Tuesday, July 21, 2026

CHASING AURORA 19

 

CHASING AURORA

Bab 19 — Orang yang Membuat Kael Takut

Ayla Renata pernah berpikir bahwa bagian tersulit dari hubungan dengan Kael Ardhana adalah membuat pria itu terbuka.

Ternyata bukan.

Bagian tersulit adalah menyadari...

ada bagian dari Kael yang bahkan Kael sendiri takut untuk tunjukkan.


Sejak hari itu, hubungan mereka berjalan dengan cara yang sangat "Kael dan Ayla".

Tidak ada pengumuman.

Tidak ada perubahan besar.

Hanya hal-hal kecil.

Kael mulai mengirim pesan pagi.

Kael: Jangan lupa sarapan.

Ayla selalu membalas:

Ayla: Kamu juga. Jangan pura-pura kuat.

Kael mulai menunggu Ayla pulang.

Ayla mulai menyimpan makanan di meja Kael.

Mereka masih berdebat.

Masih saling mengkritik.

Tapi sekarang...

ada senyum setelahnya.


"Kamu sadar tidak?"

Mika bertanya saat makan siang.

"Apa?"

"Kalian sangat aneh."

Ayla mengangkat alis.

"Kami?"

"Iya."

"Kenapa?"

"Kebanyakan pasangan bertengkar karena hal romantis."

"Lalu?"

"Kalian bertengkar karena font presentasi."

Ayla tertawa.

"Itu penting."

"Tidak untuk semua orang."


Namun kebahagiaan kecil itu tidak berlangsung lama.

Suatu sore, Kael menerima telepon.

Dan Ayla langsung tahu.

Ada yang berbeda.

Wajah Kael berubah.

Bukan wajah direktur.

Bukan wajah pria tenang yang selalu punya solusi.

Tapi wajah seseorang yang sedang menghadapi sesuatu yang berat.

"Siapa?"

Ayla bertanya setelah telepon selesai.

Kael memasukkan ponselnya.

"Keluarga."

Satu kata.

Tapi cukup untuk membuat Ayla diam.

Karena dia tahu.

Kael jarang membicarakan keluarga.


Malam itu, Kael terlihat lebih diam dari biasanya.

"Kamu mau cerita?"

Ayla bertanya.

Mereka sedang duduk di mobil sebelum pulang.

Kael melihat jalan.

"Tidak ada yang perlu diceritakan."

Ayla tersenyum kecil.

"Kalimat itu biasanya berarti ada banyak yang tidak diceritakan."

Kael tidak menjawab.


Akhirnya dia berkata:

"Ibu saya mengadakan makan malam keluarga."

Ayla menunggu.

"Itu bagus."

"Belum tentu."

"Kenapa?"

Kael diam cukup lama.

"Lama sekali saya tidak pulang."

Ayla melihatnya.

"Kenapa?"

Kael menggenggam setir.

"Karena saya dan ayah saya tidak punya hubungan yang baik."


Untuk pertama kalinya...

Ayla melihat sisi Kael yang tidak sempurna.

Bukan direktur.

Bukan pria yang selalu kuat.

Hanya seorang anak yang punya luka lama.

"Ayah kamu?"

"Dia selalu percaya bahwa hasil adalah segalanya."

Kael tersenyum tipis.

"Menurut dia, seseorang dinilai dari apa yang berhasil dia capai."

Ayla diam.

"Dan saya pikir..."

Kael berhenti.

"Saya harus membuktikan bahwa saya cukup."


Ayla tidak langsung menjawab.

Karena sekarang dia mengerti.

Kenapa Kael selalu bekerja terlalu keras.

Kenapa dia selalu mencari solusi.

Kenapa dia sulit menerima bantuan.

Bukan karena dia tidak punya hati.

Tapi karena dia belajar bahwa kesalahan berarti kehilangan nilai.


"Kamu tahu?"

Ayla berkata pelan.

"Apa?"

"Aku dulu berpikir kamu dingin."

Kael meliriknya.

"Dan sekarang?"

"Sekarang aku pikir kamu hanya terlalu lama sendirian."

Kael terdiam.


Hari makan malam keluarga tiba.

Ayla tidak ikut.

Ini bukan waktunya masuk ke ruang yang belum menjadi bagiannya.

Tapi sebelum Kael pergi...

Ayla memberinya sesuatu.

Sebuah pulpen kecil.

Kael melihatnya.

"Ini?"

"Untuk keberuntungan."

"Saya tidak percaya keberuntungan."

"Aku tahu."

"Lalu?"

"Makanya aku bilang keberuntungan."

Kael hampir tersenyum.


"Kael."

"Ya?"

"Jangan pergi ke sana sebagai direktur Aurora."

Kael menatapnya.

"Lalu sebagai apa?"

"Sebagai dirimu sendiri."


Kalimat itu terus teringat sepanjang perjalanan.


Rumah keluarga Ardhana besar.

Terlalu besar.

Dan terlalu penuh kenangan.

Kael masuk.

Ayahnya sudah menunggu.

"Kamu datang."

"Ya."

"Perusahaan berjalan baik?"

"Ya."

Ayahnya mengangguk.

Seperti sedang menilai laporan.

Bukan berbicara dengan anaknya.

"Kamu masih terlalu banyak bekerja."

Kael diam.

"Kamu belum berubah."


Biasanya Kael akan diam.

Biasanya dia akan menerima.

Tapi malam ini berbeda.

Karena ada seseorang yang mengatakan kepadanya:

Jangan datang sebagai direktur.

Datang sebagai dirimu sendiri.


"Ayah."

Pria itu menatapnya.

"Saya tidak datang untuk membicarakan perusahaan."

Hening.

"Saya datang sebagai anak Ayah."


Dan untuk pertama kalinya...

Kael mengatakan sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah dia katakan.

"Saya lelah selalu merasa harus membuktikan diri."


Di sisi lain kota...

Ayla melihat ponselnya.

Tidak ada pesan.

Dia tahu Kael sedang menghadapi sesuatu yang sulit.

Lalu akhirnya pesan masuk.

Kael: Terima kasih.

Ayla tersenyum.

Dia membalas:

Ayla: Untuk apa?

Beberapa saat kemudian.

Kael: Karena mengingatkan saya siapa saya.


Ayla menatap pesan itu lama.

Karena dia tahu.

Bagi Kael Ardhana...

kalimat itu lebih besar daripada "aku rindu".


Namun pagi berikutnya...

sebuah berita muncul.

Tentang keluarga Ardhana.

Tentang perusahaan mereka.

Dan tentang sebuah keputusan lama yang bisa mengubah masa depan Kael.

Kali ini...

masalahnya bukan lagi tentang hati.

Tapi tentang pilihan hidup.

 

0 comments:

Post a Comment

 

Blognya Alviana Anugrah Template by Ipietoon Cute Blog Design