Tuesday, July 21, 2026

CHASING AURORA 5

 

CHASING AURORA

Bab 5 — Rumor yang Tidak Direncanakan

Ayla Renata kembali ke kantor dengan satu kesimpulan:

Perjalanan dinas seharusnya hanya menghasilkan laporan.

Bukan rumor.

Sayangnya, pagi itu saat dia masuk ke lantai dua puluh tiga kantor Aurora Media, hal pertama yang dia lihat bukan tumpukan pekerjaan.

Melainkan...

Tiga orang staf junior yang langsung diam ketika melihatnya.

Ayla berhenti.

Mereka berhenti.

Saling melihat.

Lalu pura-pura sibuk.

Ayla mengerutkan dahi.

"Aku tahu aku terlambat tiga menit."

Tidak ada yang menjawab.

Dia berjalan ke meja kerjanya.

Lalu mendengar suara Mika dari belakang.

"Ayla."

Nada suara sahabatnya terlalu serius.

Ayla perlahan berbalik.

"Apa?"

Mika mendekat.

"Kamu mau cerita dulu atau aku?"

Ayla curiga.

"Aku takut dengan kalimat itu."

Mika menunjukkan layar ponselnya.

Sebuah foto.

Ayla dan Kael.

Di kota kecil.

Sedang berjalan bersama.

Dengan caption dari seseorang:

"Pasangan paling tidak terduga di Aurora Media?"

Ayla menatap layar.

Lama.

Kemudian berkata:

"Internet terlalu banyak waktu luang."

Mika menatapnya.

"Ayla."

"Apa?"

"Itu foto kalian."

"Aku tahu."

"Kalian terlihat seperti pasangan."

Ayla langsung menggeleng.

"Tidak."

Mika memperbesar foto.

"Kamu tersenyum."

"Memangnya aku tidak boleh tersenyum?"

"Di sebelah Kael Ardhana?"

Ayla diam.

Mika menunjuk foto.

"Ini yang membuat semua orang kaget."


Ayla mencoba mengabaikan rumor.

Sangat mencoba.

Tapi masalahnya...

Kael terlihat terlalu normal.

Itu yang membuatnya aneh.

Biasanya kalau ada masalah, Kael langsung membuat strategi.

Analisis.

Solusi.

Rencana.

Tapi pagi itu...

Kael hanya berjalan masuk kantor seperti biasa.

Rapi.

Tenang.

Tidak terganggu.

Ayla memperhatikannya dari meja.

Mika mengikuti arah pandangnya.

"Kamu melihat dia sejak lima menit lalu."

"Aku tidak."

"Kamu bahkan tidak berkedip."

"Aku sedang berpikir."

"Tentang?"

Ayla langsung menjawab:

"Kenapa dia tidak peduli."

Mika tersenyum.

"Nah."

"Apa?"

"Kamu peduli kalau dia tidak peduli."

Ayla membuka mulut.

Lalu menutupnya.

"Itu tidak masuk akal."

"Memang."

"Terus?"

"Itu namanya manusia."

Ayla tidak suka ketika Mika terdengar seperti Kael versi lebih santai.


Siang hari, rapat proyek Aurora dimulai.

Kael masuk membawa tablet.

Tidak ada perubahan.

Tidak ada tanda dia melihat rumor.

Ayla mencoba fokus.

Benar-benar mencoba.

Sampai salah satu anggota tim bertanya:

"Pak Kael, apakah benar Anda dan Bu Ayla dekat?"

Ruangan langsung hening.

Ayla membeku.

Kael menatap orang itu.

"Kami partner kerja."

Jawaban sederhana.

Profesional.

Benar.

Tapi entah kenapa...

Ayla merasa sedikit kecewa.

Bodoh.

Dia langsung menghapus pikiran itu.

Tentu saja Kael akan menjawab seperti itu.

Mereka memang hanya partner kerja.

Kael melanjutkan:

"Kami bekerja sama untuk proyek Aurora."

Selesai.

Tidak ada tambahan.

Tidak ada penjelasan lain.


Setelah rapat selesai, Ayla keluar lebih cepat.

Dia tidak tahu kenapa.

Dia hanya ingin menjauh sebentar.

"Ayla."

Dia berhenti.

Kael.

Tentu saja.

"Kamu butuh sesuatu?"

Kael berdiri di belakangnya.

"Apakah rumor itu mengganggu Anda?"

Ayla sedikit terkejut.

"Kamu tahu?"

"Saya membaca email internal."

"Oh."

Hening.

"Lalu?"

"Lalu apa?"

"Kamu tidak terganggu?"

Kael terlihat bingung.

"Dengan apa?"

Ayla hampir tertawa.

"Tentu saja. Dengan orang-orang yang mengira kita pasangan."

Kael berpikir sebentar.

"Tidak."

Jawaban itu terlalu cepat.

Ayla mengangguk.

"Ya. Tentu."

Dia berbalik.

Tapi Kael berkata:

"Tunggu."

Ayla menoleh.

"Kenapa?"

"Saya tidak terganggu."

"Sudah tahu."

"Tapi..."

Kael berhenti.

Ayla menunggu.

"Tapi saya tidak ingin Anda merasa tidak nyaman."

Kalimat itu sederhana.

Namun membuat Ayla diam.

Karena itu bukan jawaban seorang atasan.

Itu jawaban seseorang yang memperhatikan.


Sore itu, Kael mendapat tamu.

Seorang pria datang ke kantor.

Tinggi.

Percaya diri.

Dan terlalu mudah tersenyum.

"Kael."

Pria itu menepuk bahunya.

Ayla yang kebetulan lewat berhenti.

Kael jarang terlihat dekat dengan orang lain.

"Renzo Kaito."

Teman lama Kael.

Renzo melihat Ayla.

Lalu tersenyum.

"Oh."

Kael langsung berkata:

"Jangan."

Renzo terlihat semakin tertarik.

"Jangan apa?"

"Jangan mengatakan apa yang sedang kamu pikirkan."

"Aku bahkan belum bicara."

"Saya tahu."

Renzo tertawa.

"Ini menarik."

Ayla mengangkat alis.

"Apa?"

Renzo melihat Kael.

"Selama lima tahun saya mengenal dia, tidak pernah ada perempuan yang membuat dia terlihat bingung."

Kael langsung memotong.

"Renzo."

"Aku hanya mengatakan fakta."

Ayla menoleh ke Kael.

"Kamu bingung?"

"Tidak."

Renzo tertawa lebih keras.

"Nah. Itu jawaban orang bingung."


Malamnya, Ayla masih di kantor.

Dia mencoba menyelesaikan pekerjaannya.

Tapi pikirannya kembali ke satu hal.

Kenapa dia peduli dengan jawaban Kael?

Padahal beberapa minggu lalu, dia bahkan menganggap pria itu menyebalkan.

"Aneh."

"Apa yang aneh?"

Ayla terkejut.

Kael berdiri di samping mejanya.

"Kamu suka muncul tanpa suara."

"Saya berjalan normal."

"Itu lebih mengkhawatirkan."

Kael meletakkan sebuah dokumen.

"Revisi bagian strategi sudah saya kirim."

Ayla mengangguk.

"Terima kasih."

Kael hendak pergi.

Lalu berhenti.

"Ayla."

"Ya?"

"Soal rumor tadi."

Ayla menatapnya.

"Ya?"

Kael terlihat seperti sedang mencari kata yang tepat.

"Saya tidak keberatan orang berpikir begitu."

Ayla terdiam.

"Apa?"

"Saya hanya tidak ingin rumor itu membuat Anda tidak nyaman."

Lalu dia pergi.

Meninggalkan Ayla yang masih diam.

Karena satu hal baru saja terjadi.

Kael Ardhana.

Pria yang selalu punya jawaban untuk semuanya.

Baru saja mengatakan sesuatu yang...

tidak terdengar seperti strategi.


Malam itu, Ayla menerima pesan dari Mika.

Mika: Jadi?

Ayla: Apa?

Mika: Setelah seharian bersama pria dingin itu, kesimpulanmu?

Ayla melihat layar.

Berpikir.

Lalu mengetik:

Ayla: Dia masih menyebalkan.

Beberapa detik kemudian.

Mika: Tapi?

Ayla berhenti.

Jarinya menggantung.

Lalu dia menghapus kalimat yang hampir dia tulis.

Karena terlalu jujur.

Akhirnya dia mengirim:

Ayla: Tapi mungkin tidak separah yang kupikir.

Mika membalas cepat.

Mika: Selamat. Kamu mulai suka dia.

Ayla melempar ponsel ke kasur.

"Tidak mungkin."

Namun...

Untuk pertama kalinya.

Dia tidak yakin dengan jawabannya sendiri.

0 comments:

Post a Comment

 

Blognya Alviana Anugrah Template by Ipietoon Cute Blog Design