CHASING AURORA
— AFTER STORY
Bab 37 — Suami
Bernama Kael Ardhana
Ayla Renata punya
satu kesimpulan setelah lima tahun menikah.
Menjadi istri Kael
Ardhana ternyata membutuhkan kemampuan khusus.
Bukan memasak.
Bukan mengatur
rumah.
Bukan menghadapi
keluarga besar.
Tapi...
sabar menghadapi
seseorang yang menganggap semua hal bisa dibuat menjadi rencana.
"Kael."
"Ya?"
"Kenapa ada
tabel di meja makan?"
Kael yang sedang
minum kopi berhenti.
"Itu bukan
tabel."
Ayla mengambil
kertas itu.
"Ini jelas
tabel."
"Ini
daftar."
"Judulnya
apa?"
Kael diam.
Ayla membaca.
Rencana Akhir
Pekan Berkualitas Bersama Ayla.
Ayla menatap
suaminya.
"Kael."
"Ya?"
"Kita sudah
menikah lima tahun."
"Saya
tahu."
"Kenapa kamu
masih membuat jadwal kencan?"
Kael terlihat
bingung.
"Karena
penting."
"Spontanitas
juga penting."
"Saya sudah
memasukkan spontanitas."
Ayla berkedip.
"Bagaimana
caranya?"
Kael menunjuk satu
bagian.
"Jam 16.00
sampai 17.00."
Ayla membaca.
Waktu spontan.
Ayla langsung
tertawa.
"Kael."
"Ya?"
"Kamu
menjadwalkan spontanitas."
"Benar."
"Itu
bertentangan."
"Saya tidak
melihat masalahnya."
Dan itulah Kael.
Pria yang bisa
membuat investor takut...
tapi tidak bisa
memenangkan perdebatan sederhana dengan istrinya.
Di Aurora, keadaan
tidak jauh berbeda.
"Bos
berubah."
Renzo berkata.
Mika mengangguk.
"Dulu dia
dingin."
"Sekarang?"
"Masih
dingin."
"Terus?"
"Tapi
sekarang dia membawa bekal makan siang dari istrinya."
Semua staf melihat
Kael masuk kantor.
Dengan kotak
makan.
Salah satu staf
baru berbisik:
"Itu
benar?"
"Apa?"
"Pak Kael
membawa bekal?"
Mika mengangguk.
"Ya."
"Siapa yang
membuat?"
Semua menjawab:
"Istrinya."
Kael berhenti.
"Kalian
membicarakan saya?"
Semua langsung
diam.
Mika tersenyum.
"Tidak."
Kael melihat kotak
makan.
"Lalu?"
"Kami hanya
mengapresiasi."
"Apresiasi
apa?"
"Bahwa Anda
manusia."
Kael menghela
napas.
"Saya selalu
manusia."
Renzo menggeleng.
"Dulu kami
tidak yakin."
Siang itu, Ayla
melakukan video call.
"Kamu sudah
makan?"
Kael mengangkat
kotak makan.
"Sudah."
Ayla tersenyum.
"Kamu
suka?"
"Ya."
"Ada yang
kurang?"
Kael berpikir.
"Sedikit."
"Apa?"
"Kurang
kamu."
Ayla terdiam.
Lalu tersenyum.
"Lima tahun
menikah dan kamu baru bisa ngomong seperti ini?"
"Saya
belajar."
"Dari
siapa?"
"Kamu."
Tiba-tiba
terdengar suara dari kantor.
"Pak
Kael!"
Kael menoleh.
"Ada
masalah?"
Stafnya berdiri.
"Proposal
baru sudah selesai."
Kael mengangguk.
"Baik."
Ayla tertawa dari
layar.
"Ayo
bekerja."
"Ya."
"Dan jangan
lupa makan."
"Ya."
"Dan jangan
membuat tabel hubungan."
Kael diam.
Ayla langsung
menyipitkan mata.
"Kael."
"Saya tidak
membuat."
"Jujur."
"Baru
draft."
Ayla tertawa.
Malamnya, mereka
duduk di sofa.
Tidak membahas
bisnis.
Tidak membahas
perusahaan.
Tidak membahas
masa depan.
Hanya menikmati
malam biasa.
"Kael."
"Ya?"
"Kamu
bahagia?"
Kael tidak perlu
berpikir lama.
"Ya."
"Kenapa?"
Dia melihat rumah
mereka.
Foto-foto kecil.
Kenangan
perjalanan.
Hal-hal sederhana.
"Dulu saya
mengejar tempat untuk disebut rumah."
Kael berkata.
"Sekarang
saya tahu."
Ayla menatapnya.
"Rumah bukan
tempat."
"Lalu?"
Kael tersenyum.
"Orang."
Ayla tersenyum.
Lalu menyandarkan
kepala di bahunya.
Dan Kael Ardhana
akhirnya memahami sesuatu.
Ada hal-hal yang
tidak perlu direncanakan.
Seperti jatuh
cinta.
Seperti tertawa.
Seperti pulang.
Tapi...
pagi berikutnya
Ayla menemukan sesuatu.
Sebuah dokumen
baru di laptop Kael.
Judulnya:
Rencana Liburan
Keluarga Tahun Ini.
Dengan 27 halaman.
"Aku
menyerah."
Ayla tertawa.
Dan Kael hanya
menjawab:
"Saya sudah
mengurangi dari 40 halaman."
Karena beberapa
hal memang tidak berubah.
Dan mungkin...
itu yang membuat
mereka tetap menjadi mereka.
BERSAMBUNG