Tuesday, July 21, 2026

CHASING AURORA 27

 

CHASING AURORA

Bab 27 — Dua Mimpi, Satu Arah

Di Aurora Media, ada satu hal yang lebih cepat menyebar daripada berita bisnis.

Yaitu...

gosip.


"Jadi..."

Mika meletakkan kopi di meja.

"Kalian berdua dapat tawaran besar di waktu yang sama?"

Ayla mengangguk.

"Iya."

Renzo yang duduk di sebelahnya langsung bersiul.

"Ini seperti film."

"Kenapa?"

"Karena biasanya kalau pasangan mendapat kesempatan besar bersamaan..."

Mika melanjutkan:

"Mulai ada drama."

Ayla langsung menunjuk mereka.

"Tidak membantu."


Masalahnya memang sederhana.

Tapi juga rumit.

Kael mendapat tawaran memimpin ekspansi Aurora di Singapura.

Satu setengah tahun.

Posisi besar.

Pengalaman yang bisa mengubah kariernya.

Sedangkan Ayla mendapat tawaran menjadi kepala kreatif regional.

Kesempatan yang selama ini dia impikan.

Tapi dengan perjalanan yang lebih sering.


Dua-duanya bagus.

Terlalu bagus.

Dan justru itu masalahnya.


"Kamu sudah memutuskan?"

Kael bertanya malam itu.

Mereka duduk di balkon apartemen Ayla.

Ayla menggeleng.

"Belum."

"Saya juga."

Hening.

Lalu Ayla tertawa kecil.

"Lucu."

"Apa?"

"Kita bisa memutuskan strategi perusahaan dalam satu hari."

Kael mengangguk.

"Benar."

"Tapi soal hidup sendiri..."

"Sangat sulit."


Kael melihat langit.

"Dulu saya pikir keputusan yang benar adalah yang paling menguntungkan."

Ayla mendengarkan.

"Sekarang saya tahu itu tidak cukup."

"Lalu apa?"

Kael melihatnya.

"Keputusan yang benar adalah yang masih membuat saya bisa menghargai diri sendiri setelah menjalaninya."


Ayla tersenyum.

"Kamu berubah."

"Ya."

"Siapa yang mengubah kamu?"

Kael berpikir.

Lalu menjawab:

"Kamu."

Ayla langsung tersenyum puas.

"Akhirnya mengaku."

"Saya hanya mengatakan fakta."

"Romantis sekali."


Keesokan harinya, masalah baru muncul.

Bukan dari investor.

Bukan dari pekerjaan.

Tapi dari...

kantor.


Mika berdiri di depan meja meeting.

"Kita perlu melakukan intervensi."

Kael mengangkat alis.

"Intervensi?"

"Iya."

Renzo mengangguk serius.

Ayla bingung.

"Untuk apa?"

Mika menunjuk mereka.

"Kalian."


Kael melihat Ayla.

Ayla melihat Kael.

"Apa masalahnya?"

"Kalian membahas masa depan seperti rapat direksi."

Renzo menambahkan:

"Kemarin saya dengar kalian membicarakan hubungan sambil memakai istilah 'jangka panjang'."

Kael terlihat bingung.

"Itu istilah normal."

Mika menghela napas.

"Kael."

"Ya?"

"Kamu pernah bilang 'kita perlu mengevaluasi dinamika hubungan kita'?"

Kael diam.

Ayla menutup wajahnya.

"Dia pernah."

Renzo tertawa.

"Itu bukan pacaran. Itu laporan tahunan."


Untuk pertama kalinya...

Kael terlihat malu.

Sedikit.

Sangat sedikit.

Tapi terlihat.


"Saran saya."

Mika berkata.

"Pergi kencan."

"Kami sering makan bersama."

"Itu bukan kencan."

"Kenapa?"

"Karena kalian membahas pekerjaan."

Kael dan Ayla diam.

Karena...

benar.


Malam itu, Ayla membuat aturan baru.

"Tidak boleh bicara pekerjaan."

Kael mengangguk.

"Baik."

"Tidak boleh bicara proyek."

"Baik."

"Tidak boleh bicara masa depan perusahaan."

"Baik."

"Lalu?"

Kael berpikir.

"Topik apa yang tersisa?"

Ayla menatapnya.

"Kael."

"Ya?"

"Kita punya masalah."


Mereka akhirnya pergi ke taman kota.

Tanpa laptop.

Tanpa dokumen.

Tanpa rencana.

Dan ternyata...

Kael tidak tahu harus melakukan apa.


"Kamu kenapa?"

Ayla bertanya.

"Saya sedang mencoba menikmati suasana."

"Kamu terlihat seperti sedang menganalisis taman."

"Saya memperhatikan."

"Memperhatikan apa?"

"Jumlah pengunjung. Tata letak. Efisiensi ruang."

Ayla langsung tertawa.

"Kamu menganalisis taman?"

"Secara tidak sengaja."


Mereka berjalan lebih jauh.

Membeli es krim.

Dan Ayla baru menyadari:

Kael ternyata tidak pernah benar-benar punya waktu untuk hal sederhana.

Dia selalu mengejar sesuatu.

Target.

Prestasi.

Pembuktian.


"Kamu bahagia?"

Ayla tiba-tiba bertanya.

Kael menoleh.

"Ya."

"Serius?"

"Ya."

"Kenapa?"

Kael melihat es krim di tangannya.

"Lima tahun lalu saya tidak pernah membayangkan akan duduk di taman sambil makan es krim."

Ayla tersenyum.

"Itu standar bahagiamu?"

"Mungkin."

"Kecil sekali."

"Tapi cukup."


Malamnya, mereka akhirnya membicarakan keputusan.

Bukan sebagai direktur.

Bukan sebagai pemimpin.

Tapi sebagai dua orang biasa.


"Aku ingin mengambil kesempatan ini."

Ayla berkata.

Kael mengangguk.

"Saya juga ingin kamu mengambilnya."

"Kamu yakin?"

"Ya."

"Walaupun itu berarti waktu kita akan lebih sulit?"

Kael tersenyum.

"Hubungan yang kuat bukan yang tidak punya jarak."

"Lalu?"

"Yang tetap memilih satu sama lain meski ada jarak."


Ayla terdiam.

Karena dulu mereka takut jarak.

Sekarang mereka sudah pernah melewatinya.

Dan ternyata...

mereka masih di sini.


"Aku juga ingin kamu mengambil kesempatanmu."

Ayla berkata.

Kael menatapnya.

"Benarkah?"

"Iya."

"Kenapa?"

Ayla tersenyum.

"Karena aku jatuh cinta pada seseorang yang punya mimpi."

Hening.

"Bukan seseorang yang berhenti bermimpi demi aku."


Kael tidak menjawab.

Dia hanya menggenggam tangan Ayla.


Mereka belum tahu bagaimana enam belas bulan ke depan akan berjalan.

Mereka belum tahu berapa banyak malam yang akan dilewati dengan panggilan video.

Mereka belum tahu berapa banyak perubahan yang akan terjadi.

Tapi mereka tahu satu hal:

Kali ini mereka tidak berpisah karena keadaan.

Mereka berjalan menuju mimpi masing-masing...

sambil tetap memilih arah yang sama.


Dan sebelum mereka berangkat...

seluruh kantor Aurora punya satu pesan terakhir.

Bukan untuk Kael.

Bukan untuk Ayla.

Tapi untuk mereka berdua.

"Jangan bawa spreadsheet hubungan ke luar negeri."


Kael menatap Mika.

"Saya tidak pernah mengatakan akan membawa."

Ayla langsung menjawab:

"Dia sudah membuat versi perjalanan."

Semua terdiam.

Renzo tertawa paling keras.

Dan untuk pertama kalinya...

Kael Ardhana menyerah.

Dia memang tidak bisa menang melawan Ayla.

Terutama kalau seluruh kantor ikut membantu.

 

0 comments:

Post a Comment

 

Blognya Alviana Anugrah Template by Ipietoon Cute Blog Design