Pada zaman dahulu, hiduplah seorang petani miskin bersama istrinya dan banyak anak mereka. Meskipun hidup serba kekurangan, keluarga itu saling menyayangi.
Suatu malam di
musim dingin, ketika salju turun begitu lebat, seseorang mengetuk pintu rumah
mereka. Saat pintu dibuka, tampak seekor beruang putih yang sangat besar.
Namun, beruang itu berbicara dengan suara lembut.
"Aku datang
untuk meminta putrimu yang paling muda ikut bersamaku. Jika ia bersedia, aku
akan membuat keluargamu hidup berkecukupan."
Awalnya sang ayah
menolak. Namun, setelah melihat kesulitan keluarganya dan mendengar bahwa putri
bungsunya sendiri bersedia demi membantu keluarganya, akhirnya ia mengizinkan
putrinya pergi.
Beruang putih
membawa gadis itu menempuh perjalanan jauh melewati gunung, hutan, dan lembah
yang tertutup salju. Akhirnya mereka tiba di sebuah istana yang sangat megah.
Anehnya, tidak ada seorang pelayan pun yang terlihat, tetapi makanan lezat
selalu tersedia dan semua kebutuhan gadis itu terpenuhi.
Setiap malam,
setelah lampu dipadamkan, seseorang datang ke kamarnya dan tidur di sampingnya.
Suara laki-laki itu lembut dan baik hati, tetapi ia selalu pergi sebelum
matahari terbit. Gadis itu tidak pernah diizinkan melihat wajahnya.
Hari demi hari
berlalu. Gadis itu mulai merasa bahagia, tetapi ia juga sangat penasaran.
Siapakah sebenarnya pria yang datang setiap malam itu?
Suatu hari ia
meminta izin kepada beruang putih untuk mengunjungi keluarganya. Beruang itu
mengizinkan dengan satu syarat.
"Jangan
mendengarkan nasihat ibumu jika ia menyuruhmu melihat wajahku."
Sesampainya di
rumah, ibunya curiga dan berkata, "Bagaimana mungkin kau hidup dengan
seseorang yang tidak pernah kau lihat? Nyalakan saja lilin saat ia tidur. Jika
ia orang baik, tentu tidak akan terjadi apa-apa."
Gadis itu bimbang.
Ketika kembali ke istana, rasa ingin tahunya semakin besar. Pada malam hari,
saat pria itu telah tertidur, ia menyalakan sebatang lilin.
Betapa terkejutnya
ia. Di hadapannya terbaring seorang pangeran yang sangat tampan.
Namun, tiga tetes
lilin panas jatuh mengenai wajah sang pangeran. Ia terbangun dan tampak sangat
sedih.
"Seandainya
kau dapat bersabar satu tahun lagi, kutukan ini akan berakhir. Aku adalah
seorang pangeran yang disihir oleh ratu troll. Pada siang hari aku berubah
menjadi beruang putih, dan hanya pada malam hari aku kembali menjadi manusia.
Karena kau melanggar janjimu, kini aku harus pergi ke istana ratu troll, yang
terletak di Timur Matahari dan di Barat Bulan. Di sana aku dipaksa menikahi
putri troll."
Seketika itu juga
istana menghilang. Gadis itu mendapati dirinya sendirian di tengah hutan.
Dengan hati penuh
penyesalan, ia memutuskan mencari sang pangeran, betapapun jauhnya perjalanan
itu.
Ia berjalan
berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Dalam perjalanan ia
bertemu seorang nenek tua yang memberinya sebuah apel emas.
"Ini akan
berguna nanti," kata nenek itu.
Kemudian ia
bertemu nenek kedua yang memberinya sisir emas, dan nenek ketiga yang
menghadiahkannya sebuah roda pemintal emas.
Setelah itu ia
dibantu oleh empat penjaga angin: Angin Timur, Angin Barat, Angin Selatan, dan
akhirnya Angin Utara. Hanya Angin Utara yang cukup kuat untuk membawanya ke
negeri yang berada di Timur Matahari dan di Barat Bulan.
Sesampainya di
sana, gadis itu melihat sebuah istana yang dipenuhi troll. Sang putri troll
sedang bersiap menikahi pangeran.
Gadis itu
menawarkan apel emas kepada putri troll sebagai imbalan agar diizinkan
berbicara dengan sang pangeran semalam. Putri troll setuju, tetapi diam-diam ia
memberi ramuan tidur kepada pangeran sehingga ia tidak terbangun.
Malam berikutnya
gadis itu menukar sisir emas demi kesempatan kedua. Namun, pangeran kembali
dibuat tertidur lelap.
Pada malam ketiga,
gadis itu menyerahkan roda pemintal emas. Kali ini para pelayan yang mendengar
tangis gadis itu memberi tahu pangeran agar tidak meminum ramuan yang diberikan
putri troll.
Malam itu akhirnya
pangeran terbangun. Mereka saling bertemu kembali dengan penuh haru.
Pangeran kemudian
menantang keluarga troll untuk membuktikan bahwa calon pengantinnya mampu
mencuci noda lilin dari bajunya. Putri troll dan ibunya mencoba berkali-kali,
tetapi noda itu tidak hilang.
Ketika gadis itu
diminta mencoba, noda tersebut langsung hilang hanya dengan sekali usapan. Saat
itu kutukan pun hancur. Seluruh troll kehilangan kekuatannya, dan istana mereka
runtuh.
Pangeran dan gadis
itu kembali ke kerajaan sang pangeran. Mereka menikah dan memerintah dengan
adil serta bijaksana. Sejak saat itu, mereka hidup bahagia hingga akhir hayat.
Pesan Moral
- Menepati janji adalah hal yang sangat
penting.
- Rasa ingin tahu yang tidak terkendali
dapat membawa penyesalan.
- Keberanian, ketekunan, dan kesetiaan
mampu mengatasi rintangan sebesar apa pun.
- Cinta sejati membutuhkan kesabaran dan
pengorbanan.
0 comments:
Post a Comment