CHASING AURORA
Bab 21 — Antara
Cinta dan Ambisi
Setelah keputusan
Kael menolak perusahaan keluarga...
banyak orang
berpikir hidupnya akan menjadi lebih mudah.
Ternyata tidak.
Karena memilih
jalan sendiri bukan berarti jalan itu tanpa tantangan.
Kadang justru...
tantangannya
menjadi lebih besar.
Pagi itu, seluruh
lantai dua puluh tiga Aurora Media dipenuhi suasana berbeda.
Semua orang
berkumpul.
Bukan untuk rapat
biasa.
Tapi untuk
pengumuman terbesar tahun itu.
Kael berdiri di
depan layar.
"Saya punya
kabar."
Semua orang diam.
"Kita
mendapatkan proyek terbesar Aurora selama ini."
Layar menyala.
Project AURORA
ONE — Global Brand Campaign
Ruangan langsung
ramai.
Mika membulatkan
mata.
"Ini
gila."
Renzo tersenyum.
"Ini bisa
mengubah perusahaan."
Kael melanjutkan.
"Proyek ini
membutuhkan dua pemimpin kreatif."
Dia melihat ke
arah Ayla.
"Ayla akan
memimpin sisi konsep dan strategi kreatif."
Ayla sedikit
terkejut.
"Tunggu."
Semua melihatnya.
"Kamu
serius?"
Kael mengangguk.
"Kamu yang
paling tepat."
Setelah rapat
selesai, Ayla langsung menghampiri Kael.
"Kamu bisa
memilih orang lain."
"Saya
tahu."
"Tapi kamu
tetap memilih aku."
"Ya."
"Kenapa?"
Kael menatapnya.
"Karena saya
percaya kamu."
Jawaban sederhana.
Tapi Ayla tahu.
Kepercayaan dari
Kael bukan sesuatu yang mudah diberikan.
Awalnya semuanya
berjalan sempurna.
Mereka seperti
kombinasi yang tidak bisa dikalahkan.
Ayla dengan
ide-ide kreatifnya.
Kael dengan
strategi dan ketepatannya.
Satu melihat
emosi.
Satu melihat arah.
Mereka berbeda.
Dan justru karena
itu...
mereka cocok.
Tapi semakin besar
proyek...
semakin besar
tekanan.
Jam kerja
bertambah.
Meeting semakin
panjang.
Dan perlahan...
hal kecil mulai
menjadi masalah.
"Kita tidak
bisa memakai konsep ini."
Kael berkata dalam
rapat.
Ayla langsung
menatapnya.
"Kenapa?"
"Risikonya
terlalu tinggi."
"Itu justru
yang membuatnya menarik."
"Menarik
bukan berarti efektif."
"Dan aman
bukan berarti bagus."
Ruangan menjadi
diam.
Mereka mulai
berdebat.
Seperti dulu.
Tapi kali ini
berbeda.
Karena sekarang
mereka membawa perasaan.
Malamnya, mereka
masih di kantor.
Ayla berdiri di
depan meja Kael.
"Kamu
berubah."
Kael mengangkat
kepala.
"Apa?"
"Dulu kamu
mendengarkan aku lebih lama."
"Saya masih
mendengarkan."
"Tidak."
Ayla menggeleng.
"Kamu hanya
menghitung risiko."
Kael diam.
Karena dia tahu
ada sedikit kebenaran.
"Saya hanya
ingin proyek ini berhasil."
"Aku
juga."
"Tapi kamu
terlalu mengambil risiko."
"Dan kamu
terlalu takut gagal."
Kalimat itu
membuat suasana berubah.
Kael terdiam.
Ayla langsung
sadar.
Dia menyentuh kata
yang salah.
"Kael..."
"Tidak
apa-apa."
Tapi ekspresinya
berubah.
Dan Ayla tahu.
Dia terluka.
"Aku bukan
bilang kamu lemah."
Ayla berkata
pelan.
"Saya
tahu."
"Tapi..."
Kael menutup
laptop.
"Ayla."
"Ya?"
"Kadang bagi
saya, gagal bukan hanya gagal."
Hening.
"Kadang
terasa seperti membuktikan bahwa semua orang benar tentang saya."
Ayla terdiam.
Karena sekarang
dia melihatnya.
Kael bukan takut
pada proyek.
Dia takut kembali
menjadi anak yang merasa tidak cukup.
Malam itu, mereka
pulang terpisah.
Untuk pertama
kalinya setelah lama...
mereka tidak
berjalan bersama.
Keesokan harinya,
suasana kantor terasa aneh.
Mika langsung
sadar.
"Kalian
bertengkar?"
Ayla diam.
"Sedikit."
"Karena
pekerjaan?"
Ayla melihat
layar.
"Awalnya."
"Dan
sekarang?"
Ayla tidak
menjawab.
Karena dia tidak
tahu.
Sementara itu,
Kael duduk sendirian di ruangannya.
Dia melihat desain
Ayla.
Dan semakin lama
melihatnya...
semakin dia sadar:
Ayla bukan hanya
membuat konsep.
Dia membuat
sesuatu yang memiliki jiwa.
Sesuatu yang
selama ini Kael terlalu takut untuk percaya.
Sore hari, Kael
datang ke meja Ayla.
"Ayla."
Ayla menoleh.
"Ya?"
"Saya ingin
melihat konsep itu lagi."
Ayla membuka file.
"Kamu berubah
pikiran?"
"Tidak."
Ayla sedikit
kecewa.
"Lalu?"
"Saya ingin
memahami kenapa kamu percaya pada konsep ini."
Ayla diam.
Karena itu adalah
cara Kael meminta maaf.
Bukan dengan
kata-kata.
Tapi dengan
mencoba memahami.
Mereka duduk
bersama.
Membahas ulang
semuanya.
Tidak ada ego.
Tidak ada siapa
yang menang.
Hanya dua orang
yang belajar.
"Kamu
tahu?"
Ayla berkata.
"Apa?"
"Kita
aneh."
"Kenapa?"
"Karena
pasangan lain mungkin bertengkar soal hal romantis."
Kael mengangguk.
"Dan
kita?"
"Kita
bertengkar soal strategi kampanye."
Kael berpikir.
"Itu memang
sangat kita."
Ayla tertawa.
Malam itu, konsep
baru lahir.
Gabungan antara
keberanian Ayla dan perhitungan Kael.
Dan hasilnya...
lebih kuat dari
sebelumnya.
Namun saat mereka
mengira masalah selesai...
sebuah kabar
datang dari pihak investor.
Mereka menyukai
konsep tersebut.
Tapi mereka
meminta satu hal:
Ayla harus pergi
ke luar negeri selama enam bulan untuk memimpin eksekusi proyek.
Dan sekali lagi...
mereka harus
menghadapi hal yang paling mereka takutkan.
Jarak.
0 comments:
Post a Comment