Tuesday, July 21, 2026

CHASING AURORA 24

 

CHASING AURORA

Bab 24 — Pulang ke Tempat yang Sama

Enam bulan ternyata bisa terasa sangat lama.

Dan juga sangat cepat.

Tergantung siapa yang menunggu.


Kael Ardhana selalu mengira dirinya adalah orang yang pandai menghadapi perubahan.

Perusahaan berubah.

Pasar berubah.

Strategi berubah.

Dia bisa mengikuti semuanya.

Tapi ternyata ada satu perubahan yang sulit dia hadapi.

Meja kerja Ayla yang kosong.


"Kamu lihat jam lagi."

Renzo berkata.

Kael menurunkan tangannya.

"Saya tidak."

"Kamu melihat kalender."

"Saya sedang mengecek jadwal."

"Jadwal kepulangan Ayla?"

Kael diam.

Renzo tersenyum.

"Enam bulan dan kamu masih menyangkal."

"Saya tidak menyangkal."

"Kamu bahkan sudah membersihkan meja tamu di ruangmu."

Kael melihat ke arah meja kecil.

"Supaya rapi."

"Tentu."


Hari kepulangan Ayla tiba.

Dan anehnya...

Kael yang biasanya tidak pernah gugup sebelum presentasi besar...

merasa lebih gugup menunggu satu orang keluar dari pintu bandara.


Saat Ayla muncul dengan koper...

Kael langsung tahu.

Dia berubah.

Bukan menjadi orang lain.

Tapi menjadi seseorang yang lebih percaya diri.

Cara berjalan.

Cara berbicara.

Tatapan matanya.

London membuat Ayla semakin kuat.


Ayla melihat Kael.

Dan berhenti.

Karena Kael juga berbeda.

Rambutnya sedikit lebih panjang.

Wajahnya terlihat lebih santai.

Dan yang paling mengejutkan...

dia tersenyum lebih mudah.


"Kamu datang."

Kalimat pertama Kael.

Ayla mengangkat alis.

"Serius?"

"Apa?"

"Setelah enam bulan, itu yang kamu katakan?"

Kael berpikir.

"Saya sudah menyiapkan beberapa kalimat."

"Beberapa?"

"Ya."

"Lalu?"

"Saya lupa."

Ayla tertawa.

Dan Kael tahu.

Dia merindukan suara itu.


"Kamu baik-baik saja?"

Kael bertanya.

Ayla mengangguk.

"Ya."

"Lelah?"

"Sedikit."

"Sudah makan?"

Ayla langsung tertawa.

"Kael."

"Ya?"

"Kamu masih sama."

"Bagus."


Dalam perjalanan pulang, mereka banyak diam.

Tapi bukan diam yang canggung.

Lebih seperti dua orang yang sedang menikmati fakta:

Mereka akhirnya bersama lagi.


Keesokan harinya, kantor Aurora gempar.

Bukan karena proyek.

Bukan karena berita bisnis.

Tapi karena...

Ayla kembali.


"Akhirnya!"

Mika langsung memeluk Ayla.

"Kamu berubah!"

Ayla tertawa.

"Berubah bagaimana?"

"Lebih dewasa."

Renzo yang lewat berkata:

"Sayangnya Kael masih Kael."

Ayla menoleh.

"Maksudnya?"

"Masih tidak tahu cara terlihat romantis."


Seolah dipanggil...

Kael keluar dari ruangannya.

"Apa yang dibicarakan?"

"Tidak ada."

Jawaban terlalu cepat.

Kael menatap mereka curiga.

Ayla tersenyum.

"Selamat datang kembali ke kantor."

Kael mengangguk.

"Selamat datang kembali."


Namun ada sesuatu yang berbeda.

Dulu Ayla selalu mengikuti ritme Kael.

Sekarang...

Kael mulai mengikuti ritme Ayla.

Saat rapat, Ayla lebih berani menyampaikan pendapat.

Dan Kael tidak lagi langsung memotong dengan pertimbangan risiko.

Dia mendengarkan.


"Saya suka perubahan ini."

Mika berkata.

Ayla menoleh.

"Perubahan apa?"

"Kalian."

"Apanya?"

"Dulu kalian seperti dua orang yang ingin menang."

"Lalu sekarang?"

"Sekarang kalian seperti dua orang yang ingin memahami."


Malam itu, Kael mengajak Ayla makan malam.

Bukan di restoran mewah.

Bukan acara bisnis.

Hanya tempat kecil yang pernah mereka datangi.


"Kamu sengaja memilih tempat ini?"

Ayla bertanya.

"Ya."

"Kenapa?"

"Karena ini tempat pertama kita membicarakan hubungan kita."

Ayla tersenyum.

"Kamu ingat?"

"Saya ingat banyak hal tentang kamu."


Ayla terdiam.

Enam bulan lalu, kalimat seperti itu mungkin akan membuat Kael gugup.

Sekarang dia mengatakannya dengan tenang.


"Aku belajar banyak di London."

Kata Ayla.

"Saya tahu."

"Kok tahu?"

"Kamu berbeda."

"Apakah itu bagus?"

Kael mengangguk.

"Ya."

"Lalu kamu?"

"Saya juga belajar."

"Apa?"

Kael berpikir.

"Bahwa saya tidak harus selalu kuat sendirian."


Ayla tersenyum.

Karena itu mungkin perkembangan terbesar Kael.


Setelah makan, mereka berjalan di malam hari.

Tidak ada hujan.

Tidak ada masalah.

Tidak ada perpisahan.

Hanya mereka.


"Ayla."

"Ya?"

"Saya punya sesuatu."

Kael memberikan sebuah kotak kecil.

Ayla membukanya.

Sebuah kalung sederhana dengan liontin berbentuk kompas.

Ayla menatapnya.

"Kompas lagi?"

Kael mengangguk.

"Kamu suka kompas."

"Kamu juga sekarang?"

"Mungkin."


Ayla tersenyum.

"Ini hadiah pulang?"

"Ya."

"Kenapa?"

Kael melihatnya.

"Karena kamu pernah bertanya apakah saya akan tetap menjadi tempat pulang."

Ayla diam.

"Sekarang saya ingin kamu tahu."

Kael tersenyum kecil.

"Kalau kamu butuh arah, saya akan ada."


Ayla tidak menjawab.

Dia hanya memeluk Kael.

Dan kali ini...

Kael tidak kaku.

Dia langsung membalas.


Mereka pikir bagian tersulit sudah selesai.

Jarak.

Karier.

Keluarga.

Semuanya sudah mereka lewati.

Tapi mereka lupa satu hal.

Ketika dua orang kembali bersama setelah berubah...

mereka harus belajar mencintai versi baru satu sama lain.

Dan di Aurora Media...

sebuah proyek baru akan mempertemukan mereka dengan masa depan yang tidak pernah mereka rencanakan.

 

0 comments:

Post a Comment

 

Blognya Alviana Anugrah Template by Ipietoon Cute Blog Design