Tuesday, July 21, 2026

CHASING AURORA 10

 

CHASING AURORA

Bab 10 — Kembali ke Tempat yang Sama

Ayla Renata tidak pernah menyangka bahwa satu bulan bisa terasa sangat panjang.

Padahal dulu dia mengeluh karena Kael Ardhana terlalu sering berada di dekatnya.

Terlalu banyak mengoreksi.

Terlalu serius.

Terlalu suka membuat jadwal.

Sekarang...

dia justru merasa ada sesuatu yang hilang.

Dan dia tidak suka mengakuinya.


Hari kepulangannya ke kantor pusat tiba.

Ayla berdiri di depan gedung Aurora Media sambil menarik napas.

Tempat ini masih sama.

Lobi yang sama.

Lift yang sama.

Meja kerja yang sama.

Tapi entah kenapa...

rasanya berbeda.

Mungkin karena ada seseorang di lantai dua puluh tiga yang sudah lama tidak dia lihat.


"Ayla!"

Mika langsung menghampirinya.

Mereka berpelukan.

"Aku kangen!"

Ayla tertawa.

"Baru satu bulan."

"Satu bulan itu lama."

"Kamu lebay."

"Dan kamu?"

"Apa?"

"Kamu juga kangen."

Ayla langsung berjalan menuju mejanya.

"Aku mau kerja."

Mika mengikuti.

"Itu bukan jawaban."

"Memang bukan."

"Berarti benar."

Ayla membuka laptop.

Lalu berhenti.

Karena di meja sebelah...

ada sesuatu.

Sebuah gelas teh.

Dengan catatan kecil.

Jangan lupa makan siang.

Tidak ada nama.

Tapi Ayla tahu.

Dia tersenyum tanpa sadar.

Mika langsung melihat.

"Oh."

Ayla cepat-cepat mengambil kertas itu.

"Apa?"

"Kamu tersenyum."

"Tidak."

"Barusan."

"Aku hanya membaca."

"Catatan tentang makan siang membuatmu tersenyum?"

Ayla diam.

Mika tersenyum penuh kemenangan.

"Kael."

Ayla langsung melihatnya.

"Apa?"

"Kamu bahkan langsung tahu aku mau bilang siapa."

Ayla pura-pura sibuk.


Di ruang direktur.

Kael sedang membaca laporan ketika pintu diketuk.

Dia tidak perlu melihat untuk tahu siapa.

"Masuk."

Pintu terbuka.

Ayla masuk membawa beberapa dokumen.

"Selamat pagi, Pak Direktur."

Kael mengangkat kepala.

Dan untuk beberapa detik...

mereka hanya saling melihat.

Satu bulan.

Ternyata cukup lama untuk membuat seseorang terasa asing.

Tapi juga cukup dekat untuk membuatnya terasa familiar.

"Selamat datang kembali."

Ayla tersenyum.

"Terima kasih."

Hening.

Biasanya mereka langsung berdebat.

Biasanya Ayla akan mengatakan sesuatu yang membuat Kael menghela napas.

Tapi sekarang...

mereka malah diam.

Dan itu lebih aneh.


Akhirnya Ayla menyerahkan dokumen.

"Ini laporan proyek regional."

Kael menerimanya.

"Saya sudah membacanya."

Ayla berhenti.

"Kapan?"

"Tadi pagi."

"Kamu membaca laporan sebelum aku datang?"

"Ya."

"Tentu saja."

Kael melihatnya.

"Kamu mengharapkan apa?"

"Aku tidak tahu."

Ayla tersenyum kecil.

"Mungkin kamu akan bertanya bagaimana kabarku dulu."

Kael terdiam.

Ayla langsung menyesal.

Terlalu jujur.

Tapi sebelum dia memperbaiki kata-katanya...

Kael berkata:

"Bagaimana kabarmu?"

Ayla menatapnya.

"Hah?"

"Kamu mengatakan saya harus bertanya."

Kael menutup laporan.

"Jadi saya bertanya."

Ayla menahan senyum.

"Baik."

"Benarkah?"

Ayla mengangguk.

"Lelah. Banyak masalah. Tim baru sulit diajak kompromi."

Kael mendengarkan.

Tidak memotong.

Tidak memberi solusi.

Hanya mendengarkan.

Dan Ayla menyadari...

itu mungkin perubahan terbesar.


Saat makan siang, seluruh kantor mulai memperhatikan.

Bukan karena mereka melakukan sesuatu.

Justru karena mereka tidak melakukan apa-apa.

Biasanya Ayla dan Kael seperti dua orang yang sedang berdebat dalam pertandingan.

Sekarang?

Mereka duduk bersama.

Tenang.

"Ini mencurigakan."

Renzo melihat dari jauh.

Mika mengangguk.

"Sangat."

"Menurutmu?"

"Mereka sudah melewati fase bertengkar."

Renzo terkejut.

"Fase apa sekarang?"

Mika tersenyum.

"Fase pura-pura tidak punya perasaan."


Sore hari, mereka harus mempresentasikan hasil proyek regional.

Semua berjalan lancar.

Sampai salah satu investor bertanya:

"Ayla, bagaimana Anda bisa membuat hasil seperti ini dalam waktu singkat?"

Ayla menjawab.

"Karena saya mendapat partner yang membantu melihat sisi yang berbeda."

Investor melihat Kael.

"Anda?"

Kael menggeleng.

"Dia yang melakukan sebagian besar pekerjaan."

Ayla menoleh.

Kael jarang memberikan pujian di depan umum.

Sangat jarang.

Investor tersenyum.

"Kerja sama yang bagus."

Kael hanya mengangguk.

Tapi Ayla tahu.

Bagi Kael...

itu bukan kalimat biasa.


Setelah presentasi selesai, mereka berjalan keluar bersama.

"Kamu berubah."

Ayla tiba-tiba berkata.

Kael menoleh.

"Dalam hal apa?"

"Dulu kamu akan menjelaskan kenapa keberhasilanku berasal dari strategi yang benar."

"Dan sekarang?"

"Kamu bilang aku yang bekerja keras."

Kael berhenti berjalan.

"Karena memang begitu."

Ayla diam.

"Kamu tahu?"

"Apa?"

"Kadang kamu lebih baik dari yang kamu pikir."

Kael terlihat bingung.

"Itu bukan hal yang saya pikirkan."

"Itu masalahnya."


Malam itu, mereka pulang hampir bersamaan.

Di depan lift, Ayla berkata:

"Kael."

"Ya?"

"Terima kasih."

"Untuk apa?"

"Sudah tidak berubah."

Kael menatapnya.

Ayla tersenyum.

"Maksudku... meskipun aku pergi, kamu tetap ada."

Kael diam.

Lalu menjawab:

"Saya juga berterima kasih."

Ayla terkejut.

"Untuk apa?"

"Karena kamu kembali."

Dan untuk pertama kalinya...

Kael mengatakan sesuatu tanpa menyembunyikannya di balik alasan profesional.


Pintu lift terbuka.

Mereka masuk.

Berdiri berdampingan.

Tidak ada yang mengatakan apa-apa.

Tapi kali ini...

diam mereka tidak terasa canggung.

Karena mereka sudah melewati jarak.

Dan mungkin sekarang...

mereka harus menghadapi hal yang lebih sulit.

Bukan bagaimana tetap dekat.

Tapi bagaimana mengakui bahwa mereka memang ingin dekat.

 

0 comments:

Post a Comment

 

Blognya Alviana Anugrah Template by Ipietoon Cute Blog Design