CHASING AURORA
Bab 35 — Pulang
ke Tempat yang Sama
Dua tahun.
Ternyata waktu
bisa berjalan sangat cepat ketika seseorang sibuk mengejar mimpi.
Dua tahun lalu...
Kael berdiri di
bandara dengan perasaan takut kehilangan.
Hari ini...
dia berdiri di
tempat yang sama.
Tapi perasaannya
berbeda.
Karena dia tidak
menunggu seseorang yang mungkin pergi.
Dia menunggu
seseorang yang pasti kembali.
"Aku tidak
percaya kamu masih datang lebih awal."
Suara itu membuat
Kael menoleh.
Ayla berdiri
beberapa meter darinya.
Dengan koper
kecil.
Dengan senyum yang
sama.
Tapi dengan aura
yang jauh lebih percaya diri.
Kael tersenyum.
"Saya tidak
ingin terlambat."
Ayla mengangkat
alis.
"Kamu datang
satu jam lebih awal."
"Ya."
"Itu bukan
datang tepat waktu."
"Saya
tahu."
"Lalu?"
"Saya ingin
memastikan."
"Memastikan
apa?"
Kael melihatnya.
"Kamu
benar-benar pulang."
Ayla terdiam
sebentar.
Lalu tersenyum.
"Kamu masih
agak berlebihan."
"Saya belajar
dari kamu."
"Aku tidak
pernah datang satu jam lebih awal."
"Kamu pernah
membuat saya menunggu tiga puluh menit."
"Itu
sekali."
"Masih
tercatat."
Ayla tertawa.
Dan Kael merasa...
ada hal-hal yang
tidak berubah.
Syukurlah.
Kepulangan Ayla
dirayakan seluruh tim Aurora.
Atau lebih
tepatnya...
seluruh tim Aurora
membuat acara kecil yang terlalu besar.
"Kenapa ada
banner?"
Ayla melihat
dekorasi kantor.
Mika tersenyum.
"Karena kamu
pulang."
"Ini
berlebihan."
Renzo menggeleng.
"Tidak."
"Kenapa?"
"Karena kalau
untuk Kael, dia akan membuat presentasi."
Kael langsung
menjawab:
"Itu tidak
benar."
Semua melihatnya.
Hening.
Ayla tertawa.
"Benar."
Malam itu...
setelah semua
orang pulang...
Kael mengajak Ayla
ke rooftop Aurora.
Tempat mereka
sering berbicara tentang masa depan.
"Kamu masih
ingat tempat ini?"
Ayla melihat
pemandangan kota.
"Bagaimana
bisa lupa?"
"Dulu kamu
bilang Aurora terlalu serius."
"Memang."
"Lalu?"
"Sekarang?"
Ayla tersenyum.
"Sekarang
masih serius."
Kael mengangguk.
"Saya
tahu."
"Tapi lebih
hangat."
Kael diam.
Lalu mengambil
kotak kecil.
Ayla langsung
melihat.
"Kael."
"Ya?"
"Jangan
bilang..."
"Saya tidak
membawa spreadsheet."
Ayla tertawa.
"Syukurlah."
Kotak itu dibuka.
Bukan cincin
besar.
Bukan sesuatu yang
berlebihan.
Hanya sebuah
cincin sederhana.
"Ayla."
Untuk pertama
kalinya malam itu...
Kael terlihat
gugup.
"Saya dulu
berpikir hidup harus punya rencana yang sempurna."
Dia menarik napas.
"Ternyata
tidak."
Ayla mendengarkan.
"Karena hal
terbaik dalam hidup saya tidak pernah masuk rencana."
Kael tersenyum.
"Termasuk
kamu."
Ayla tersenyum.
"Kamu
latihan?"
"Ya."
"Berapa
lama?"
"Seminggu."
"Seminggu?"
"Ya."
Ayla tertawa.
"Untuk satu
kalimat?"
"Kalimat
penting."
Kael melanjutkan.
"Saya tidak
berjanji hidup kita akan selalu mudah."
"Tapi saya
berjanji..."
"Saya akan
selalu memilih kamu."
Ayla menatapnya.
Dulu dia pernah
bertanya:
Apakah Kael akan
menjadi tempat pulangnya?
Sekarang dia sudah
tahu jawabannya.
"Kael."
"Ya?"
"Aku punya
satu syarat."
Kael langsung
serius.
"Apa?"
"Tidak boleh
membuat spreadsheet pernikahan."
Kael diam.
Ayla menyipitkan
mata.
"Kael."
"Saya hanya
punya daftar kecil."
"Berapa
halaman?"
"Delapan."
Ayla tertawa
sampai hampir menangis.
Dan Kael akhirnya
ikut tertawa.
"Serius."
Ayla menggenggam
tangannya.
"Aku
mau."
Malam itu...
di atas gedung
Aurora...
dua orang yang
dulu takut kehilangan arah...
akhirnya menemukan
tempat mereka.
Bukan karena
mereka berhenti bermimpi.
Tapi karena mereka
menemukan seseorang yang berjalan bersama mereka.
Beberapa tahun
lalu, Kael membangun Aurora untuk membuktikan sesuatu.
Bahwa dia bisa
berdiri sendiri.
Tapi sekarang dia
tahu...
hal terbesar yang
pernah dia bangun bukan perusahaan.
Melainkan
kehidupan yang ingin dia jalani.
Dan Ayla?
Dia tidak lagi
menjadi seseorang yang berdiri di belakang Kael.
Dia berdiri di
sampingnya.
Karena cinta
mereka tidak dimulai dari seseorang yang menyelamatkan seseorang.
Tapi dari dua
orang yang belajar:
Tidak semua
perjalanan harus ditempuh sendirian.
Kadang, tujuan
terbaik adalah seseorang yang selalu membuatmu ingin pulang.
SELESAI
0 comments:
Post a Comment