Tuesday, July 21, 2026

CHASING AURORA 36 eND 2

 

CHASING AURORA

Bab 36 — Rumah yang Tidak Ada di Rencana

Lima tahun kemudian.

Kalau ada satu hal yang tidak berubah dari Kael Ardhana...

itu adalah kebiasaannya membuat rencana.


"Kael."

Ayla berdiri di depan meja kerja.

Kael yang sedang mengetik langsung menoleh.

"Ya?"

"Kamu sedang bekerja?"

"Tidak."

Ayla melihat layar laptop.

"Kael."

"Ya?"

"Itu laporan kuartal Aurora."

Kael diam.

"Itu bukan bekerja?"

"Saya hanya membaca."

"Jam sebelas malam?"

"Informasi bisa muncul kapan saja."


Ayla menghela napas.

Tapi dia tersenyum.

Karena meskipun Kael masih Kael...

dia sudah jauh berbeda dari dulu.

Dulu pekerjaan adalah dunianya.

Sekarang...

pekerjaan hanya salah satu bagian hidupnya.


"Besok kita ada acara."

Kael langsung membuka kalender.

Ayla menunjuknya.

"Jangan."

"Apa?"

"Jangan buat jadwal."

"Saya hanya mengecek."

"Kael."

"Ya?"

"Kamu pernah membuat jadwal kencan."

"Itu membantu."

"Itu tertulis: 19.00 makan malam, 19.45 percakapan santai, 20.30 ekspresi perasaan."

Kael terdiam.

"Itu cukup romantis."

Ayla langsung tertawa.

"Tidak. Itu seperti agenda rapat."


Lima tahun menikah...

dan Ayla masih sering bertanya:

Bagaimana mungkin seseorang yang bisa memimpin ribuan orang...

masih bisa terlihat bingung memilih hadiah ulang tahun.


Tahun ini ulang tahun pernikahan mereka.

Dan Kael terlihat sangat mencurigakan.


"Kamu menyembunyikan sesuatu."

Ayla berkata.

"Saya tidak."

"Kamu gugup."

"Saya tidak."

"Kamu membersihkan rumah tiga kali."

Kael diam.

"Itu bukan bukti."

"Kamu bahkan merapikan rak buku berdasarkan warna."

"Itu efisien."


Ayla tertawa.

"Kael."

"Ya?"

"Kamu tahu bagian paling lucu dari kamu?"

"Apa?"

"Dulu aku pikir kamu tidak punya sisi lucu."

"Lalu?"

"Ternyata kamu lucu tanpa sadar."


Malam itu...

Kael membawa Ayla ke tempat yang tidak mereka kunjungi selama bertahun-tahun.

Kafe kecil tempat mereka dulu sering berbicara.


"Masih sama."

Ayla melihat sekeliling.

"Ya."

"Kenapa membawa aku ke sini?"

Kael tersenyum.

"Karena sebelum ada Aurora."

Dia berhenti.

"Sebelum ada jabatan."

"Sebelum semua orang mengenal kita."

"Ada dua orang yang hanya duduk di sini dan membicarakan mimpi."


Ayla tersenyum.

"Kamu ingat semuanya."

"Saya ingat hal penting."


Kael mengeluarkan sebuah buku kecil.

Ayla langsung curiga.

"Jangan bilang..."

"Bukan spreadsheet."

Ayla tertawa.

"Syukurlah."


Buku itu berisi catatan.

Bukan rencana.

Bukan target.

Tapi hal-hal kecil.


Hari pertama Ayla membuat saya tertawa di kantor.

Hari Ayla pergi ke London.

Hari Ayla kembali.

Hari pertama kami menyadari bahwa kami tidak perlu menang sendiri.


Ayla membaca perlahan.

Lalu tersenyum.

"Kamu menyimpan ini selama lima tahun?"

"Ya."

"Kenapa?"

Kael melihatnya.

"Karena saya takut lupa."

"Lupa apa?"

"Bahwa kebahagiaan saya dimulai dari hal-hal kecil."


Ayla menggenggam tangannya.


"Kael."

"Ya?"

"Kalau dulu kamu tahu hidupmu akan seperti ini..."

"Apa?"

"Apakah kamu akan mengubah sesuatu?"

Kael berpikir.

Lama.


"Tidak."

Ayla tersenyum.

"Kenapa?"

"Karena semua kesalahan, kegagalan, dan keputusan buruk..."

Dia melihat Ayla.

"Membawa saya ke sini."


Beberapa hari kemudian, Aurora mengadakan acara besar.

Perusahaan mereka berkembang menjadi salah satu perusahaan kreatif ternama.

Dan tentu saja...

media masih suka membahas pasangan pendiri Aurora.


Salah satu reporter bertanya:

"Apa kunci hubungan kalian tetap kuat meski sama-sama memiliki karier besar?"

Kael dan Ayla saling melihat.


Ayla menjawab dulu.

"Belajar mendengarkan."

Kael mengangguk.

"Lalu belajar tidak membuat semuanya seperti rapat."

Semua tertawa.


Reporter bertanya:

"Siapa yang lebih romantis?"

Semua menunggu.


Kael menjawab:

"Ayla."

Ayla terkejut.

"Kamu yakin?"

"Ya."

"Kenapa?"

"Karena dia mengajari saya bahwa hidup tidak harus selalu direncanakan."


Ayla tersenyum.

"Lalu Kael?"

"Ya?"

"Kamu sekarang lebih romantis."

Kael berpikir.

"Benarkah?"

"Iya."

"Berarti metode saya berhasil."

Ayla langsung tertawa.

"Jangan rusak momennya."


Malam itu, mereka pulang ke rumah.

Bukan gedung tinggi.

Bukan ruang kantor.

Hanya rumah sederhana yang penuh cerita.


Kael meletakkan kunci.

Ayla melepas sepatu.

Rutinitas kecil.

Tapi bagi mereka...

itulah kemewahan terbesar.


Karena pada akhirnya...

Aurora bukan hanya tentang perusahaan yang mereka bangun.

Tapi tentang perjalanan dua orang yang awalnya mencari kesuksesan...

lalu menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga.

Seseorang yang membuat mereka ingin pulang.

TAMAT

 

0 comments:

Post a Comment

 

Blognya Alviana Anugrah Template by Ipietoon Cute Blog Design