CHASING AURORA
Bab 11 — Orang
dari Masa Lalu
Ayla Renata punya
satu kebiasaan buruk.
Dia terlalu mudah
membaca suasana.
Bukan membaca
pikiran.
Bukan seperti itu.
Tapi dia bisa
merasakan ketika seseorang berubah.
Nada suara.
Cara melihat.
Cara menjawab.
Dan pagi itu...
dia tahu ada
sesuatu yang berbeda dari Kael.
"Kamu datang
lebih awal."
Kael mengangkat
kepala dari laptopnya.
Ayla berdiri di
depan ruangannya sambil membawa dua gelas minuman.
"Saya selalu
datang lebih awal."
"Iya."
Ayla meletakkan
satu gelas di mejanya.
"Tapi
biasanya kamu tidak terlihat seperti orang yang sudah memikirkan seratus
masalah sebelum jam sembilan."
Kael melihatnya.
"Kamu bisa
melihat itu?"
Ayla duduk.
"Sayangnya,
iya."
"Sayangnya?"
"Karena
artinya saya mulai mengenal kebiasaanmu."
Kael diam
sebentar.
Lalu mengambil
minumannya.
"Terima
kasih."
Ayla tersenyum.
"Dua kata.
Kemajuan besar."
"Saya selalu
mengucapkan terima kasih."
"Tidak dengan
ekspresi seperti orang yang baru menemukan teknologi baru."
Kael hampir
tersenyum.
Hampir.
Sebelum mereka
melanjutkan rapat, pintu ruang kerja Kael diketuk.
Seorang perempuan
masuk.
Elegan.
Rapi.
Percaya diri.
"Akhirnya
saya bisa bertemu lagi dengan Anda."
Kael berdiri.
Dan untuk pertama
kalinya...
Ayla melihat
ekspresi yang berbeda.
Bukan ekspresi
profesional.
Bukan tenang.
Tapi terkejut.
"Elena."
Nama itu membuat
Ayla menoleh.
Perempuan itu
tersenyum.
"Sudah lama,
Kael."
Ayla tidak tahu
siapa Elena.
Dan dia tidak
bertanya.
Setidaknya...
dia mencoba tidak
bertanya.
Karena dia punya
harga diri.
Tapi masalahnya:
Kael dan Elena
terlihat seperti dua orang yang memiliki sejarah panjang.
Mereka berbicara
dengan mudah.
Terlalu mudah.
"Kamu dulu
masih sama."
Elena tersenyum.
"Selalu
bekerja terlalu keras."
Kael menjawab:
"Kamu
juga."
Ayla yang duduk di
sana merasa seperti orang asing di ruangannya sendiri.
Padahal itu bukan
ruangannya.
Dan dia tahu itu.
Setelah Elena
pergi, suasana menjadi aneh.
Sangat aneh.
Ayla melihat
dokumen di depannya.
Kael membaca
laptop.
Tidak ada yang
bicara.
Akhirnya Ayla
menyerah.
"Dia
siapa?"
Kael berhenti.
Pertanyaan itu
sederhana.
Tapi entah
kenapa...
dia tahu Ayla
tidak bertanya sekadar ingin tahu.
"Elena
Valen."
"Itu
namanya."
"Ya."
"Dan?"
Kael menatapnya.
Ayla langsung
mengangkat tangan.
"Maaf.
Lanjutkan."
Kael bersandar.
"Dia partner
bisnis lama."
"Lama?"
"Ya."
Ayla mengangguk.
"Seberapa
lama?"
Kael diam.
Ayla langsung
tahu.
"Oh."
"Apa?"
"Tidak
apa-apa."
"Kamu
berpikir sesuatu."
"Saya selalu
berpikir."
"Benar."
Siang hari, Mika
menemukan Ayla yang sedang melihat layar tanpa membaca apa pun.
"Kamu
kenapa?"
"Tidak
apa-apa."
Mika langsung
tersenyum.
"Kamu mulai
seperti Kael."
Ayla menatapnya.
"Itu
penghinaan."
"Sedikit."
"Aku hanya
penasaran."
"Tentang?"
Ayla diam.
Lalu menjawab
pelan:
"Elena."
Mika mengangguk.
"Nah."
"Apa?"
"Kamu
cemburu."
"Aku
tidak."
"Kamu
menjawab terlalu cepat."
Ayla memutar mata.
"Kenapa semua
orang sekarang memakai teori itu?"
"Karena
mungkin teori itu benar."
Sore itu, Ayla
mendengar percakapan dua staf.
"Elena Valen
dulu hampir menjadi partner tetap Pak Kael."
"Serius?"
"Iya. Mereka
sangat dekat."
Ayla berhenti
sebentar.
Sangat dekat.
Kata itu
mengganggunya.
Padahal dia tidak
punya alasan.
Kael bukan
miliknya.
Mereka hanya rekan
kerja.
Teman.
Partner.
Lalu kenapa
rasanya seperti ada sesuatu yang tidak nyaman?
Malamnya, saat
kantor mulai kosong, Kael menemukan Ayla masih bekerja.
"Kamu belum
pulang."
Ayla menoleh.
"Kamu
juga."
"Saya
bertanya dulu."
"Dan saya
menjawab."
Kael berdiri di
samping mejanya.
"Kamu
menghindari saya hari ini."
Ayla terkejut.
"Saya
tidak."
"Kamu
biasanya membantah lima kali dalam satu rapat."
"Jadi?"
"Hari ini
hanya dua kali."
Ayla hampir
tertawa.
"Kamu
menghitung?"
"Ya."
"Tentu
saja."
Hening.
Lalu Kael berkata:
"Elena bukan
seperti yang kamu pikirkan."
Ayla membeku.
"Saya tidak
berpikir apa-apa."
"Baik."
"Tapi..."
Dia berhenti.
Kael menunggu.
"Tapi kalau
kamu ingin menjelaskan, saya mendengarkan."
Kael duduk di
kursi seberangnya.
"Elena adalah
orang yang membantu saya membangun divisi pertama perusahaan."
Ayla mendengarkan.
"Kami pernah
bekerja sangat dekat."
Ayla mengangguk.
"Dia orang
yang percaya pada ide saya saat tidak banyak orang percaya."
"Itu
bagus."
"Ya."
"Lalu?"
Kael melihat
keluar jendela.
"Tapi dia
memilih jalan yang berbeda."
"Dan
kamu?"
"Saya tetap
di sini."
Ayla diam.
Untuk pertama
kalinya, dia melihat sesuatu.
Kael bukan orang
yang kehilangan seseorang karena tidak peduli.
Kadang...
orang pergi karena
hidup membawa mereka ke arah berbeda.
"Kamu masih
peduli padanya?"
Pertanyaan itu
keluar sebelum Ayla sempat berpikir.
Kael menatapnya.
Lama.
"Saya
menghargai masa lalu saya."
Jawaban aman.
Sangat Kael.
Tapi lalu dia
melanjutkan:
"Tapi saya
tidak ingin kembali ke masa lalu."
Ayla terdiam.
Malam itu, saat
Ayla pulang, dia menyadari sesuatu.
Dia tidak takut
pada Elena.
Bukan sebenarnya.
Yang dia takutkan
adalah:
Bagaimana jika ada
bagian dari Kael yang tidak pernah bisa dia kenal?
Sementara itu...
Kael berdiri di
ruangannya.
Melihat pesan
terakhir Ayla:
Sampai besok.
Jangan lupa makan.
Kalimat sederhana.
Tapi berbeda.
Karena dulu...
ada banyak orang
yang pernah berjalan bersamanya.
Tapi hanya satu
orang yang mengingatkan dia untuk makan tanpa alasan.
Dan orang itu...
adalah Ayla.
Besok, proyek
Aurora akan memasuki tahap paling penting.
Dan tanpa mereka
sadari...
masa lalu Kael
bukan satu-satunya hal yang akan diuji.
Tapi juga
keberanian mereka untuk melihat masa depan.
0 comments:
Post a Comment