CHASING AURORA
Bab 19 — Orang
yang Membuat Kael Takut
Ayla Renata
pernah berpikir bahwa bagian tersulit dari hubungan dengan Kael Ardhana adalah
membuat pria itu terbuka.
Ternyata bukan.
Bagian tersulit
adalah menyadari...
ada bagian dari
Kael yang bahkan Kael sendiri takut untuk tunjukkan.
Sejak hari itu,
hubungan mereka berjalan dengan cara yang sangat "Kael dan Ayla".
Tidak ada
pengumuman.
Tidak ada
perubahan besar.
Hanya hal-hal
kecil.
Kael mulai
mengirim pesan pagi.
Kael: Jangan
lupa sarapan.
Ayla selalu
membalas:
Ayla: Kamu
juga. Jangan pura-pura kuat.
Kael mulai
menunggu Ayla pulang.
Ayla mulai
menyimpan makanan di meja Kael.
Mereka masih
berdebat.
Masih saling
mengkritik.
Tapi
sekarang...
ada senyum
setelahnya.
"Kamu
sadar tidak?"
Mika bertanya
saat makan siang.
"Apa?"
"Kalian
sangat aneh."
Ayla mengangkat
alis.
"Kami?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Kebanyakan
pasangan bertengkar karena hal romantis."
"Lalu?"
"Kalian
bertengkar karena font presentasi."
Ayla tertawa.
"Itu
penting."
"Tidak
untuk semua orang."
Namun
kebahagiaan kecil itu tidak berlangsung lama.
Suatu sore,
Kael menerima telepon.
Dan Ayla
langsung tahu.
Ada yang
berbeda.
Wajah Kael
berubah.
Bukan wajah
direktur.
Bukan wajah
pria tenang yang selalu punya solusi.
Tapi wajah
seseorang yang sedang menghadapi sesuatu yang berat.
"Siapa?"
Ayla bertanya
setelah telepon selesai.
Kael memasukkan
ponselnya.
"Keluarga."
Satu kata.
Tapi cukup
untuk membuat Ayla diam.
Karena dia
tahu.
Kael jarang
membicarakan keluarga.
Malam itu, Kael
terlihat lebih diam dari biasanya.
"Kamu mau
cerita?"
Ayla bertanya.
Mereka sedang
duduk di mobil sebelum pulang.
Kael melihat
jalan.
"Tidak ada
yang perlu diceritakan."
Ayla tersenyum
kecil.
"Kalimat
itu biasanya berarti ada banyak yang tidak diceritakan."
Kael tidak
menjawab.
Akhirnya dia
berkata:
"Ibu saya
mengadakan makan malam keluarga."
Ayla menunggu.
"Itu
bagus."
"Belum
tentu."
"Kenapa?"
Kael diam cukup
lama.
"Lama
sekali saya tidak pulang."
Ayla
melihatnya.
"Kenapa?"
Kael
menggenggam setir.
"Karena
saya dan ayah saya tidak punya hubungan yang baik."
Untuk pertama
kalinya...
Ayla melihat
sisi Kael yang tidak sempurna.
Bukan direktur.
Bukan pria yang
selalu kuat.
Hanya seorang
anak yang punya luka lama.
"Ayah
kamu?"
"Dia
selalu percaya bahwa hasil adalah segalanya."
Kael tersenyum
tipis.
"Menurut
dia, seseorang dinilai dari apa yang berhasil dia capai."
Ayla diam.
"Dan saya
pikir..."
Kael berhenti.
"Saya
harus membuktikan bahwa saya cukup."
Ayla tidak
langsung menjawab.
Karena sekarang
dia mengerti.
Kenapa Kael
selalu bekerja terlalu keras.
Kenapa dia
selalu mencari solusi.
Kenapa dia
sulit menerima bantuan.
Bukan karena
dia tidak punya hati.
Tapi karena dia
belajar bahwa kesalahan berarti kehilangan nilai.
"Kamu
tahu?"
Ayla berkata
pelan.
"Apa?"
"Aku dulu
berpikir kamu dingin."
Kael
meliriknya.
"Dan
sekarang?"
"Sekarang
aku pikir kamu hanya terlalu lama sendirian."
Kael terdiam.
Hari makan
malam keluarga tiba.
Ayla tidak
ikut.
Ini bukan
waktunya masuk ke ruang yang belum menjadi bagiannya.
Tapi sebelum
Kael pergi...
Ayla memberinya
sesuatu.
Sebuah pulpen
kecil.
Kael
melihatnya.
"Ini?"
"Untuk
keberuntungan."
"Saya
tidak percaya keberuntungan."
"Aku
tahu."
"Lalu?"
"Makanya
aku bilang keberuntungan."
Kael hampir
tersenyum.
"Kael."
"Ya?"
"Jangan
pergi ke sana sebagai direktur Aurora."
Kael
menatapnya.
"Lalu
sebagai apa?"
"Sebagai
dirimu sendiri."
Kalimat itu
terus teringat sepanjang perjalanan.
Rumah keluarga
Ardhana besar.
Terlalu besar.
Dan terlalu
penuh kenangan.
Kael masuk.
Ayahnya sudah
menunggu.
"Kamu
datang."
"Ya."
"Perusahaan
berjalan baik?"
"Ya."
Ayahnya
mengangguk.
Seperti sedang
menilai laporan.
Bukan berbicara
dengan anaknya.
"Kamu
masih terlalu banyak bekerja."
Kael diam.
"Kamu
belum berubah."
Biasanya Kael
akan diam.
Biasanya dia
akan menerima.
Tapi malam ini
berbeda.
Karena ada
seseorang yang mengatakan kepadanya:
Jangan datang
sebagai direktur.
Datang sebagai
dirimu sendiri.
"Ayah."
Pria itu
menatapnya.
"Saya
tidak datang untuk membicarakan perusahaan."
Hening.
"Saya
datang sebagai anak Ayah."
Dan untuk
pertama kalinya...
Kael mengatakan
sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah dia katakan.
"Saya
lelah selalu merasa harus membuktikan diri."
Di sisi lain
kota...
Ayla melihat
ponselnya.
Tidak ada
pesan.
Dia tahu Kael
sedang menghadapi sesuatu yang sulit.
Lalu akhirnya
pesan masuk.
Kael: Terima
kasih.
Ayla tersenyum.
Dia membalas:
Ayla: Untuk
apa?
Beberapa saat
kemudian.
Kael: Karena
mengingatkan saya siapa saya.
Ayla menatap
pesan itu lama.
Karena dia
tahu.
Bagi Kael
Ardhana...
kalimat itu
lebih besar daripada "aku rindu".
Namun pagi
berikutnya...
sebuah berita
muncul.
Tentang
keluarga Ardhana.
Tentang
perusahaan mereka.
Dan tentang
sebuah keputusan lama yang bisa mengubah masa depan Kael.
Kali ini...
masalahnya
bukan lagi tentang hati.
Tapi tentang
pilihan hidup.
0 comments:
Post a Comment