CHASING AURORA
Bab 17 —
Rahasia yang Tidak Bisa Disembunyikan
Kael Ardhana punya
satu aturan sederhana di kantor.
Pisahkan pekerjaan
dan kehidupan pribadi.
Aturan itu sudah
dia pegang bertahun-tahun.
Dan selama
bertahun-tahun...
aturan itu
berhasil.
Sampai sekarang.
Karena masalahnya
bukan Kael tidak bisa berpura-pura.
Masalahnya...
Ayla Renata
terlalu mengenalnya.
Pagi itu, Ayla
masuk kantor dengan wajah yang terlalu cerah.
Mika langsung
menyadari.
"Kamu
bahagia."
Ayla meletakkan
tas.
"Tidak."
"Kamu
tersenyum."
"Aku memang
bisa tersenyum."
"Biasanya
tidak jam delapan pagi."
Ayla membuka
laptop.
"Aku hanya
tidur cukup."
Mika menyipitkan
mata.
"Karena?"
Ayla diam.
Kesalahan.
Mika langsung
menunjuk.
"Nah."
"Apa?"
"Kamu
diam."
"Aku sedang
berpikir."
"Kamu belajar
dari Kael?"
Ayla langsung
melihat meja direktur.
Dan itu membuat
Mika tertawa.
Di sisi lain
kantor...
Kael sedang
mengalami masalah yang sama.
Renzo masuk ke
ruangannya.
"Kamu
terlihat berbeda."
Kael tetap melihat
layar.
"Tidak."
"Kamu memakai
jam yang sama."
"Ya."
"Kemeja yang
sama."
"Ya."
"Tapi
ekspresi berbeda."
Kael berhenti
mengetik.
"Ekspresi
saya normal."
Renzo mengangguk.
"Benar."
"Lalu?"
"Normal untuk
orang yang sedang bahagia."
Kael diam.
"Saya
tidak."
"Kael."
"Apa?"
"Kamu
tersenyum ketika membaca email."
Kael langsung
serius.
"Saya
tidak."
Renzo menunjuk
layar.
"Kamu sedang
membaca laporan penjualan."
Kael melihat.
Benar.
Dia tersenyum.
Rapat pagi
dimulai.
Biasanya Ayla dan
Kael akan duduk berseberangan.
Hari ini...
mereka duduk
seperti biasa.
Terlalu biasa.
Dan justru itu
mencurigakan.
"Ayla,
pendapatmu?"
Kael bertanya.
Ayla menjawab.
"Konsep kedua
lebih kuat karena memiliki emosi yang lebih dekat dengan target pasar."
Kael mengangguk.
"Saya
setuju."
Ruangan langsung
diam.
Mika melihat
Renzo.
Renzo melihat
Mika.
Karena itu tidak
normal.
"Apa?"
Kael menatap
mereka.
"Tidak
ada."
Mika tersenyum.
"Tidak ada
apa-apa."
Setelah rapat,
Ayla berjalan keluar bersama Kael.
"Kamu sadar
semua orang curiga?"
Kael menoleh.
"Kenapa?"
"Karena kamu
setuju denganku tanpa debat."
"Itu bukan
hal aneh."
Ayla berhenti.
"Kael."
"Ya?"
"Kita dulu
pernah debat dua puluh menit hanya karena pilihan warna."
"Itu masalah
desain."
"Itu warna
biru."
"Warna bisa
memengaruhi persepsi konsumen."
Ayla tertawa.
"Nah. Itu
kamu."
Siang hari,
masalah kecil muncul.
Seorang klien
meminta revisi mendadak.
Tim mulai panik.
Kael langsung
mengambil alih.
"Ayla, kamu
pegang konsep visual."
"Baik."
"Mika,
koordinasi dengan tim."
"Siap."
Semua berjalan
cepat.
Dan seperti
biasa...
mereka bekerja
sangat baik bersama.
Terlalu baik.
Salah satu staf
berbisik:
"Mereka
seperti pasangan."
Orang di
sebelahnya menjawab:
"Jangan
bilang begitu."
"Kenapa?"
"Karena
mungkin benar."
Sore hari, Ayla
menemukan Kael masih bekerja.
"Kamu belum
pulang."
"Kamu
juga."
"Itu bukan
jawaban."
Kael melihatnya.
"Kamu juga
sering mengatakan itu."
Ayla tersenyum.
"Berarti kamu
mulai belajar."
"Mungkin."
Ayla duduk di
sofa.
"Aku mau
tanya sesuatu."
"Silakan."
"Kita
sekarang apa?"
Kael berhenti.
Pertanyaan itu
lebih sulit dari presentasi bisnis.
"Saya..."
Ayla menunggu.
Dan untuk pertama
kalinya, Kael terlihat benar-benar mencari kata.
"Kita masih
mengenal satu sama lain."
Ayla mengangguk.
"Itu
benar."
"Kita bekerja
bersama."
"Benar."
"Kita
juga..."
Dia berhenti.
Ayla tersenyum
kecil.
"Kamu
kesulitan mengatakan bagian itu?"
Kael menghela
napas.
"Saya sedang
berusaha."
Kael duduk di
depannya.
"Saya tidak
ingin terburu-buru."
Ayla mendengarkan.
"Tapi saya
juga tidak ingin berpura-pura bahwa kamu hanya rekan kerja."
Jantung Ayla
berdebar.
Karena itu adalah
cara Kael mengatakan sesuatu yang besar.
Dengan kalimat
sederhana.
"Aku juga
tidak mau berpura-pura."
Ayla menjawab.
Hening.
Lalu Kael
bertanya:
"Jadi?"
Ayla tersenyum.
"Jadi kita
jalani saja."
"Tanpa
rencana?"
Kael terlihat
sedikit khawatir.
Ayla tertawa.
"Ya."
"Itu tidak
efisien."
"Kael."
"Ya?"
"Perasaan
memang tidak efisien."
Kael diam.
Lalu mengangguk.
"Mungkin itu
sebabnya sulit."
Malam itu, mereka
pulang bersama.
Tidak bergandengan
tangan.
Tidak membuat
pengumuman.
Tidak melakukan
sesuatu yang besar.
Tapi ada perubahan
kecil.
Saat sampai di
depan lift, Kael berkata:
"Ayla."
"Ya?"
"Besok
malam..."
Dia berhenti.
Ayla menunggu.
"Mau makan
malam lagi?"
Ayla tersenyum.
"Itu ajakan
kencan kedua?"
Kael berpikir.
Lalu menjawab:
"Ya."
Ayla tertawa.
"Kamu
sekarang sudah tahu istilahnya."
"Saya
belajar."
Di dalam lift,
Kael melihat Ayla tersenyum.
Dan dia menyadari
sesuatu.
Dulu dia selalu
takut kehilangan kendali.
Sekarang dia mulai
memahami:
Tidak semua hal
harus dikendalikan.
Beberapa hal cukup
dijalani.
Namun hubungan
mereka baru saja mulai.
Dan seperti semua
hubungan...
masalah tidak
datang ketika dua orang mulai dekat.
Masalah datang
ketika dunia luar mulai menyadarinya.
Karena besok
pagi...
sebuah berita
kecil akan membuat seluruh kantor Aurora gempar.
0 comments:
Post a Comment