Bagian 2: Rahasia Bai Suzhen Terungkap
Hari-hari berlalu
dengan damai. Apotek milik Bai Suzhen dan Xu Xian semakin ramai dikunjungi.
Orang-orang datang dari desa-desa yang jauh untuk berobat. Mereka percaya bahwa
obat racikan pasangan itu mampu menyembuhkan berbagai penyakit.
Xu Xian bekerja
dengan penuh ketulusan. Ia memeriksa pasien, menuliskan resep, dan selalu
berbicara dengan ramah. Sementara itu, Bai Suzhen meracik ramuan obat dari
berbagai tanaman obat yang tumbuh di pegunungan. Berkat pengetahuan yang ia
peroleh selama ribuan tahun, hampir tidak ada penyakit yang tidak dapat ia
tangani.
Jika ada pasien
yang tidak mampu membayar, Bai Suzhen hanya tersenyum.
"Kesembuhan
lebih penting daripada uang."
Kebaikan mereka
membuat nama apotek itu terkenal di seluruh Hangzhou. Penduduk memuji pasangan
tersebut sebagai tabib yang berhati mulia.
Namun, tidak semua
orang merasa senang.
Di sebuah kuil di
atas gunung, Biksu Fa Hai terus memusatkan pikirannya dalam meditasi. Semakin
lama ia bermeditasi, semakin jelas ia merasakan bahwa salah satu penghuni kota
bukanlah manusia biasa.
"Aura siluman
itu sangat kuat," gumamnya. "Ia telah hidup ribuan tahun."
Fa Hai kemudian
turun ke kota untuk menyelidiki.
Sesampainya di
Hangzhou, ia memperhatikan setiap sudut kota. Hingga akhirnya ia berhenti di
depan apotek milik Xu Xian.
Saat melihat Bai
Suzhen melayani pasien, mata Fa Hai langsung menyipit.
"Jadi benar…
siluman itu adalah perempuan ini."
Meski demikian, Fa
Hai juga melihat bahwa Bai Suzhen tidak pernah menyakiti manusia. Sebaliknya,
ia justru menolong banyak orang. Hal itu membuatnya ragu sejenak.
Tetapi
keyakinannya tetap tidak berubah.
"Siluman
tetaplah siluman. Cepat atau lambat sifat aslinya akan muncul."
Beberapa hari
kemudian, Fa Hai sengaja menemui Xu Xian.
"Anak
muda," katanya pelan, "istrimu menyimpan rahasia besar."
Xu Xian tersenyum
bingung.
"Istri saya
hanya perempuan biasa yang pandai meracik obat."
Fa Hai menggeleng.
"Jangan
tertipu oleh penampilannya."
Xu Xian mulai
merasa tidak nyaman.
"Guru, saya
tidak mengerti maksud Anda."
Fa Hai tidak
menjelaskan lebih jauh. Ia hanya menyerahkan sebuah jimat.
"Jika suatu
hari kau ingin mengetahui siapa sebenarnya istrimu, gunakan benda ini."
Xu Xian menerima
jimat itu, tetapi ia tidak mempercayai perkataan sang biksu. Selama ini Bai
Suzhen selalu bersikap lembut, penyayang, dan tidak pernah melakukan hal yang
aneh.
Ia pun menyimpan
jimat itu tanpa pernah menggunakannya.
Tak lama kemudian
tibalah Festival Perahu Naga, sebuah perayaan besar yang dirayakan
setiap tahun. Seluruh kota dipenuhi suara musik, tawa anak-anak, dan aroma
makanan khas.
Pada hari itu,
masyarakat memiliki kebiasaan meminum arak realgar, minuman yang
dipercaya mampu mengusir roh jahat dan makhluk gaib.
Ketika mendengar
kabar itu, wajah Bai Suzhen berubah pucat.
Ia tahu bahwa arak
tersebut sangat berbahaya bagi makhluk sepertinya. Jika meminumnya, kekuatan
sihirnya akan melemah dan wujud aslinya bisa muncul.
Xu Xian yang tidak
mengetahui rahasia itu berkata dengan riang,
"Hari ini
semua orang minum arak realgar. Kita juga harus ikut merayakannya."
Bai Suzhen mencoba
menolak dengan halus.
"Aku sedang
kurang sehat. Mungkin lain kali saja."
Namun Xu Xian
mengira istrinya hanya malu.
"Hanya
segelas kecil. Tidak apa-apa."
Bai Suzhen mulai
gelisah. Ia tidak ingin membuat suaminya curiga, tetapi ia juga takut
rahasianya terbongkar.
Akhirnya, demi
menjaga perasaan Xu Xian, ia meminum seteguk kecil arak tersebut.
Tak lama kemudian
tubuhnya mulai terasa panas.
Tangannya gemetar.
Wajahnya semakin
pucat.
"Aku… harus
beristirahat," katanya pelan.
Ia segera masuk ke
kamar dan mengunci pintu.
Di luar, Xu Xian
mulai khawatir.
"Bai Suzhen?
Apa kau baik-baik saja?"
Tidak ada jawaban.
Di dalam kamar,
kekuatan Bai Suzhen semakin melemah. Ia berusaha mempertahankan wujud
manusianya, tetapi sihirnya perlahan menghilang.
Tubuhnya
diselimuti cahaya putih yang terang.
Dalam sekejap,
perempuan cantik itu berubah kembali menjadi seekor ular putih raksasa
dengan sisik berkilau seperti mutiara.
Xu Xian yang
khawatir akhirnya membuka pintu kamar.
Begitu pintu
terbuka, ia membeku.
Di hadapannya
berdiri seekor ular putih raksasa yang memenuhi hampir seluruh ruangan.
Mata ular itu
dipenuhi kesedihan.
Xu Xian tidak
mampu berkata apa-apa.
Tubuhnya gemetar
hebat.
Karena terlalu
terkejut dan ketakutan, ia pingsan seketika.
Melihat suaminya
terjatuh, Bai Suzhen segera menggunakan sisa kekuatannya untuk kembali menjadi
manusia.
Ia memeluk Xu Xian
sambil menangis.
"Maafkan
aku... Aku tidak pernah berniat menipumu. Aku hanya ingin hidup sebagai manusia
dan menemanimu."
Namun Xu Xian
tidak sadarkan diri.
Saat itu Bai
Suzhen menyadari bahwa rahasia yang selama ini ia sembunyikan akhirnya telah
terbongkar.
Dan dari kejauhan,
Biksu Fa Hai memandang ke arah rumah mereka.
Ia tahu bahwa
inilah awal dari perpisahan yang telah lama ia ramalkan.
Bersambung...*
0 comments:
Post a Comment