CHASING AURORA 1

 

CHASING AURORA

Bab 1 — Pria yang Terlalu Teratur

Ayla Renata percaya satu hal:

Hidup yang terlalu terencana biasanya menyimpan kejutan paling besar.

Sayangnya, pagi ini kejutan yang datang bukan sesuatu yang menyenangkan.

Melainkan pria setinggi hampir 190 sentimeter yang berdiri di depan meja rapat sambil melihat presentasinya dengan wajah yang terlalu tenang.

Wajah yang membuat orang lain ingin segera memperbaiki semua kesalahan hidup mereka.

"Slide keempat," katanya.

Ayla menatap layar.

"Ya?"

"Kenapa angka ini berbeda dengan laporan minggu lalu?"

Ruangan mendadak sunyi.

Delapan orang di meja rapat menoleh padanya.

Ayla menarik napas.

Karena tentu saja.

Dari semua orang di ruangan ini, pertanyaan pertama dari Kael Ardhana harus tentang angka.

Bukan tentang ide.

Bukan tentang konsep.

Angka.

"Karena laporan minggu lalu hanya melihat hasil penjualan," jawab Ayla. "Sedangkan presentasi ini melihat respons emosional pelanggan."

Kael menatapnya.

"Respons emosional?"

"Iya."

"Bagaimana cara mengukurnya?"

Ayla tersenyum kecil.

"Kadang manusia tidak membeli sesuatu karena butuh."

Kael mengangkat alis.

"Mereka membeli karena merasa sesuatu."

"Perasaan sulit dijadikan strategi."

"Benar."

Ayla bersandar.

"Makanya perusahaan membutuhkan orang seperti saya."

Beberapa orang di ruangan itu menahan senyum.

Kael tetap diam.

Ayla sudah tahu reputasi pria itu.

Kael Ardhana adalah kepala strategi termuda di perusahaan mereka.

Orang yang bisa membaca laporan keuangan seperti membaca pesan singkat.

Orang yang tidak pernah terlambat.

Tidak pernah panik.

Tidak pernah terlihat bingung.

Singkatnya:

Menyebalkan.

"Baik," kata Kael akhirnya.

Ayla sedikit terkejut.

Dia kira pria itu akan membantah.

"Saya setuju."

"Serius?"

"Saya tidak mengatakan Anda selalu benar."

Ayla mengangguk.

"Nah, itu lebih sesuai dengan karakter Anda."

Kael menatapnya.

"Karakter saya?"

"Anda tipe orang yang kalau memuji seseorang mungkin perlu membuat laporan pendukung dulu."

Untuk pertama kalinya, ekspresi Kael berubah.

Bukan tersenyum.

Tapi hampir.

Dan Ayla menyadarinya.

"Oh."

Kael kembali datar.

"Apa?"

"Kamu hampir tersenyum."

"Saya tidak."

"Barusan."

"Tidak."

"Saya melihatnya."

"Kemampuan observasi Anda perlu diperbaiki."

Ayla tertawa kecil.

"Dan kemampuan Anda menerima fakta juga."


Dua jam kemudian, Ayla menerima email.

Pengirim:
Kael Ardhana.

Isi:

Mulai minggu depan Anda akan menjadi partner utama saya untuk proyek Aurora.

Ayla membaca ulang.

Lalu sekali lagi.

Lalu mengirim pesan ke sahabatnya.

Ayla: Aku mendapat proyek besar.

Mika: Selamat!!

Ayla: Dengan Kael Ardhana.

Tiga titik muncul.

Hilang.

Muncul lagi.

Mika: Aku turut berduka.

Ayla tertawa.

Ayla: Lebay.

Mika: Ayla, pria itu pernah mengoreksi format nama file selama satu jam.

Ayla: Itu hanya sekali.

Mika: Dia juga pernah mengirim email jam 03.12 pagi dengan isi "mohon revisi kecil".

Ayla: ...

Mika: Berapa halaman revisinya?

Ayla: 47.

Mika: Aku akan mengirim bunga ke rumahmu.


Malamnya, Ayla masih berada di kantor.

Lampu sebagian besar sudah mati.

Jakarta mulai terlihat seperti lautan cahaya dari balik jendela.

Ayla menatap layar laptop.

Proyek Aurora bukan proyek biasa.

Ini kesempatan terbesar dalam kariernya.

Dia ingin membuktikan bahwa ide kreatifnya bisa berdiri sejajar dengan strategi bisnis.

Masalahnya hanya satu.

Partnernya adalah manusia yang kemungkinan besar lahir dengan kalender di tangan.

"Apa Anda selalu bekerja sampai selarut ini?"

Ayla terkejut.

Dia menoleh.

Kael berdiri beberapa langkah darinya.

"Anda belum pulang?"

"Saya bisa bertanya hal yang sama."

Ayla menunjuk laptopnya.

"Saya sedang berpikir."

"Jam sebelas malam?"

"Jam sebelas malam adalah waktu terbaik untuk berpikir."

"Kenapa?"

"Karena tidak ada orang yang mengganggu."

Kael melihat sekeliling kantor yang kosong.

"Lalu kenapa saya ada di sini?"

Ayla diam.

Lalu tertawa.

"Oke. Itu pertanyaan bagus."

Kael berjalan mendekat dan meletakkan sebuah gelas kopi di mejanya.

Ayla melihat kopi itu.

"Lho?"

"Anda belum makan malam."

"Bagaimana Anda tahu?"

"Anda selalu memegang perut ketika lapar."

Ayla terdiam.

"Kamu memperhatikan?"

Kael langsung menjawab:

"Saya memperhatikan semua anggota tim."

Ayla menyipitkan mata.

"Jawaban aman."

"Karena itu jawaban yang benar."

"Tapi bukan jawaban yang menarik."

Kael menatapnya.

"Anda selalu mencari jawaban menarik?"

"Ya."

"Kenapa?"

Ayla tersenyum.

"Karena hidup terlalu pendek kalau isinya hanya jawaban benar."

Untuk beberapa detik, Kael tidak mengatakan apa pun.

Lalu dia berkata:

"Itu kalimat yang sangat Anda."

Ayla tertawa.

"Dan itu kalimat yang sangat Anda. Terdengar seperti pujian, tapi sebenarnya bukan."

Kael pergi tanpa menjawab.

Namun sebelum keluar ruangan, dia berhenti.

"Besok jangan lupa makan siang."

Ayla mengangkat alis.

"Itu perintah?"

"Tidak."

"Lalu?"

Kael berpikir sebentar.

"Laporan kesehatan tim juga penting."

Ayla tersenyum.

"Alasan yang buruk."

Kael menatapnya.

"Tapi Anda mengerti maksudnya."

Dan untuk pertama kalinya, Ayla menyadari sesuatu.

Pria ini mungkin sulit dimengerti.

Tapi bukan berarti dia tidak peduli.

Mungkin hanya belum tahu cara menunjukkannya.

 

Comments