CHASING AURORA
Bab 3 —
Perjalanan Dinas dan Pria yang Tidak Bisa Santai
Ayla Renata punya
teori baru tentang Kael Ardhana.
Teori pertama:
Kael tidak pernah
panik.
Teori kedua:
Kael mungkin tidak
tahu cara panik.
Teori ketiga:
Kalau suatu hari
gedung kantor terbakar, Kael mungkin masih sempat merapikan dokumen sebelum
keluar.
Dan pagi itu,
teori ketiga hampir terasa benar.
"Kenapa kamu
membawa tiga koper?"
Ayla menatap koper
Kael di depan meja resepsionis.
Tiga.
Bukan satu.
Bukan dua.
Tiga.
Kael melihat
koper-koper itu.
"Efisien."
Ayla berkedip.
"Efisien?"
"Ya."
"Kita pergi
dua hari."
"Benar."
"Kenapa butuh
tiga koper?"
Kael menjawab
tanpa ragu.
"Satu untuk
pakaian kerja."
"Yang
kedua?"
"Peralatan
pribadi."
"Yang
ketiga?"
Kael diam
sebentar.
Ayla menyipitkan
mata.
"Kael."
"Dokumen."
Ayla menatapnya.
"Dokumen?"
"Ya."
"Kamu membawa
satu koper penuh dokumen?"
"Sebagian."
"Sebagian?"
Kael terlihat
tidak mengerti masalahnya.
"Kenapa?"
Ayla menutup
wajahnya dengan tangan.
"Ya
Tuhan."
"Apa?"
"Kamu
benar-benar membawa pekerjaan saat perjalanan kerja."
"Itu namanya
profesional."
"Itu namanya
tidak punya kehidupan."
Proyek Aurora
membawa mereka ke kota kecil di pinggir laut.
Mereka harus
bertemu dengan pemilik lama sebuah studio desain yang pernah bekerja sama
dengan brand tersebut.
Bagi Ayla,
perjalanan ini adalah kesempatan.
Bagi Kael...
Mungkin hanya
kantor dengan pemandangan berbeda.
Sepanjang
perjalanan kereta, Kael membaca laporan.
Ayla mencoba tidak
memperhatikan.
Gagal.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Dua puluh menit.
Akhirnya dia
menyerah.
"Kamu tidak
capek?"
Kael mengangkat
kepala.
"Dengan
apa?"
"Menjadi
kamu."
Kael terdiam.
"Itu
pertanyaan yang aneh."
"Karena aku
penasaran."
"Saya
baik-baik saja."
Ayla menghela
napas.
"Nah, itu
jawaban khas kamu."
"Karena
memang benar."
"Kamu tahu
tidak? Orang yang selalu bilang baik-baik saja biasanya justru tidak baik-baik
saja."
Kael menatapnya.
"Anda
psikolog sekarang?"
"Tidak."
"Lalu?"
"Aku hanya
manusia yang memperhatikan."
Kael kembali
melihat laporannya.
Tapi kali ini...
Dia tidak langsung
membaca.
Sesampainya di
kota tujuan, mereka langsung menuju lokasi.
Tempat itu adalah
studio lama dengan dinding penuh foto dan lukisan.
Ayla berhenti di
depan pintu.
Matanya berbinar.
"Indah."
Kael melihat
gedungnya.
"Tua."
Ayla menoleh.
"Kamu tidak
punya rasa seni."
"Saya
punya."
"Contohnya?"
"Bangunan ini
membutuhkan renovasi besar."
Ayla menggeleng.
"Kamu melihat
masalah."
"Dan kamu
melihat cerita."
"Ya."
Kael melihatnya.
"Karena itu
kita bekerja bersama."
Ayla sedikit
terdiam.
Itu mungkin
pertama kalinya Kael mengatakan sesuatu tanpa terdengar seperti sedang membahas
pekerjaan.
Setelah wawancara
selesai, mereka berjalan mencari tempat makan.
Masalahnya:
Ayla ingin mencoba
restoran kecil di pinggir jalan.
Kael ingin pergi
ke restoran yang sudah dipesan sebelumnya.
"Kita sudah
punya reservasi."
"Kita juga
sudah punya kaki."
"Ayla."
"Kael."
Mereka saling
menatap.
Akhirnya Kael
menyerah.
"Lima belas
menit."
Ayla tersenyum.
"Berhasil."
"Lima belas
menit."
"Ya."
"Tidak
lebih."
"Kamu tahu
tidak?"
"Apa?"
"Kamu
terdengar seperti ayah yang membawa anak jalan-jalan."
Kael langsung
berhenti.
"Saya tidak
seperti itu."
Ayla tertawa.
"Sedikit."
Restoran kecil itu
ternyata ramai.
Mereka duduk di
meja dekat jendela.
Kael melihat menu
cukup lama.
Ayla
memperhatikan.
"Kamu tidak
tahu mau makan apa?"
"Saya sedang
memilih."
"Kamu membaca
menu seperti membaca kontrak."
"Saya ingin
memilih dengan benar."
Ayla menunjuk satu
makanan.
"Coba
itu."
Kael melihat.
"Kenapa?"
"Karena
enak."
"Itu bukan
alasan objektif."
Ayla tersenyum.
"Selamat
datang di dunia manusia."
Kael akhirnya
memesan makanan yang dipilih Ayla.
Dan ketika makanan
datang...
Dia menyukainya.
Ayla langsung
tersenyum puas.
"Aku
menang."
"Kita hanya
makan."
"Aku berhasil
membuatmu mencoba sesuatu tanpa analisis."
"Itu bukan
kemenangan besar."
"Tapi
kemenangan tetap kemenangan."
Kael menatapnya.
"Kamu selalu
merayakan hal kecil?"
"Ya."
"Kenapa?"
Ayla mengangkat
bahu.
"Karena kalau
menunggu hal besar untuk bahagia, kita akan terlalu sering melewatkan
hidup."
Kael tidak
menjawab.
Tapi kali ini
bukan karena tidak punya jawaban.
Karena dia sedang
menyimpan kalimat itu.
Malamnya, mereka
kembali ke hotel.
Ayla membuka pintu
kamar.
Lalu berhenti.
Diam.
Kael yang berdiri
di belakangnya ikut melihat.
Ada satu tempat
tidur.
Ayla perlahan
menoleh.
"Kael."
"Ya."
"Jangan
bilang..."
"Saya sudah
menghubungi resepsionis."
"Dan?"
"Mereka
sedang penuh."
Ayla menutup mata.
"Tentu
saja."
"Saya akan
tidur di sofa."
Ayla melihat sofa
kecil di sudut kamar.
"Kamu
tingginya hampir dua meter."
"Saya
bisa."
"Kamu tidak
bisa."
"Saya
bisa."
"Kamu selalu
bilang begitu."
Kael diam.
Ayla menunjuknya.
"Nah. Lihat?
Kamu tidak punya argumen."
Mereka akhirnya
sepakat.
Kael tidur di
tempat tidur.
Ayla mengambil
sofa.
Lima menit
kemudian...
"Ayla."
"Hm?"
"Sofa itu
tidak nyaman."
"Aku
tahu."
"Kenapa kamu
tidak bilang?"
"Karena kamu
pasti tetap menawarkan tempat tidur."
Kael diam.
Ayla membuka mata.
"Kamu mau
bilang apa?"
"..."
"Kael?"
"Terima
kasih."
Ayla tersenyum
kecil.
"Sama-sama."
Beberapa jam
kemudian, Kael terbangun.
Dia melihat Ayla
tertidur di sofa dengan posisi tidak nyaman.
Tanpa banyak
berpikir, dia mengambil selimut dan menutupinya.
Saat kembali ke
tempat tidur, dia berhenti.
Dia baru sadar.
Biasanya dia tidak
pernah melakukan sesuatu tanpa alasan.
Tapi malam ini...
Dia tidak punya
alasan.
Dia hanya ingin
memastikan Ayla tidak kedinginan.
Dan hal itu
membuatnya sedikit terganggu.
Karena untuk
pertama kalinya...
Ada seseorang yang
membuat Kael Ardhana melakukan sesuatu bukan karena logika.
Tapi karena
peduli.
0 comments:
Post a Comment