CHASING AURORA
Bab 10 —
Kembali ke Tempat yang Sama
Ayla Renata tidak
pernah menyangka bahwa satu bulan bisa terasa sangat panjang.
Padahal dulu dia
mengeluh karena Kael Ardhana terlalu sering berada di dekatnya.
Terlalu banyak
mengoreksi.
Terlalu serius.
Terlalu suka
membuat jadwal.
Sekarang...
dia justru merasa
ada sesuatu yang hilang.
Dan dia tidak suka
mengakuinya.
Hari kepulangannya
ke kantor pusat tiba.
Ayla berdiri di
depan gedung Aurora Media sambil menarik napas.
Tempat ini masih
sama.
Lobi yang sama.
Lift yang sama.
Meja kerja yang
sama.
Tapi entah
kenapa...
rasanya berbeda.
Mungkin karena ada
seseorang di lantai dua puluh tiga yang sudah lama tidak dia lihat.
"Ayla!"
Mika langsung
menghampirinya.
Mereka berpelukan.
"Aku
kangen!"
Ayla tertawa.
"Baru satu
bulan."
"Satu bulan
itu lama."
"Kamu
lebay."
"Dan
kamu?"
"Apa?"
"Kamu juga
kangen."
Ayla langsung
berjalan menuju mejanya.
"Aku mau
kerja."
Mika mengikuti.
"Itu bukan
jawaban."
"Memang
bukan."
"Berarti
benar."
Ayla membuka
laptop.
Lalu berhenti.
Karena di meja
sebelah...
ada sesuatu.
Sebuah gelas teh.
Dengan catatan
kecil.
Jangan lupa
makan siang.
Tidak ada nama.
Tapi Ayla tahu.
Dia tersenyum
tanpa sadar.
Mika langsung
melihat.
"Oh."
Ayla cepat-cepat
mengambil kertas itu.
"Apa?"
"Kamu
tersenyum."
"Tidak."
"Barusan."
"Aku hanya
membaca."
"Catatan
tentang makan siang membuatmu tersenyum?"
Ayla diam.
Mika tersenyum
penuh kemenangan.
"Kael."
Ayla langsung
melihatnya.
"Apa?"
"Kamu bahkan
langsung tahu aku mau bilang siapa."
Ayla pura-pura
sibuk.
Di ruang direktur.
Kael sedang
membaca laporan ketika pintu diketuk.
Dia tidak perlu
melihat untuk tahu siapa.
"Masuk."
Pintu terbuka.
Ayla masuk membawa
beberapa dokumen.
"Selamat
pagi, Pak Direktur."
Kael mengangkat
kepala.
Dan untuk beberapa
detik...
mereka hanya
saling melihat.
Satu bulan.
Ternyata cukup
lama untuk membuat seseorang terasa asing.
Tapi juga cukup
dekat untuk membuatnya terasa familiar.
"Selamat
datang kembali."
Ayla tersenyum.
"Terima
kasih."
Hening.
Biasanya mereka
langsung berdebat.
Biasanya Ayla akan
mengatakan sesuatu yang membuat Kael menghela napas.
Tapi sekarang...
mereka malah diam.
Dan itu lebih
aneh.
Akhirnya Ayla
menyerahkan dokumen.
"Ini laporan
proyek regional."
Kael menerimanya.
"Saya sudah
membacanya."
Ayla berhenti.
"Kapan?"
"Tadi
pagi."
"Kamu membaca
laporan sebelum aku datang?"
"Ya."
"Tentu
saja."
Kael melihatnya.
"Kamu
mengharapkan apa?"
"Aku tidak
tahu."
Ayla tersenyum
kecil.
"Mungkin kamu
akan bertanya bagaimana kabarku dulu."
Kael terdiam.
Ayla langsung
menyesal.
Terlalu jujur.
Tapi sebelum dia
memperbaiki kata-katanya...
Kael berkata:
"Bagaimana
kabarmu?"
Ayla menatapnya.
"Hah?"
"Kamu
mengatakan saya harus bertanya."
Kael menutup
laporan.
"Jadi saya
bertanya."
Ayla menahan
senyum.
"Baik."
"Benarkah?"
Ayla mengangguk.
"Lelah.
Banyak masalah. Tim baru sulit diajak kompromi."
Kael mendengarkan.
Tidak memotong.
Tidak memberi
solusi.
Hanya
mendengarkan.
Dan Ayla
menyadari...
itu mungkin
perubahan terbesar.
Saat makan siang,
seluruh kantor mulai memperhatikan.
Bukan karena
mereka melakukan sesuatu.
Justru karena
mereka tidak melakukan apa-apa.
Biasanya Ayla dan
Kael seperti dua orang yang sedang berdebat dalam pertandingan.
Sekarang?
Mereka duduk
bersama.
Tenang.
"Ini
mencurigakan."
Renzo melihat dari
jauh.
Mika mengangguk.
"Sangat."
"Menurutmu?"
"Mereka sudah
melewati fase bertengkar."
Renzo terkejut.
"Fase apa
sekarang?"
Mika tersenyum.
"Fase
pura-pura tidak punya perasaan."
Sore hari, mereka
harus mempresentasikan hasil proyek regional.
Semua berjalan
lancar.
Sampai salah satu
investor bertanya:
"Ayla,
bagaimana Anda bisa membuat hasil seperti ini dalam waktu singkat?"
Ayla menjawab.
"Karena saya
mendapat partner yang membantu melihat sisi yang berbeda."
Investor melihat
Kael.
"Anda?"
Kael menggeleng.
"Dia yang
melakukan sebagian besar pekerjaan."
Ayla menoleh.
Kael jarang
memberikan pujian di depan umum.
Sangat jarang.
Investor
tersenyum.
"Kerja sama
yang bagus."
Kael hanya
mengangguk.
Tapi Ayla tahu.
Bagi Kael...
itu bukan kalimat
biasa.
Setelah presentasi
selesai, mereka berjalan keluar bersama.
"Kamu
berubah."
Ayla tiba-tiba
berkata.
Kael menoleh.
"Dalam hal
apa?"
"Dulu kamu
akan menjelaskan kenapa keberhasilanku berasal dari strategi yang benar."
"Dan
sekarang?"
"Kamu bilang
aku yang bekerja keras."
Kael berhenti
berjalan.
"Karena
memang begitu."
Ayla diam.
"Kamu
tahu?"
"Apa?"
"Kadang kamu
lebih baik dari yang kamu pikir."
Kael terlihat
bingung.
"Itu bukan
hal yang saya pikirkan."
"Itu
masalahnya."
Malam itu, mereka
pulang hampir bersamaan.
Di depan lift,
Ayla berkata:
"Kael."
"Ya?"
"Terima
kasih."
"Untuk
apa?"
"Sudah tidak
berubah."
Kael menatapnya.
Ayla tersenyum.
"Maksudku...
meskipun aku pergi, kamu tetap ada."
Kael diam.
Lalu menjawab:
"Saya juga
berterima kasih."
Ayla terkejut.
"Untuk
apa?"
"Karena kamu
kembali."
Dan untuk pertama
kalinya...
Kael mengatakan
sesuatu tanpa menyembunyikannya di balik alasan profesional.
Pintu lift
terbuka.
Mereka masuk.
Berdiri
berdampingan.
Tidak ada yang
mengatakan apa-apa.
Tapi kali ini...
diam mereka tidak
terasa canggung.
Karena mereka
sudah melewati jarak.
Dan mungkin
sekarang...
mereka harus
menghadapi hal yang lebih sulit.
Bukan bagaimana
tetap dekat.
Tapi bagaimana
mengakui bahwa mereka memang ingin dekat.
0 comments:
Post a Comment