Tuesday, July 21, 2026

CHASING AURORA 35 END

 

CHASING AURORA

Bab 35 — Pulang ke Tempat yang Sama

Dua tahun.

Ternyata waktu bisa berjalan sangat cepat ketika seseorang sibuk mengejar mimpi.


Dua tahun lalu...

Kael berdiri di bandara dengan perasaan takut kehilangan.

Hari ini...

dia berdiri di tempat yang sama.

Tapi perasaannya berbeda.


Karena dia tidak menunggu seseorang yang mungkin pergi.

Dia menunggu seseorang yang pasti kembali.


"Aku tidak percaya kamu masih datang lebih awal."

Suara itu membuat Kael menoleh.

Ayla berdiri beberapa meter darinya.

Dengan koper kecil.

Dengan senyum yang sama.

Tapi dengan aura yang jauh lebih percaya diri.


Kael tersenyum.

"Saya tidak ingin terlambat."

Ayla mengangkat alis.

"Kamu datang satu jam lebih awal."

"Ya."

"Itu bukan datang tepat waktu."

"Saya tahu."

"Lalu?"

"Saya ingin memastikan."

"Memastikan apa?"

Kael melihatnya.

"Kamu benar-benar pulang."


Ayla terdiam sebentar.

Lalu tersenyum.


"Kamu masih agak berlebihan."

"Saya belajar dari kamu."

"Aku tidak pernah datang satu jam lebih awal."

"Kamu pernah membuat saya menunggu tiga puluh menit."

"Itu sekali."

"Masih tercatat."


Ayla tertawa.

Dan Kael merasa...

ada hal-hal yang tidak berubah.

Syukurlah.


Kepulangan Ayla dirayakan seluruh tim Aurora.

Atau lebih tepatnya...

seluruh tim Aurora membuat acara kecil yang terlalu besar.


"Kenapa ada banner?"

Ayla melihat dekorasi kantor.

Mika tersenyum.

"Karena kamu pulang."

"Ini berlebihan."

Renzo menggeleng.

"Tidak."

"Kenapa?"

"Karena kalau untuk Kael, dia akan membuat presentasi."

Kael langsung menjawab:

"Itu tidak benar."

Semua melihatnya.

Hening.

Ayla tertawa.

"Benar."


Malam itu...

setelah semua orang pulang...

Kael mengajak Ayla ke rooftop Aurora.

Tempat mereka sering berbicara tentang masa depan.


"Kamu masih ingat tempat ini?"

Ayla melihat pemandangan kota.

"Bagaimana bisa lupa?"

"Dulu kamu bilang Aurora terlalu serius."

"Memang."

"Lalu?"

"Sekarang?"

Ayla tersenyum.

"Sekarang masih serius."

Kael mengangguk.

"Saya tahu."

"Tapi lebih hangat."


Kael diam.

Lalu mengambil kotak kecil.

Ayla langsung melihat.

"Kael."

"Ya?"

"Jangan bilang..."

"Saya tidak membawa spreadsheet."

Ayla tertawa.

"Syukurlah."


Kotak itu dibuka.

Bukan cincin besar.

Bukan sesuatu yang berlebihan.

Hanya sebuah cincin sederhana.


"Ayla."

Untuk pertama kalinya malam itu...

Kael terlihat gugup.

"Saya dulu berpikir hidup harus punya rencana yang sempurna."

Dia menarik napas.

"Ternyata tidak."


Ayla mendengarkan.

"Karena hal terbaik dalam hidup saya tidak pernah masuk rencana."

Kael tersenyum.

"Termasuk kamu."


Ayla tersenyum.

"Kamu latihan?"

"Ya."

"Berapa lama?"

"Seminggu."

"Seminggu?"

"Ya."

Ayla tertawa.

"Untuk satu kalimat?"

"Kalimat penting."


Kael melanjutkan.

"Saya tidak berjanji hidup kita akan selalu mudah."

"Tapi saya berjanji..."

"Saya akan selalu memilih kamu."


Ayla menatapnya.

Dulu dia pernah bertanya:

Apakah Kael akan menjadi tempat pulangnya?

Sekarang dia sudah tahu jawabannya.


"Kael."

"Ya?"

"Aku punya satu syarat."

Kael langsung serius.

"Apa?"

"Tidak boleh membuat spreadsheet pernikahan."


Kael diam.

Ayla menyipitkan mata.

"Kael."

"Saya hanya punya daftar kecil."

"Berapa halaman?"

"Delapan."


Ayla tertawa sampai hampir menangis.

Dan Kael akhirnya ikut tertawa.


"Serius."

Ayla menggenggam tangannya.

"Aku mau."


Malam itu...

di atas gedung Aurora...

dua orang yang dulu takut kehilangan arah...

akhirnya menemukan tempat mereka.

Bukan karena mereka berhenti bermimpi.

Tapi karena mereka menemukan seseorang yang berjalan bersama mereka.


Beberapa tahun lalu, Kael membangun Aurora untuk membuktikan sesuatu.

Bahwa dia bisa berdiri sendiri.

Tapi sekarang dia tahu...

hal terbesar yang pernah dia bangun bukan perusahaan.

Melainkan kehidupan yang ingin dia jalani.


Dan Ayla?

Dia tidak lagi menjadi seseorang yang berdiri di belakang Kael.

Dia berdiri di sampingnya.


Karena cinta mereka tidak dimulai dari seseorang yang menyelamatkan seseorang.

Tapi dari dua orang yang belajar:

Tidak semua perjalanan harus ditempuh sendirian.

Kadang, tujuan terbaik adalah seseorang yang selalu membuatmu ingin pulang.

SELESAI

 

0 comments:

Post a Comment

 

Blognya Alviana Anugrah Template by Ipietoon Cute Blog Design