Tuesday, July 21, 2026

CHASING AURORA 16

 

CHASING AURORA

Bab 16 — Kencan yang Tidak Diakui Sebagai Kencan

Ada satu hal yang tidak pernah diajarkan oleh perusahaan sebesar Aurora Media kepada Kael Ardhana.

Bagaimana menghadapi perasaan sendiri.

Kael bisa memimpin rapat dengan puluhan orang.

Bisa mengambil keputusan bernilai besar.

Bisa membaca strategi pesaing.

Tapi ketika Ayla Renata mengirim pesan:

Ayla: Kamu sibuk malam ini?

Kael membutuhkan waktu tujuh menit hanya untuk menjawab.


Kael: Ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan.

Tiga detik kemudian.

Pesan masuk.

Ayla: Jadi sibuk.

Kael melihat layar.

Lalu mengetik.

Menghapus.

Mengetik lagi.

Menghapus lagi.

Renzo yang sedang duduk di sofa melihatnya.

"Kamu sedang melawan apa?"

Kael tidak menoleh.

"Pesan."

Renzo tertawa.

"Hebat."

"Apa?"

"Direktur yang bisa menghadapi investor besar kalah oleh satu chat."

"Itu tidak sama."

"Benar."

Renzo tersenyum.

"Lebih sulit."


Akhirnya Kael membalas.

Kael: Kenapa?

Balasan Ayla cepat.

Ayla: Ada pameran desain malam ini. Aku ingin pergi.

Kael membaca.

Lalu menunggu.

Renzo melihat.

"Kamu menunggu apa?"

"Informasi tambahan."

"Dia hanya mengajak pergi."

"Itu belum spesifik."

Renzo menghela napas.

"Kael."

"Ya?"

"Itu namanya ajakan."


Beberapa menit kemudian:

Kael: Baik. Saya ikut.

Ayla membalas:

Ayla: Serius?

Kael: Ya.

Ayla: Aku pikir kamu akan bilang jadwalmu penuh.

Kael berhenti.

Karena sebenarnya...

jadwalnya memang penuh.

Tapi dia sudah membatalkan dua hal.

Dan dia tidak tahu kenapa dia merasa itu keputusan yang benar.


Malam itu, Ayla datang dengan pakaian sederhana.

Tidak seperti di kantor.

Tidak seperti saat presentasi.

Hanya Ayla.

Kael yang biasanya tidak mudah terkejut...

terdiam beberapa detik.

Ayla menyadari.

"Kamu kenapa?"

"Tidak."

"Kamu diam."

"Saya sedang berpikir."

"Tentang?"

Kael menjawab jujur:

"Kamu terlihat berbeda."

Ayla tersenyum.

"Berbeda bagus atau buruk?"

"Bagus."

Jawaban cepat.

Ayla langsung menatapnya.

Kael baru sadar.

Dia terlalu cepat menjawab.


"Kael."

"Ya?"

"Kamu tahu tidak?"

"Apa?"

"Kamu kadang lucu."

"Saya?"

"Iya."

"Kenapa?"

"Karena kamu tidak sadar ketika mengatakan sesuatu yang manis."

Kael diam.

"Saya tidak mengatakan sesuatu yang manis."

Ayla tertawa.

"Nah. Itu."


Pameran desain itu penuh orang.

Ayla menikmati semuanya.

Dia berhenti di setiap karya.

Membaca penjelasan.

Memberikan pendapat.

Sementara Kael...

mengikuti.

Bukan karena dia tertarik pada semua karya.

Tapi karena dia tertarik melihat Ayla menikmatinya.

"Kamu tidak bosan?"

Ayla bertanya.

"Tidak."

"Padahal kamu sudah melihat lukisan yang sama selama lima menit."

"Saya melihat cara kamu melihatnya."

Ayla langsung diam.

Kael juga.

Karena dia baru menyadari kalimatnya terdengar terlalu jujur.


Setelah pameran, mereka berjalan mencari makan.

Ayla berhenti di depan restoran kecil.

"Kita makan di sini."

Kael melihat tempat itu.

Sederhana.

Tidak ada reservasi.

Tidak ada menu mewah.

"Kamu yakin?"

Ayla mengangkat alis.

"Kenapa?"

"Tempatnya..."

"Normal?"

"Ya."

Ayla tertawa.

"Kamu benar-benar hidup di dunia yang berbeda."

Kael akhirnya masuk.

Dan lagi-lagi...

dia menemukan sesuatu.

Makanan sederhana.

Percakapan sederhana.

Tawa sederhana.

Ternyata tidak buruk.


Saat mereka keluar, hujan turun.

Ayla melihat langit.

"Serius?"

Kael membuka payung.

Ayla tersenyum.

"Kamu selalu punya payung."

"Saya belajar."

"Dari siapa?"

Kael melihatnya.

"Dari kamu."

Ayla terdiam.

"Dari aku?"

"Ya."

"Kapan?"

"Saat perjalanan dinas."

Ayla ingat.

Saat itu dia pernah mengatakan Kael harus lebih siap menghadapi hal-hal kecil.

Dan ternyata...

dia mengingatnya.


Mereka berjalan perlahan.

Tidak terburu-buru.

Tidak membahas pekerjaan.

Tidak membahas target.

Hanya berjalan.

"Aku punya pertanyaan."

Kata Ayla.

"Silakan."

"Ini kencan?"

Kael langsung berhenti.

Ayla menahan senyum.

Karena ekspresi Kael sangat mudah dibaca sekarang.

"Kenapa berhenti?"

"Saya sedang menentukan jawaban yang tepat."

"Tentu saja."

Kael berpikir.

Lalu berkata:

"Kalau menurut kamu?"

Ayla membulatkan mata.

"Kamu mengembalikan pertanyaan?"

"Saya sedang belajar."

Ayla tertawa.

"Belajar apa?"

"Memahami situasi."

"Ini bukan rapat."

"Saya tahu."

"Lalu?"

Kael melihatnya.

"Kalau ini kencan..."

Dia berhenti.

"Apakah kamu keberatan?"


Ayla tidak menjawab langsung.

Karena untuk pertama kalinya...

Kael tidak meminta jawaban.

Dia hanya menunggu.

Dengan sabar.

"Aku tidak keberatan."

Ayla tersenyum.


Malam itu, tidak ada pengakuan besar.

Tidak ada kata cinta.

Tidak ada janji dramatis.

Hanya dua orang yang pulang dengan perasaan berbeda.


Di depan apartemen Ayla.

"Terima kasih sudah ikut."

Kael mengangguk.

"Sama-sama."

Ayla membuka pintu.

Lalu berhenti.

"Kael."

"Ya?"

"Besok jangan kembali jadi robot kantor."

Kael mengangkat alis.

"Saya tidak pernah menjadi robot."

Ayla tersenyum.

"Kamu hampir."

Lalu dia masuk.


Kael berdiri beberapa detik.

Kemudian berjalan pulang.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya...

dia mencari tahu sesuatu bukan karena pekerjaan.

Dia membuka internet.

Mencari:

"Apa yang dilakukan orang setelah kencan pertama?"

Lima menit kemudian, dia menutup laptop.

Karena jawabannya terlalu banyak.

Dan semuanya terasa rumit.


Sementara itu, Ayla menerima pesan.

Kael: Apakah malam ini termasuk kencan pertama?

Ayla tersenyum.

Ayla: Menurutmu?

Lama.

Lalu:

Kael: Saya rasa iya.

Ayla menatap pesan itu.

Lalu tersenyum sendiri.

Karena pria paling logis yang dia kenal...

akhirnya melakukan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan logika.


Tapi mereka belum tahu.

Besok pagi, kantor akan menjadi tempat paling sulit untuk berpura-pura.

Karena sekarang...

mereka bukan hanya partner kerja.

Mereka adalah dua orang yang baru saja mulai menyukai satu sama lain.

 

0 comments:

Post a Comment

 

Blognya Alviana Anugrah Template by Ipietoon Cute Blog Design