CHASING AURORA
Bab 7 —
Perhatian yang Disamarkan Sebagai Profesionalisme
Kael Ardhana tidak
pernah merasa terganggu dengan jadwal orang lain.
Selama pekerjaan
selesai, semuanya baik-baik saja.
Setidaknya...
itu yang dia
pikir.
Sampai pagi itu.
"Ayla."
Ayla yang sedang
membuka laptop menoleh.
"Ya?"
"Jam berapa
makan malam dengan Julian?"
Ayla berhenti
mengetik.
Lalu perlahan
mengangkat kepala.
"Kamu
tahu?"
Kael terlihat
tenang.
"Tahu
apa?"
"Bahwa aku
makan malam dengan Julian."
"Saya melihat
jadwal proyek."
Ayla menyipitkan
mata.
"Di kalender
proyek tidak tertulis 'makan malam dengan Julian'."
Kael diam.
Satu detik.
Dua detik.
Ayla tersenyum
kecil.
"Nah."
"Apa?"
"Kamu
ketahuan."
"Saya tidak
ketahuan."
"Terus?"
"Saya hanya
memperhatikan jadwal tim."
Ayla mengangguk.
"Tentu."
Kael menatapnya.
"Apa?"
"Tidak
apa-apa."
"Kamu
terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu."
"Aku hanya
berpikir kamu punya banyak cara untuk menghindari mengakui sesuatu."
"Seperti?"
"Seperti
sekarang."
Kael tidak
menjawab.
Karena
masalahnya...
Ayla benar.
Malam itu, Ayla
bertemu Julian di sebuah restoran kecil dekat pusat kota.
Mereka membahas
konsep kampanye Aurora.
Julian adalah
orang yang mudah diajak bicara.
Santai.
Terbuka.
Berbeda dengan
Kael yang selalu memikirkan kata-kata sebelum mengucapkannya.
"Menurut
saya, Anda terlalu sering meragukan ide sendiri."
Ayla melihat
Julian.
"Maksudnya?"
"Anda punya
ide bagus, tapi selalu mencari pembuktian bahwa ide itu layak."
Ayla tersenyum.
"Mungkin
karena saya bekerja dengan seseorang yang menyukai angka."
Julian tertawa.
"Kael?"
Ayla mengangguk.
"Dia memang
begitu."
"Lucu."
"Apa?"
"Dia terlihat
seperti orang yang tidak peduli."
Ayla terdiam.
"Tapi saya
rasa dia peduli."
"Kenapa?"
"Karena orang
yang benar-benar tidak peduli tidak akan mengingat detail kecil tentang orang
lain."
Ayla mengingat
kopi.
Teh malam hari.
Jaket.
Payung.
Dan tiba-tiba dia
tidak tahu harus menjawab apa.
Di sisi lain
kota...
Kael sedang
membaca laporan.
Atau setidaknya
mencoba.
Karena selama dua
puluh menit terakhir, satu halaman yang sama masih terbuka.
Renzo yang duduk
di sofa apartemennya memperhatikan.
"Kamu
tahu?"
Kael tidak
menoleh.
"Apa?"
"Saya baru
sadar sesuatu."
"Bahwa kamu
terlalu banyak bicara?"
"Tidak."
"Itu sudah
saya ketahui."
Renzo
mengabaikannya.
"Kamu sedang
menunggu pesan dari Ayla."
Kael langsung
melihat ponselnya.
Lalu menyadari.
Dia memang melihat
ponselnya.
Renzo tertawa.
"Oh, ini
parah."
"Saya hanya
memastikan pekerjaan selesai."
"Jam sepuluh
malam?"
"Ya."
"Makan malam
proyek bukan keadaan darurat."
Kael diam.
Renzo bersandar.
"Kael."
"Apa?"
"Kamu
cemburu."
"Tidak."
"Kenapa?"
"Karena tidak
ada alasan."
"Justru itu
masalahnya."
Kael menatapnya.
Renzo tersenyum.
"Kamu selalu
mencari alasan untuk semua hal."
Jam menunjukkan
pukul sepuluh lewat tiga puluh.
Ayla keluar dari
restoran.
Dia membuka
ponselnya.
Ada satu pesan.
Dari Kael.
Kael: Sudah
selesai?
Ayla berhenti.
Sederhana.
Tapi aneh.
Kael bukan tipe
orang yang bertanya hal seperti itu.
Dia membalas.
Ayla: Sudah.
Kenapa?
Beberapa detik.
Lalu:
Kael: Pastikan
pulang dengan aman.
Ayla menatap
layar.
Lalu tersenyum.
Ayla: Kamu
khawatir?
Lama tidak ada
jawaban.
Sangat lama.
Sampai Ayla
mengira Kael tidak akan membalas.
Kemudian:
Kael: Saya
memastikan anggota tim saya aman.
Ayla tertawa
kecil.
Tentu saja.
Jawaban Kael.
Selalu ada alasan
profesional.
Ayla: Baiklah,
Pak Direktur.
Lima belas menit
kemudian, Ayla keluar dari taksi.
Dan dia terkejut.
Kael berdiri di
depan lobi apartemennya.
Ayla langsung
berhenti.
"Kael?"
Kael terlihat
sedikit kaku.
"Saya
kebetulan lewat."
Ayla melihat jalan
kosong di belakangnya.
"Kamu tinggal
di arah berlawanan."
Kael diam.
"Kebetulan
yang jauh."
"Saya ingin
memastikan."
"Apa?"
"Kamu
sampai."
Ayla menatapnya.
Untuk beberapa
detik, tidak ada yang bicara.
Lalu Ayla
tersenyum.
"Kamu tahu
tidak?"
"Apa?"
"Kamu buruk
sekali berbohong."
"Saya tidak
berbohong."
"Kamu datang
ke sini hanya untuk memastikan aku pulang?"
"Ya."
"Itu namanya
khawatir."
Kael membuka
mulut.
Lalu berhenti.
Karena kali ini
dia tidak punya jawaban.
Ayla berjalan
mendekat.
"Terima
kasih."
Kael mengangguk.
"Sama-sama."
"Kamu sudah
makan?"
"Sudah."
Ayla menatapnya.
"Jangan
bohong."
Kael terdiam.
"Kamu belum
makan."
Bagaimana Ayla
tahu?
Mungkin karena dia
mulai mengenal kebiasaan Kael.
"Kamu selalu
melewatkan makan kalau terlalu fokus."
Kael menatapnya.
Sekarang giliran
dia yang diam.
Ayla tersenyum
kecil.
"Lihat?"
"Apa?"
"Saya juga
bisa memperhatikan."
Malam itu, untuk
pertama kalinya...
Kael menyadari
sesuatu.
Selama ini dia
selalu berpikir perhatian adalah sesuatu yang harus diberikan secara terukur.
Sesuai kebutuhan.
Sesuai situasi.
Tapi Ayla tidak
seperti itu.
Ayla memperhatikan
karena dia memang peduli.
Tidak ada
strategi.
Tidak ada
perhitungan.
Dan mungkin itu
yang membuatnya sulit dipahami.
Besok pagi, kantor
akan kembali seperti biasa.
Mereka akan
menjadi partner kerja.
Ayla akan
mengganggunya.
Kael akan
mengoreksi pekerjaannya.
Mereka akan
berdebat tentang ide dan angka.
Tapi sekarang ada
satu hal yang berubah.
Kael mulai
menunggu sesuatu yang tidak ada di jadwalnya.
Senyum Ayla.
Dan itu adalah
masalah.
Karena bagi Kael
Ardhana...
hal yang tidak
bisa dikendalikan selalu menjadi hal yang paling berbahaya.
0 comments:
Post a Comment