Tuesday, July 21, 2026

CHASING AURORA 21

 

CHASING AURORA

Bab 21 — Antara Cinta dan Ambisi

Setelah keputusan Kael menolak perusahaan keluarga...

banyak orang berpikir hidupnya akan menjadi lebih mudah.

Ternyata tidak.

Karena memilih jalan sendiri bukan berarti jalan itu tanpa tantangan.

Kadang justru...

tantangannya menjadi lebih besar.


Pagi itu, seluruh lantai dua puluh tiga Aurora Media dipenuhi suasana berbeda.

Semua orang berkumpul.

Bukan untuk rapat biasa.

Tapi untuk pengumuman terbesar tahun itu.

Kael berdiri di depan layar.

"Saya punya kabar."

Semua orang diam.

"Kita mendapatkan proyek terbesar Aurora selama ini."

Layar menyala.

Project AURORA ONE — Global Brand Campaign

Ruangan langsung ramai.

Mika membulatkan mata.

"Ini gila."

Renzo tersenyum.

"Ini bisa mengubah perusahaan."


Kael melanjutkan.

"Proyek ini membutuhkan dua pemimpin kreatif."

Dia melihat ke arah Ayla.

"Ayla akan memimpin sisi konsep dan strategi kreatif."

Ayla sedikit terkejut.

"Tunggu."

Semua melihatnya.

"Kamu serius?"

Kael mengangguk.

"Kamu yang paling tepat."


Setelah rapat selesai, Ayla langsung menghampiri Kael.

"Kamu bisa memilih orang lain."

"Saya tahu."

"Tapi kamu tetap memilih aku."

"Ya."

"Kenapa?"

Kael menatapnya.

"Karena saya percaya kamu."

Jawaban sederhana.

Tapi Ayla tahu.

Kepercayaan dari Kael bukan sesuatu yang mudah diberikan.


Awalnya semuanya berjalan sempurna.

Mereka seperti kombinasi yang tidak bisa dikalahkan.

Ayla dengan ide-ide kreatifnya.

Kael dengan strategi dan ketepatannya.

Satu melihat emosi.

Satu melihat arah.

Mereka berbeda.

Dan justru karena itu...

mereka cocok.


Tapi semakin besar proyek...

semakin besar tekanan.

Jam kerja bertambah.

Meeting semakin panjang.

Dan perlahan...

hal kecil mulai menjadi masalah.


"Kita tidak bisa memakai konsep ini."

Kael berkata dalam rapat.

Ayla langsung menatapnya.

"Kenapa?"

"Risikonya terlalu tinggi."

"Itu justru yang membuatnya menarik."

"Menarik bukan berarti efektif."

"Dan aman bukan berarti bagus."

Ruangan menjadi diam.

Mereka mulai berdebat.

Seperti dulu.

Tapi kali ini berbeda.

Karena sekarang mereka membawa perasaan.


Malamnya, mereka masih di kantor.

Ayla berdiri di depan meja Kael.

"Kamu berubah."

Kael mengangkat kepala.

"Apa?"

"Dulu kamu mendengarkan aku lebih lama."

"Saya masih mendengarkan."

"Tidak."

Ayla menggeleng.

"Kamu hanya menghitung risiko."


Kael diam.

Karena dia tahu ada sedikit kebenaran.

"Saya hanya ingin proyek ini berhasil."

"Aku juga."

"Tapi kamu terlalu mengambil risiko."

"Dan kamu terlalu takut gagal."

Kalimat itu membuat suasana berubah.

Kael terdiam.


Ayla langsung sadar.

Dia menyentuh kata yang salah.

"Kael..."

"Tidak apa-apa."

Tapi ekspresinya berubah.

Dan Ayla tahu.

Dia terluka.


"Aku bukan bilang kamu lemah."

Ayla berkata pelan.

"Saya tahu."

"Tapi..."

Kael menutup laptop.

"Ayla."

"Ya?"

"Kadang bagi saya, gagal bukan hanya gagal."

Hening.

"Kadang terasa seperti membuktikan bahwa semua orang benar tentang saya."


Ayla terdiam.

Karena sekarang dia melihatnya.

Kael bukan takut pada proyek.

Dia takut kembali menjadi anak yang merasa tidak cukup.


Malam itu, mereka pulang terpisah.

Untuk pertama kalinya setelah lama...

mereka tidak berjalan bersama.


Keesokan harinya, suasana kantor terasa aneh.

Mika langsung sadar.

"Kalian bertengkar?"

Ayla diam.

"Sedikit."

"Karena pekerjaan?"

Ayla melihat layar.

"Awalnya."

"Dan sekarang?"

Ayla tidak menjawab.

Karena dia tidak tahu.


Sementara itu, Kael duduk sendirian di ruangannya.

Dia melihat desain Ayla.

Dan semakin lama melihatnya...

semakin dia sadar:

Ayla bukan hanya membuat konsep.

Dia membuat sesuatu yang memiliki jiwa.

Sesuatu yang selama ini Kael terlalu takut untuk percaya.


Sore hari, Kael datang ke meja Ayla.

"Ayla."

Ayla menoleh.

"Ya?"

"Saya ingin melihat konsep itu lagi."

Ayla membuka file.

"Kamu berubah pikiran?"

"Tidak."

Ayla sedikit kecewa.

"Lalu?"

"Saya ingin memahami kenapa kamu percaya pada konsep ini."


Ayla diam.

Karena itu adalah cara Kael meminta maaf.

Bukan dengan kata-kata.

Tapi dengan mencoba memahami.


Mereka duduk bersama.

Membahas ulang semuanya.

Tidak ada ego.

Tidak ada siapa yang menang.

Hanya dua orang yang belajar.


"Kamu tahu?"

Ayla berkata.

"Apa?"

"Kita aneh."

"Kenapa?"

"Karena pasangan lain mungkin bertengkar soal hal romantis."

Kael mengangguk.

"Dan kita?"

"Kita bertengkar soal strategi kampanye."

Kael berpikir.

"Itu memang sangat kita."

Ayla tertawa.


Malam itu, konsep baru lahir.

Gabungan antara keberanian Ayla dan perhitungan Kael.

Dan hasilnya...

lebih kuat dari sebelumnya.


Namun saat mereka mengira masalah selesai...

sebuah kabar datang dari pihak investor.

Mereka menyukai konsep tersebut.

Tapi mereka meminta satu hal:

Ayla harus pergi ke luar negeri selama enam bulan untuk memimpin eksekusi proyek.


Dan sekali lagi...

mereka harus menghadapi hal yang paling mereka takutkan.

Jarak.

 

0 comments:

Post a Comment

 

Blognya Alviana Anugrah Template by Ipietoon Cute Blog Design