CHASING AURORA
Bab 34 — Saat
Giliranmu Bersinar
Selama ini...
Ayla Renata selalu
menjadi orang yang berdiri di samping Kael Ardhana.
Saat Kael
menghadapi keluarganya.
Saat Aurora hampir
kehilangan arah.
Saat masa lalu
Kael kembali muncul.
Ayla selalu ada.
Tapi sekarang...
untuk pertama
kalinya...
cerita itu
berbalik.
Sekarang giliran
Kael yang berdiri di samping Ayla.
"Aku mendapat
tawaran."
Ayla berkata.
Mereka sedang
duduk di restoran kecil yang dulu sering mereka datangi.
Tempat tanpa
investor.
Tanpa rapat.
Tanpa pembahasan
bisnis.
Hanya mereka.
Kael langsung
melihat wajahnya.
"Besar?"
Ayla mengangguk.
"Besarnya
seperti apa?"
Ayla menarik
napas.
"Direktur
kreatif global."
Kael terdiam.
Bukan karena
terkejut.
Tapi karena dia
tahu arti kalimat itu.
"Di
mana?"
"Lima
negara."
"Dan kantor
pusat?"
"Luar
negeri."
Hening.
Dulu...
mungkin Kael akan
langsung berpikir:
Jarak.
Waktu.
Kesulitan.
Tapi sekarang...
dia mencoba
berpikir berbeda.
"Apakah kamu
menginginkannya?"
Pertanyaan pertama
Kael.
Bukan:
"Kapan kamu
pergi?"
Bukan:
"Bagaimana
dengan kita?"
Tapi:
"Apakah kamu
menginginkannya?"
Ayla sedikit
terkejut.
"Iya."
Jawaban itu cepat.
Jujur.
Kael tersenyum.
"Kalau
begitu, kamu harus ambil."
Ayla menatapnya.
"Kamu tidak
takut?"
Kael mengangguk.
"Takut."
Jawaban jujur.
"Tapi saya
lebih takut melihat kamu melewatkan sesuatu hanya karena takut kehilangan
saya."
Kalimat itu
membuat Ayla terdiam.
Karena itu adalah
kalimat yang dulu dia katakan kepada Kael.
Sekarang...
Kael
mengembalikannya.
"Kamu
benar-benar berubah."
Ayla tersenyum.
Kael mengangkat
alis.
"Kenapa semua
orang mengatakan itu?"
"Karena
memang benar."
Malam itu, mereka
membuat rencana.
Bukan rencana
seperti dulu.
Bukan spreadsheet.
Bukan presentasi.
"Catatan."
Ayla berkata.
Kael langsung
curiga.
"Apa?"
"Tidak ada
spreadsheet."
"Saya bahkan
belum mengatakan apa-apa."
"Tapi saya
tahu."
Kael diam.
"Kamu sudah
terlalu mengenal saya."
Mereka tertawa.
Beberapa minggu
kemudian...
kabar Ayla
diumumkan.
Dan seluruh Aurora
bangga.
Tapi tentu saja...
kantor tetap
kantor.
"Jadi
sekarang kalian berdua sama-sama bos besar?"
Mika bertanya.
Ayla mengangguk.
Renzo berpikir.
"Masalah."
"Kenapa?"
"Kalian
sekarang sama-sama keras kepala."
Kael dan Ayla
langsung melihatnya.
"Kami tidak
keras kepala."
Mika dan Renzo
menjawab bersamaan:
"Kalian keras
kepala."
Ayla tertawa.
Kael menghela
napas.
"Saya merasa
tidak dihargai di perusahaan sendiri."
Mika tersenyum.
"Justru itu
bukti kami nyaman."
Hari keberangkatan
Ayla tiba.
Tapi kali ini
suasananya berbeda.
Tidak sedih.
Tidak takut.
Karena mereka
sudah belajar.
"Aku akan
merindukan kamu."
Ayla berkata.
"Saya
juga."
"Kamu tidak
bisa bilang sesuatu yang lebih romantis?"
Kael berpikir.
"Saya sudah
menyiapkan."
Ayla tersenyum.
"Lagi?"
"Ya."
"Jangan
bilang kamu membuat dokumen."
Kael diam.
Ayla langsung
tertawa.
"Kamu membuat
dokumen!"
"Sedikit."
"Kael!"
Kael akhirnya
menunjukkan layar ponselnya.
Bukan dokumen.
Tapi foto.
Foto mereka.
Dengan satu
kalimat:
Jarak bukan
tanda berhenti. Hanya jalan yang berbeda.
Ayla terdiam.
"Ini kamu
buat sendiri?"
"Ya."
"Tanpa
bantuan AI?"
Kael melihatnya.
"Kenapa
pertanyaannya begitu?"
Ayla tertawa.
Sebelum pergi...
Ayla memberikan
sesuatu.
Sebuah pena.
Kael melihatnya.
"Untuk
apa?"
"Supaya kamu
ingat."
"Apa?"
"Bahwa bukan
cuma kamu yang bisa memberi hadiah simbolis."
Kael tersenyum.
Beberapa bulan
kemudian...
mereka menjalani
hidup baru.
Kael memimpin
Aurora.
Ayla membangun
jaringan kreatif internasional.
Mereka sibuk.
Sangat sibuk.
Tapi berbeda.
Dulu mereka takut
kesibukan akan menjauhkan mereka.
Sekarang mereka
tahu:
Kesibukan hanya
menjadi masalah jika seseorang berhenti memilih.
Suatu malam, saat
video call...
Ayla berkata:
"Kamu sadar
tidak?"
"Apa?"
"Kita dulu
berpikir cinta berarti selalu bersama."
Kael mengangguk.
"Dan
sekarang?"
"Menurutku
cinta berarti tetap pulang ke orang yang sama."
Kael tersenyum.
Namun...
ada satu hal yang
belum mereka selesaikan.
Bukan perusahaan.
Bukan karier.
Bukan jarak.
Tapi pertanyaan
yang selama ini selalu mereka hindari.
Ketika Ayla
akhirnya pulang...
Kael menunggunya
di tempat pertama mereka bertemu.
Dengan sebuah
kotak kecil.
Dan kali ini...
dia tidak membawa
spreadsheet.
Comments
Post a Comment