Tuesday, July 21, 2026

CHASING AURORA 11

CHASING AURORA

Bab 11 — Orang dari Masa Lalu

Ayla Renata punya satu kebiasaan buruk.

Dia terlalu mudah membaca suasana.

Bukan membaca pikiran.

Bukan seperti itu.

Tapi dia bisa merasakan ketika seseorang berubah.

Nada suara.

Cara melihat.

Cara menjawab.

Dan pagi itu...

dia tahu ada sesuatu yang berbeda dari Kael.


"Kamu datang lebih awal."

Kael mengangkat kepala dari laptopnya.

Ayla berdiri di depan ruangannya sambil membawa dua gelas minuman.

"Saya selalu datang lebih awal."

"Iya."

Ayla meletakkan satu gelas di mejanya.

"Tapi biasanya kamu tidak terlihat seperti orang yang sudah memikirkan seratus masalah sebelum jam sembilan."

Kael melihatnya.

"Kamu bisa melihat itu?"

Ayla duduk.

"Sayangnya, iya."

"Sayangnya?"

"Karena artinya saya mulai mengenal kebiasaanmu."

Kael diam sebentar.

Lalu mengambil minumannya.

"Terima kasih."

Ayla tersenyum.

"Dua kata. Kemajuan besar."

"Saya selalu mengucapkan terima kasih."

"Tidak dengan ekspresi seperti orang yang baru menemukan teknologi baru."

Kael hampir tersenyum.

Hampir.


Sebelum mereka melanjutkan rapat, pintu ruang kerja Kael diketuk.

Seorang perempuan masuk.

Elegan.

Rapi.

Percaya diri.

"Akhirnya saya bisa bertemu lagi dengan Anda."

Kael berdiri.

Dan untuk pertama kalinya...

Ayla melihat ekspresi yang berbeda.

Bukan ekspresi profesional.

Bukan tenang.

Tapi terkejut.

"Elena."

Nama itu membuat Ayla menoleh.

Perempuan itu tersenyum.

"Sudah lama, Kael."


Ayla tidak tahu siapa Elena.

Dan dia tidak bertanya.

Setidaknya...

dia mencoba tidak bertanya.

Karena dia punya harga diri.

Tapi masalahnya:

Kael dan Elena terlihat seperti dua orang yang memiliki sejarah panjang.

Mereka berbicara dengan mudah.

Terlalu mudah.

"Kamu dulu masih sama."

Elena tersenyum.

"Selalu bekerja terlalu keras."

Kael menjawab:

"Kamu juga."

Ayla yang duduk di sana merasa seperti orang asing di ruangannya sendiri.

Padahal itu bukan ruangannya.

Dan dia tahu itu.


Setelah Elena pergi, suasana menjadi aneh.

Sangat aneh.

Ayla melihat dokumen di depannya.

Kael membaca laptop.

Tidak ada yang bicara.

Akhirnya Ayla menyerah.

"Dia siapa?"

Kael berhenti.

Pertanyaan itu sederhana.

Tapi entah kenapa...

dia tahu Ayla tidak bertanya sekadar ingin tahu.

"Elena Valen."

"Itu namanya."

"Ya."

"Dan?"

Kael menatapnya.

Ayla langsung mengangkat tangan.

"Maaf. Lanjutkan."

Kael bersandar.

"Dia partner bisnis lama."

"Lama?"

"Ya."

Ayla mengangguk.

"Seberapa lama?"

Kael diam.

Ayla langsung tahu.

"Oh."

"Apa?"

"Tidak apa-apa."

"Kamu berpikir sesuatu."

"Saya selalu berpikir."

"Benar."


Siang hari, Mika menemukan Ayla yang sedang melihat layar tanpa membaca apa pun.

"Kamu kenapa?"

"Tidak apa-apa."

Mika langsung tersenyum.

"Kamu mulai seperti Kael."

Ayla menatapnya.

"Itu penghinaan."

"Sedikit."

"Aku hanya penasaran."

"Tentang?"

Ayla diam.

Lalu menjawab pelan:

"Elena."

Mika mengangguk.

"Nah."

"Apa?"

"Kamu cemburu."

"Aku tidak."

"Kamu menjawab terlalu cepat."

Ayla memutar mata.

"Kenapa semua orang sekarang memakai teori itu?"

"Karena mungkin teori itu benar."


Sore itu, Ayla mendengar percakapan dua staf.

"Elena Valen dulu hampir menjadi partner tetap Pak Kael."

"Serius?"

"Iya. Mereka sangat dekat."

Ayla berhenti sebentar.

Sangat dekat.

Kata itu mengganggunya.

Padahal dia tidak punya alasan.

Kael bukan miliknya.

Mereka hanya rekan kerja.

Teman.

Partner.

Lalu kenapa rasanya seperti ada sesuatu yang tidak nyaman?


Malamnya, saat kantor mulai kosong, Kael menemukan Ayla masih bekerja.

"Kamu belum pulang."

Ayla menoleh.

"Kamu juga."

"Saya bertanya dulu."

"Dan saya menjawab."

Kael berdiri di samping mejanya.

"Kamu menghindari saya hari ini."

Ayla terkejut.

"Saya tidak."

"Kamu biasanya membantah lima kali dalam satu rapat."

"Jadi?"

"Hari ini hanya dua kali."

Ayla hampir tertawa.

"Kamu menghitung?"

"Ya."

"Tentu saja."

Hening.

Lalu Kael berkata:

"Elena bukan seperti yang kamu pikirkan."

Ayla membeku.

"Saya tidak berpikir apa-apa."

"Baik."

"Tapi..."

Dia berhenti.

Kael menunggu.

"Tapi kalau kamu ingin menjelaskan, saya mendengarkan."


Kael duduk di kursi seberangnya.

"Elena adalah orang yang membantu saya membangun divisi pertama perusahaan."

Ayla mendengarkan.

"Kami pernah bekerja sangat dekat."

Ayla mengangguk.

"Dia orang yang percaya pada ide saya saat tidak banyak orang percaya."

"Itu bagus."

"Ya."

"Lalu?"

Kael melihat keluar jendela.

"Tapi dia memilih jalan yang berbeda."

"Dan kamu?"

"Saya tetap di sini."


Ayla diam.

Untuk pertama kalinya, dia melihat sesuatu.

Kael bukan orang yang kehilangan seseorang karena tidak peduli.

Kadang...

orang pergi karena hidup membawa mereka ke arah berbeda.

"Kamu masih peduli padanya?"

Pertanyaan itu keluar sebelum Ayla sempat berpikir.

Kael menatapnya.

Lama.

"Saya menghargai masa lalu saya."

Jawaban aman.

Sangat Kael.

Tapi lalu dia melanjutkan:

"Tapi saya tidak ingin kembali ke masa lalu."

Ayla terdiam.


Malam itu, saat Ayla pulang, dia menyadari sesuatu.

Dia tidak takut pada Elena.

Bukan sebenarnya.

Yang dia takutkan adalah:

Bagaimana jika ada bagian dari Kael yang tidak pernah bisa dia kenal?

Sementara itu...

Kael berdiri di ruangannya.

Melihat pesan terakhir Ayla:

Sampai besok. Jangan lupa makan.

Kalimat sederhana.

Tapi berbeda.

Karena dulu...

ada banyak orang yang pernah berjalan bersamanya.

Tapi hanya satu orang yang mengingatkan dia untuk makan tanpa alasan.

Dan orang itu...

adalah Ayla.


Besok, proyek Aurora akan memasuki tahap paling penting.

Dan tanpa mereka sadari...

masa lalu Kael bukan satu-satunya hal yang akan diuji.

Tapi juga keberanian mereka untuk melihat masa depan.

 

 


0 comments:

Post a Comment

 

Blognya Alviana Anugrah Template by Ipietoon Cute Blog Design