Tuesday, July 21, 2026

CHASING AURORA 17

 

CHASING AURORA

Bab 17 — Rahasia yang Tidak Bisa Disembunyikan

Kael Ardhana punya satu aturan sederhana di kantor.

Pisahkan pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Aturan itu sudah dia pegang bertahun-tahun.

Dan selama bertahun-tahun...

aturan itu berhasil.

Sampai sekarang.

Karena masalahnya bukan Kael tidak bisa berpura-pura.

Masalahnya...

Ayla Renata terlalu mengenalnya.


Pagi itu, Ayla masuk kantor dengan wajah yang terlalu cerah.

Mika langsung menyadari.

"Kamu bahagia."

Ayla meletakkan tas.

"Tidak."

"Kamu tersenyum."

"Aku memang bisa tersenyum."

"Biasanya tidak jam delapan pagi."

Ayla membuka laptop.

"Aku hanya tidur cukup."

Mika menyipitkan mata.

"Karena?"

Ayla diam.

Kesalahan.

Mika langsung menunjuk.

"Nah."

"Apa?"

"Kamu diam."

"Aku sedang berpikir."

"Kamu belajar dari Kael?"

Ayla langsung melihat meja direktur.

Dan itu membuat Mika tertawa.


Di sisi lain kantor...

Kael sedang mengalami masalah yang sama.

Renzo masuk ke ruangannya.

"Kamu terlihat berbeda."

Kael tetap melihat layar.

"Tidak."

"Kamu memakai jam yang sama."

"Ya."

"Kemeja yang sama."

"Ya."

"Tapi ekspresi berbeda."

Kael berhenti mengetik.

"Ekspresi saya normal."

Renzo mengangguk.

"Benar."

"Lalu?"

"Normal untuk orang yang sedang bahagia."

Kael diam.

"Saya tidak."

"Kael."

"Apa?"

"Kamu tersenyum ketika membaca email."

Kael langsung serius.

"Saya tidak."

Renzo menunjuk layar.

"Kamu sedang membaca laporan penjualan."

Kael melihat.

Benar.

Dia tersenyum.


Rapat pagi dimulai.

Biasanya Ayla dan Kael akan duduk berseberangan.

Hari ini...

mereka duduk seperti biasa.

Terlalu biasa.

Dan justru itu mencurigakan.

"Ayla, pendapatmu?"

Kael bertanya.

Ayla menjawab.

"Konsep kedua lebih kuat karena memiliki emosi yang lebih dekat dengan target pasar."

Kael mengangguk.

"Saya setuju."

Ruangan langsung diam.

Mika melihat Renzo.

Renzo melihat Mika.

Karena itu tidak normal.

"Apa?"

Kael menatap mereka.

"Tidak ada."

Mika tersenyum.

"Tidak ada apa-apa."


Setelah rapat, Ayla berjalan keluar bersama Kael.

"Kamu sadar semua orang curiga?"

Kael menoleh.

"Kenapa?"

"Karena kamu setuju denganku tanpa debat."

"Itu bukan hal aneh."

Ayla berhenti.

"Kael."

"Ya?"

"Kita dulu pernah debat dua puluh menit hanya karena pilihan warna."

"Itu masalah desain."

"Itu warna biru."

"Warna bisa memengaruhi persepsi konsumen."

Ayla tertawa.

"Nah. Itu kamu."


Siang hari, masalah kecil muncul.

Seorang klien meminta revisi mendadak.

Tim mulai panik.

Kael langsung mengambil alih.

"Ayla, kamu pegang konsep visual."

"Baik."

"Mika, koordinasi dengan tim."

"Siap."

Semua berjalan cepat.

Dan seperti biasa...

mereka bekerja sangat baik bersama.

Terlalu baik.

Salah satu staf berbisik:

"Mereka seperti pasangan."

Orang di sebelahnya menjawab:

"Jangan bilang begitu."

"Kenapa?"

"Karena mungkin benar."


Sore hari, Ayla menemukan Kael masih bekerja.

"Kamu belum pulang."

"Kamu juga."

"Itu bukan jawaban."

Kael melihatnya.

"Kamu juga sering mengatakan itu."

Ayla tersenyum.

"Berarti kamu mulai belajar."

"Mungkin."

Ayla duduk di sofa.

"Aku mau tanya sesuatu."

"Silakan."

"Kita sekarang apa?"

Kael berhenti.

Pertanyaan itu lebih sulit dari presentasi bisnis.

"Saya..."

Ayla menunggu.

Dan untuk pertama kalinya, Kael terlihat benar-benar mencari kata.


"Kita masih mengenal satu sama lain."

Ayla mengangguk.

"Itu benar."

"Kita bekerja bersama."

"Benar."

"Kita juga..."

Dia berhenti.

Ayla tersenyum kecil.

"Kamu kesulitan mengatakan bagian itu?"

Kael menghela napas.

"Saya sedang berusaha."


Kael duduk di depannya.

"Saya tidak ingin terburu-buru."

Ayla mendengarkan.

"Tapi saya juga tidak ingin berpura-pura bahwa kamu hanya rekan kerja."

Jantung Ayla berdebar.

Karena itu adalah cara Kael mengatakan sesuatu yang besar.

Dengan kalimat sederhana.


"Aku juga tidak mau berpura-pura."

Ayla menjawab.

Hening.

Lalu Kael bertanya:

"Jadi?"

Ayla tersenyum.

"Jadi kita jalani saja."

"Tanpa rencana?"

Kael terlihat sedikit khawatir.

Ayla tertawa.

"Ya."

"Itu tidak efisien."

"Kael."

"Ya?"

"Perasaan memang tidak efisien."

Kael diam.

Lalu mengangguk.

"Mungkin itu sebabnya sulit."


Malam itu, mereka pulang bersama.

Tidak bergandengan tangan.

Tidak membuat pengumuman.

Tidak melakukan sesuatu yang besar.

Tapi ada perubahan kecil.

Saat sampai di depan lift, Kael berkata:

"Ayla."

"Ya?"

"Besok malam..."

Dia berhenti.

Ayla menunggu.

"Mau makan malam lagi?"

Ayla tersenyum.

"Itu ajakan kencan kedua?"

Kael berpikir.

Lalu menjawab:

"Ya."

Ayla tertawa.

"Kamu sekarang sudah tahu istilahnya."

"Saya belajar."


Di dalam lift, Kael melihat Ayla tersenyum.

Dan dia menyadari sesuatu.

Dulu dia selalu takut kehilangan kendali.

Sekarang dia mulai memahami:

Tidak semua hal harus dikendalikan.

Beberapa hal cukup dijalani.


Namun hubungan mereka baru saja mulai.

Dan seperti semua hubungan...

masalah tidak datang ketika dua orang mulai dekat.

Masalah datang ketika dunia luar mulai menyadarinya.

Karena besok pagi...

sebuah berita kecil akan membuat seluruh kantor Aurora gempar.

 

0 comments:

Post a Comment

 

Blognya Alviana Anugrah Template by Ipietoon Cute Blog Design