Menjadi Duchess Noctis bukanlah sesuatu yang mudah.
Setidaknya, itulah yang Elena Aveline sadari setelah satu minggu tinggal di mansion Noctis.
Pernikahan kontrak mungkin hanya tertulis di atas kertas.
Namun gelar Duchess Noctis membuat seluruh Kerajaan Elarion memperhatikannya.
Setiap langkahnya.
Setiap perkataannya.
Bahkan cara ia memegang cangkir teh.
Semuanya menjadi bahan penilaian.
"Lady Elena."
Suara Nona Clara, pelayan pribadinya, terdengar lembut.
"Hari ini Anda memiliki pelajaran etiket dengan keluarga bangsawan dari wilayah utara."
Elena melihat daftar kegiatan di tangannya.
Kemudian menghela napas kecil.
"Apakah menjadi Duchess memang selalu sesibuk ini?"
Clara tersenyum.
"Biasanya lebih sibuk, Nyonya."
Elena menatapnya tidak percaya.
"Lebih?"
"Benar."
Clara mengambil gaun yang sudah disiapkan.
"Seorang Duchess bukan hanya istri seorang Duke."
"Dia adalah wajah keluarga tersebut."
Kalimat itu membuat Elena terdiam.
Wajah keluarga Noctis.
Sebuah peran yang cukup berat.
Terutama karena semua orang masih menganggapnya hanya seorang wanita yang menikah demi menyelamatkan keluarganya.
Siang itu, Elena menghadiri jamuan kecil bersama beberapa bangsawan wanita.
Senyuman menghiasi wajah mereka.
Namun Elena cukup lama berada di dunia bangsawan untuk mengetahui...
tidak semua senyuman adalah ketulusan.
"Lady Elena."
Seorang wanita muda mendekatinya.
Rambut keemasannya tersusun sempurna.
Wajahnya cantik.
Dan namanya cukup terkenal di kalangan bangsawan.
Lady Seraphine Valmont.
"Aku senang akhirnya bisa bertemu dengan Duchess Noctis."
Elena tersenyum sopan.
"Terima kasih."
Seraphine melirik cincin pernikahan di tangan Elena.
"Sungguh mengejutkan."
"Apa yang mengejutkan?"
"Duke Adrian."
Nada suaranya tetap lembut.
"Tidak banyak wanita yang berhasil membuatnya tertarik."
Elena memahami maksud tersembunyinya.
"Aku rasa Anda salah memahami sesuatu."
Seraphine menatapnya.
"Kami tidak menikah karena hal seperti itu."
Senyum Seraphine sedikit berubah.
"Oh?"
Elena tetap tenang.
"Pernikahan kami adalah kesepakatan."
Kejujuran itu membuat beberapa wanita di sekitar mereka terdiam.
Namun Elena tidak menyesal mengatakannya.
Ia tidak ingin membangun hubungan dengan kebohongan.
Malamnya...
Elena kembali ke mansion.
Namun bukannya menuju kamarnya, langkahnya membawa dirinya ke tempat yang selalu menarik perhatiannya.
Rumah kaca tua.
Sejak menemukan tempat itu, ia hampir setiap hari datang ke sana.
Bukan karena penasaran.
Tapi karena ia merasa...
tempat itu membutuhkan seseorang.
Ia membuka pintu perlahan.
Udara lembap menyambutnya.
Beberapa tanaman sudah mulai menunjukkan perubahan.
Daun yang sebelumnya layu mulai berdiri.
Tanah yang kering mulai kembali subur.
Elena tersenyum kecil.
"Setidaknya kalian masih ingin bertahan."
Ia berjongkok di depan sebuah tanaman anggrek.
Berbeda dari tanaman lain...
anggrek itu terlihat paling rapuh.
Batangnya tipis.
Daunnya pucat.
Namun Elena bisa merasakan sesuatu.
Tanaman ini berbeda.
"Kau selalu datang ke sini."
Suara rendah membuat Elena menoleh.
Adrian berdiri di pintu rumah kaca.
Untuk sesaat, Elena terdiam.
Karena selama ini...
Adrian hampir tidak pernah masuk.
"Aku pikir kau tidak menyukai tempat ini."
Adrian berjalan masuk perlahan.
"Aku tidak mengatakan itu."
"Kau hanya melarangku masuk."
"Karena tempat ini berbahaya."
Elena mengerutkan kening.
"Berbahaya?"
Adrian berhenti di dekat meja tanaman.
Tatapannya jatuh pada anggrek yang sedang Elena rawat.
"Beberapa hal lebih baik dibiarkan terkubur."
Elena melihat bunga itu.
"Lalu kenapa kau membiarkanku datang?"
Pertanyaan itu membuat Adrian diam.
Karena ia sendiri tidak tahu jawabannya.
Seharusnya ia menghentikan Elena.
Seharusnya ia mengambil kembali kunci rumah kaca.
Seharusnya ia menjaga jarak.
Tapi setiap kali melihat wanita itu berada di sana...
ia justru merasa tempat itu kembali memiliki kehidupan.
"Yang Mulia."
Elena berdiri.
"Aku ingin bertanya."
Adrian menatapnya.
"Apa?"
"Kenapa rumah kaca ini ditinggalkan?"
Keheningan.
Untuk beberapa detik, hanya suara angin yang terdengar.
Lalu Adrian menjawab,
"Karena orang terakhir yang merawatnya..."
Ia berhenti.
Tatapan matanya berubah sedikit.
"...sudah tidak ada."
Elena tidak bertanya lagi.
Ia mengerti.
Ada luka di balik tempat ini.
Luka yang belum sembuh.
Sebelum pergi, Adrian berhenti di pintu.
"Elena."
Ini pertama kalinya ia memanggil namanya tanpa gelar.
Elena sedikit terkejut.
"Ya?"
"Jangan terlalu dekat dengan anggrek itu."
Elena menatap bunga kecil tersebut.
"Kenapa?"
Adrian tidak menjawab.
Ia hanya berkata,
"Karena itu bukan anggrek biasa."
Lalu ia pergi.
Meninggalkan Elena dengan satu pertanyaan baru.
Jika anggrek itu begitu penting...
mengapa Adrian membiarkannya hampir mati?
Dan rahasia apa yang sebenarnya disimpan oleh keluarga Noctis?
Bersambung...
Comments
Post a Comment