CHASING AURORA
Bab 16 — Kencan
yang Tidak Diakui Sebagai Kencan
Ada satu hal yang
tidak pernah diajarkan oleh perusahaan sebesar Aurora Media kepada Kael
Ardhana.
Bagaimana
menghadapi perasaan sendiri.
Kael bisa memimpin
rapat dengan puluhan orang.
Bisa mengambil
keputusan bernilai besar.
Bisa membaca
strategi pesaing.
Tapi ketika Ayla
Renata mengirim pesan:
Ayla: Kamu
sibuk malam ini?
Kael membutuhkan
waktu tujuh menit hanya untuk menjawab.
Kael: Ada
beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan.
Tiga detik
kemudian.
Pesan masuk.
Ayla: Jadi
sibuk.
Kael melihat
layar.
Lalu mengetik.
Menghapus.
Mengetik lagi.
Menghapus lagi.
Renzo yang sedang
duduk di sofa melihatnya.
"Kamu sedang
melawan apa?"
Kael tidak
menoleh.
"Pesan."
Renzo tertawa.
"Hebat."
"Apa?"
"Direktur
yang bisa menghadapi investor besar kalah oleh satu chat."
"Itu tidak
sama."
"Benar."
Renzo tersenyum.
"Lebih
sulit."
Akhirnya Kael
membalas.
Kael: Kenapa?
Balasan Ayla
cepat.
Ayla: Ada
pameran desain malam ini. Aku ingin pergi.
Kael membaca.
Lalu menunggu.
Renzo melihat.
"Kamu
menunggu apa?"
"Informasi
tambahan."
"Dia hanya
mengajak pergi."
"Itu belum
spesifik."
Renzo menghela
napas.
"Kael."
"Ya?"
"Itu namanya
ajakan."
Beberapa menit
kemudian:
Kael: Baik.
Saya ikut.
Ayla membalas:
Ayla: Serius?
Kael: Ya.
Ayla: Aku pikir
kamu akan bilang jadwalmu penuh.
Kael berhenti.
Karena
sebenarnya...
jadwalnya memang
penuh.
Tapi dia sudah
membatalkan dua hal.
Dan dia tidak tahu
kenapa dia merasa itu keputusan yang benar.
Malam itu, Ayla
datang dengan pakaian sederhana.
Tidak seperti di
kantor.
Tidak seperti saat
presentasi.
Hanya Ayla.
Kael yang biasanya
tidak mudah terkejut...
terdiam beberapa
detik.
Ayla menyadari.
"Kamu
kenapa?"
"Tidak."
"Kamu
diam."
"Saya sedang
berpikir."
"Tentang?"
Kael menjawab
jujur:
"Kamu
terlihat berbeda."
Ayla tersenyum.
"Berbeda
bagus atau buruk?"
"Bagus."
Jawaban cepat.
Ayla langsung
menatapnya.
Kael baru sadar.
Dia terlalu cepat
menjawab.
"Kael."
"Ya?"
"Kamu tahu
tidak?"
"Apa?"
"Kamu kadang
lucu."
"Saya?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Karena kamu
tidak sadar ketika mengatakan sesuatu yang manis."
Kael diam.
"Saya tidak
mengatakan sesuatu yang manis."
Ayla tertawa.
"Nah.
Itu."
Pameran desain itu
penuh orang.
Ayla menikmati
semuanya.
Dia berhenti di
setiap karya.
Membaca
penjelasan.
Memberikan
pendapat.
Sementara Kael...
mengikuti.
Bukan karena dia
tertarik pada semua karya.
Tapi karena dia
tertarik melihat Ayla menikmatinya.
"Kamu tidak
bosan?"
Ayla bertanya.
"Tidak."
"Padahal kamu
sudah melihat lukisan yang sama selama lima menit."
"Saya melihat
cara kamu melihatnya."
Ayla langsung
diam.
Kael juga.
Karena dia baru
menyadari kalimatnya terdengar terlalu jujur.
Setelah pameran,
mereka berjalan mencari makan.
Ayla berhenti di
depan restoran kecil.
"Kita makan
di sini."
Kael melihat
tempat itu.
Sederhana.
Tidak ada
reservasi.
Tidak ada menu
mewah.
"Kamu
yakin?"
Ayla mengangkat
alis.
"Kenapa?"
"Tempatnya..."
"Normal?"
"Ya."
Ayla tertawa.
"Kamu
benar-benar hidup di dunia yang berbeda."
Kael akhirnya
masuk.
Dan lagi-lagi...
dia menemukan
sesuatu.
Makanan sederhana.
Percakapan
sederhana.
Tawa sederhana.
Ternyata tidak
buruk.
Saat mereka
keluar, hujan turun.
Ayla melihat
langit.
"Serius?"
Kael membuka
payung.
Ayla tersenyum.
"Kamu selalu
punya payung."
"Saya
belajar."
"Dari
siapa?"
Kael melihatnya.
"Dari
kamu."
Ayla terdiam.
"Dari
aku?"
"Ya."
"Kapan?"
"Saat
perjalanan dinas."
Ayla ingat.
Saat itu dia
pernah mengatakan Kael harus lebih siap menghadapi hal-hal kecil.
Dan ternyata...
dia mengingatnya.
Mereka berjalan
perlahan.
Tidak
terburu-buru.
Tidak membahas
pekerjaan.
Tidak membahas
target.
Hanya berjalan.
"Aku punya
pertanyaan."
Kata Ayla.
"Silakan."
"Ini
kencan?"
Kael langsung
berhenti.
Ayla menahan
senyum.
Karena ekspresi
Kael sangat mudah dibaca sekarang.
"Kenapa
berhenti?"
"Saya sedang
menentukan jawaban yang tepat."
"Tentu
saja."
Kael berpikir.
Lalu berkata:
"Kalau
menurut kamu?"
Ayla membulatkan
mata.
"Kamu
mengembalikan pertanyaan?"
"Saya sedang
belajar."
Ayla tertawa.
"Belajar
apa?"
"Memahami
situasi."
"Ini bukan
rapat."
"Saya
tahu."
"Lalu?"
Kael melihatnya.
"Kalau ini
kencan..."
Dia berhenti.
"Apakah kamu
keberatan?"
Ayla tidak
menjawab langsung.
Karena untuk
pertama kalinya...
Kael tidak meminta
jawaban.
Dia hanya
menunggu.
Dengan sabar.
"Aku tidak
keberatan."
Ayla tersenyum.
Malam itu, tidak
ada pengakuan besar.
Tidak ada kata
cinta.
Tidak ada janji
dramatis.
Hanya dua orang
yang pulang dengan perasaan berbeda.
Di depan apartemen
Ayla.
"Terima kasih
sudah ikut."
Kael mengangguk.
"Sama-sama."
Ayla membuka
pintu.
Lalu berhenti.
"Kael."
"Ya?"
"Besok jangan
kembali jadi robot kantor."
Kael mengangkat
alis.
"Saya tidak
pernah menjadi robot."
Ayla tersenyum.
"Kamu
hampir."
Lalu dia masuk.
Kael berdiri
beberapa detik.
Kemudian berjalan
pulang.
Dan untuk pertama
kalinya dalam hidupnya...
dia mencari tahu
sesuatu bukan karena pekerjaan.
Dia membuka
internet.
Mencari:
"Apa yang
dilakukan orang setelah kencan pertama?"
Lima menit
kemudian, dia menutup laptop.
Karena jawabannya
terlalu banyak.
Dan semuanya
terasa rumit.
Sementara itu,
Ayla menerima pesan.
Kael: Apakah
malam ini termasuk kencan pertama?
Ayla tersenyum.
Ayla:
Menurutmu?
Lama.
Lalu:
Kael: Saya rasa
iya.
Ayla menatap pesan
itu.
Lalu tersenyum
sendiri.
Karena pria paling
logis yang dia kenal...
akhirnya melakukan
sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan logika.
Tapi mereka belum
tahu.
Besok pagi, kantor
akan menjadi tempat paling sulit untuk berpura-pura.
Karena sekarang...
mereka bukan hanya
partner kerja.
Mereka adalah dua
orang yang baru saja mulai menyukai satu sama lain.
0 comments:
Post a Comment