Tuesday, July 21, 2026

Legenda Ular Putih Bagian 6

 

Bagian 6 (Bagian Terakhir): Putra Bai Suzhen Menyelamatkan Ibunya

Tahun demi tahun berlalu.

Di bawah bayangan Pagoda Leifeng, Bai Suzhen tetap menjalani hukumannya. Di ruang batu yang gelap dan sunyi, ia tidak dapat melihat matahari, mendengar suara ombak Danau Barat, ataupun memeluk putra yang sangat dirindukannya.

Namun, ia tidak pernah kehilangan harapan.

Setiap hari ia bermeditasi dan berdoa agar suatu saat dapat bertemu kembali dengan keluarganya.

Di luar pagoda, dunia terus berubah.

Putra Bai Suzhen, Xu Mengjiao, tumbuh menjadi seorang pemuda yang cerdas, sopan, dan rajin belajar. Ia dibesarkan oleh Xiao Qing, yang menyamar sebagai bibinya. Xiao Qing tidak pernah menceritakan asal-usul Mengjiao saat ia masih kecil. Ia hanya mengatakan bahwa kedua orang tuanya adalah orang-orang yang sangat baik.

Mengjiao tumbuh dengan cita-cita menjadi seorang pejabat yang jujur agar dapat membantu rakyat kecil, seperti yang pernah dilakukan ayah dan ibunya.


Ketika usianya menginjak dua puluh tahun, Mengjiao mengikuti ujian kekaisaran, ujian paling bergengsi di negeri itu. Ribuan pemuda dari seluruh Tiongkok datang untuk membuktikan kemampuan mereka.

Selama berbulan-bulan, Mengjiao belajar tanpa mengenal lelah.

Ia mengingat pesan Xiao Qing.

"Orang yang berilmu harus menggunakan pengetahuannya untuk menolong sesama, bukan untuk mencari kemuliaan bagi dirinya sendiri."

Hari ujian pun tiba.

Dengan tenang, Mengjiao menjawab setiap pertanyaan. Pengetahuannya yang luas dan pikirannya yang jernih membuat para penguji terkesan.

Beberapa minggu kemudian, hasil ujian diumumkan.

Nama Xu Mengjiao berada di peringkat pertama.

Seluruh kota bersorak.

Ia diangkat menjadi pejabat muda kerajaan, terkenal karena kecerdasannya dan sifatnya yang rendah hati.

Namun di tengah kebahagiaan itu, Xiao Qing merasa waktunya telah tiba.


Suatu malam, Xiao Qing mengajak Mengjiao berjalan menuju Danau Barat.

Mereka berhenti di depan Pagoda Leifeng yang menjulang tinggi.

"Bibiku," kata Mengjiao, "mengapa kita datang ke sini?"

Xiao Qing menarik napas panjang.

"Ada sesuatu yang selama ini kusembunyikan darimu."

Ia lalu menceritakan semuanya.

Tentang Bai Suzhen yang sebenarnya adalah siluman ular putih.

Tentang Xu Xian yang mencintainya.

Tentang perjuangan Bai Suzhen mencari Ramuan Keabadian.

Tentang pertempuran di Kuil Gunung Emas.

Dan tentang bagaimana ibunya dikurung di bawah Pagoda Leifeng demi melindungi keluarganya.

Mengjiao terdiam.

Air matanya perlahan mengalir.

"Jadi... ibuku masih hidup?"

Xiao Qing mengangguk pelan.

"Ia menunggumu selama puluhan tahun."


Keesokan harinya, Mengjiao mengenakan pakaian kebesarannya sebagai pejabat kerajaan. Ia membawa persembahan sederhana berupa bunga, dupa, dan makanan kesukaan ibunya.

Di depan Pagoda Leifeng, ia berlutut.

"Ibu..."

Suaranya bergetar.

"Maafkan aku... Aku baru mengetahui semuanya."

Ia menundukkan kepala hingga menyentuh tanah.

"Aku tidak datang sebagai pejabat kerajaan. Aku datang sebagai anak yang ingin bertemu ibunya."

Tangisnya pecah.

Air mata Mengjiao jatuh ke tanah di depan pagoda.

Konon, langit tersentuh oleh bakti dan ketulusan hati seorang anak kepada ibunya.

Tiba-tiba angin bertiup lembut.

Awan hitam yang selama bertahun-tahun menyelimuti pagoda perlahan menghilang.

Tanah mulai bergetar.

Retakan-retakan kecil muncul di dasar pagoda.

Cahaya putih memancar dari dalamnya.

Segel yang dibuat Fa Hai selama puluhan tahun mulai melemah.

Pada saat yang sama, Fa Hai yang sedang bermeditasi merasakan perubahan itu.

Ia segera datang ke Pagoda Leifeng.

Saat melihat Mengjiao masih berlutut sambil menangis, wajahnya berubah.

Ia menyadari bahwa bukan kekuatan gaib yang menghancurkan segel itu.

Melainkan kasih sayang seorang anak kepada ibunya.

Fa Hai menutup mata.

Selama bertahun-tahun ia percaya bahwa dirinya menjaga keseimbangan dunia.

Namun kini ia melihat sesuatu yang tidak pernah ia pahami sepenuhnya.

Cinta, pengorbanan, dan bakti dapat melampaui hukum yang paling kuat sekalipun.

Ia menghela napas panjang.

"Mungkin... selama ini aku terlalu keras."

Fa Hai mengangkat tongkat sucinya.

Dengan satu ayunan perlahan, cahaya emas yang mengikat Bai Suzhen lenyap.

Segel di bawah Pagoda Leifeng akhirnya hancur.

Dari dalam cahaya putih yang berkilauan, muncullah seorang perempuan berpakaian putih.

Wajahnya tetap cantik seperti puluhan tahun sebelumnya, tetapi matanya dipenuhi air mata.

"Bai Suzhen..."

Xu Mengjiao berlari memeluk ibunya.

"Ibu..."

Untuk pertama kalinya sejak ia lahir, Bai Suzhen dapat memeluk putranya.

Keduanya menangis tanpa mampu mengucapkan sepatah kata pun.

Tak lama kemudian, Xu Xian yang telah menjadi seorang biksu tua juga datang ke pagoda setelah mendengar kabar tersebut.

Saat mata mereka bertemu, waktu seolah berhenti.

Xu Xian melangkah perlahan.

"Aku... telah menunggu hari ini begitu lama."

Bai Suzhen tersenyum sambil menahan tangis.

"Aku tidak pernah menyalahkanmu."

Xu Xian menundukkan kepala.

"Akulah yang seharusnya meminta maaf. Aku membiarkan rasa takut mengalahkan kepercayaanku."

Bai Suzhen menggeleng.

"Yang penting... kita bisa bertemu lagi."

Fa Hai berdiri beberapa langkah di belakang mereka.

Ia memberi hormat kepada Bai Suzhen.

"Maafkan aku."

Bai Suzhen membalas hormat itu.

"Semoga tidak ada lagi kebencian di antara kita."

Fa Hai pun meninggalkan Danau Barat dan memilih mengembara untuk memperdalam kebijaksanaan, menyadari bahwa hukum tanpa belas kasih dapat melukai orang yang tidak bersalah.

Sejak hari itu, Bai Suzhen, Xu Xian, dan Xu Mengjiao hidup bersama kembali. Mereka membuka apotek seperti dahulu, mengobati orang-orang tanpa membedakan kaya maupun miskin.

Xiao Qing tetap berada di sisi mereka sebagai sahabat dan keluarga.

Penduduk Hangzhou mengenang kisah mereka sebagai lambang cinta yang setia, pengorbanan yang tulus, dan bakti seorang anak kepada orang tuanya.

Hingga kini, Pagoda Leifeng di tepi Danau Barat masih dikaitkan dengan legenda ini. Banyak orang datang ke sana untuk mengenang kisah Bai Suzhen dan percaya bahwa cinta sejati, kesabaran, serta ketulusan hati pada akhirnya akan mengalahkan kebencian dan prasangka.


TAMAT


Berikut beberapa foto Pagoda Leifeng (Leifeng Pagoda) di tepi Danau Barat (West Lake), Hangzhou, Tiongkok:

https://www.revigorate.com/things-to-do-in-hangzhou-pt.html

 

https://www.emirates.com/sa/arabic/destinations/flights-to-hangzhou/


https://www.civitatis.com/es/hangzhou/pagoda-leifeng-museo-seda/


Fakta menarik tentang Pagoda Leifeng:

  • Pagoda ini berada di tepi selatan Danau Barat (West Lake) di kota Hangzhou, Provinsi Zhejiang, Tiongkok.
  • Pagoda asli dibangun pada tahun 975 M pada masa Kerajaan Wuyue.
  • Bangunan asli runtuh pada tahun 1924, sedangkan pagoda yang berdiri sekarang merupakan hasil rekonstruksi yang selesai pada 2002.
  • Dalam legenda Bai Suzhen (Legenda Ular Putih), inilah tempat Bai Suzhen disegel oleh Biksu Fa Hai setelah pertempuran di Kuil Jinshan. Karena itulah Pagoda Leifeng menjadi salah satu lokasi paling ikonik dalam cerita rakyat Tiongkok.

Pemandangan terbaik biasanya dinikmati saat matahari terbenam, sehingga muncul sebutan "Leifeng Pagoda in Evening Glow", salah satu dari Sepuluh Pemandangan Terkenal Danau Barat.

0 comments:

Post a Comment

 

Blognya Alviana Anugrah Template by Ipietoon Cute Blog Design