CHASING AURORA
Bab 6 —
Perasaan yang Tidak Masuk Laporan
Kael Ardhana
percaya semua hal dalam hidup bisa dijelaskan.
Keputusan bisnis.
Risiko proyek.
Perilaku konsumen.
Bahkan alasan
seseorang memilih satu produk dibanding produk lain.
Semua memiliki
pola.
Semua memiliki
data.
Semua bisa
dianalisis.
Setidaknya...
itu yang dia
percaya.
Sampai pagi itu.
Saat dia melihat
Ayla Renata tertawa dengan pria lain di ruang meeting.
Dan untuk alasan
yang sangat tidak profesional...
dia merasa
terganggu.
"Siapa
dia?"
Pertanyaan itu
keluar begitu saja.
Renzo Kaito yang
berdiri di sampingnya langsung menoleh.
"Siapa?"
Kael menyadari
kesalahannya.
Dia melihat ke
arah meja meeting.
Ayla sedang
berbicara dengan seorang pria bernama Julian.
Klien baru untuk
proyek Aurora.
Julian terkenal
sebagai creative consultant muda yang sering bekerja dengan brand besar.
Dan yang paling
mengganggu Kael:
Ayla terlihat
nyaman berbicara dengannya.
Terlalu nyaman.
"Klien."
Jawab Kael
singkat.
Renzo menahan
senyum.
"Ah."
"Apa?"
"Tidak
apa-apa."
"Kamu
tersenyum."
"Saya hanya
menemukan sesuatu yang menarik."
Kael menatapnya.
"Saya tidak
suka nada itu."
Renzo memasukkan
tangan ke saku.
"Selama lima
tahun saya mengenal kamu, tidak pernah sekalipun kamu bertanya siapa seseorang
hanya karena orang itu berbicara dengan rekan kerja."
"Itu
observasi yang tidak relevan."
"Lucu."
"Apa?"
"Kamu mulai
bicara seperti Ayla."
Kael langsung
diam.
Dan itu membuat
Renzo semakin tertawa.
Di ruang meeting.
Ayla sedang
menjelaskan konsep kampanye.
Julian
mendengarkan dengan antusias.
"Saya suka
cara Anda melihat brand ini."
Ayla tersenyum.
"Terima
kasih."
"Jarang ada
orang yang bisa membuat strategi terasa seperti cerita."
"Karena
menurut saya, bisnis juga tentang manusia."
Julian mengangguk.
"Saya
mengerti kenapa Kael memilih Anda."
Ayla sedikit
terkejut.
"Kael memilih
saya?"
"Ya. Biasanya
dia tidak mudah percaya pada ide orang lain."
Ayla tersenyum
kecil.
"Dia hanya
terlalu suka mengoreksi."
Julian tertawa.
"Saya rasa
itu caranya peduli."
Ayla terdiam
sebentar.
Kalimat itu terasa
familiar.
Setelah meeting
selesai, Kael langsung memberikan beberapa catatan.
"Bagian
presentasi terakhir perlu diperbaiki."
Ayla menerima
tablet.
"Oke."
Dia membaca.
Lalu melihatnya.
"Kamu tidak
bilang bagus dulu?"
Kael berhenti.
"Perlu?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Karena
manusia suka dihargai sebelum dikritik."
Kael memikirkan
itu.
Lalu berkata:
"Bagus."
Ayla berkedip.
"Hah?"
"Presentasinya
bagus."
"Kamu
serius?"
"Ya."
Ayla tersenyum.
"Kenapa
rasanya seperti saya baru mendapat penghargaan?"
"Karena saya
jarang mengatakan itu."
"Tepat."
Kael menatapnya.
"Baik."
"Apa?"
"Saya akan
lebih sering mengatakan."
Ayla terdiam.
Karena dia tahu...
Kael tidak
bercanda.
Siang hari, Ayla
dan Julian makan siang untuk membahas konsep tambahan.
Kael melihat
mereka dari kejauhan.
Dan dia tidak
menyukai perasaan itu.
Bukan karena
Julian.
Bukan karena
pekerjaan.
Tapi karena Ayla
tertawa dengan cara yang sama seperti ketika bersamanya.
Atau...
mungkin tidak
sama.
Mungkin berbeda.
Dan pikiran itu
membuatnya semakin tidak nyaman.
"Kael."
Dia menoleh.
Renzo.
"Jangan
bilang kamu masih memperhatikan."
"Saya
tidak."
"Kamu sedang
melihat mereka."
"Saya sedang
melihat situasi proyek."
Renzo melihat meja
mereka.
"Situasi
proyek sedang makan pasta?"
Kael diam.
Renzo tersenyum.
"Menarik."
"Apa?"
"Kamu
cemburu."
"Tidak."
"Jawaban
tercepatmu."
"Itu
fakta."
"Kalau begitu
kenapa kamu terlihat seperti ingin memindahkan Julian ke divisi lain?"
Kael mengerutkan
dahi.
"Saya tidak
berpikir seperti itu."
Renzo tertawa.
"Belum."
Sore hari, hujan
turun deras.
Ayla keluar kantor
tanpa membawa payung.
"Tentu
saja."
Dia melihat
langit.
"Kenapa
setiap kali aku punya masalah, cuaca ikut drama?"
"Ayla."
Dia menoleh.
Kael berdiri
dengan payung hitam di tangannya.
"Kamu belum
pulang?"
"Saya bisa
bertanya hal yang sama."
Ayla tersenyum.
"Jawaban
kantor."
Kael hampir
tersenyum.
"Kamu belajar
cepat."
Mereka berdiri di
bawah payung yang sama.
Jarak mereka
dekat.
Terlalu dekat.
Ayla menyadarinya.
Kael juga.
Tapi tidak ada
yang bergerak.
"Kamu
tahu?"
Ayla berkata
pelan.
"Apa?"
"Dulu aku
pikir kamu tidak punya perasaan."
Kael melihat
jalanan.
"Dan
sekarang?"
"Masih."
Kael menoleh.
Ayla tertawa.
"Tapi sedikit
lebih sedikit."
"Itu kemajuan
kecil."
"Ya."
Hening.
Lalu Ayla berkata:
"Terima kasih
sudah menunggu."
"Saya tidak
menunggu."
"Kamu berdiri
di sini dengan payung."
"Kebetulan."
"Kamu selalu
punya alasan."
Kael diam.
Kemudian berkata:
"Mungkin."
Ayla menatapnya.
Itu bukan
penyangkalan.
Malamnya, Kael
duduk di apartemennya.
Laptop terbuka.
Laporan proyek ada
di depan.
Tapi dia tidak
membaca.
Dia hanya
memikirkan satu hal.
Kenapa dia merasa
lega ketika Ayla tertawa bersamanya?
Kenapa dia merasa
tidak nyaman ketika orang lain membuatnya tertawa?
Kenapa dia
mengingat hal kecil seperti:
Ayla tidak suka
kopi terlalu pahit.
Ayla selalu
mengetuk meja saat berpikir.
Ayla selalu
mengatakan "aku baik-baik saja" ketika sebenarnya lelah.
Kael menutup
laptop.
Untuk pertama
kalinya...
dia menghadapi
sesuatu yang tidak ada dalam laporan.
Tidak ada angka.
Tidak ada
strategi.
Tidak ada solusi
cepat.
Hanya satu
kesimpulan yang sangat mengganggu:
Ayla Renata mulai
menjadi bagian dari pikirannya.
Dan dia tidak tahu
kapan itu terjadi.
Besok pagi, Kael
akan menghadapi masalah baru.
Bukan proyek
Aurora.
Bukan klien.
Bukan bisnis.
Melainkan fakta
bahwa Ayla akan pergi makan malam dengan Julian untuk membahas proyek...
dan dia tidak suka
sama sekali.
0 comments:
Post a Comment