Tuesday, July 21, 2026

Legenda Ular Putih Bagian 2

 Bagian 2: Rahasia Bai Suzhen Terungkap

Hari-hari berlalu dengan damai. Apotek milik Bai Suzhen dan Xu Xian semakin ramai dikunjungi. Orang-orang datang dari desa-desa yang jauh untuk berobat. Mereka percaya bahwa obat racikan pasangan itu mampu menyembuhkan berbagai penyakit.

Xu Xian bekerja dengan penuh ketulusan. Ia memeriksa pasien, menuliskan resep, dan selalu berbicara dengan ramah. Sementara itu, Bai Suzhen meracik ramuan obat dari berbagai tanaman obat yang tumbuh di pegunungan. Berkat pengetahuan yang ia peroleh selama ribuan tahun, hampir tidak ada penyakit yang tidak dapat ia tangani.

Jika ada pasien yang tidak mampu membayar, Bai Suzhen hanya tersenyum.

"Kesembuhan lebih penting daripada uang."

Kebaikan mereka membuat nama apotek itu terkenal di seluruh Hangzhou. Penduduk memuji pasangan tersebut sebagai tabib yang berhati mulia.

Namun, tidak semua orang merasa senang.

Di sebuah kuil di atas gunung, Biksu Fa Hai terus memusatkan pikirannya dalam meditasi. Semakin lama ia bermeditasi, semakin jelas ia merasakan bahwa salah satu penghuni kota bukanlah manusia biasa.

"Aura siluman itu sangat kuat," gumamnya. "Ia telah hidup ribuan tahun."

Fa Hai kemudian turun ke kota untuk menyelidiki.

Sesampainya di Hangzhou, ia memperhatikan setiap sudut kota. Hingga akhirnya ia berhenti di depan apotek milik Xu Xian.

Saat melihat Bai Suzhen melayani pasien, mata Fa Hai langsung menyipit.

"Jadi benar… siluman itu adalah perempuan ini."

Meski demikian, Fa Hai juga melihat bahwa Bai Suzhen tidak pernah menyakiti manusia. Sebaliknya, ia justru menolong banyak orang. Hal itu membuatnya ragu sejenak.

Tetapi keyakinannya tetap tidak berubah.

"Siluman tetaplah siluman. Cepat atau lambat sifat aslinya akan muncul."

Beberapa hari kemudian, Fa Hai sengaja menemui Xu Xian.

"Anak muda," katanya pelan, "istrimu menyimpan rahasia besar."

Xu Xian tersenyum bingung.

"Istri saya hanya perempuan biasa yang pandai meracik obat."

Fa Hai menggeleng.

"Jangan tertipu oleh penampilannya."

Xu Xian mulai merasa tidak nyaman.

"Guru, saya tidak mengerti maksud Anda."

Fa Hai tidak menjelaskan lebih jauh. Ia hanya menyerahkan sebuah jimat.

"Jika suatu hari kau ingin mengetahui siapa sebenarnya istrimu, gunakan benda ini."

Xu Xian menerima jimat itu, tetapi ia tidak mempercayai perkataan sang biksu. Selama ini Bai Suzhen selalu bersikap lembut, penyayang, dan tidak pernah melakukan hal yang aneh.

Ia pun menyimpan jimat itu tanpa pernah menggunakannya.


Tak lama kemudian tibalah Festival Perahu Naga, sebuah perayaan besar yang dirayakan setiap tahun. Seluruh kota dipenuhi suara musik, tawa anak-anak, dan aroma makanan khas.

Pada hari itu, masyarakat memiliki kebiasaan meminum arak realgar, minuman yang dipercaya mampu mengusir roh jahat dan makhluk gaib.

Ketika mendengar kabar itu, wajah Bai Suzhen berubah pucat.

Ia tahu bahwa arak tersebut sangat berbahaya bagi makhluk sepertinya. Jika meminumnya, kekuatan sihirnya akan melemah dan wujud aslinya bisa muncul.

Xu Xian yang tidak mengetahui rahasia itu berkata dengan riang,

"Hari ini semua orang minum arak realgar. Kita juga harus ikut merayakannya."

Bai Suzhen mencoba menolak dengan halus.

"Aku sedang kurang sehat. Mungkin lain kali saja."

Namun Xu Xian mengira istrinya hanya malu.

"Hanya segelas kecil. Tidak apa-apa."

Bai Suzhen mulai gelisah. Ia tidak ingin membuat suaminya curiga, tetapi ia juga takut rahasianya terbongkar.

Akhirnya, demi menjaga perasaan Xu Xian, ia meminum seteguk kecil arak tersebut.

Tak lama kemudian tubuhnya mulai terasa panas.

Tangannya gemetar.

Wajahnya semakin pucat.

"Aku… harus beristirahat," katanya pelan.

Ia segera masuk ke kamar dan mengunci pintu.

Di luar, Xu Xian mulai khawatir.

"Bai Suzhen? Apa kau baik-baik saja?"

Tidak ada jawaban.

Di dalam kamar, kekuatan Bai Suzhen semakin melemah. Ia berusaha mempertahankan wujud manusianya, tetapi sihirnya perlahan menghilang.

Tubuhnya diselimuti cahaya putih yang terang.

Dalam sekejap, perempuan cantik itu berubah kembali menjadi seekor ular putih raksasa dengan sisik berkilau seperti mutiara.

Xu Xian yang khawatir akhirnya membuka pintu kamar.

Begitu pintu terbuka, ia membeku.

Di hadapannya berdiri seekor ular putih raksasa yang memenuhi hampir seluruh ruangan.

Mata ular itu dipenuhi kesedihan.

Xu Xian tidak mampu berkata apa-apa.

Tubuhnya gemetar hebat.

Karena terlalu terkejut dan ketakutan, ia pingsan seketika.

Melihat suaminya terjatuh, Bai Suzhen segera menggunakan sisa kekuatannya untuk kembali menjadi manusia.

Ia memeluk Xu Xian sambil menangis.

"Maafkan aku... Aku tidak pernah berniat menipumu. Aku hanya ingin hidup sebagai manusia dan menemanimu."

Namun Xu Xian tidak sadarkan diri.

Saat itu Bai Suzhen menyadari bahwa rahasia yang selama ini ia sembunyikan akhirnya telah terbongkar.

Dan dari kejauhan, Biksu Fa Hai memandang ke arah rumah mereka.

Ia tahu bahwa inilah awal dari perpisahan yang telah lama ia ramalkan.


Bersambung...*

0 comments:

Post a Comment

 

Blognya Alviana Anugrah Template by Ipietoon Cute Blog Design