Tuesday, July 21, 2026

CHASING AURORA 3

 

CHASING AURORA

Bab 3 — Perjalanan Dinas dan Pria yang Tidak Bisa Santai

Ayla Renata punya teori baru tentang Kael Ardhana.

Teori pertama:

Kael tidak pernah panik.

Teori kedua:

Kael mungkin tidak tahu cara panik.

Teori ketiga:

Kalau suatu hari gedung kantor terbakar, Kael mungkin masih sempat merapikan dokumen sebelum keluar.

Dan pagi itu, teori ketiga hampir terasa benar.

"Kenapa kamu membawa tiga koper?"

Ayla menatap koper Kael di depan meja resepsionis.

Tiga.

Bukan satu.

Bukan dua.

Tiga.

Kael melihat koper-koper itu.

"Efisien."

Ayla berkedip.

"Efisien?"

"Ya."

"Kita pergi dua hari."

"Benar."

"Kenapa butuh tiga koper?"

Kael menjawab tanpa ragu.

"Satu untuk pakaian kerja."

"Yang kedua?"

"Peralatan pribadi."

"Yang ketiga?"

Kael diam sebentar.

Ayla menyipitkan mata.

"Kael."

"Dokumen."

Ayla menatapnya.

"Dokumen?"

"Ya."

"Kamu membawa satu koper penuh dokumen?"

"Sebagian."

"Sebagian?"

Kael terlihat tidak mengerti masalahnya.

"Kenapa?"

Ayla menutup wajahnya dengan tangan.

"Ya Tuhan."

"Apa?"

"Kamu benar-benar membawa pekerjaan saat perjalanan kerja."

"Itu namanya profesional."

"Itu namanya tidak punya kehidupan."


Proyek Aurora membawa mereka ke kota kecil di pinggir laut.

Mereka harus bertemu dengan pemilik lama sebuah studio desain yang pernah bekerja sama dengan brand tersebut.

Bagi Ayla, perjalanan ini adalah kesempatan.

Bagi Kael...

Mungkin hanya kantor dengan pemandangan berbeda.

Sepanjang perjalanan kereta, Kael membaca laporan.

Ayla mencoba tidak memperhatikan.

Gagal.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Dua puluh menit.

Akhirnya dia menyerah.

"Kamu tidak capek?"

Kael mengangkat kepala.

"Dengan apa?"

"Menjadi kamu."

Kael terdiam.

"Itu pertanyaan yang aneh."

"Karena aku penasaran."

"Saya baik-baik saja."

Ayla menghela napas.

"Nah, itu jawaban khas kamu."

"Karena memang benar."

"Kamu tahu tidak? Orang yang selalu bilang baik-baik saja biasanya justru tidak baik-baik saja."

Kael menatapnya.

"Anda psikolog sekarang?"

"Tidak."

"Lalu?"

"Aku hanya manusia yang memperhatikan."

Kael kembali melihat laporannya.

Tapi kali ini...

Dia tidak langsung membaca.


Sesampainya di kota tujuan, mereka langsung menuju lokasi.

Tempat itu adalah studio lama dengan dinding penuh foto dan lukisan.

Ayla berhenti di depan pintu.

Matanya berbinar.

"Indah."

Kael melihat gedungnya.

"Tua."

Ayla menoleh.

"Kamu tidak punya rasa seni."

"Saya punya."

"Contohnya?"

"Bangunan ini membutuhkan renovasi besar."

Ayla menggeleng.

"Kamu melihat masalah."

"Dan kamu melihat cerita."

"Ya."

Kael melihatnya.

"Karena itu kita bekerja bersama."

Ayla sedikit terdiam.

Itu mungkin pertama kalinya Kael mengatakan sesuatu tanpa terdengar seperti sedang membahas pekerjaan.


Setelah wawancara selesai, mereka berjalan mencari tempat makan.

Masalahnya:

Ayla ingin mencoba restoran kecil di pinggir jalan.

Kael ingin pergi ke restoran yang sudah dipesan sebelumnya.

"Kita sudah punya reservasi."

"Kita juga sudah punya kaki."

"Ayla."

"Kael."

Mereka saling menatap.

Akhirnya Kael menyerah.

"Lima belas menit."

Ayla tersenyum.

"Berhasil."

"Lima belas menit."

"Ya."

"Tidak lebih."

"Kamu tahu tidak?"

"Apa?"

"Kamu terdengar seperti ayah yang membawa anak jalan-jalan."

Kael langsung berhenti.

"Saya tidak seperti itu."

Ayla tertawa.

"Sedikit."


Restoran kecil itu ternyata ramai.

Mereka duduk di meja dekat jendela.

Kael melihat menu cukup lama.

Ayla memperhatikan.

"Kamu tidak tahu mau makan apa?"

"Saya sedang memilih."

"Kamu membaca menu seperti membaca kontrak."

"Saya ingin memilih dengan benar."

Ayla menunjuk satu makanan.

"Coba itu."

Kael melihat.

"Kenapa?"

"Karena enak."

"Itu bukan alasan objektif."

Ayla tersenyum.

"Selamat datang di dunia manusia."

Kael akhirnya memesan makanan yang dipilih Ayla.

Dan ketika makanan datang...

Dia menyukainya.

Ayla langsung tersenyum puas.

"Aku menang."

"Kita hanya makan."

"Aku berhasil membuatmu mencoba sesuatu tanpa analisis."

"Itu bukan kemenangan besar."

"Tapi kemenangan tetap kemenangan."

Kael menatapnya.

"Kamu selalu merayakan hal kecil?"

"Ya."

"Kenapa?"

Ayla mengangkat bahu.

"Karena kalau menunggu hal besar untuk bahagia, kita akan terlalu sering melewatkan hidup."

Kael tidak menjawab.

Tapi kali ini bukan karena tidak punya jawaban.

Karena dia sedang menyimpan kalimat itu.


Malamnya, mereka kembali ke hotel.

Ayla membuka pintu kamar.

Lalu berhenti.

Diam.

Kael yang berdiri di belakangnya ikut melihat.

Ada satu tempat tidur.

Ayla perlahan menoleh.

"Kael."

"Ya."

"Jangan bilang..."

"Saya sudah menghubungi resepsionis."

"Dan?"

"Mereka sedang penuh."

Ayla menutup mata.

"Tentu saja."

"Saya akan tidur di sofa."

Ayla melihat sofa kecil di sudut kamar.

"Kamu tingginya hampir dua meter."

"Saya bisa."

"Kamu tidak bisa."

"Saya bisa."

"Kamu selalu bilang begitu."

Kael diam.

Ayla menunjuknya.

"Nah. Lihat? Kamu tidak punya argumen."

Mereka akhirnya sepakat.

Kael tidur di tempat tidur.

Ayla mengambil sofa.

Lima menit kemudian...

"Ayla."

"Hm?"

"Sofa itu tidak nyaman."

"Aku tahu."

"Kenapa kamu tidak bilang?"

"Karena kamu pasti tetap menawarkan tempat tidur."

Kael diam.

Ayla membuka mata.

"Kamu mau bilang apa?"

"..."

"Kael?"

"Terima kasih."

Ayla tersenyum kecil.

"Sama-sama."


Beberapa jam kemudian, Kael terbangun.

Dia melihat Ayla tertidur di sofa dengan posisi tidak nyaman.

Tanpa banyak berpikir, dia mengambil selimut dan menutupinya.

Saat kembali ke tempat tidur, dia berhenti.

Dia baru sadar.

Biasanya dia tidak pernah melakukan sesuatu tanpa alasan.

Tapi malam ini...

Dia tidak punya alasan.

Dia hanya ingin memastikan Ayla tidak kedinginan.

Dan hal itu membuatnya sedikit terganggu.

Karena untuk pertama kalinya...

Ada seseorang yang membuat Kael Ardhana melakukan sesuatu bukan karena logika.

Tapi karena peduli.

0 comments:

Post a Comment

 

Blognya Alviana Anugrah Template by Ipietoon Cute Blog Design