pada orang."

Ayla tersenyum kecil.

"Itu saya tahu."

"Tapi dia percaya pada kamu."

Ayla terdiam.

"Kenapa mengatakan itu?"

"Karena mungkin kamu perlu tahu."

Elena melihat ke arah Kael yang sedang berbicara dengan tim.

"Dia tidak pernah memberikan ruang sebesar itu kepada orang lain."


Malamnya, Ayla masih di kantor.

Dia melihat dokumen terakhir.

Lalu sebuah pesan masuk.

Kael: Sudah makan?

Ayla tersenyum.

Ayla: Sudah. Kamu?

Kael: Sudah.

Ayla berhenti.

Lalu membalas:

Ayla: Benarkah?

Beberapa detik.

Kael: Ya.

Ayla tersenyum semakin lebar.

Ayla: Ada saksi?

Lama.

Kael: Saya membeli makanan sebelum jam tujuh.

Ayla tertawa.

Dia bisa membayangkan wajah serius Kael saat menjelaskan itu.


Keesokan harinya, terjadi masalah.

Salah satu konsep utama kampanye bocor ke perusahaan pesaing.

Semua orang panik.

Dan seperti biasa...

semua mata tertuju pada pemimpin proyek.

Kael.

"Kita harus mencari sumber kebocoran."

Salah satu direktur berkata.

"Tidak bisa langsung menyalahkan siapa pun."

Kael menjawab tenang.

Namun beberapa orang mulai curiga.

Terutama karena akses terakhir ada di tim strategi.

Termasuk Elena.


Ayla melihat situasi itu.

Dan untuk pertama kalinya...

dia melihat Kael bukan sebagai pria yang selalu punya solusi.

Tapi sebagai seseorang yang harus melindungi banyak orang.

Termasuk orang yang mungkin akan disalahkan.

"Kita tidak boleh membuat keputusan berdasarkan asumsi."

Kata Kael.

Suaranya tegas.

"Tim saya bekerja dengan profesional."

Ayla melihatnya.

Tim saya.

Bukan proyek saya.

Bukan perusahaan saya.

Tim saya.


Setelah rapat, Ayla menemukan Kael sendirian.

"Kamu percaya Elena?"

Kael menoleh.

"Ya."

"Kenapa?"

"Karena saya mengenalnya."

Ayla mengangguk.

"Lalu kalau ternyata..."

Dia berhenti.

Kael menatapnya.

"Saya akan mencari kebenaran."

Bukan jawaban emosional.

Bukan membela buta.

Tapi kepercayaan yang tetap punya logika.


Ayla tersenyum kecil.

"Kamu tahu?"

"Apa?"

"Dulu aku pikir kamu tidak punya hati."

Kael mengangkat alis.

"Dan sekarang?"

"Sekarang aku pikir hatimu hanya punya keamanan ekstra."

Kael hampir tertawa.

"Hanya itu?"

"Ya."

"Bagus."

"Kenapa?"

"Karena itu terdengar seperti kamu."


Malam itu, Ayla pulang dengan pikiran berbeda.

Elena bukan musuh.

Masa lalu Kael bukan ancaman.

Karena yang paling penting bukan siapa yang datang lebih dulu.

Tapi siapa yang tetap tinggal ketika seseorang akhirnya membuka pintu.

Dan tanpa Ayla sadari...

Kael sudah mulai membukakan pintu itu untuknya.


Namun masalah kebocoran proyek belum selesai.

Dan kali ini...

mereka harus menghadapi seseorang yang mungkin lebih dekat daripada yang mereka kira.

 

0 comments:

Post a Comment

 

Blognya Alviana Anugrah Template by Ipietoon Cute Blog Design