Pagi di mansion Noctis terasa berbeda.
Para pelayan bergerak lebih cepat dari biasanya.
Beberapa membawa kain-kain indah.
Sebagian lainnya mempersiapkan dokumen dan daftar tamu.
Elena yang baru keluar dari rumah kaca memperhatikan kesibukan itu dengan bingung.
"Ada acara besar?"
Clara yang sedang membawa gaun menjawab dengan senyum kecil.
"Benar, Nyonya."
"Acara apa?"
"Undangan dari Istana Elarion."
Elena berhenti.
"Istana?"
Clara mengangguk.
"Kompetisi Bunga Kerajaan."
Elena sudah pernah mendengar tentang acara itu.
Kompetisi yang diadakan setiap beberapa tahun sekali.
Tempat para bangsawan menunjukkan tanaman langka dan hasil perawatan terbaik mereka.
Bagi sebagian orang, itu hanya perlombaan.
Namun bagi keluarga bangsawan...
itu adalah simbol kehormatan.
"Apakah keluarga Noctis ikut?"
Clara tersenyum.
"Sudah lama tidak."
Elena mengingat perkataan Adrian.
Keluarga Noctis.
Noctis Orchid.
Rumah kaca yang terlupakan.
Semuanya seperti berkaitan.
Siang itu, Elena menemui Adrian di ruang kerjanya.
Pria itu sedang membaca laporan ketika Elena masuk.
"Yang Mulia."
Adrian mengangkat wajah.
"Ya?"
"Saya mendengar tentang kompetisi bunga."
Adrian meletakkan dokumen.
"Kita akan ikut."
Elena sedikit terkejut.
"Kita?"
"Ya."
"Maksud Anda... keluarga Noctis?"
Adrian mengangguk.
Elena diam sejenak.
"Apakah itu karena Noctis Orchid?"
Tatapan Adrian berubah.
Hanya sedikit.
Tapi Elena tahu ia benar.
"Ya."
Jawaban jujur itu membuat Elena terdiam.
"Kenapa sekarang?"
Pertanyaan Elena membuat Adrian melihat ke arah jendela.
"Karena sudah waktunya."
"Untuk apa?"
Adrian tidak langsung menjawab.
Untuk pertama kalinya...
ia terlihat ragu.
"Untuk menunjukkan bahwa keluarga Noctis belum kehilangan semuanya."
Elena memahami.
Ini bukan hanya tentang kompetisi.
Ini tentang sesuatu yang hilang.
Tentang nama keluarga yang perlahan tenggelam setelah tragedi masa lalu.
"Kalau begitu..."
Elena tersenyum kecil.
"Saya akan membantu."
Adrian menatapnya.
"Kau tidak harus melakukannya."
"Saya tahu."
"Kompetisi ini bisa membawa banyak perhatian."
"Saya tahu."
"Banyak orang mungkin akan mencoba menjatuhkanmu."
Elena menatapnya tenang.
"Saya juga tahu."
Adrian sedikit mengernyit.
"Kau tidak takut?"
Elena berpikir sejenak.
Lalu menjawab,
"Saya lebih takut melihat tanaman yang bisa diselamatkan dibiarkan mati."
Jawaban itu membuat Adrian terdiam.
Entah bagaimana...
wanita ini selalu bisa membuat sesuatu yang sederhana terdengar penting.
Sejak hari itu...
rumah kaca tua keluarga Noctis berubah menjadi tempat yang paling sibuk di mansion.
Para pelayan mulai membersihkan bagian luar.
Rak-rak lama diperbaiki.
Kaca yang retak diganti perlahan.
Namun Elena meminta satu hal.
"Jangan ubah semuanya."
Pelayan yang bertugas terlihat bingung.
"Nyonya?"
"Tempat ini punya sejarah."
Elena menyentuh meja kayu tua di sudut ruangan.
"Aku hanya ingin mengembalikannya."
Bukan menggantinya.
Beberapa hari kemudian...
Adrian kembali ke rumah kaca.
Dan untuk pertama kalinya setelah lama...
ia melihat tempat itu dengan cahaya berbeda.
Tidak lagi gelap.
Tidak lagi terasa seperti makam kenangan.
Di tengah ruangan...
Elena sedang berdiri dengan tangan penuh tanah.
Rambutnya sedikit berantakan.
Namun wajahnya terlihat bahagia.
Adrian berhenti di pintu.
"Kau terlihat berbeda saat berada di sini."
Elena menoleh.
"Berbeda?"
"Ya."
"Bagaimana?"
Adrian terdiam.
Karena ia tidak terbiasa memberikan pujian.
Akhirnya ia berkata,
"Lebih hidup."
Elena sedikit terkejut.
Lalu tersenyum.
"Terima kasih."
Namun momen itu tidak berlangsung lama.
Sebuah suara terdengar dari luar.
"Yang Mulia Duke."
Seorang pelayan membungkuk.
"Ada tamu dari keluarga Valmont."
Ekspresi Adrian berubah.
"Keluarga Valmont?"
"Lady Seraphine datang."
Elena memperhatikan perubahan wajah Adrian.
Tidak banyak.
Tapi cukup.
Ada sesuatu tentang nama itu.
Sesuatu dari masa lalu.
Beberapa menit kemudian...
Lady Seraphine Valmont memasuki mansion Noctis.
Dengan senyum anggun dan langkah percaya diri.
"Aku senang melihat keluarga Noctis akhirnya kembali mengikuti kompetisi."
Tatapannya berpindah.
Kepada Elena.
"Dan tentu saja..."
"Saya ingin memberi selamat kepada Duchess baru."
Elena membalas senyumnya.
"Terima kasih."
Seraphine mendekat.
"Semoga Anda berhasil."
Ia berhenti sebentar.
Lalu berbisik cukup pelan agar hanya Elena yang mendengar.
"Karena banyak orang akan menunggu saat Anda gagal."
Senyum Elena tidak berubah.
Namun ia mengerti.
Kompetisi ini bukan hanya tentang bunga.
Ini adalah awal dari permainan yang jauh lebih besar.
Bersambung...
Comments
Post a Comment