Tuesday, July 21, 2026

CHASING AURORA — AFTER STORY 37

 

CHASING AURORA — AFTER STORY

Bab 37 — Suami Bernama Kael Ardhana

Ayla Renata punya satu kesimpulan setelah lima tahun menikah.

Menjadi istri Kael Ardhana ternyata membutuhkan kemampuan khusus.

Bukan memasak.

Bukan mengatur rumah.

Bukan menghadapi keluarga besar.

Tapi...

sabar menghadapi seseorang yang menganggap semua hal bisa dibuat menjadi rencana.


"Kael."

"Ya?"

"Kenapa ada tabel di meja makan?"

Kael yang sedang minum kopi berhenti.

"Itu bukan tabel."

Ayla mengambil kertas itu.

"Ini jelas tabel."

"Ini daftar."

"Judulnya apa?"

Kael diam.

Ayla membaca.

Rencana Akhir Pekan Berkualitas Bersama Ayla.


Ayla menatap suaminya.

"Kael."

"Ya?"

"Kita sudah menikah lima tahun."

"Saya tahu."

"Kenapa kamu masih membuat jadwal kencan?"

Kael terlihat bingung.

"Karena penting."

"Spontanitas juga penting."

"Saya sudah memasukkan spontanitas."

Ayla berkedip.

"Bagaimana caranya?"

Kael menunjuk satu bagian.

"Jam 16.00 sampai 17.00."

Ayla membaca.

Waktu spontan.


Ayla langsung tertawa.

"Kael."

"Ya?"

"Kamu menjadwalkan spontanitas."

"Benar."

"Itu bertentangan."

"Saya tidak melihat masalahnya."


Dan itulah Kael.

Pria yang bisa membuat investor takut...

tapi tidak bisa memenangkan perdebatan sederhana dengan istrinya.


Di Aurora, keadaan tidak jauh berbeda.


"Bos berubah."

Renzo berkata.

Mika mengangguk.

"Dulu dia dingin."

"Sekarang?"

"Masih dingin."

"Terus?"

"Tapi sekarang dia membawa bekal makan siang dari istrinya."


Semua staf melihat Kael masuk kantor.

Dengan kotak makan.


Salah satu staf baru berbisik:

"Itu benar?"

"Apa?"

"Pak Kael membawa bekal?"

Mika mengangguk.

"Ya."

"Siapa yang membuat?"

Semua menjawab:

"Istrinya."


Kael berhenti.

"Kalian membicarakan saya?"

Semua langsung diam.

Mika tersenyum.

"Tidak."

Kael melihat kotak makan.

"Lalu?"

"Kami hanya mengapresiasi."

"Apresiasi apa?"

"Bahwa Anda manusia."


Kael menghela napas.

"Saya selalu manusia."

Renzo menggeleng.

"Dulu kami tidak yakin."


Siang itu, Ayla melakukan video call.

"Kamu sudah makan?"

Kael mengangkat kotak makan.

"Sudah."

Ayla tersenyum.

"Kamu suka?"

"Ya."

"Ada yang kurang?"

Kael berpikir.

"Sedikit."

"Apa?"

"Kurang kamu."


Ayla terdiam.

Lalu tersenyum.

"Lima tahun menikah dan kamu baru bisa ngomong seperti ini?"

"Saya belajar."

"Dari siapa?"

"Kamu."


Tiba-tiba terdengar suara dari kantor.

"Pak Kael!"

Kael menoleh.

"Ada masalah?"

Stafnya berdiri.

"Proposal baru sudah selesai."

Kael mengangguk.

"Baik."

Ayla tertawa dari layar.

"Ayo bekerja."

"Ya."

"Dan jangan lupa makan."

"Ya."

"Dan jangan membuat tabel hubungan."

Kael diam.

Ayla langsung menyipitkan mata.

"Kael."

"Saya tidak membuat."

"Jujur."

"Baru draft."


Ayla tertawa.


Malamnya, mereka duduk di sofa.

Tidak membahas bisnis.

Tidak membahas perusahaan.

Tidak membahas masa depan.

Hanya menikmati malam biasa.


"Kael."

"Ya?"

"Kamu bahagia?"

Kael tidak perlu berpikir lama.

"Ya."

"Kenapa?"

Dia melihat rumah mereka.

Foto-foto kecil.

Kenangan perjalanan.

Hal-hal sederhana.


"Dulu saya mengejar tempat untuk disebut rumah."

Kael berkata.

"Sekarang saya tahu."

Ayla menatapnya.

"Rumah bukan tempat."

"Lalu?"

Kael tersenyum.

"Orang."


Ayla tersenyum.

Lalu menyandarkan kepala di bahunya.


Dan Kael Ardhana akhirnya memahami sesuatu.

Ada hal-hal yang tidak perlu direncanakan.

Seperti jatuh cinta.

Seperti tertawa.

Seperti pulang.


Tapi...

pagi berikutnya Ayla menemukan sesuatu.

Sebuah dokumen baru di laptop Kael.

Judulnya:

Rencana Liburan Keluarga Tahun Ini.

Dengan 27 halaman.


"Aku menyerah."

Ayla tertawa.

Dan Kael hanya menjawab:

"Saya sudah mengurangi dari 40 halaman."


Karena beberapa hal memang tidak berubah.

Dan mungkin...

itu yang membuat mereka tetap menjadi mereka.

BERSAMBUNG

 

0 comments:

Post a Comment

 

Blognya Alviana Anugrah Template by Ipietoon Cute Blog Design