The Duchess's Noctis Orchid Bab 1 - Sebuah Tawaran





Aula Istana Elarion berkilauan di bawah cahaya ribuan lilin kristal.

Musik lembut memenuhi ruangan megah itu. Para bangsawan menari dengan anggun, gaun-gaun indah berputar di antara lantai marmer, sementara gelas kristal beradu diiringi tawa sopan yang menyembunyikan banyak kepentingan.

Bagi sebagian orang, pesta kerajaan adalah tempat menemukan pasangan terbaik.

Bagi sebagian lainnya...

tempat menunjukkan kekuasaan.

Namun bagi Lady Elena Aveline, malam ini bukan tentang pesta.

Ini adalah kesempatan terakhirnya.

Elena berdiri di dekat balkon istana, memandang taman kerajaan yang diterangi cahaya bulan.

Di tangannya, sebuah surat terlipat rapi.

Surat yang berisi pemberitahuan terakhir.

Utang keluarga Aveline harus segera dilunasi.

Jika tidak...

tanah warisan mereka akan disita.

Dan rumah kaca keluarga Aveline akan dijual.

Jari Elena mengencang di balik kipasnya.

Rumah kaca itu bukan sekadar bangunan.

Di sanalah ia tumbuh.

Di antara aroma tanah basah dan bunga-bunga langka.

Di sanalah ibunya dulu mengajarinya bahwa setiap tanaman memiliki kehidupan sendiri.

Bahkan bunga yang terlihat paling rapuh sekalipun...

hanya membutuhkan seseorang yang percaya padanya.

Namun sekarang, tempat itu akan hilang.

"Lady Aveline."

Suara lembut membuat Elena menoleh.

Seorang wanita bangsawan tersenyum sambil mendekatinya.

"Sudah lama tidak melihatmu."

Elena membungkuk sopan.

"Lady Marianne."

Wanita itu melirik sekeliling sebelum berbisik.

"Aku dengar keluarga Aveline sedang mengalami kesulitan."

Elena tersenyum tipis.

"Rumor selalu berjalan lebih cepat daripada kenyataan."

"Benarkah?"

Tatapan wanita itu jatuh pada surat di tangan Elena.

"Sayang sekali. Kudengar rumah kaca keluargamu mungkin tidak akan bertahan sampai musim semi."

Senyum Elena tidak berubah.

Namun hatinya terasa sedikit sakit.

Karena kalimat itu benar.

Wanita itu berlalu.

Dan seperti biasa...

bisikan mulai menyebar.

"Kasihan Lady Aveline."

"Padahal keluarganya dulu cukup terpandang."

"Kurasa dia harus segera mencari suami kaya."

Elena mendengar semuanya.

Tapi ia tidak peduli.

Malam ini ia datang bukan untuk mencari belas kasihan.

Ia datang untuk membuat sebuah keputusan.

Tiba-tiba...

musik di aula perlahan berhenti.

Suasana berubah.

Semua kepala menoleh ke arah pintu utama.

"Duke Noctis datang."

Bisikan itu terdengar hampir bersamaan.

Seorang pria tinggi memasuki aula.

Rambut hitamnya tertata rapi.

Tatapan matanya tenang namun dingin.

Setelan hitam dengan sulaman emas membuat lambang keluarga Noctis terlihat jelas.

Sebuah simbol yang dihormati sekaligus ditakuti.

Duke Adrian Noctis.

Pemimpin keluarga Noctis.

Pria yang dikenal tidak pernah tertarik pada pernikahan politik.

Pria yang menolak banyak lamaran dari keluarga bangsawan.

Dan pria yang memiliki satu hal paling misterius di seluruh Kerajaan Elarion...

Noctis Orchid.

Anggrek langka keluarga Noctis yang konon hanya mekar ketika menemukan seseorang yang tepat untuk merawatnya.

Tentu saja, banyak orang menganggap itu hanya legenda.

Adrian sendiri tidak pernah membenarkan maupun menyangkalnya.

Elena memperhatikannya dari kejauhan.

Itu dia.

Duke Noctis.

Satu-satunya orang yang mungkin bisa menyelamatkan rumah kacanya.

Bukan karena uangnya.

Tapi karena kekuasaannya.

Jika ia berhasil membuat kesepakatan dengannya...

keluarganya masih memiliki harapan.

Elena menarik napas.

Lalu berjalan.

Satu langkah.

Dua langkah.

Bisikan langsung mengikuti.

"Lady Aveline?"

"Dia mendekati Duke Noctis?"

"Apakah dia sudah kehilangan akal?"

Namun Elena tidak berhenti.

Sampai akhirnya ia berdiri tepat di depan Adrian.

Pria itu sedang melihat keluar jendela.

Tanpa menoleh, ia berkata,

"Ada urusan?"

Suaranya rendah.

Dingin.

Elena menegakkan tubuh.

"Yang Mulia Duke."

Baru kemudian Adrian menoleh.

Tatapan biru gelapnya bertemu dengan mata Elena.

Untuk sesaat...

keduanya diam.

Adrian terbiasa melihat orang-orang mendekatinya karena gelar dan kekayaannya.

Namun wanita di depannya berbeda.

Tidak ada rasa takut.

Tidak ada rayuan.

Hanya tekad.

"Saya ingin mengajukan sebuah tawaran."

Adrian sedikit mengangkat alis.

"Tawaran?"

Elena mengangguk.

"Ya."

Ia menatap pria itu lurus.

"Menikahlah dengan saya."

...

Beberapa detik.

Seluruh aula terasa membeku.

Seseorang bahkan menjatuhkan gelas kristalnya.

Suara pecahan kaca terdengar jelas.

Tidak ada yang menyangka.

Lady Elena Aveline...

baru saja menawarkan pernikahan kepada Duke Adrian Noctis di tengah pesta kerajaan.

Adrian menatapnya lama.

"Apakah kau tahu siapa yang kau ajak bicara?"

"Tahu."

"Dan kau tetap mengatakannya?"

"Ya."

"Kenapa?"

Elena menggenggam kipasnya.

Lalu menjawab dengan tenang.

"Karena saya membutuhkan seorang suami."

Ia berhenti sebentar.

"Dan Anda membutuhkan seorang Duchess."

Untuk pertama kalinya malam itu...

ekspresi Adrian berubah.

Bukan marah.

Bukan terkejut.

Melainkan tertarik.

Wanita ini berani.

Sangat berani.

"Baik."

Satu kata itu membuat seluruh aula kembali bergemuruh.

"Aku menerima tawaranmu, Lady Elena Aveline."

Dan malam itu...

sebuah kontrak yang seharusnya hanya menjadi kesepakatan...

mulai mengubah takdir dua orang yang sama-sama tidak percaya pada cinta.

Bersambung...

Comments