CHASING AURORA
Bab 24 — Pulang
ke Tempat yang Sama
Enam bulan
ternyata bisa terasa sangat lama.
Dan juga sangat
cepat.
Tergantung siapa
yang menunggu.
Kael Ardhana
selalu mengira dirinya adalah orang yang pandai menghadapi perubahan.
Perusahaan
berubah.
Pasar berubah.
Strategi berubah.
Dia bisa mengikuti
semuanya.
Tapi ternyata ada
satu perubahan yang sulit dia hadapi.
Meja kerja Ayla
yang kosong.
"Kamu lihat
jam lagi."
Renzo berkata.
Kael menurunkan
tangannya.
"Saya
tidak."
"Kamu melihat
kalender."
"Saya sedang
mengecek jadwal."
"Jadwal
kepulangan Ayla?"
Kael diam.
Renzo tersenyum.
"Enam bulan
dan kamu masih menyangkal."
"Saya tidak
menyangkal."
"Kamu bahkan
sudah membersihkan meja tamu di ruangmu."
Kael melihat ke
arah meja kecil.
"Supaya
rapi."
"Tentu."
Hari kepulangan
Ayla tiba.
Dan anehnya...
Kael yang biasanya
tidak pernah gugup sebelum presentasi besar...
merasa lebih gugup
menunggu satu orang keluar dari pintu bandara.
Saat Ayla muncul
dengan koper...
Kael langsung
tahu.
Dia berubah.
Bukan menjadi
orang lain.
Tapi menjadi
seseorang yang lebih percaya diri.
Cara berjalan.
Cara berbicara.
Tatapan matanya.
London membuat
Ayla semakin kuat.
Ayla melihat Kael.
Dan berhenti.
Karena Kael juga
berbeda.
Rambutnya sedikit
lebih panjang.
Wajahnya terlihat
lebih santai.
Dan yang paling
mengejutkan...
dia tersenyum
lebih mudah.
"Kamu
datang."
Kalimat pertama
Kael.
Ayla mengangkat
alis.
"Serius?"
"Apa?"
"Setelah enam
bulan, itu yang kamu katakan?"
Kael berpikir.
"Saya sudah
menyiapkan beberapa kalimat."
"Beberapa?"
"Ya."
"Lalu?"
"Saya
lupa."
Ayla tertawa.
Dan Kael tahu.
Dia merindukan
suara itu.
"Kamu
baik-baik saja?"
Kael bertanya.
Ayla mengangguk.
"Ya."
"Lelah?"
"Sedikit."
"Sudah
makan?"
Ayla langsung
tertawa.
"Kael."
"Ya?"
"Kamu masih
sama."
"Bagus."
Dalam perjalanan
pulang, mereka banyak diam.
Tapi bukan diam
yang canggung.
Lebih seperti dua
orang yang sedang menikmati fakta:
Mereka akhirnya
bersama lagi.
Keesokan harinya,
kantor Aurora gempar.
Bukan karena
proyek.
Bukan karena
berita bisnis.
Tapi karena...
Ayla kembali.
"Akhirnya!"
Mika langsung
memeluk Ayla.
"Kamu
berubah!"
Ayla tertawa.
"Berubah
bagaimana?"
"Lebih
dewasa."
Renzo yang lewat
berkata:
"Sayangnya
Kael masih Kael."
Ayla menoleh.
"Maksudnya?"
"Masih tidak
tahu cara terlihat romantis."
Seolah
dipanggil...
Kael keluar dari
ruangannya.
"Apa yang
dibicarakan?"
"Tidak
ada."
Jawaban terlalu
cepat.
Kael menatap
mereka curiga.
Ayla tersenyum.
"Selamat
datang kembali ke kantor."
Kael mengangguk.
"Selamat
datang kembali."
Namun ada sesuatu
yang berbeda.
Dulu Ayla selalu
mengikuti ritme Kael.
Sekarang...
Kael mulai
mengikuti ritme Ayla.
Saat rapat, Ayla
lebih berani menyampaikan pendapat.
Dan Kael tidak
lagi langsung memotong dengan pertimbangan risiko.
Dia mendengarkan.
"Saya suka
perubahan ini."
Mika berkata.
Ayla menoleh.
"Perubahan
apa?"
"Kalian."
"Apanya?"
"Dulu kalian
seperti dua orang yang ingin menang."
"Lalu
sekarang?"
"Sekarang
kalian seperti dua orang yang ingin memahami."
Malam itu, Kael
mengajak Ayla makan malam.
Bukan di restoran
mewah.
Bukan acara
bisnis.
Hanya tempat kecil
yang pernah mereka datangi.
"Kamu sengaja
memilih tempat ini?"
Ayla bertanya.
"Ya."
"Kenapa?"
"Karena ini
tempat pertama kita membicarakan hubungan kita."
Ayla tersenyum.
"Kamu
ingat?"
"Saya ingat
banyak hal tentang kamu."
Ayla terdiam.
Enam bulan lalu,
kalimat seperti itu mungkin akan membuat Kael gugup.
Sekarang dia
mengatakannya dengan tenang.
"Aku belajar
banyak di London."
Kata Ayla.
"Saya
tahu."
"Kok
tahu?"
"Kamu
berbeda."
"Apakah itu
bagus?"
Kael mengangguk.
"Ya."
"Lalu
kamu?"
"Saya juga
belajar."
"Apa?"
Kael berpikir.
"Bahwa saya
tidak harus selalu kuat sendirian."
Ayla tersenyum.
Karena itu mungkin
perkembangan terbesar Kael.
Setelah makan,
mereka berjalan di malam hari.
Tidak ada hujan.
Tidak ada masalah.
Tidak ada
perpisahan.
Hanya mereka.
"Ayla."
"Ya?"
"Saya punya
sesuatu."
Kael memberikan
sebuah kotak kecil.
Ayla membukanya.
Sebuah kalung
sederhana dengan liontin berbentuk kompas.
Ayla menatapnya.
"Kompas
lagi?"
Kael mengangguk.
"Kamu suka
kompas."
"Kamu juga
sekarang?"
"Mungkin."
Ayla tersenyum.
"Ini hadiah
pulang?"
"Ya."
"Kenapa?"
Kael melihatnya.
"Karena kamu
pernah bertanya apakah saya akan tetap menjadi tempat pulang."
Ayla diam.
"Sekarang
saya ingin kamu tahu."
Kael tersenyum
kecil.
"Kalau kamu
butuh arah, saya akan ada."
Ayla tidak
menjawab.
Dia hanya memeluk
Kael.
Dan kali ini...
Kael tidak kaku.
Dia langsung
membalas.
Mereka pikir
bagian tersulit sudah selesai.
Jarak.
Karier.
Keluarga.
Semuanya sudah
mereka lewati.
Tapi mereka lupa
satu hal.
Ketika dua orang
kembali bersama setelah berubah...
mereka harus
belajar mencintai versi baru satu sama lain.
Dan di Aurora
Media...
sebuah proyek baru
akan mempertemukan mereka dengan masa depan yang tidak pernah mereka
rencanakan.
0 comments:
Post a Comment