Tuesday, July 21, 2026

CHASING AURORA 6

 

CHASING AURORA

Bab 6 — Perasaan yang Tidak Masuk Laporan

Kael Ardhana percaya semua hal dalam hidup bisa dijelaskan.

Keputusan bisnis.

Risiko proyek.

Perilaku konsumen.

Bahkan alasan seseorang memilih satu produk dibanding produk lain.

Semua memiliki pola.

Semua memiliki data.

Semua bisa dianalisis.

Setidaknya...

itu yang dia percaya.

Sampai pagi itu.

Saat dia melihat Ayla Renata tertawa dengan pria lain di ruang meeting.

Dan untuk alasan yang sangat tidak profesional...

dia merasa terganggu.


"Siapa dia?"

Pertanyaan itu keluar begitu saja.

Renzo Kaito yang berdiri di sampingnya langsung menoleh.

"Siapa?"

Kael menyadari kesalahannya.

Dia melihat ke arah meja meeting.

Ayla sedang berbicara dengan seorang pria bernama Julian.

Klien baru untuk proyek Aurora.

Julian terkenal sebagai creative consultant muda yang sering bekerja dengan brand besar.

Dan yang paling mengganggu Kael:

Ayla terlihat nyaman berbicara dengannya.

Terlalu nyaman.

"Klien."

Jawab Kael singkat.

Renzo menahan senyum.

"Ah."

"Apa?"

"Tidak apa-apa."

"Kamu tersenyum."

"Saya hanya menemukan sesuatu yang menarik."

Kael menatapnya.

"Saya tidak suka nada itu."

Renzo memasukkan tangan ke saku.

"Selama lima tahun saya mengenal kamu, tidak pernah sekalipun kamu bertanya siapa seseorang hanya karena orang itu berbicara dengan rekan kerja."

"Itu observasi yang tidak relevan."

"Lucu."

"Apa?"

"Kamu mulai bicara seperti Ayla."

Kael langsung diam.

Dan itu membuat Renzo semakin tertawa.


Di ruang meeting.

Ayla sedang menjelaskan konsep kampanye.

Julian mendengarkan dengan antusias.

"Saya suka cara Anda melihat brand ini."

Ayla tersenyum.

"Terima kasih."

"Jarang ada orang yang bisa membuat strategi terasa seperti cerita."

"Karena menurut saya, bisnis juga tentang manusia."

Julian mengangguk.

"Saya mengerti kenapa Kael memilih Anda."

Ayla sedikit terkejut.

"Kael memilih saya?"

"Ya. Biasanya dia tidak mudah percaya pada ide orang lain."

Ayla tersenyum kecil.

"Dia hanya terlalu suka mengoreksi."

Julian tertawa.

"Saya rasa itu caranya peduli."

Ayla terdiam sebentar.

Kalimat itu terasa familiar.


Setelah meeting selesai, Kael langsung memberikan beberapa catatan.

"Bagian presentasi terakhir perlu diperbaiki."

Ayla menerima tablet.

"Oke."

Dia membaca.

Lalu melihatnya.

"Kamu tidak bilang bagus dulu?"

Kael berhenti.

"Perlu?"

"Iya."

"Kenapa?"

"Karena manusia suka dihargai sebelum dikritik."

Kael memikirkan itu.

Lalu berkata:

"Bagus."

Ayla berkedip.

"Hah?"

"Presentasinya bagus."

"Kamu serius?"

"Ya."

Ayla tersenyum.

"Kenapa rasanya seperti saya baru mendapat penghargaan?"

"Karena saya jarang mengatakan itu."

"Tepat."

Kael menatapnya.

"Baik."

"Apa?"

"Saya akan lebih sering mengatakan."

Ayla terdiam.

Karena dia tahu...

Kael tidak bercanda.


Siang hari, Ayla dan Julian makan siang untuk membahas konsep tambahan.

Kael melihat mereka dari kejauhan.

Dan dia tidak menyukai perasaan itu.

Bukan karena Julian.

Bukan karena pekerjaan.

Tapi karena Ayla tertawa dengan cara yang sama seperti ketika bersamanya.

Atau...

mungkin tidak sama.

Mungkin berbeda.

Dan pikiran itu membuatnya semakin tidak nyaman.

"Kael."

Dia menoleh.

Renzo.

"Jangan bilang kamu masih memperhatikan."

"Saya tidak."

"Kamu sedang melihat mereka."

"Saya sedang melihat situasi proyek."

Renzo melihat meja mereka.

"Situasi proyek sedang makan pasta?"

Kael diam.

Renzo tersenyum.

"Menarik."

"Apa?"

"Kamu cemburu."

"Tidak."

"Jawaban tercepatmu."

"Itu fakta."

"Kalau begitu kenapa kamu terlihat seperti ingin memindahkan Julian ke divisi lain?"

Kael mengerutkan dahi.

"Saya tidak berpikir seperti itu."

Renzo tertawa.

"Belum."


Sore hari, hujan turun deras.

Ayla keluar kantor tanpa membawa payung.

"Tentu saja."

Dia melihat langit.

"Kenapa setiap kali aku punya masalah, cuaca ikut drama?"

"Ayla."

Dia menoleh.

Kael berdiri dengan payung hitam di tangannya.

"Kamu belum pulang?"

"Saya bisa bertanya hal yang sama."

Ayla tersenyum.

"Jawaban kantor."

Kael hampir tersenyum.

"Kamu belajar cepat."

Mereka berdiri di bawah payung yang sama.

Jarak mereka dekat.

Terlalu dekat.

Ayla menyadarinya.

Kael juga.

Tapi tidak ada yang bergerak.


"Kamu tahu?"

Ayla berkata pelan.

"Apa?"

"Dulu aku pikir kamu tidak punya perasaan."

Kael melihat jalanan.

"Dan sekarang?"

"Masih."

Kael menoleh.

Ayla tertawa.

"Tapi sedikit lebih sedikit."

"Itu kemajuan kecil."

"Ya."

Hening.

Lalu Ayla berkata:

"Terima kasih sudah menunggu."

"Saya tidak menunggu."

"Kamu berdiri di sini dengan payung."

"Kebetulan."

"Kamu selalu punya alasan."

Kael diam.

Kemudian berkata:

"Mungkin."

Ayla menatapnya.

Itu bukan penyangkalan.


Malamnya, Kael duduk di apartemennya.

Laptop terbuka.

Laporan proyek ada di depan.

Tapi dia tidak membaca.

Dia hanya memikirkan satu hal.

Kenapa dia merasa lega ketika Ayla tertawa bersamanya?

Kenapa dia merasa tidak nyaman ketika orang lain membuatnya tertawa?

Kenapa dia mengingat hal kecil seperti:

Ayla tidak suka kopi terlalu pahit.

Ayla selalu mengetuk meja saat berpikir.

Ayla selalu mengatakan "aku baik-baik saja" ketika sebenarnya lelah.

Kael menutup laptop.

Untuk pertama kalinya...

dia menghadapi sesuatu yang tidak ada dalam laporan.

Tidak ada angka.

Tidak ada strategi.

Tidak ada solusi cepat.

Hanya satu kesimpulan yang sangat mengganggu:

Ayla Renata mulai menjadi bagian dari pikirannya.

Dan dia tidak tahu kapan itu terjadi.


Besok pagi, Kael akan menghadapi masalah baru.

Bukan proyek Aurora.

Bukan klien.

Bukan bisnis.

Melainkan fakta bahwa Ayla akan pergi makan malam dengan Julian untuk membahas proyek...

dan dia tidak suka sama sekali.

 

0 comments:

Post a Comment

 

Blognya Alviana Anugrah Template by Ipietoon Cute Blog Design