Tuesday, July 21, 2026

CHASING AURORA 7

 

CHASING AURORA

Bab 7 — Perhatian yang Disamarkan Sebagai Profesionalisme

Kael Ardhana tidak pernah merasa terganggu dengan jadwal orang lain.

Selama pekerjaan selesai, semuanya baik-baik saja.

Setidaknya...

itu yang dia pikir.

Sampai pagi itu.

"Ayla."

Ayla yang sedang membuka laptop menoleh.

"Ya?"

"Jam berapa makan malam dengan Julian?"

Ayla berhenti mengetik.

Lalu perlahan mengangkat kepala.

"Kamu tahu?"

Kael terlihat tenang.

"Tahu apa?"

"Bahwa aku makan malam dengan Julian."

"Saya melihat jadwal proyek."

Ayla menyipitkan mata.

"Di kalender proyek tidak tertulis 'makan malam dengan Julian'."

Kael diam.

Satu detik.

Dua detik.

Ayla tersenyum kecil.

"Nah."

"Apa?"

"Kamu ketahuan."

"Saya tidak ketahuan."

"Terus?"

"Saya hanya memperhatikan jadwal tim."

Ayla mengangguk.

"Tentu."

Kael menatapnya.

"Apa?"

"Tidak apa-apa."

"Kamu terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu."

"Aku hanya berpikir kamu punya banyak cara untuk menghindari mengakui sesuatu."

"Seperti?"

"Seperti sekarang."

Kael tidak menjawab.

Karena masalahnya...

Ayla benar.


Malam itu, Ayla bertemu Julian di sebuah restoran kecil dekat pusat kota.

Mereka membahas konsep kampanye Aurora.

Julian adalah orang yang mudah diajak bicara.

Santai.

Terbuka.

Berbeda dengan Kael yang selalu memikirkan kata-kata sebelum mengucapkannya.

"Menurut saya, Anda terlalu sering meragukan ide sendiri."

Ayla melihat Julian.

"Maksudnya?"

"Anda punya ide bagus, tapi selalu mencari pembuktian bahwa ide itu layak."

Ayla tersenyum.

"Mungkin karena saya bekerja dengan seseorang yang menyukai angka."

Julian tertawa.

"Kael?"

Ayla mengangguk.

"Dia memang begitu."

"Lucu."

"Apa?"

"Dia terlihat seperti orang yang tidak peduli."

Ayla terdiam.

"Tapi saya rasa dia peduli."

"Kenapa?"

"Karena orang yang benar-benar tidak peduli tidak akan mengingat detail kecil tentang orang lain."

Ayla mengingat kopi.

Teh malam hari.

Jaket.

Payung.

Dan tiba-tiba dia tidak tahu harus menjawab apa.


Di sisi lain kota...

Kael sedang membaca laporan.

Atau setidaknya mencoba.

Karena selama dua puluh menit terakhir, satu halaman yang sama masih terbuka.

Renzo yang duduk di sofa apartemennya memperhatikan.

"Kamu tahu?"

Kael tidak menoleh.

"Apa?"

"Saya baru sadar sesuatu."

"Bahwa kamu terlalu banyak bicara?"

"Tidak."

"Itu sudah saya ketahui."

Renzo mengabaikannya.

"Kamu sedang menunggu pesan dari Ayla."

Kael langsung melihat ponselnya.

Lalu menyadari.

Dia memang melihat ponselnya.

Renzo tertawa.

"Oh, ini parah."

"Saya hanya memastikan pekerjaan selesai."

"Jam sepuluh malam?"

"Ya."

"Makan malam proyek bukan keadaan darurat."

Kael diam.

Renzo bersandar.

"Kael."

"Apa?"

"Kamu cemburu."

"Tidak."

"Kenapa?"

"Karena tidak ada alasan."

"Justru itu masalahnya."

Kael menatapnya.

Renzo tersenyum.

"Kamu selalu mencari alasan untuk semua hal."


Jam menunjukkan pukul sepuluh lewat tiga puluh.

Ayla keluar dari restoran.

Dia membuka ponselnya.

Ada satu pesan.

Dari Kael.

Kael: Sudah selesai?

Ayla berhenti.

Sederhana.

Tapi aneh.

Kael bukan tipe orang yang bertanya hal seperti itu.

Dia membalas.

Ayla: Sudah. Kenapa?

Beberapa detik.

Lalu:

Kael: Pastikan pulang dengan aman.

Ayla menatap layar.

Lalu tersenyum.

Ayla: Kamu khawatir?

Lama tidak ada jawaban.

Sangat lama.

Sampai Ayla mengira Kael tidak akan membalas.

Kemudian:

Kael: Saya memastikan anggota tim saya aman.

Ayla tertawa kecil.

Tentu saja.

Jawaban Kael.

Selalu ada alasan profesional.

Ayla: Baiklah, Pak Direktur.


Lima belas menit kemudian, Ayla keluar dari taksi.

Dan dia terkejut.

Kael berdiri di depan lobi apartemennya.

Ayla langsung berhenti.

"Kael?"

Kael terlihat sedikit kaku.

"Saya kebetulan lewat."

Ayla melihat jalan kosong di belakangnya.

"Kamu tinggal di arah berlawanan."

Kael diam.

"Kebetulan yang jauh."

"Saya ingin memastikan."

"Apa?"

"Kamu sampai."

Ayla menatapnya.

Untuk beberapa detik, tidak ada yang bicara.

Lalu Ayla tersenyum.

"Kamu tahu tidak?"

"Apa?"

"Kamu buruk sekali berbohong."

"Saya tidak berbohong."

"Kamu datang ke sini hanya untuk memastikan aku pulang?"

"Ya."

"Itu namanya khawatir."

Kael membuka mulut.

Lalu berhenti.

Karena kali ini dia tidak punya jawaban.


Ayla berjalan mendekat.

"Terima kasih."

Kael mengangguk.

"Sama-sama."

"Kamu sudah makan?"

"Sudah."

Ayla menatapnya.

"Jangan bohong."

Kael terdiam.

"Kamu belum makan."

Bagaimana Ayla tahu?

Mungkin karena dia mulai mengenal kebiasaan Kael.

"Kamu selalu melewatkan makan kalau terlalu fokus."

Kael menatapnya.

Sekarang giliran dia yang diam.

Ayla tersenyum kecil.

"Lihat?"

"Apa?"

"Saya juga bisa memperhatikan."


Malam itu, untuk pertama kalinya...

Kael menyadari sesuatu.

Selama ini dia selalu berpikir perhatian adalah sesuatu yang harus diberikan secara terukur.

Sesuai kebutuhan.

Sesuai situasi.

Tapi Ayla tidak seperti itu.

Ayla memperhatikan karena dia memang peduli.

Tidak ada strategi.

Tidak ada perhitungan.

Dan mungkin itu yang membuatnya sulit dipahami.


Besok pagi, kantor akan kembali seperti biasa.

Mereka akan menjadi partner kerja.

Ayla akan mengganggunya.

Kael akan mengoreksi pekerjaannya.

Mereka akan berdebat tentang ide dan angka.

Tapi sekarang ada satu hal yang berubah.

Kael mulai menunggu sesuatu yang tidak ada di jadwalnya.

Senyum Ayla.

Dan itu adalah masalah.

Karena bagi Kael Ardhana...

hal yang tidak bisa dikendalikan selalu menjadi hal yang paling berbahaya.

0 comments:

Post a Comment

 

Blognya Alviana Anugrah Template by Ipietoon Cute Blog Design