Sejak menemukan kunci dari Noctis Orchid, Elena tidak bisa berhenti memikirkannya.
Sebuah kunci kecil.
Namun mampu mengubah ekspresi Adrian.
Pria yang selalu terlihat tenang.
Pria yang tidak pernah menunjukkan kelemahan.
Tampak seperti seseorang yang baru saja melihat hantu dari masa lalu.
Pagi itu, Adrian memanggil Elena ke ruang kerjanya.
Di atas meja terdapat kunci perak tersebut.
"Kita akan membuka ruangan itu malam ini."
Elena menatapnya.
"Anda yakin?"
Adrian diam beberapa saat.
"Tidak."
Jawaban jujur itu membuat Elena sedikit terkejut.
"Tapi kita tidak bisa terus menghindarinya."
Mereka berjalan menuju bagian lama mansion Noctis.
Tempat yang bahkan sebagian besar pelayan tidak pernah masuki.
Semakin jauh mereka berjalan...
semakin sunyi suasananya.
Tidak ada lukisan baru.
Tidak ada hiasan mewah.
Hanya dinding batu tua yang menyimpan banyak kenangan.
"Apa tempat ini selalu dikunci?"
Elena bertanya.
"Ya."
"Selama sepuluh tahun?"
Adrian mengangguk.
"Sejak ibuku meninggal."
Di ujung lorong terdapat sebuah pintu kayu besar.
Tidak terlihat istimewa.
Namun Elena bisa merasakan sesuatu.
Tempat ini penting bagi Adrian.
Bukan karena nilainya.
Tapi karena kenangan di baliknya.
Adrian memasukkan kunci perlahan.
Klik.
Suara kunci terbuka terdengar di lorong sunyi.
Ruangan itu gelap.
Adrian menyalakan lampu.
Dan Elena terdiam.
Bukan ruangan penuh harta.
Bukan ruang rahasia dengan emas atau dokumen penting.
Melainkan...
sebuah ruangan penuh tanaman kering.
Buku.
Dan lukisan.
Di tengah ruangan terdapat meja kerja tua.
Milik Lady Evelyn Noctis.
"Ibumu bekerja di sini?"
Elena bertanya pelan.
Adrian mengangguk.
"Setiap hari."
Ia berjalan perlahan.
Tangannya menyentuh permukaan meja.
"Dulu aku sering datang ke sini."
Elena menatapnya.
"Anda?"
Adrian tersenyum tipis.
Sangat tipis.
"Ketika aku kecil, aku tidak mengerti kenapa ibuku lebih suka menghabiskan waktu dengan tanaman daripada menghadiri pesta bangsawan."
"Dan sekarang?"
"Sekarang aku mengerti."
Elena melihat rak buku.
Sebagian besar berisi catatan botani.
Namun ada satu buku yang menarik perhatiannya.
Sampulnya sama dengan buku yang ia temukan sebelumnya.
Catatan Noctis Orchid.
Ia mengambilnya.
"Yang Mulia..."
Adrian menoleh.
"Buku lain?"
Elena mengangguk.
Mereka membuka buku itu bersama.
Berbeda dari buku sebelumnya.
Isinya bukan hanya tentang perawatan bunga.
Tapi juga tentang keluarga Noctis.
Tentang sejarah mereka.
Dan satu halaman membuat Elena berhenti.
"Noctis Orchid tidak akan mekar hanya karena perawatan."
"Ia membutuhkan seseorang yang mampu membawa kembali cahaya yang hilang dari keluarga ini."
Elena menatap tulisan itu.
"Cahaya?"
Adrian membaca halaman tersebut.
Wajahnya berubah serius.
Di halaman berikutnya tertulis:
"Jika suatu hari bunga ini mekar kembali..."
"Berarti seseorang telah datang yang mampu menyembuhkan luka yang kami tinggalkan."
Elena perlahan menutup buku.
Kalimat itu terasa terlalu personal.
Seolah Lady Evelyn menulis untuknya.
Padahal mereka tidak pernah bertemu.
"Adrian."
Ini pertama kalinya Elena memanggil namanya tanpa gelar dalam situasi serius.
Pria itu menoleh.
"Ibumu..."
Ia berhenti.
"Apakah beliau tahu sesuatu akan terjadi?"
Adrian tidak menjawab.
Karena pertanyaan itu juga pernah ia pikirkan.
Tiba-tiba...
sebuah suara jatuh terdengar.
Sebuah kotak kecil di atas rak jatuh ke lantai.
Elena dan Adrian menoleh bersamaan.
Di dalam kotak itu terdapat beberapa surat.
Semua memiliki nama penerima.
Untuk Adrian.
Tangan Adrian berhenti saat mengambil surat pertama.
Ia mengenali tulisan itu.
Tulisan tangan ibunya.
Namun sebelum membuka...
Elena melihat sesuatu.
Sebuah surat lain.
Bukan untuk Adrian.
Namanya tertulis di sana.
Untuk wanita yang akan menjadi Duchess Noctis.
Elena membeku.
Adrian juga melihatnya.
Tidak ada suara selama beberapa detik.
Karena surat itu ditulis bertahun-tahun lalu.
Sebelum Elena datang.
Sebelum pernikahan kontrak mereka terjadi.
Adrian mengambil surat tersebut.
Tatapannya sulit dibaca.
"Ini tidak mungkin."
Elena menatap amplop itu.
"Kenapa?"
Adrian menjawab pelan.
"Karena ibuku meninggal sepuluh tahun lalu."
Ia menatap nama di surat itu.
"Dan saat itu..."
"...aku bahkan belum pernah bertemu denganmu."
Di luar ruangan...
seseorang berdiri di balik lorong gelap.
Mendengarkan percakapan mereka.
Seseorang yang mengetahui bahwa rahasia keluarga Noctis akhirnya mulai terbuka.
Bersambung...
Comments
Post a Comment