CHASING AURORA
Bab 5 — Rumor
yang Tidak Direncanakan
Ayla Renata
kembali ke kantor dengan satu kesimpulan:
Perjalanan dinas
seharusnya hanya menghasilkan laporan.
Bukan rumor.
Sayangnya, pagi
itu saat dia masuk ke lantai dua puluh tiga kantor Aurora Media, hal pertama
yang dia lihat bukan tumpukan pekerjaan.
Melainkan...
Tiga orang staf
junior yang langsung diam ketika melihatnya.
Ayla berhenti.
Mereka berhenti.
Saling melihat.
Lalu pura-pura
sibuk.
Ayla mengerutkan
dahi.
"Aku tahu aku
terlambat tiga menit."
Tidak ada yang
menjawab.
Dia berjalan ke
meja kerjanya.
Lalu mendengar
suara Mika dari belakang.
"Ayla."
Nada suara
sahabatnya terlalu serius.
Ayla perlahan
berbalik.
"Apa?"
Mika mendekat.
"Kamu mau
cerita dulu atau aku?"
Ayla curiga.
"Aku takut
dengan kalimat itu."
Mika menunjukkan
layar ponselnya.
Sebuah foto.
Ayla dan Kael.
Di kota kecil.
Sedang berjalan
bersama.
Dengan caption
dari seseorang:
"Pasangan
paling tidak terduga di Aurora Media?"
Ayla menatap
layar.
Lama.
Kemudian berkata:
"Internet
terlalu banyak waktu luang."
Mika menatapnya.
"Ayla."
"Apa?"
"Itu foto
kalian."
"Aku
tahu."
"Kalian
terlihat seperti pasangan."
Ayla langsung
menggeleng.
"Tidak."
Mika memperbesar
foto.
"Kamu
tersenyum."
"Memangnya
aku tidak boleh tersenyum?"
"Di sebelah
Kael Ardhana?"
Ayla diam.
Mika menunjuk
foto.
"Ini yang
membuat semua orang kaget."
Ayla mencoba
mengabaikan rumor.
Sangat mencoba.
Tapi masalahnya...
Kael terlihat
terlalu normal.
Itu yang
membuatnya aneh.
Biasanya kalau ada
masalah, Kael langsung membuat strategi.
Analisis.
Solusi.
Rencana.
Tapi pagi itu...
Kael hanya
berjalan masuk kantor seperti biasa.
Rapi.
Tenang.
Tidak terganggu.
Ayla
memperhatikannya dari meja.
Mika mengikuti
arah pandangnya.
"Kamu melihat
dia sejak lima menit lalu."
"Aku
tidak."
"Kamu bahkan
tidak berkedip."
"Aku sedang
berpikir."
"Tentang?"
Ayla langsung
menjawab:
"Kenapa dia
tidak peduli."
Mika tersenyum.
"Nah."
"Apa?"
"Kamu peduli
kalau dia tidak peduli."
Ayla membuka
mulut.
Lalu menutupnya.
"Itu tidak
masuk akal."
"Memang."
"Terus?"
"Itu namanya
manusia."
Ayla tidak suka
ketika Mika terdengar seperti Kael versi lebih santai.
Siang hari, rapat
proyek Aurora dimulai.
Kael masuk membawa
tablet.
Tidak ada
perubahan.
Tidak ada tanda
dia melihat rumor.
Ayla mencoba
fokus.
Benar-benar
mencoba.
Sampai salah satu
anggota tim bertanya:
"Pak Kael,
apakah benar Anda dan Bu Ayla dekat?"
Ruangan langsung
hening.
Ayla membeku.
Kael menatap orang
itu.
"Kami partner
kerja."
Jawaban sederhana.
Profesional.
Benar.
Tapi entah
kenapa...
Ayla merasa
sedikit kecewa.
Bodoh.
Dia langsung
menghapus pikiran itu.
Tentu saja Kael
akan menjawab seperti itu.
Mereka memang
hanya partner kerja.
Kael melanjutkan:
"Kami bekerja
sama untuk proyek Aurora."
Selesai.
Tidak ada
tambahan.
Tidak ada
penjelasan lain.
Setelah rapat
selesai, Ayla keluar lebih cepat.
Dia tidak tahu
kenapa.
Dia hanya ingin
menjauh sebentar.
"Ayla."
Dia berhenti.
Kael.
Tentu saja.
"Kamu butuh
sesuatu?"
Kael berdiri di
belakangnya.
"Apakah rumor
itu mengganggu Anda?"
Ayla sedikit
terkejut.
"Kamu
tahu?"
"Saya membaca
email internal."
"Oh."
Hening.
"Lalu?"
"Lalu
apa?"
"Kamu tidak
terganggu?"
Kael terlihat
bingung.
"Dengan
apa?"
Ayla hampir
tertawa.
"Tentu saja.
Dengan orang-orang yang mengira kita pasangan."
Kael berpikir
sebentar.
"Tidak."
Jawaban itu
terlalu cepat.
Ayla mengangguk.
"Ya.
Tentu."
Dia berbalik.
Tapi Kael berkata:
"Tunggu."
Ayla menoleh.
"Kenapa?"
"Saya tidak
terganggu."
"Sudah
tahu."
"Tapi..."
Kael berhenti.
Ayla menunggu.
"Tapi saya
tidak ingin Anda merasa tidak nyaman."
Kalimat itu
sederhana.
Namun membuat Ayla
diam.
Karena itu bukan
jawaban seorang atasan.
Itu jawaban
seseorang yang memperhatikan.
Sore itu, Kael
mendapat tamu.
Seorang pria
datang ke kantor.
Tinggi.
Percaya diri.
Dan terlalu mudah
tersenyum.
"Kael."
Pria itu menepuk
bahunya.
Ayla yang
kebetulan lewat berhenti.
Kael jarang
terlihat dekat dengan orang lain.
"Renzo
Kaito."
Teman lama Kael.
Renzo melihat
Ayla.
Lalu tersenyum.
"Oh."
Kael langsung
berkata:
"Jangan."
Renzo terlihat
semakin tertarik.
"Jangan
apa?"
"Jangan
mengatakan apa yang sedang kamu pikirkan."
"Aku bahkan
belum bicara."
"Saya
tahu."
Renzo tertawa.
"Ini
menarik."
Ayla mengangkat
alis.
"Apa?"
Renzo melihat
Kael.
"Selama lima
tahun saya mengenal dia, tidak pernah ada perempuan yang membuat dia terlihat
bingung."
Kael langsung
memotong.
"Renzo."
"Aku hanya
mengatakan fakta."
Ayla menoleh ke
Kael.
"Kamu
bingung?"
"Tidak."
Renzo tertawa
lebih keras.
"Nah. Itu
jawaban orang bingung."
Malamnya, Ayla
masih di kantor.
Dia mencoba
menyelesaikan pekerjaannya.
Tapi pikirannya
kembali ke satu hal.
Kenapa dia peduli
dengan jawaban Kael?
Padahal beberapa
minggu lalu, dia bahkan menganggap pria itu menyebalkan.
"Aneh."
"Apa yang
aneh?"
Ayla terkejut.
Kael berdiri di
samping mejanya.
"Kamu suka
muncul tanpa suara."
"Saya
berjalan normal."
"Itu lebih
mengkhawatirkan."
Kael meletakkan
sebuah dokumen.
"Revisi
bagian strategi sudah saya kirim."
Ayla mengangguk.
"Terima
kasih."
Kael hendak pergi.
Lalu berhenti.
"Ayla."
"Ya?"
"Soal rumor
tadi."
Ayla menatapnya.
"Ya?"
Kael terlihat
seperti sedang mencari kata yang tepat.
"Saya tidak
keberatan orang berpikir begitu."
Ayla terdiam.
"Apa?"
"Saya hanya
tidak ingin rumor itu membuat Anda tidak nyaman."
Lalu dia pergi.
Meninggalkan Ayla
yang masih diam.
Karena satu hal
baru saja terjadi.
Kael Ardhana.
Pria yang selalu
punya jawaban untuk semuanya.
Baru saja
mengatakan sesuatu yang...
tidak terdengar
seperti strategi.
Malam itu, Ayla
menerima pesan dari Mika.
Mika: Jadi?
Ayla: Apa?
Mika: Setelah
seharian bersama pria dingin itu, kesimpulanmu?
Ayla melihat
layar.
Berpikir.
Lalu mengetik:
Ayla: Dia masih
menyebalkan.
Beberapa detik
kemudian.
Mika: Tapi?
Ayla berhenti.
Jarinya
menggantung.
Lalu dia menghapus
kalimat yang hampir dia tulis.
Karena terlalu
jujur.
Akhirnya dia
mengirim:
Ayla: Tapi
mungkin tidak separah yang kupikir.
Mika membalas
cepat.
Mika: Selamat.
Kamu mulai suka dia.
Ayla melempar
ponsel ke kasur.
"Tidak
mungkin."
Namun...
Untuk pertama
kalinya.
Dia tidak yakin
dengan jawabannya sendiri.
0 comments:
Post a Comment