CHASING AURORA
Bab 27 — Dua
Mimpi, Satu Arah
Di Aurora Media,
ada satu hal yang lebih cepat menyebar daripada berita bisnis.
Yaitu...
gosip.
"Jadi..."
Mika meletakkan
kopi di meja.
"Kalian
berdua dapat tawaran besar di waktu yang sama?"
Ayla mengangguk.
"Iya."
Renzo yang duduk
di sebelahnya langsung bersiul.
"Ini seperti
film."
"Kenapa?"
"Karena
biasanya kalau pasangan mendapat kesempatan besar bersamaan..."
Mika melanjutkan:
"Mulai ada
drama."
Ayla langsung
menunjuk mereka.
"Tidak
membantu."
Masalahnya memang
sederhana.
Tapi juga rumit.
Kael mendapat
tawaran memimpin ekspansi Aurora di Singapura.
Satu setengah
tahun.
Posisi besar.
Pengalaman yang
bisa mengubah kariernya.
Sedangkan Ayla
mendapat tawaran menjadi kepala kreatif regional.
Kesempatan yang
selama ini dia impikan.
Tapi dengan
perjalanan yang lebih sering.
Dua-duanya bagus.
Terlalu bagus.
Dan justru itu
masalahnya.
"Kamu sudah
memutuskan?"
Kael bertanya
malam itu.
Mereka duduk di
balkon apartemen Ayla.
Ayla menggeleng.
"Belum."
"Saya
juga."
Hening.
Lalu Ayla tertawa
kecil.
"Lucu."
"Apa?"
"Kita bisa
memutuskan strategi perusahaan dalam satu hari."
Kael mengangguk.
"Benar."
"Tapi soal
hidup sendiri..."
"Sangat
sulit."
Kael melihat
langit.
"Dulu saya
pikir keputusan yang benar adalah yang paling menguntungkan."
Ayla mendengarkan.
"Sekarang
saya tahu itu tidak cukup."
"Lalu
apa?"
Kael melihatnya.
"Keputusan
yang benar adalah yang masih membuat saya bisa menghargai diri sendiri setelah
menjalaninya."
Ayla tersenyum.
"Kamu
berubah."
"Ya."
"Siapa yang
mengubah kamu?"
Kael berpikir.
Lalu menjawab:
"Kamu."
Ayla langsung
tersenyum puas.
"Akhirnya
mengaku."
"Saya hanya
mengatakan fakta."
"Romantis
sekali."
Keesokan harinya,
masalah baru muncul.
Bukan dari
investor.
Bukan dari
pekerjaan.
Tapi dari...
kantor.
Mika berdiri di
depan meja meeting.
"Kita perlu
melakukan intervensi."
Kael mengangkat
alis.
"Intervensi?"
"Iya."
Renzo mengangguk
serius.
Ayla bingung.
"Untuk
apa?"
Mika menunjuk
mereka.
"Kalian."
Kael melihat Ayla.
Ayla melihat Kael.
"Apa
masalahnya?"
"Kalian
membahas masa depan seperti rapat direksi."
Renzo menambahkan:
"Kemarin saya
dengar kalian membicarakan hubungan sambil memakai istilah 'jangka
panjang'."
Kael terlihat
bingung.
"Itu istilah
normal."
Mika menghela
napas.
"Kael."
"Ya?"
"Kamu pernah
bilang 'kita perlu mengevaluasi dinamika hubungan kita'?"
Kael diam.
Ayla menutup
wajahnya.
"Dia
pernah."
Renzo tertawa.
"Itu bukan
pacaran. Itu laporan tahunan."
Untuk pertama
kalinya...
Kael terlihat
malu.
Sedikit.
Sangat sedikit.
Tapi terlihat.
"Saran
saya."
Mika berkata.
"Pergi
kencan."
"Kami sering
makan bersama."
"Itu bukan
kencan."
"Kenapa?"
"Karena
kalian membahas pekerjaan."
Kael dan Ayla
diam.
Karena...
benar.
Malam itu, Ayla
membuat aturan baru.
"Tidak boleh
bicara pekerjaan."
Kael mengangguk.
"Baik."
"Tidak boleh
bicara proyek."
"Baik."
"Tidak boleh
bicara masa depan perusahaan."
"Baik."
"Lalu?"
Kael berpikir.
"Topik apa
yang tersisa?"
Ayla menatapnya.
"Kael."
"Ya?"
"Kita punya
masalah."
Mereka akhirnya
pergi ke taman kota.
Tanpa laptop.
Tanpa dokumen.
Tanpa rencana.
Dan ternyata...
Kael tidak tahu
harus melakukan apa.
"Kamu
kenapa?"
Ayla bertanya.
"Saya sedang
mencoba menikmati suasana."
"Kamu
terlihat seperti sedang menganalisis taman."
"Saya
memperhatikan."
"Memperhatikan
apa?"
"Jumlah
pengunjung. Tata letak. Efisiensi ruang."
Ayla langsung
tertawa.
"Kamu
menganalisis taman?"
"Secara tidak
sengaja."
Mereka berjalan
lebih jauh.
Membeli es krim.
Dan Ayla baru
menyadari:
Kael ternyata
tidak pernah benar-benar punya waktu untuk hal sederhana.
Dia selalu
mengejar sesuatu.
Target.
Prestasi.
Pembuktian.
"Kamu
bahagia?"
Ayla tiba-tiba
bertanya.
Kael menoleh.
"Ya."
"Serius?"
"Ya."
"Kenapa?"
Kael melihat es
krim di tangannya.
"Lima tahun
lalu saya tidak pernah membayangkan akan duduk di taman sambil makan es
krim."
Ayla tersenyum.
"Itu standar
bahagiamu?"
"Mungkin."
"Kecil
sekali."
"Tapi
cukup."
Malamnya, mereka
akhirnya membicarakan keputusan.
Bukan sebagai
direktur.
Bukan sebagai
pemimpin.
Tapi sebagai dua
orang biasa.
"Aku ingin
mengambil kesempatan ini."
Ayla berkata.
Kael mengangguk.
"Saya juga
ingin kamu mengambilnya."
"Kamu
yakin?"
"Ya."
"Walaupun itu
berarti waktu kita akan lebih sulit?"
Kael tersenyum.
"Hubungan
yang kuat bukan yang tidak punya jarak."
"Lalu?"
"Yang tetap
memilih satu sama lain meski ada jarak."
Ayla terdiam.
Karena dulu mereka
takut jarak.
Sekarang mereka
sudah pernah melewatinya.
Dan ternyata...
mereka masih di
sini.
"Aku juga
ingin kamu mengambil kesempatanmu."
Ayla berkata.
Kael menatapnya.
"Benarkah?"
"Iya."
"Kenapa?"
Ayla tersenyum.
"Karena aku
jatuh cinta pada seseorang yang punya mimpi."
Hening.
"Bukan
seseorang yang berhenti bermimpi demi aku."
Kael tidak
menjawab.
Dia hanya
menggenggam tangan Ayla.
Mereka belum tahu
bagaimana enam belas bulan ke depan akan berjalan.
Mereka belum tahu
berapa banyak malam yang akan dilewati dengan panggilan video.
Mereka belum tahu
berapa banyak perubahan yang akan terjadi.
Tapi mereka tahu
satu hal:
Kali ini mereka
tidak berpisah karena keadaan.
Mereka berjalan
menuju mimpi masing-masing...
sambil tetap
memilih arah yang sama.
Dan sebelum mereka
berangkat...
seluruh kantor
Aurora punya satu pesan terakhir.
Bukan untuk Kael.
Bukan untuk Ayla.
Tapi untuk mereka
berdua.
"Jangan bawa
spreadsheet hubungan ke luar negeri."
Kael menatap Mika.
"Saya tidak
pernah mengatakan akan membawa."
Ayla langsung
menjawab:
"Dia sudah
membuat versi perjalanan."
Semua terdiam.
Renzo tertawa
paling keras.
Dan untuk pertama
kalinya...
Kael Ardhana
menyerah.
Dia memang tidak
bisa menang melawan Ayla.
Terutama kalau
seluruh kantor ikut membantu.
0 comments:
Post a Comment