Bagian 6
(Bagian Terakhir): Putra Bai Suzhen Menyelamatkan Ibunya
Tahun demi tahun
berlalu.
Di bawah bayangan Pagoda
Leifeng, Bai Suzhen tetap menjalani hukumannya. Di ruang batu yang gelap
dan sunyi, ia tidak dapat melihat matahari, mendengar suara ombak Danau Barat,
ataupun memeluk putra yang sangat dirindukannya.
Namun, ia tidak
pernah kehilangan harapan.
Setiap hari ia
bermeditasi dan berdoa agar suatu saat dapat bertemu kembali dengan
keluarganya.
Di luar pagoda,
dunia terus berubah.
Putra Bai Suzhen, Xu
Mengjiao, tumbuh menjadi seorang pemuda yang cerdas, sopan, dan rajin
belajar. Ia dibesarkan oleh Xiao Qing, yang menyamar sebagai bibinya. Xiao Qing
tidak pernah menceritakan asal-usul Mengjiao saat ia masih kecil. Ia hanya
mengatakan bahwa kedua orang tuanya adalah orang-orang yang sangat baik.
Mengjiao tumbuh
dengan cita-cita menjadi seorang pejabat yang jujur agar dapat membantu rakyat
kecil, seperti yang pernah dilakukan ayah dan ibunya.
Ketika usianya
menginjak dua puluh tahun, Mengjiao mengikuti ujian kekaisaran, ujian paling
bergengsi di negeri itu. Ribuan pemuda dari seluruh Tiongkok datang untuk
membuktikan kemampuan mereka.
Selama
berbulan-bulan, Mengjiao belajar tanpa mengenal lelah.
Ia mengingat pesan
Xiao Qing.
"Orang
yang berilmu harus menggunakan pengetahuannya untuk menolong sesama, bukan
untuk mencari kemuliaan bagi dirinya sendiri."
Hari ujian pun
tiba.
Dengan tenang,
Mengjiao menjawab setiap pertanyaan. Pengetahuannya yang luas dan pikirannya
yang jernih membuat para penguji terkesan.
Beberapa minggu
kemudian, hasil ujian diumumkan.
Nama Xu
Mengjiao berada di peringkat pertama.
Seluruh kota
bersorak.
Ia diangkat
menjadi pejabat muda kerajaan, terkenal karena kecerdasannya dan sifatnya yang
rendah hati.
Namun di tengah
kebahagiaan itu, Xiao Qing merasa waktunya telah tiba.
Suatu malam, Xiao
Qing mengajak Mengjiao berjalan menuju Danau Barat.
Mereka berhenti di
depan Pagoda Leifeng yang menjulang tinggi.
"Bibiku,"
kata Mengjiao, "mengapa kita datang ke sini?"
Xiao Qing menarik
napas panjang.
"Ada sesuatu
yang selama ini kusembunyikan darimu."
Ia lalu
menceritakan semuanya.
Tentang Bai Suzhen
yang sebenarnya adalah siluman ular putih.
Tentang Xu Xian
yang mencintainya.
Tentang perjuangan
Bai Suzhen mencari Ramuan Keabadian.
Tentang
pertempuran di Kuil Gunung Emas.
Dan tentang
bagaimana ibunya dikurung di bawah Pagoda Leifeng demi melindungi keluarganya.
Mengjiao terdiam.
Air matanya
perlahan mengalir.
"Jadi...
ibuku masih hidup?"
Xiao Qing
mengangguk pelan.
"Ia
menunggumu selama puluhan tahun."
Keesokan harinya,
Mengjiao mengenakan pakaian kebesarannya sebagai pejabat kerajaan. Ia membawa
persembahan sederhana berupa bunga, dupa, dan makanan kesukaan ibunya.
Di depan Pagoda
Leifeng, ia berlutut.
"Ibu..."
Suaranya bergetar.
"Maafkan
aku... Aku baru mengetahui semuanya."
Ia menundukkan
kepala hingga menyentuh tanah.
"Aku tidak
datang sebagai pejabat kerajaan. Aku datang sebagai anak yang ingin bertemu
ibunya."
Tangisnya pecah.
Air mata Mengjiao
jatuh ke tanah di depan pagoda.
Konon, langit
tersentuh oleh bakti dan ketulusan hati seorang anak kepada ibunya.
Tiba-tiba angin
bertiup lembut.
Awan hitam yang
selama bertahun-tahun menyelimuti pagoda perlahan menghilang.
Tanah mulai
bergetar.
Retakan-retakan
kecil muncul di dasar pagoda.
Cahaya putih
memancar dari dalamnya.
Segel yang dibuat
Fa Hai selama puluhan tahun mulai melemah.
Pada saat yang
sama, Fa Hai yang sedang bermeditasi merasakan perubahan itu.
Ia segera datang
ke Pagoda Leifeng.
Saat melihat
Mengjiao masih berlutut sambil menangis, wajahnya berubah.
Ia menyadari bahwa
bukan kekuatan gaib yang menghancurkan segel itu.
Melainkan kasih
sayang seorang anak kepada ibunya.
Fa Hai menutup
mata.
Selama
bertahun-tahun ia percaya bahwa dirinya menjaga keseimbangan dunia.
Namun kini ia
melihat sesuatu yang tidak pernah ia pahami sepenuhnya.
Cinta,
pengorbanan, dan bakti dapat melampaui hukum yang paling kuat sekalipun.
Ia menghela napas
panjang.
"Mungkin...
selama ini aku terlalu keras."
Fa Hai mengangkat
tongkat sucinya.
Dengan satu ayunan
perlahan, cahaya emas yang mengikat Bai Suzhen lenyap.
Segel di bawah
Pagoda Leifeng akhirnya hancur.
Dari dalam cahaya
putih yang berkilauan, muncullah seorang perempuan berpakaian putih.
Wajahnya tetap
cantik seperti puluhan tahun sebelumnya, tetapi matanya dipenuhi air mata.
"Bai
Suzhen..."
Xu Mengjiao
berlari memeluk ibunya.
"Ibu..."
Untuk pertama
kalinya sejak ia lahir, Bai Suzhen dapat memeluk putranya.
Keduanya menangis
tanpa mampu mengucapkan sepatah kata pun.
Tak lama kemudian,
Xu Xian yang telah menjadi seorang biksu tua juga datang ke pagoda setelah
mendengar kabar tersebut.
Saat mata mereka
bertemu, waktu seolah berhenti.
Xu Xian melangkah
perlahan.
"Aku... telah
menunggu hari ini begitu lama."
Bai Suzhen
tersenyum sambil menahan tangis.
"Aku tidak
pernah menyalahkanmu."
Xu Xian
menundukkan kepala.
"Akulah yang
seharusnya meminta maaf. Aku membiarkan rasa takut mengalahkan
kepercayaanku."
Bai Suzhen
menggeleng.
"Yang
penting... kita bisa bertemu lagi."
Fa Hai berdiri
beberapa langkah di belakang mereka.
Ia memberi hormat
kepada Bai Suzhen.
"Maafkan
aku."
Bai Suzhen
membalas hormat itu.
"Semoga tidak
ada lagi kebencian di antara kita."
Fa Hai pun
meninggalkan Danau Barat dan memilih mengembara untuk memperdalam
kebijaksanaan, menyadari bahwa hukum tanpa belas kasih dapat melukai orang yang
tidak bersalah.
Sejak hari itu,
Bai Suzhen, Xu Xian, dan Xu Mengjiao hidup bersama kembali. Mereka membuka
apotek seperti dahulu, mengobati orang-orang tanpa membedakan kaya maupun
miskin.
Xiao Qing tetap
berada di sisi mereka sebagai sahabat dan keluarga.
Penduduk Hangzhou
mengenang kisah mereka sebagai lambang cinta yang setia, pengorbanan yang
tulus, dan bakti seorang anak kepada orang tuanya.
Hingga kini, Pagoda
Leifeng di tepi Danau Barat masih dikaitkan dengan legenda ini.
Banyak orang datang ke sana untuk mengenang kisah Bai Suzhen dan percaya bahwa
cinta sejati, kesabaran, serta ketulusan hati pada akhirnya akan mengalahkan
kebencian dan prasangka.
TAMAT
Berikut beberapa
foto Pagoda Leifeng (Leifeng Pagoda) di tepi Danau Barat (West Lake),
Hangzhou, Tiongkok:
https://www.revigorate.com/things-to-do-in-hangzhou-pt.html
https://www.emirates.com/sa/arabic/destinations/flights-to-hangzhou/
https://www.civitatis.com/es/hangzhou/pagoda-leifeng-museo-seda/
Fakta menarik
tentang Pagoda Leifeng:
- Pagoda ini berada di tepi selatan Danau
Barat (West Lake) di kota Hangzhou, Provinsi Zhejiang, Tiongkok.
- Pagoda asli dibangun pada tahun 975
M pada masa Kerajaan Wuyue.
- Bangunan asli runtuh pada tahun 1924,
sedangkan pagoda yang berdiri sekarang merupakan hasil rekonstruksi yang
selesai pada 2002.
- Dalam legenda Bai Suzhen (Legenda
Ular Putih), inilah tempat Bai Suzhen disegel oleh Biksu Fa Hai
setelah pertempuran di Kuil Jinshan. Karena itulah Pagoda Leifeng menjadi
salah satu lokasi paling ikonik dalam cerita rakyat Tiongkok.
Pemandangan
terbaik biasanya dinikmati saat matahari terbenam, sehingga muncul
sebutan "Leifeng Pagoda in Evening Glow", salah satu dari Sepuluh
Pemandangan Terkenal Danau Barat.
0 comments:
Post a Comment